<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ada Terowongan Peninggalan Belanda di Bawah Rumah Warga Klaten</title><description>Terowongan De Suiker Fabriek Tjokro Toelong alias terowongan Pabrik  Gula (PG) Tjokro Toeloeng di zaman Belanda itu muncul kembali.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/17/470/2154231/ada-terowongan-peninggalan-belanda-di-bawah-rumah-warga-klaten</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/01/17/470/2154231/ada-terowongan-peninggalan-belanda-di-bawah-rumah-warga-klaten"/><item><title>Ada Terowongan Peninggalan Belanda di Bawah Rumah Warga Klaten</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/17/470/2154231/ada-terowongan-peninggalan-belanda-di-bawah-rumah-warga-klaten</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/01/17/470/2154231/ada-terowongan-peninggalan-belanda-di-bawah-rumah-warga-klaten</guid><pubDate>Jum'at 17 Januari 2020 13:35 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/17/470/2154231/ada-terowongan-peninggalan-belanda-di-bawah-rumah-warga-klaten-8A65JeCeF8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Terowongan peninggalan zaman Belanda (Foto: Solopos)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/17/470/2154231/ada-terowongan-peninggalan-belanda-di-bawah-rumah-warga-klaten-8A65JeCeF8.jpg</image><title>Terowongan peninggalan zaman Belanda (Foto: Solopos)</title></images><description>KLATEN &amp;ndash; Setelah sekian lama terpendam di dalam tanah di bawah rumah warga, terowongan De Suiker Fabriek Tjokro Toelong alias terowongan Pabrik Gula (PG) Tjokro Toeloeng di zaman Belanda itu muncul kembali.
Terowongan bersejarah tersebut diungkap warga Dukuh Cokro Kembang, Daleman, Tulung, Klaten. Selama puluhan tahun, sejumlah warga di Cokro Kembang tak menyadari di bawah fondasi rumahnya terdapat terowongan bersejarah.
Baca Juga: Teknologi SMART Tunnel Solusi Banjir di Tengah Kota
 
Lokasi terowongan berada sekitar 6,25 meter dari permukaan tanah. Terowongan yang sudah dibuka kembali oleh warga Cokro Kembang sepanjang hampir 100 meter. Pangkal terowongan ini diduga berpusat di bekas PG Tjokro Toeloeng yang saat ini dibangun Pasar Cokro. Terowongan berdinding batu bata kuno itu bermuara ke Kali Pusur. Jarak Pasar Cokro dengan Kali Pusur berkisar 500 meter.
Meski terpendam rumah warga, terowongan ini masih utuh. Di atas terowongan dibungkus pasir setebal kurang lebih satu meter. Selanjutnya, diberi pelapis beton dan diuruk tanah. Terowongan ini persis berada di bawah beberapa rumah warga Cokro Kembang, yang masing-masing rumah memiliki luas sekitar 400 meter persegi.
Baca Juga: Tangkal Banjir Bandung, Proyek Terowongan Ini Rampung Akhir Tahun
 
Belum diketahui pasti, terowongan itu merupakan bagian dari bungker atau bagian dari drainase pembuangan limbah di PG Tjokro Toeloeng. PG Tjokro Toeloeng diyakini warga setempat sebagai pabrik gula tertua di Jawa setelah pabrik gula di Brebes. PG Tjokro Toeloeng dibangun di zaman penjajahan Belanda, yakni tahun 1840. Pabrik tersebut hancur setelah Jepang berkuasa di Tanah Air. Saat ini, lahan bekas pabrik gula itu berdiri Pasar Cokro, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten.
Hingga sekarang, warga baru membuka secara manual akses ke terowongan sepanjang hampir 100 meter. Mulut terowongan memiliki diameter 1,6 meter. Semakin ke dalam, ruangan terowongan semakin membesar. Pascamemasuki terowongan sepanjang 17 meter, diameter terowongan mulai membesar, yakni berkisar 2,5 meter. Tinggi terowongan kurang lebih 2,5 meter.Terowongan ini memiliki tiga cabang. Warga baru membuka satu cabang  utama sepanjang hampir 100 meter. Satu cabang lainnya dalam kondisi  tertutup beton. Cabang lainnya masih tertutup lumpur. Terowongan ini  berdinding batu bata. Ketebalan konstruksi terowongan berkisar satu  meter, baik di bagian kanan, kiri, dan atas bangunan.
Penemuan terowongan ini kali pertama dilakukan Danang Heri Subiantoro  bersama warga lainnya, Wawan, 25 November 2019 lalu. Danang kemudian  memberi tahu warga. Mereka kemudian bergotong royong untuk membersihkan  terowongan. Mereka berpendapat terowongan ini bisa menjadi destinasi  wisata baru.
&amp;ldquo;Rumah warga di sini sudah bersertifikat. Ini diharapkan dapat  mendongkrak ekonomi warga. Ini tidak ada kepentingan pribadi. Sesuai  rencana, bulan Ramadan ke depan terowongan ini bisa dibuka untuk umum,&amp;rdquo;  katanya dilansir dari Solopos.com.
Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Daleman, Pardi, mendukung  penuh upaya warga menjadikan terowongan sebagai destinasi wisata.  &amp;ldquo;Setiap pekannya, warga di sini gotong royong membersihkan terowongan.  Diharapkan, terowongan itu menjadi objek wisata yang khas di Cokro dan  Klaten,&amp;rdquo; katanya.</description><content:encoded>KLATEN &amp;ndash; Setelah sekian lama terpendam di dalam tanah di bawah rumah warga, terowongan De Suiker Fabriek Tjokro Toelong alias terowongan Pabrik Gula (PG) Tjokro Toeloeng di zaman Belanda itu muncul kembali.
Terowongan bersejarah tersebut diungkap warga Dukuh Cokro Kembang, Daleman, Tulung, Klaten. Selama puluhan tahun, sejumlah warga di Cokro Kembang tak menyadari di bawah fondasi rumahnya terdapat terowongan bersejarah.
Baca Juga: Teknologi SMART Tunnel Solusi Banjir di Tengah Kota
 
