<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>      Daftar Negara dengan Jam Kerja Terbanyak, Siapa Juaranya?</title><description>Amerika Serikat tidak memiliki undang-undang di tingkat pusat yang mewajibkan pengusaha untuk menawarkan liburan berbayar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/26/320/2158575/daftar-negara-dengan-jam-kerja-terbanyak-siapa-juaranya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/01/26/320/2158575/daftar-negara-dengan-jam-kerja-terbanyak-siapa-juaranya"/><item><title>      Daftar Negara dengan Jam Kerja Terbanyak, Siapa Juaranya?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/26/320/2158575/daftar-negara-dengan-jam-kerja-terbanyak-siapa-juaranya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/01/26/320/2158575/daftar-negara-dengan-jam-kerja-terbanyak-siapa-juaranya</guid><pubDate>Minggu 26 Januari 2020 17:22 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/26/320/2158575/daftar-negara-dengan-jam-kerja-terbanyak-siapa-juaranya-JfXhLkmlOY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kerja (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/26/320/2158575/daftar-negara-dengan-jam-kerja-terbanyak-siapa-juaranya-JfXhLkmlOY.jpg</image><title>Kerja (Foto: Shutterstock)</title></images><description> 
JAKARTA - Amerika Serikat adalah satu-satunya negara maju yang tidak memiliki undang-undang di tingkat pusat yang mewajibkan pengusaha untuk menawarkan liburan berbayar kepada karyawan.

Sekitar 77% dari pemberi kerja di AS menawarkan liburan berbayar kepada pekerja, tapi jumlahnya bervariasi di setiap perusahaan. Secara keseluruhan, para pekerja di AS mengambil lebih sedikit liburan dibandingkan karyawan di banyak negara maju lainnya.
Baca Juga: Diberi Hak Tanpa Batas, Mengapa Sejumlah Karyawan 'Malas' Ambil Cuti?
Melansir BBC Indonesia, Jakarta, Minggu (26/1/2020), pada tahun 2014, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menemukan fakta bahwa pekerja AS bekerja 1.789 jam per tahun. Dalam kajian itu, AS berada di peringkat ke-16.

Sementara itu, Meksiko menempati urutan pertama dengan 2.228 jam. Jerman ada di peringkat terakhir dengan 1.366 jam.
Baca Juga: Gila Kerja, Pekerja Jepang Jarang Ambil Cuti Tahunan
Sebaliknya, setiap negara di Uni Eropa diwajibkan undang-undang untuk menawarkan setidaknya empat minggu libur berbayar, dengan berbagai kebijakan akrual per negara. Austria memimpin penerapan ketentuan itu dengan menawarkan 35 hari libur dibayar per tahun.

Demikian pula, di Selandia Baru. Para pengusaha setempat harus memberi libur minimum empat minggu kepada karyawan, tidak termasuk hari libur umum atau cuti sakit.
Di Buffer, peralihan ke cuti minimum dipicu kebingungan. Karyawan  berjuang memahami jumlah cuti yang diizinkan, mungkin karena tidak ada  tolok ukur yang umum.

&quot;Orang-orang tidak tahu berapa banyak waktu yang dilewati semua  orang, seperti, apa normanya?&quot; kata Hailley Griffis, juru bicara Buffer.

&quot;Kami tidak ingin mereka kelelahan. Kami ingin karyawan kami memiliki gaya hidup paling seimbang yang mereka bisa terapkan.&quot;

Menghindari kebingungan ini menjadi perhatian umum di antara  perusahaan yang beralih dari keijakan cuti tanpa batas ke jumlah minimum  cuti.

CEO Baremetrics Josh Pigford, sebuah perusahaan analitik jarak jauh  dan platform perkiraan cuaca yang berbasis di San Francisco, AS,  membatalkan kebijakan cuti tidak terbatas karena karyawannya tidak 'tahu  batasan'.

Kenyataannya adalah, ada batasan, seperti, kamu tidak bisa libur sepanjang tahun,&quot; kata Pigford.

&quot;Jadi ini mengakibatkan orang tidak mengambil cuti atau ada pandangan  negatif terhadap karyawan yang mungkin dianggap mengambil terlalu  banyak cuti,&quot; ujarnya.
Saat ini setiap karyawan harus mengambil cuti setidaknya empat minggu   per tahun, dengan minimal satu blok liburan selama sepekan.

Platform Baremetrics melacak hari libur melalui kertas kerja yang   bisa diakses bersama, yang menunjukkan karyawan mana yang berada di   jalur untuk mencapai minimum yang diperlukan.

Di Authentic Jobs, perusahaan pencari kerja yang berbasis di Florida,   AS, para pekerja khawatir mengambil terlalu banyak liburan akan   menimbulkan masalah antara mereka dan sejawat.

