<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Atasi Defisit Neraca Dagang, Menperin Prioritaskan 15 Industri Orientasi Ekspor</title><description>Upaya ini dinilai akan membenahi masalah struktural ekonomi yaitu defisit neraca perdagangan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/17/320/2154488/atasi-defisit-neraca-dagang-menperin-prioritaskan-15-industri-orientasi-ekspor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/01/17/320/2154488/atasi-defisit-neraca-dagang-menperin-prioritaskan-15-industri-orientasi-ekspor"/><item><title>Atasi Defisit Neraca Dagang, Menperin Prioritaskan 15 Industri Orientasi Ekspor</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/17/320/2154488/atasi-defisit-neraca-dagang-menperin-prioritaskan-15-industri-orientasi-ekspor</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/01/17/320/2154488/atasi-defisit-neraca-dagang-menperin-prioritaskan-15-industri-orientasi-ekspor</guid><pubDate>Jum'at 17 Januari 2020 20:17 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/17/320/2154488/atasi-defisit-neraca-dagang-menperin-prioritaskan-15-industri-orientasi-ekspor-epI9k57sYy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Perindustrian Agus Gumiwang. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/17/320/2154488/atasi-defisit-neraca-dagang-menperin-prioritaskan-15-industri-orientasi-ekspor-epI9k57sYy.jpg</image><title>Menteri Perindustrian Agus Gumiwang. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memprioritaskan pengembangan sektor industri yang berorientasi ekspor. Upaya ini dinilai akan membenahi masalah struktural ekonomi yaitu defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan.
&amp;ldquo;Kita ketahui, kontribusi sektor industri manufaktur hingga saat ini masih mendominasi terhadap capaian nilai ekspor nasional. Jadi, ini merupakan salah satu poin bagi pemerintah untuk memberikan perhatian khusus pada pengembangan sektor industri manufaktur,&amp;rdquo; kata Agus, dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (17/1/2020).
Baca Juga: 6 Fakta Defisit Neraca Dagang Mengecil Jadi USD3,2 Miliar di 2019
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Januari-Desember 2019, ekspor produk industri pengolahan mampu menembus hingga USD126,57 miliar atau menyumbang sebesar 75,5% terhadap total ekspor Indonesia yang menyentuh di angka USD167,53 miliar sepanjang tahun lalu.
&amp;ldquo;Kita sudah punya peta jalan Making Indonesia 4.0, yang menjadi strategi kesiapan kita memasuki era industri 4.0. Melalui roadmap ini, kita juga akan meningkatkan 10% dari kontribusi ekspor netto terhadap PDB,&amp;rdquo; tuturnya.
Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Defisit USD3,2 Miliar Sepanjang 2019
Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian sudah memetakan 15 sektor yang akan mendapat prioritas pengembangan untuk digenjot kinerja ekspornya. Ke-15 sektor potensial tersebut, yakni industri pengolahan minyak kelapa sawit dan turunannya, industri makanan, industri kertas dan barang dari kertas, industri crumb rubber, ban, dan sarung tangan karet, industri kayu dan barang dari kayu, serta industri tekstil dan produk tekstil.
Selanjutnya, industri alas kaki, industri kosmetik, sabun, dan bahan pembersih, industri kendaraan bermotor roda empat, industri kabel listrik, industri pipa dan sambungan pipa dari besi, industri alat mesin pertanian, industri elektronika konsumsi, industri perhiasan, serta industri kerajinan.&amp;ldquo;Adapun beberapa tantangan yang perlu segera dibenahi agar industri  kita bisa lebih berdaya saing, antara lain adalah menjaga ketersediaan  bahan baku dan komponen. Kemudian, dilakukan pendalaman struktur  industri, pengoptimalan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), dan terus  mendorong pembangunan kawasan industri termasuk sentra IKM,&amp;rdquo; tuturnya.
Agus menambahkan, kementeriannya juga fokus untuk turut menarik  investasi bagi sektor industri yang menghasilkan produk substitusi impor  dan tetap menjalankan kebijakan hilirisasi industri. &amp;ldquo;Untuk mengatasi  defisit neraca perdagangan sektor industri, juga dapat melalui  substitusi impor dan hilirisasi,&amp;rdquo; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memprioritaskan pengembangan sektor industri yang berorientasi ekspor. Upaya ini dinilai akan membenahi masalah struktural ekonomi yaitu defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan.
&amp;ldquo;Kita ketahui, kontribusi sektor industri manufaktur hingga saat ini masih mendominasi terhadap capaian nilai ekspor nasional. Jadi, ini merupakan salah satu poin bagi pemerintah untuk memberikan perhatian khusus pada pengembangan sektor industri manufaktur,&amp;rdquo; kata Agus, dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (17/1/2020).
Baca Juga: 6 Fakta Defisit Neraca Dagang Mengecil Jadi USD3,2 Miliar di 2019
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Januari-Desember 2019, ekspor produk industri pengolahan mampu menembus hingga USD126,57 miliar atau menyumbang sebesar 75,5% terhadap total ekspor Indonesia yang menyentuh di angka USD167,53 miliar sepanjang tahun lalu.
&amp;ldquo;Kita sudah punya peta jalan Making Indonesia 4.0, yang menjadi strategi kesiapan kita memasuki era industri 4.0. Melalui roadmap ini, kita juga akan meningkatkan 10% dari kontribusi ekspor netto terhadap PDB,&amp;rdquo; tuturnya.
Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Defisit USD3,2 Miliar Sepanjang 2019
Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian sudah memetakan 15 sektor yang akan mendapat prioritas pengembangan untuk digenjot kinerja ekspornya. Ke-15 sektor potensial tersebut, yakni industri pengolahan minyak kelapa sawit dan turunannya, industri makanan, industri kertas dan barang dari kertas, industri crumb rubber, ban, dan sarung tangan karet, industri kayu dan barang dari kayu, serta industri tekstil dan produk tekstil.
Selanjutnya, industri alas kaki, industri kosmetik, sabun, dan bahan pembersih, industri kendaraan bermotor roda empat, industri kabel listrik, industri pipa dan sambungan pipa dari besi, industri alat mesin pertanian, industri elektronika konsumsi, industri perhiasan, serta industri kerajinan.&amp;ldquo;Adapun beberapa tantangan yang perlu segera dibenahi agar industri  kita bisa lebih berdaya saing, antara lain adalah menjaga ketersediaan  bahan baku dan komponen. Kemudian, dilakukan pendalaman struktur  industri, pengoptimalan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), dan terus  mendorong pembangunan kawasan industri termasuk sentra IKM,&amp;rdquo; tuturnya.
Agus menambahkan, kementeriannya juga fokus untuk turut menarik  investasi bagi sektor industri yang menghasilkan produk substitusi impor  dan tetap menjalankan kebijakan hilirisasi industri. &amp;ldquo;Untuk mengatasi  defisit neraca perdagangan sektor industri, juga dapat melalui  substitusi impor dan hilirisasi,&amp;rdquo; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
