<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fakta-Fakta 15 Industri Prioritas Ekspor untuk Tekan Defisit Neraca Perdagangan</title><description>Kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2019 mengalami defisit USD3,2 miliar</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/20/320/2155068/fakta-fakta-15-industri-prioritas-ekspor-untuk-tekan-defisit-neraca-perdagangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/01/20/320/2155068/fakta-fakta-15-industri-prioritas-ekspor-untuk-tekan-defisit-neraca-perdagangan"/><item><title>Fakta-Fakta 15 Industri Prioritas Ekspor untuk Tekan Defisit Neraca Perdagangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/20/320/2155068/fakta-fakta-15-industri-prioritas-ekspor-untuk-tekan-defisit-neraca-perdagangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/01/20/320/2155068/fakta-fakta-15-industri-prioritas-ekspor-untuk-tekan-defisit-neraca-perdagangan</guid><pubDate>Senin 20 Januari 2020 09:11 WIB</pubDate><dc:creator>Maylisda Frisca Elenor Solagracia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/19/320/2155068/fakta-fakta-15-industri-prioritas-ekspor-untuk-tekan-defisit-neraca-perdagangan-AmOLkCFHPV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pelabuhan. (Foto: Okezone.com/Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/19/320/2155068/fakta-fakta-15-industri-prioritas-ekspor-untuk-tekan-defisit-neraca-perdagangan-AmOLkCFHPV.jpg</image><title>Pelabuhan. (Foto: Okezone.com/Koran Sindo)</title></images><description>JAKARTA - Kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2019 mengalami defisit USD3,2 miliar. Penyebab defisit neraca dagang  disebabkan salah satunya karena sektor migas.
Saat ini, pemerintah tengah menggenjot sektor industri. Dikabarkan sektor industri mampu menurunkan defisit neraca perdagangan.
Simak fakta mengenai neraca perdagangan yang dilansir oleh Okezone, pada Senin (20/1/2020):
1. Defisit 2019 Lebih Baik
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD3,2 miliar sepanjang 2019. Realisasi ini membaik dibandingkan sepanjang 2018 yang mengalami defisit sebesar USD8,6 miliar.
&quot;Defisit ini jauh lebih kecil bila dibandingkan tahun 2018, hampir sepertiganya. Jadi masih defisit, tapi jauh lebih kecil,&quot; ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (15/1/2020).
2. Ekspor-Impor Naik Tipis pada 2019
Defisit tersebut terdiri dari laju impor sepanjang 2019 yang sebesar USD170,72 miliar, sedangkan laju ekspor lebih lambat yakni sebesar USD167,52 miliar.
Kondisi ekspor maupun impor Indonesia yang hanya naik tipis dibanding tahun lalu, dikarenakan permintaan ekspor masih terbatas akibat perlambatan ekonomi dunia dan perang dagang yang masih berlanjut.
3. Penyebab Defisit
Penyebab defisit masih berasal dari migas. Sektor ini menyumbang kinerja defisit sebesar USD9,34 miliar sepanjang 2019, mengecil dari defisit migas di tahun 2018 yang sebesar USD12,69 miliar.
Defisit migas ini terdiri dari minyak mentah yang mengalami defisit sebesar USD4 miliar di tahun lalu, begitu pula dengan hasil minyak yang defisit USD11,73 miliar. Sedangkan untuk gas tercatat mengalami surplus sebesar USD6,39 miliar.
Secara rinci, laju ekspor migas di sepanjang tahun 2019 mencapai USD12,53 miliar, sedangkan laju impor mencapai sebesar USD21,88 miliar.4. Defisit Desember 2019
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia  pada Desember 2019 mengalami defisit tipis yakni USD28,2 juta. Realisasi  ini membaik dari posisi Desember 2018 yang mengalami defisit sebesar  USD1,07 miliar.
Begitu pula bila dibandingkan secara bulanan, mengalami perbaikan dari November 2019 yang tercatat defisit USD1,39 miliar.
&quot;Jadi realisasi Desember defisit tipis, jauh lebih rendah dari  defisit di November 2019,&quot; ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi  pers, Jakarta, Rabu (15/1/2020).
