<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kepala BRIN Sebut Australia Partner Riset Potensial bagi RI   </title><description>Bambang Brodjonegoro menyampaikan terdapat peluang kerja sama antara universitas dengan lembaga penelitian.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/24/320/2157827/kepala-brin-sebut-australia-partner-riset-potensial-bagi-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/01/24/320/2157827/kepala-brin-sebut-australia-partner-riset-potensial-bagi-ri"/><item><title>Kepala BRIN Sebut Australia Partner Riset Potensial bagi RI   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/24/320/2157827/kepala-brin-sebut-australia-partner-riset-potensial-bagi-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/01/24/320/2157827/kepala-brin-sebut-australia-partner-riset-potensial-bagi-ri</guid><pubDate>Jum'at 24 Januari 2020 16:37 WIB</pubDate><dc:creator>Vania Halim</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/24/320/2157827/kepala-brin-sebut-australia-partner-riset-potensial-bagi-ri-iQNbQ7bs4E.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menristek dan Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro (Foto: BPMI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/24/320/2157827/kepala-brin-sebut-australia-partner-riset-potensial-bagi-ri-iQNbQ7bs4E.jpg</image><title>Menristek dan Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro (Foto: BPMI)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menyampaikan terdapat peluang kerja sama antara universitas dengan lembaga penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (litbangjirap) Australia untuk melakukan kolaborasi bersama dengan perguruan tinggi dan lembaga litbangjirap di Indonesia.

Bambang mengungkapkan kolaborasi antara Indonesia dan Australia selama ini pada umumnya berjalan baik dan dapat ditingkatkan.
Baca Juga: Kepala BRIN: Tantangan Ubah Mindset Masyarakat soal Produk Inovasi RI
Bentuk kolaborasi selain pada tema-tema kerjasama, antara lain dalam bidang pertanian dan kehutanan, alternatif energi dan energi terbaharukan (renewable energy), kesehatan, perikanan dan kelautan, juga kolaborasi untuk peningkatan kapasitas (capacity building program) dalam bentuk pemberian beasiswa degree maupun non-degree (training, workshop, seminar, dan sebagainya).

&quot;Saya sangat mengapresiasi program-program kolaborasi yang sudah dilakukan Indonesia bersama Australia, karena pada dasarnya Australia adalah partner kolaborasi riset dan inovasi yang sangat potensial, tidak hanya karena banyak Professor Indonesia lulus dari Australia, terutama untuk program magister dan doktoral, tapi lebih penting lagi karena lokasi strategis dari kedua Negara ini. Indonesia dan Australia secara geografis, sangat dekat satu sama lain. Sehingga perlu diidentifikasi lebih banyak lagi untuk area-area kerjasama bilateral,&quot; ungkapnya dalam keterangannya tertulisnya, Jakarta, Jumat (24/1/2020).
Baca Juga: Jokowi Minta Akhiri Tumpang Tindih Anggaran Riset
Bambang mengatakan, Australia saat ini terlihat bisa melakukan lebih banyak kerja sama mengenai riset dan inovasi dengan Indonesia.

Sekarang Australia menjadi negara dengan urutan nomor enam yang paling banyak melakukan kolaborasi penelitian dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia (berdasarkan data Foreign Research Permit - FRP), namun itikad Pemerintah Australia bersama universitas dan lembaga penelitiannya dalam penyediaan dan/atau kontribusi pendanaan riset dan inovasi, termasuk yang tertinggi di Indonesia.


&quot;Australia bisa saja nomor enam dalam jumlah penelitian (bersama Indonesia), tapi dapat disyukuri Australia masuk peringkat tiga tertinggi dalam urutan Negara donor yang memberikan dukungan pendanaan untuk kolaborasi riset,&quot; jelasnya.
Kemenristek saat ini juga sudah membuat kerja sama penelitian antara  sebelas perguruan tinggi, seperti Indonesia dengan Massachusetts  Institute of Technology (MIT) - Amerika Serikat (AS), yang disebut  sebagai MIT - Indonesia Research Alliance (MIRA). Mekanisme seperti ini  tentu saja bisa dimultiplikasi, sehingga Universitas terbaik asal  Australia juga dapat melakukan kolaborasi riset dengan banyak  universitas maupun lembaga litbangjirap asal Indonesia.