Lokasi terowongan berada sekitar 6,25 meter dari permukaan tanah. Terowongan yang sudah dibuka kembali oleh warga Cokro Kembang sepanjang hampir 100 meter. Pangkal terowongan ini diduga berpusat di bekas PG Tjokro Toeloeng yang saat ini dibangun Pasar Cokro. Terowongan berdinding batu bata kuno itu bermuara ke Kali Pusur. Jarak Pasar Cokro dengan Kali Pusur berkisar 500 meter.
Meski terpendam rumah warga, terowongan ini masih utuh. Di atas terowongan dibungkus pasir setebal kurang lebih satu meter. Selanjutnya, diberi pelapis beton dan diuruk tanah. Terowongan ini persis berada di bawah beberapa rumah warga Cokro Kembang, yang masing-masing rumah memiliki luas sekitar 400 meter persegi.
Baca Juga: Tangkal Banjir Bandung, Proyek Terowongan Ini Rampung Akhir Tahun
 
Belum diketahui pasti, terowongan itu merupakan bagian dari bungker atau bagian dari drainase pembuangan limbah di PG Tjokro Toeloeng. PG Tjokro Toeloeng diyakini warga setempat sebagai pabrik gula tertua di Jawa setelah pabrik gula di Brebes. PG Tjokro Toeloeng dibangun di zaman penjajahan Belanda, yakni tahun 1840. Pabrik tersebut hancur setelah Jepang berkuasa di Tanah Air. Saat ini, lahan bekas pabrik gula itu berdiri Pasar Cokro, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten.
Hingga sekarang, warga baru membuka secara manual akses ke terowongan sepanjang hampir 100 meter. Mulut terowongan memiliki diameter 1,6 meter. Semakin ke dalam, ruangan terowongan semakin membesar. Pascamemasuki terowongan sepanjang 17 meter, diameter terowongan mulai membesar, yakni berkisar 2,5 meter. Tinggi terowongan kurang lebih 2,5 meter.Terowongan ini memiliki tiga cabang. Warga baru membuka satu cabang  utama sepanjang hampir 100 meter. Satu cabang lainnya dalam kondisi  tertutup beton. Cabang lainnya masih tertutup lumpur. Terowongan ini  berdinding batu bata. Ketebalan konstruksi terowongan berkisar satu  meter, baik di bagian kanan, kiri, dan atas bangunan.
Penemuan terowongan ini kali pertama dilakukan Danang Heri Subiantoro  bersama warga lainnya, Wawan, 25 November 2019 lalu. Danang kemudian  memberi tahu warga. Mereka kemudian bergotong royong untuk membersihkan  terowongan. Mereka berpendapat terowongan ini bisa menjadi destinasi  wisata baru.
&amp;ldquo;Rumah warga di sini sudah bersertifikat. Ini diharapkan dapat  mendongkrak ekonomi warga. Ini tidak ada kepentingan pribadi. Sesuai  rencana, bulan Ramadan ke depan terowongan ini bisa dibuka untuk umum,&amp;rdquo;  katanya dilansir dari Solopos.com.
Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Daleman, Pardi, mendukung  penuh upaya warga menjadikan terowongan sebagai destinasi wisata.  &amp;ldquo;Setiap pekannya, warga di sini gotong royong membersihkan terowongan.  Diharapkan, terowongan itu menjadi objek wisata yang khas di Cokro dan  Klaten,&amp;rdquo; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