Pendiri dan mantan CEO perusahaan itu, Cameron Moll, berkata, &quot;Anda   selalu curiga, 'Ya ampun, haruskah saya benar-benar mengambil cuti ini   karena rekan kerja saya belum mengambil cuti sebanyak ini'&quot;.

Setelah perusahaan bergeser ke cuti minimum, efek dari kebijakan dengan cepat terwujud.

Moll mengatakan, 'pelepasan mental' segera terjadi di seluruh   karyawannya. Mereka kini mempunyai cara pandang berbeda tentang hari   kerja dan hari libur.</description><content:encoded> 
JAKARTA - Amerika Serikat adalah satu-satunya negara maju yang tidak memiliki undang-undang di tingkat pusat yang mewajibkan pengusaha untuk menawarkan liburan berbayar kepada karyawan.

Sekitar 77% dari pemberi kerja di AS menawarkan liburan berbayar kepada pekerja, tapi jumlahnya bervariasi di setiap perusahaan. Secara keseluruhan, para pekerja di AS mengambil lebih sedikit liburan dibandingkan karyawan di banyak negara maju lainnya.
Baca Juga: Diberi Hak Tanpa Batas, Mengapa Sejumlah Karyawan 'Malas' Ambil Cuti?
Melansir BBC Indonesia, Jakarta, Minggu (26/1/2020), pada tahun 2014, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menemukan fakta bahwa pekerja AS bekerja 1.789 jam per tahun. Dalam kajian itu, AS berada di peringkat ke-16.

Sementara itu, Meksiko menempati urutan pertama dengan 2.228 jam. Jerman ada di peringkat terakhir dengan 1.366 jam.
Baca Juga: Gila Kerja, Pekerja Jepang Jarang Ambil Cuti Tahunan
Sebaliknya, setiap negara di Uni Eropa diwajibkan undang-undang untuk menawarkan setidaknya empat minggu libur berbayar, dengan berbagai kebijakan akrual per negara. Austria memimpin penerapan ketentuan itu dengan menawarkan 35 hari libur dibayar per tahun.

Demikian pula, di Selandia Baru. Para pengusaha setempat harus memberi libur minimum empat minggu kepada karyawan, tidak termasuk hari libur umum atau cuti sakit.
Di Buffer, peralihan ke cuti minimum dipicu kebingungan. Karyawan  berjuang memahami jumlah cuti yang diizinkan, mungkin karena tidak ada  tolok ukur yang umum.

&quot;Orang-orang tidak tahu berapa banyak waktu yang dilewati semua  orang, seperti, apa normanya?&quot; kata Hailley Griffis, juru bicara Buffer.

&quot;Kami tidak ingin mereka kelelahan. Kami ingin karyawan kami memiliki gaya hidup paling seimbang yang mereka bisa terapkan.&quot;

Menghindari kebingungan ini menjadi perhatian umum di antara  perusahaan yang beralih dari keijakan cuti tanpa batas ke jumlah minimum  cuti.

CEO Baremetrics Josh Pigford, sebuah perusahaan analitik jarak jauh  dan platform perkiraan cuaca yang berbasis di San Francisco, AS,  membatalkan kebijakan cuti tidak terbatas karena karyawannya tidak 'tahu  batasan'.

Kenyataannya adalah, ada batasan, seperti, kamu tidak bisa libur sepanjang tahun,&quot; kata Pigford.

&quot;Jadi ini mengakibatkan orang tidak mengambil cuti atau ada pandangan  negatif terhadap karyawan yang mungkin dianggap mengambil terlalu  banyak cuti,&quot; ujarnya.
Saat ini setiap karyawan harus mengambil cuti setidaknya empat minggu   per tahun, dengan minimal satu blok liburan selama sepekan.

Platform Baremetrics melacak hari libur melalui kertas kerja yang   bisa diakses bersama, yang menunjukkan karyawan mana yang berada di   jalur untuk mencapai minimum yang diperlukan.

Di Authentic Jobs, perusahaan pencari kerja yang berbasis di Florida,   AS, para pekerja khawatir mengambil terlalu banyak liburan akan   menimbulkan masalah antara mereka dan sejawat.

Pendiri dan mantan CEO perusahaan itu, Cameron Moll, berkata, &quot;Anda   selalu curiga, 'Ya ampun, haruskah saya benar-benar mengambil cuti ini   karena rekan kerja saya belum mengambil cuti sebanyak ini'&quot;.

Setelah perusahaan bergeser ke cuti minimum, efek dari kebijakan dengan cepat terwujud.

Moll mengatakan, 'pelepasan mental' segera terjadi di seluruh   karyawannya. Mereka kini mempunyai cara pandang berbeda tentang hari   kerja dan hari libur.</content:encoded></item></channel></rss>