&quot;Kami memberi perlakuan sama kepada setiap universitas atau institusi  litbangjirap terbaik dari seluruh dunia, selama mereka adakan partner  di Indonesia. Contohnya dalam kerjasama perguruan tinggi (PT) di  Indonesia dengan MIT - AS, banyak bidang-bidang penelitian yang sudah  disetujui oleh profesor dari MIT - AS dan Profesor dari PT di  Indonesia,&quot; ungkapnya.

Dia menambahkan ITB tidak hanya satu-satunya peerguruan tinggi yang  terlibat dalam konsorsium MIRA tersebut, karena ini konsorsium dari  sebelas universitas. ITB memimpin cluster riset dan inovasi tersebut,  sebagai Sekretariat Nasional untuk kolaborasi MIRA ini.
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menyampaikan terdapat peluang kerja sama antara universitas dengan lembaga penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (litbangjirap) Australia untuk melakukan kolaborasi bersama dengan perguruan tinggi dan lembaga litbangjirap di Indonesia.

Bambang mengungkapkan kolaborasi antara Indonesia dan Australia selama ini pada umumnya berjalan baik dan dapat ditingkatkan.
Baca Juga: Kepala BRIN: Tantangan Ubah Mindset Masyarakat soal Produk Inovasi RI
Bentuk kolaborasi selain pada tema-tema kerjasama, antara lain dalam bidang pertanian dan kehutanan, alternatif energi dan energi terbaharukan (renewable energy), kesehatan, perikanan dan kelautan, juga kolaborasi untuk peningkatan kapasitas (capacity building program) dalam bentuk pemberian beasiswa degree maupun non-degree (training, workshop, seminar, dan sebagainya).

&quot;Saya sangat mengapresiasi program-program kolaborasi yang sudah dilakukan Indonesia bersama Australia, karena pada dasarnya Australia adalah partner kolaborasi riset dan inovasi yang sangat potensial, tidak hanya karena banyak Professor Indonesia lulus dari Australia, terutama untuk program magister dan doktoral, tapi lebih penting lagi karena lokasi strategis dari kedua Negara ini. Indonesia dan Australia secara geografis, sangat dekat satu sama lain. Sehingga perlu diidentifikasi lebih banyak lagi untuk area-area kerjasama bilateral,&quot; ungkapnya dalam keterangannya tertulisnya, Jakarta, Jumat (24/1/2020).
Baca Juga: Jokowi Minta Akhiri Tumpang Tindih Anggaran Riset
Bambang mengatakan, Australia saat ini terlihat bisa melakukan lebih banyak kerja sama mengenai riset dan inovasi dengan Indonesia.

Sekarang Australia menjadi negara dengan urutan nomor enam yang paling banyak melakukan kolaborasi penelitian dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia (berdasarkan data Foreign Research Permit - FRP), namun itikad Pemerintah Australia bersama universitas dan lembaga penelitiannya dalam penyediaan dan/atau kontribusi pendanaan riset dan inovasi, termasuk yang tertinggi di Indonesia.


&quot;Australia bisa saja nomor enam dalam jumlah penelitian (bersama Indonesia), tapi dapat disyukuri Australia masuk peringkat tiga tertinggi dalam urutan Negara donor yang memberikan dukungan pendanaan untuk kolaborasi riset,&quot; jelasnya.
Kemenristek saat ini juga sudah membuat kerja sama penelitian antara  sebelas perguruan tinggi, seperti Indonesia dengan Massachusetts  Institute of Technology (MIT) - Amerika Serikat (AS), yang disebut  sebagai MIT - Indonesia Research Alliance (MIRA). Mekanisme seperti ini  tentu saja bisa dimultiplikasi, sehingga Universitas terbaik asal  Australia juga dapat melakukan kolaborasi riset dengan banyak  universitas maupun lembaga litbangjirap asal Indonesia.

&quot;Kami memberi perlakuan sama kepada setiap universitas atau institusi  litbangjirap terbaik dari seluruh dunia, selama mereka adakan partner  di Indonesia. Contohnya dalam kerjasama perguruan tinggi (PT) di  Indonesia dengan MIT - AS, banyak bidang-bidang penelitian yang sudah  disetujui oleh profesor dari MIT - AS dan Profesor dari PT di  Indonesia,&quot; ungkapnya.

Dia menambahkan ITB tidak hanya satu-satunya peerguruan tinggi yang  terlibat dalam konsorsium MIRA tersebut, karena ini konsorsium dari  sebelas universitas. ITB memimpin cluster riset dan inovasi tersebut,  sebagai Sekretariat Nasional untuk kolaborasi MIRA ini.
</content:encoded></item></channel></rss>