5. Perekonomian Global
Menurut Suhariyanto, kinerja ini tak terlepas dari kondisi  perekonomian global yang tengah mengalami ketidakpastian. Harga  komoditas sepanjang Desember 2019 pun mengalami kenaikan dan penurunan  dari November 2018.
Seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP) menjadi USD67,18 per  barel dari bulan sebelumnya USD63,26 per barel. Harga minyak kelapa  sawit (CPO) pun naik 12,67% dan karet naik 7,35% di Desember 2019.
6. Upaya Pemerintah Meneken Impor dan Meningkatkan Ekspor
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar  Panjaitan menilai, kinerja neraca dagang Indonesia sebesar USD USD3,20  miliar sepanjang 2019 terbilang cukup baik. Lantaran, realisasi defisit  mengecil bila dibandingkan dengan 2018.
Menurutnya, penurunan defisit tak lepas dari upaya pemerintah untuk  menekan impor dan menggenjot ekspor. Salah satunya, melalui kebijakan  mandatori B20 yakni pencampuran solar dengan 20% biodesel sejak  September 2018.
Hal ini dinilai mampu menekan impor bahan bakar minyak (BBM) yang  selama ini terus menyumbang defisit dalam neraca dagang Indonesia. &quot;  Jadi ini sekarang lagi dijalani semua. Karena impor kan jadi berkurang  karena B20,&quot; imbuhnya.7. Dorong Industri untuk Menurukan Defisit Neraca Perdagangan
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memprioritaskan   pengembangan sektor industri yang berorientasi ekspor. Upaya ini dinilai   akan membenahi masalah struktural ekonomi yaitu defisit neraca   perdagangan dan defisit transaksi berjalan.
&amp;ldquo;Kita ketahui, kontribusi sektor industri manufaktur hingga saat ini   masih mendominasi terhadap capaian nilai ekspor nasional. Jadi, ini   merupakan salah satu poin bagi pemerintah untuk memberikan perhatian   khusus pada pengembangan sektor industri manufaktur,&amp;rdquo; kata Agus, dalam   keterangannya, Jakarta, Jumat (17/1/2020).
8. 15 sektor Prioritas Pengembangan
Kementerian Perindustrian sudah memetakan 15 sektor yang akan   mendapat prioritas pengembangan untuk digenjot kinerja ekspornya. Ke-15   sektor potensial tersebut, yakni industri pengolahan minyak kelapa  sawit  dan turunannya, industri makanan, industri kertas dan barang dari   kertas, industri crumb rubber, ban, dan sarung tangan karet, industri   kayu dan barang dari kayu, serta industri tekstil dan produk tekstil.
Selanjutnya, industri alas kaki, industri kosmetik, sabun, dan bahan   pembersih, industri kendaraan bermotor roda empat, industri kabel   listrik, industri pipa dan sambungan pipa dari besi, industri alat mesin   pertanian, industri elektronika konsumsi, industri perhiasan, serta   industri kerajinan.</description><content:encoded>JAKARTA - Kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2019 mengalami defisit USD3,2 miliar. Penyebab defisit neraca dagang  disebabkan salah satunya karena sektor migas.
Saat ini, pemerintah tengah menggenjot sektor industri. Dikabarkan sektor industri mampu menurunkan defisit neraca perdagangan.
Simak fakta mengenai neraca perdagangan yang dilansir oleh Okezone, pada Senin (20/1/2020):
1. Defisit 2019 Lebih Baik
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD3,2 miliar sepanjang 2019. Realisasi ini membaik dibandingkan sepanjang 2018 yang mengalami defisit sebesar USD8,6 miliar.
&quot;Defisit ini jauh lebih kecil bila dibandingkan tahun 2018, hampir sepertiganya. Jadi masih defisit, tapi jauh lebih kecil,&quot; ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (15/1/2020).
2. Ekspor-Impor Naik Tipis pada 2019
Defisit tersebut terdiri dari laju impor sepanjang 2019 yang sebesar USD170,72 miliar, sedangkan laju ekspor lebih lambat yakni sebesar USD167,52 miliar.
Kondisi ekspor maupun impor Indonesia yang hanya naik tipis dibanding tahun lalu, dikarenakan permintaan ekspor masih terbatas akibat perlambatan ekonomi dunia dan perang dagang yang masih berlanjut.
