<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Irfan Setiaputra Jadi Bos Garuda, Bagaimana Tarif Tiket Pesawat?</title><description>PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk kini resmi memiliki jajaran direksi baru, yang diharapkan bisa menjadi angin segar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/23/320/2157352/irfan-setiaputra-jadi-bos-garuda-bagaimana-tarif-tiket-pesawat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/01/23/320/2157352/irfan-setiaputra-jadi-bos-garuda-bagaimana-tarif-tiket-pesawat"/><item><title>Irfan Setiaputra Jadi Bos Garuda, Bagaimana Tarif Tiket Pesawat?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/23/320/2157352/irfan-setiaputra-jadi-bos-garuda-bagaimana-tarif-tiket-pesawat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/01/23/320/2157352/irfan-setiaputra-jadi-bos-garuda-bagaimana-tarif-tiket-pesawat</guid><pubDate>Kamis 23 Januari 2020 19:14 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/23/320/2157352/irfan-setiaputra-jadi-bos-garuda-bagaimana-tarif-tiket-pesawat-YFF9J55cXf.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Direksi Garuda Indonesia (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/23/320/2157352/irfan-setiaputra-jadi-bos-garuda-bagaimana-tarif-tiket-pesawat-YFF9J55cXf.jpeg</image><title>Direksi Garuda Indonesia (Foto: Okezone.com)</title></images><description>TANGERANG - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk kini resmi memiliki jajaran direksi baru, yang diharapkan bisa menjadi angin segar bagi industri penerbangan. Khususnya terkait permasalahan mahalnya tarif tiket pesawat yang sudah berlangsung sejak akhir 2018.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyatakan, persoalan tarif tiket pesawat memang bakal menjadi pembahasan bagi manajemen baru perusahaan pelat merah itu. Namun, tidak untuk dalam waktu dekat.
&quot;Ini tidak dalam waktu dekat, tapi kami tetap me-review dari waktu ke waktu, bagaimana tarif bisa lebih mendekati kenyataan atau harapan dari para pelanggan kami,&quot; ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat Garuda Indonesia, Tangerang, Kamis (23/1/2020).
Baca juga: Jajaran Direksi Garuda yang Baru Akan Temui Menhub Besok
Selain tiket pesawat, Irfan juga memastikan belum ada rencana perubahan rute penerbangan pada Garuda Indonesia dalam waktu dekat. &quot;Untuk rute yang selama ini dilayani oleh Garuda belum akan mengalami perubahan apapun,&quot; katanya.
Sekedar diketahui, persoalan mahalnya tarif tiket pesawat memang terus menjadi keluhan bagi masyarakat. Imbasnya sejumlah bandara di Indonesia pun mencatatkan penurunan jumlah penumpang.
Baca juga: Jadi Komisaris Independen, Yenny Wahid: Saya Diminta Perbaiki Garuda 
PT Angkasa Pura II (Persero) bahkan memperkirakan pergerakan penumpang di 16 bandaranya hanya mencapai 90,5 juta penumpang di tahun 2019. Angka ini mengalami penurunan 18,5% dari tahun sebelumnya yang mencapai 112,6 juta penumpang.
Sementara pada bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I (Persero), seperti pada Internasional Adisutjipto Yogyakarta dan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), total keduanya mencapai 7,1 juta penumpang di 2019. Mengalami penurunan 1,3 juta penumpang dari tahun 2018.Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi  Sukamdani juga sempat mengeluhkan imbas mahalnya tiket pesawat pada  sektor pariwisata. Lantaran berkurangnya minat masyarakat untuk  melakukan perjalanan.
Hariyadi juga menyebut, Mantan Dirut Garuda Indonesia Ari Askhara  menjadi tokoh dibalik terjadinya kartel tiket pesawat yang membuat  tingginya tarif penerbangan. Saat ini memang industri penerbangan  dikuasai dua grup besar, Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group.
Oleh sebab itu, pencopotan Ari dan pergantian direksi Garuda  Indonesia diharapkan mampu memperbaiki persoalan mahalnya tiket pesawat.  &quot;Kami berharap, paling tidak menjadi kompetitif (harga tiket pesawat).   Kalau yang dirasakan masyarakat memang tiket harganya itu tidak  kompetitif,&quot; kata Hariyadi ditemui di Kantor Kemenko Bidang  Perekonomian, Jakarta, Jumat (6/12/2019).</description><content:encoded>TANGERANG - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk kini resmi memiliki jajaran direksi baru, yang diharapkan bisa menjadi angin segar bagi industri penerbangan. Khususnya terkait permasalahan mahalnya tarif tiket pesawat yang sudah berlangsung sejak akhir 2018.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyatakan, persoalan tarif tiket pesawat memang bakal menjadi pembahasan bagi manajemen baru perusahaan pelat merah itu. Namun, tidak untuk dalam waktu dekat.
&quot;Ini tidak dalam waktu dekat, tapi kami tetap me-review dari waktu ke waktu, bagaimana tarif bisa lebih mendekati kenyataan atau harapan dari para pelanggan kami,&quot; ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat Garuda Indonesia, Tangerang, Kamis (23/1/2020).
Baca juga: Jajaran Direksi Garuda yang Baru Akan Temui Menhub Besok
Selain tiket pesawat, Irfan juga memastikan belum ada rencana perubahan rute penerbangan pada Garuda Indonesia dalam waktu dekat. &quot;Untuk rute yang selama ini dilayani oleh Garuda belum akan mengalami perubahan apapun,&quot; katanya.
Sekedar diketahui, persoalan mahalnya tarif tiket pesawat memang terus menjadi keluhan bagi masyarakat. Imbasnya sejumlah bandara di Indonesia pun mencatatkan penurunan jumlah penumpang.
Baca juga: Jadi Komisaris Independen, Yenny Wahid: Saya Diminta Perbaiki Garuda 
PT Angkasa Pura II (Persero) bahkan memperkirakan pergerakan penumpang di 16 bandaranya hanya mencapai 90,5 juta penumpang di tahun 2019. Angka ini mengalami penurunan 18,5% dari tahun sebelumnya yang mencapai 112,6 juta penumpang.
Sementara pada bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I (Persero), seperti pada Internasional Adisutjipto Yogyakarta dan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), total keduanya mencapai 7,1 juta penumpang di 2019. Mengalami penurunan 1,3 juta penumpang dari tahun 2018.Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi  Sukamdani juga sempat mengeluhkan imbas mahalnya tiket pesawat pada  sektor pariwisata. Lantaran berkurangnya minat masyarakat untuk  melakukan perjalanan.
Hariyadi juga menyebut, Mantan Dirut Garuda Indonesia Ari Askhara  menjadi tokoh dibalik terjadinya kartel tiket pesawat yang membuat  tingginya tarif penerbangan. Saat ini memang industri penerbangan  dikuasai dua grup besar, Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group.
Oleh sebab itu, pencopotan Ari dan pergantian direksi Garuda  Indonesia diharapkan mampu memperbaiki persoalan mahalnya tiket pesawat.  &quot;Kami berharap, paling tidak menjadi kompetitif (harga tiket pesawat).   Kalau yang dirasakan masyarakat memang tiket harganya itu tidak  kompetitif,&quot; kata Hariyadi ditemui di Kantor Kemenko Bidang  Perekonomian, Jakarta, Jumat (6/12/2019).</content:encoded></item></channel></rss>
