<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perekonomian Terdampak Virus Korona, Apa yang Dapat Dilakukan Pebisnis?</title><description>Wabah virus korona saat ini tengah menjadi berita utama karena sering dibahas di berbagai penjuru dunia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/31/20/2161350/perekonomian-terdampak-virus-korona-apa-yang-dapat-dilakukan-pebisnis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/01/31/20/2161350/perekonomian-terdampak-virus-korona-apa-yang-dapat-dilakukan-pebisnis"/><item><title>Perekonomian Terdampak Virus Korona, Apa yang Dapat Dilakukan Pebisnis?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/01/31/20/2161350/perekonomian-terdampak-virus-korona-apa-yang-dapat-dilakukan-pebisnis</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/01/31/20/2161350/perekonomian-terdampak-virus-korona-apa-yang-dapat-dilakukan-pebisnis</guid><pubDate>Jum'at 31 Januari 2020 20:05 WIB</pubDate><dc:creator>Hairunnisa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/31/20/2161350/perekonomian-terdampak-virus-korona-apa-yang-dapat-dilakukan-pebisnis-jgSkoBWmTg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wuhan (reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/31/20/2161350/perekonomian-terdampak-virus-korona-apa-yang-dapat-dilakukan-pebisnis-jgSkoBWmTg.jpg</image><title>Wuhan (reuters)</title></images><description>JAKARTA - Wabah virus korona saat ini tengah menjadi berita utama karena sering dibahas di berbagai penjuru dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Virus yang berasal dari China ini terus menyebar dengan hampir 3.000 kasus yang dikonfirmasi dan 80 kematian di 12 negara.

Virus yang berbahaya ini bisa berpotensi untuk menghancurkan suatu bisnis. Apa yang seharusnya dilakukan semua bisnis sekarang?
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dampak Ekonomi Wabah Virus Korona, dari Maskapai hingga Smartphone 'Terinfeksi'
Mengutip dari Forbes, Jumat (31/1/2020) kini Pasar sudah jatuh karena virus ini dan kemudian berdampak pada ekonomi global. Temuan Bank Dunia menunjukkan bahwa virus ini memiliki tingkat keparahan yang sama dengan influenza di tahun 1918 dapat mengurangi PDB global sebesar 5%.

Studi lain memperkirakan pendapatan nasional bruto di seluruh dunia akan kehilangan pendapatan lebih dari 12%, termasuk kerugian lebih dari 50% dari pendapatan nasional bruto di negara-negara berpenghasilan rendah.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi Dunia Masih Dibayangi Ketidakpastian, Ini Penjelasannya
Biasanya perusahaan akan melakukan rencana kesinambungan bisnis yang dibuat dengan cermat, serta rencana kesiapsiagaan pandemi yang lebih spesifik yang memungkinkan mereka untuk merespons jalannya bisnis ini dengan cepat.

Sayangnya, Program-program kesiapsiagaan virus sebenarnya kekurangan tenaga dan kekurangan biaya. Mengapa? Karena  bedanya risiko probabilitas di tahun tertentu. Misalnya saja wabah influenza yang terjadi di tahun 1918 risiko probilitasinya terletak antara 0,5% dan 1,0%.

Jika dilihat dari enam kasus wabah yang ada dalam sejarah telah menyebabkan tingkat kematian berkisar antara 0,03% dan 0,08% populasi dunia. Jika kasus ini dihitung, secara global maka jumlahnya akan setara dengan antara 2 juta dan 6 juta kematian. Itulah sebabnya karantina dan kebijakan jarak sosial kini diberlakukan oleh pemerintah.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Sejauh Mana Dampak Wabah Virus Korona ke Ekonomi Global?
Sebagai akibat dari larangan perjalanan dan langkah-langkah lain, bisnis global telah menerima pukulan besar. Disney menutup dua taman hiburan. Starbucks menutup 90 toko, lalu KFC, Pizza Hut, dan McDonald's pun mengikuti untuk menutup toko.

Banyak bisnis akan memberlakukan pembatasan perjalanan pada karyawan sebagai tindakan pencegahan, yang dapat memiliki keterlibatan jangka panjang. Mereka juga akan mengandalkan dan memastikan pertanggungan asuransi bisnis, selain itu perlunya perlindungan hukum yang kemungkinan akan dipicu di sini, juga harus ditinjau saat ini.
Industri perjalanan secara khusus terkena dampak sebagai akibat dari  menurunnya perjalanan selama musim Tahun Baru Imlek di wilayah China,  yang biasanya merupakan perjalanan tahunan terbesar secara global kini  menjadi sepi. Jaringan hotel besar seperti IHG, Marriott, dan Accor  menggratiskan biaya pembatalan. Maskapai menawarkan pengembalian uang.
Dan agen perjalanan terbesar China Trip.com menyediakan pembatalan  gratis pada hotel, layanan penyewaan mobil, dan tiket untuk tempat  wisata, sampai saham mereka di New York minggu lalu turun 18%.

Banyak perusahaan Cina mengambil tindakan pencegahan dengan  mewajibkan mereka menjaga jarak dengan pekerja yang berada di daerah  yang terkena dampak untuk bekerja dari rumah, hal ini lah yang dilakukan  Bytedance Company (perusahaan yang memiliki TikTok) dan Tencent. Tetapi  strategi kerja dari rumah tidak akan berlaku untuk pabrik seperti  pembuat mobil dan banyak perusahaan yang mengandalkan pasokan ekspor di  luar Cina.