3. Penyebab Defisit
Penyebab defisit masih berasal dari migas. Sektor ini menyumbang kinerja defisit sebesar USD9,34 miliar sepanjang 2019, mengecil dari defisit migas di tahun 2018 yang sebesar USD12,69 miliar.
Defisit migas ini terdiri dari minyak mentah yang mengalami defisit sebesar USD4 miliar di tahun lalu, begitu pula dengan hasil minyak yang defisit USD11,73 miliar. Sedangkan untuk gas tercatat mengalami surplus sebesar USD6,39 miliar.
Secara rinci, laju ekspor migas di sepanjang tahun 2019 mencapai USD12,53 miliar, sedangkan laju impor mencapai sebesar USD21,88 miliar.4. Defisit Desember 2019
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia  pada Desember 2019 mengalami defisit tipis yakni USD28,2 juta. Realisasi  ini membaik dari posisi Desember 2018 yang mengalami defisit sebesar  USD1,07 miliar.
Begitu pula bila dibandingkan secara bulanan, mengalami perbaikan dari November 2019 yang tercatat defisit USD1,39 miliar.
&quot;Jadi realisasi Desember defisit tipis, jauh lebih rendah dari  defisit di November 2019,&quot; ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi  pers, Jakarta, Rabu (15/1/2020).
5. Perekonomian Global
Menurut Suhariyanto, kinerja ini tak terlepas dari kondisi  perekonomian global yang tengah mengalami ketidakpastian. Harga  komoditas sepanjang Desember 2019 pun mengalami kenaikan dan penurunan  dari November 2018.
Seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP) menjadi USD67,18 per  barel dari bulan sebelumnya USD63,26 per barel. Harga minyak kelapa  sawit (CPO) pun naik 12,67% dan karet naik 7,35% di Desember 2019.
6. Upaya Pemerintah Meneken Impor dan Meningkatkan Ekspor
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar  Panjaitan menilai, kinerja neraca dagang Indonesia sebesar USD USD3,20  miliar sepanjang 2019 terbilang cukup baik. Lantaran, realisasi defisit  mengecil bila dibandingkan dengan 2018.
Menurutnya, penurunan defisit tak lepas dari upaya pemerintah untuk  menekan impor dan menggenjot ekspor. Salah satunya, melalui kebijakan  mandatori B20 yakni pencampuran solar dengan 20% biodesel sejak  September 2018.
Hal ini dinilai mampu menekan impor bahan bakar minyak (BBM) yang  selama ini terus menyumbang defisit dalam neraca dagang Indonesia. &quot;  Jadi ini sekarang lagi dijalani semua. Karena impor kan jadi berkurang  karena B20,&quot; imbuhnya.7. Dorong Industri untuk Menurukan Defisit Neraca Perdagangan
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memprioritaskan   pengembangan sektor industri yang berorientasi ekspor. Upaya ini dinilai   akan membenahi masalah struktural ekonomi yaitu defisit neraca   perdagangan dan defisit transaksi berjalan.
&amp;ldquo;Kita ketahui, kontribusi sektor industri manufaktur hingga saat ini   masih mendominasi terhadap capaian nilai ekspor nasional. Jadi, ini   merupakan salah satu poin bagi pemerintah untuk memberikan perhatian   khusus pada pengembangan sektor industri manufaktur,&amp;rdquo; kata Agus, dalam   keterangannya, Jakarta, Jumat (17/1/2020).
8. 15 sektor Prioritas Pengembangan
Kementerian Perindustrian sudah memetakan 15 sektor yang akan   mendapat prioritas pengembangan untuk digenjot kinerja ekspornya. Ke-15   sektor potensial tersebut, yakni industri pengolahan minyak kelapa  sawit  dan turunannya, industri makanan, industri kertas dan barang dari   kertas, industri crumb rubber, ban, dan sarung tangan karet, industri   kayu dan barang dari kayu, serta industri tekstil dan produk tekstil.
Selanjutnya, industri alas kaki, industri kosmetik, sabun, dan bahan   pembersih, industri kendaraan bermotor roda empat, industri kabel   listrik, industri pipa dan sambungan pipa dari besi, industri alat mesin   pertanian, industri elektronika konsumsi, industri perhiasan, serta   industri kerajinan.</content:encoded></item></channel></rss>