Apa yang bisa dilakukan semua bisnis sekarang? Perbarui rencana  bisnismu. Bicaralah dengan karyawan, komunikasikan apa rencana kamu  dapat berarti bagi karyawan termasuk kesehatan dan pendidikan, serta  risiko, menjauhkan sosial melalui kerja dari rumah jika memungkinkan,  dan menimbun persediaan. Biarkan mereka tahu Anda siap dan melindungi  mereka.

Apa yang bisa dilakukan semua orang sekarang? Setiap orang harus  memiliki rencana pribadi yang mencakup pengetahuan tentang cara mencegah  penyebaran infeksi dan persediaan seperti persediaan makanan, air,  obat-obatan, dan alat kebersihan seperti masker wajah di rumah.</description><content:encoded>JAKARTA - Wabah virus korona saat ini tengah menjadi berita utama karena sering dibahas di berbagai penjuru dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Virus yang berasal dari China ini terus menyebar dengan hampir 3.000 kasus yang dikonfirmasi dan 80 kematian di 12 negara.

Virus yang berbahaya ini bisa berpotensi untuk menghancurkan suatu bisnis. Apa yang seharusnya dilakukan semua bisnis sekarang?
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dampak Ekonomi Wabah Virus Korona, dari Maskapai hingga Smartphone 'Terinfeksi'
Mengutip dari Forbes, Jumat (31/1/2020) kini Pasar sudah jatuh karena virus ini dan kemudian berdampak pada ekonomi global. Temuan Bank Dunia menunjukkan bahwa virus ini memiliki tingkat keparahan yang sama dengan influenza di tahun 1918 dapat mengurangi PDB global sebesar 5%.

Studi lain memperkirakan pendapatan nasional bruto di seluruh dunia akan kehilangan pendapatan lebih dari 12%, termasuk kerugian lebih dari 50% dari pendapatan nasional bruto di negara-negara berpenghasilan rendah.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi Dunia Masih Dibayangi Ketidakpastian, Ini Penjelasannya
Biasanya perusahaan akan melakukan rencana kesinambungan bisnis yang dibuat dengan cermat, serta rencana kesiapsiagaan pandemi yang lebih spesifik yang memungkinkan mereka untuk merespons jalannya bisnis ini dengan cepat.

Sayangnya, Program-program kesiapsiagaan virus sebenarnya kekurangan tenaga dan kekurangan biaya. Mengapa? Karena  bedanya risiko probabilitas di tahun tertentu. Misalnya saja wabah influenza yang terjadi di tahun 1918 risiko probilitasinya terletak antara 0,5% dan 1,0%.

Jika dilihat dari enam kasus wabah yang ada dalam sejarah telah menyebabkan tingkat kematian berkisar antara 0,03% dan 0,08% populasi dunia. Jika kasus ini dihitung, secara global maka jumlahnya akan setara dengan antara 2 juta dan 6 juta kematian. Itulah sebabnya karantina dan kebijakan jarak sosial kini diberlakukan oleh pemerintah.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Sejauh Mana Dampak Wabah Virus Korona ke Ekonomi Global?
Sebagai akibat dari larangan perjalanan dan langkah-langkah lain, bisnis global telah menerima pukulan besar. Disney menutup dua taman hiburan. Starbucks menutup 90 toko, lalu KFC, Pizza Hut, dan McDonald's pun mengikuti untuk menutup toko.

Banyak bisnis akan memberlakukan pembatasan perjalanan pada karyawan sebagai tindakan pencegahan, yang dapat memiliki keterlibatan jangka panjang. Mereka juga akan mengandalkan dan memastikan pertanggungan asuransi bisnis, selain itu perlunya perlindungan hukum yang kemungkinan akan dipicu di sini, juga harus ditinjau saat ini.
Industri perjalanan secara khusus terkena dampak sebagai akibat dari  menurunnya perjalanan selama musim Tahun Baru Imlek di wilayah China,  yang biasanya merupakan perjalanan tahunan terbesar secara global kini  menjadi sepi. Jaringan hotel besar seperti IHG, Marriott, dan Accor  menggratiskan biaya pembatalan. Maskapai menawarkan pengembalian uang.
Dan agen perjalanan terbesar China Trip.com menyediakan pembatalan  gratis pada hotel, layanan penyewaan mobil, dan tiket untuk tempat  wisata, sampai saham mereka di New York minggu lalu turun 18%.

Banyak perusahaan Cina mengambil tindakan pencegahan dengan  mewajibkan mereka menjaga jarak dengan pekerja yang berada di daerah  yang terkena dampak untuk bekerja dari rumah, hal ini lah yang dilakukan  Bytedance Company (perusahaan yang memiliki TikTok) dan Tencent. Tetapi  strategi kerja dari rumah tidak akan berlaku untuk pabrik seperti  pembuat mobil dan banyak perusahaan yang mengandalkan pasokan ekspor di  luar Cina.

Apa yang bisa dilakukan semua bisnis sekarang? Perbarui rencana  bisnismu. Bicaralah dengan karyawan, komunikasikan apa rencana kamu  dapat berarti bagi karyawan termasuk kesehatan dan pendidikan, serta  risiko, menjauhkan sosial melalui kerja dari rumah jika memungkinkan,  dan menimbun persediaan. Biarkan mereka tahu Anda siap dan melindungi  mereka.

Apa yang bisa dilakukan semua orang sekarang? Setiap orang harus  memiliki rencana pribadi yang mencakup pengetahuan tentang cara mencegah  penyebaran infeksi dan persediaan seperti persediaan makanan, air,  obat-obatan, dan alat kebersihan seperti masker wajah di rumah.</content:encoded></item></channel></rss>
