<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Brexit, Inggris 'Cerai' dari Uni Eropa, Apa Dampaknya ke RI?</title><description>Inggris resmi berpisah dengan Uni Eropa pada Jumat 31 Januari 2020 waktu setempat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/01/20/2161637/brexit-inggris-cerai-dari-uni-eropa-apa-dampaknya-ke-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/01/20/2161637/brexit-inggris-cerai-dari-uni-eropa-apa-dampaknya-ke-ri"/><item><title>Brexit, Inggris 'Cerai' dari Uni Eropa, Apa Dampaknya ke RI?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/01/20/2161637/brexit-inggris-cerai-dari-uni-eropa-apa-dampaknya-ke-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/01/20/2161637/brexit-inggris-cerai-dari-uni-eropa-apa-dampaknya-ke-ri</guid><pubDate>Sabtu 01 Februari 2020 09:44 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/01/20/2161637/brexit-inggris-cerai-dari-uni-eropa-apa-dampaknya-ke-ri-9Ar8lwgrHX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi Inggris (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/01/20/2161637/brexit-inggris-cerai-dari-uni-eropa-apa-dampaknya-ke-ri-9Ar8lwgrHX.jpg</image><title>Ekonomi Inggris (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Inggris resmi berpisah dengan Uni Eropa pada Jumat 31 Januari 2020 waktu setempat. Lalu bagaimana dampak hubungan ekonomi dengan Indonesia pasca Brexit (British exit) ini?
Baca Juga: Brexit, Inggris Optimis Ekonomi Tetap Tumbuh
Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins sangat optimis bahwa hubungan ekonomi dengan Indonesia akan berkembang dengan baik pada masa transisi dalam 11 bulan ke depan dan pada masa yang akan datang. Menurutnya, sejauh ini belum akan ada perubahan perjanjian perdagangan pasca Brexit tersebut.

&amp;ldquo;Inggris dan Indonesia sudah berbisnis dengan persyaratan WTO. Jadi hubungan perdagangan kami tetap sama. Kami telah menandatangani perjanjian yang mirip dengan perjanjian UE tentang kayu legal, untuk menjamin keberlangsungan, dan kami telah meluncurkan Tinjauan Perdagangan Bersama, untuk mencari tahu di mana peluang masa depan kita berada. Brexit akan melihat Inggris berusaha untuk memperkuat kemitraan kami, membangun fondasi kuat kami di seluruh dunia - yang hanya bisa menjadi hal yang baik untuk Indonesia,&amp;rdquo; katanya seperti dikutip VOA Indonesia, Jakarta, Sabtu (1/2/2020).

Baca Juga: Brexit Jadi Kesempatan Inggris Tunjukkan Global Britania
Selain itu, terkait kebijakan sawit (crude palm oil) Indonesia yang selama ini mendapatkan kampanye merugikan dari Uni Eropa, Owen mengatakan bahwa pasca melewati masa transisi Brexit ini, ada kemungkinan pihaknya akan mengkaji kerjasama dalam perdagangan sawit dengan Indonesia.


&amp;ldquo;Setelah kami sepenuhnya keluar dari Uni Eropa, kami akan mengkaji kembali hal tersebut (kesepakatan perdagangan sawit). Kami tahu, betapa pentingnya perdagangan sawit untuk Indonesia,&quot; ujarnya.

Selain di bidang ekonomi, menurut Owen Indonesia juga bisa mengambil  keuntungan lain pasca Brexit ini. Pemerintah Inggris, kata Owen sudah  mengambil langkah strategis sebagai negara yang semakin terbuka bagi  seluruh dunia. Dia mencontohkan, bahwa mahasiswa/mahasiswi Indonesia  yang menempuh pendidikan di Inggris, bisa tinggal dan bekerja di Inggris  selama dua tahun lamanya setelah lulus, padahal sebelumnya hanya  diperbolehkan tinggal dan bekerja di Inggris dalam waktu beberapa bulan  saja.



&amp;ldquo;Kita ingin lebih banyak pelajar atau mahasiswa/mahasiswi Indonesia  datang dan mengambil keuntungan dengan belajar di Universitas kelas  dunia yang ada di Inggris. Kita juga ingin memperkuat perdagangan,  investasi, dan hubungan politik dan hubungan kerjasama lainnya dengan  Indonesia. Kita melihat semua potensi itu ada, dan saya tidak sabar  untuk mengambil kesempatan itu,&amp;rdquo; jelasnya.


Sementara itu, pengamat ekonomi CORE Indonesia, Moh Faisal,  mengatakan dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa ini tidak terlalu  berpengaruh khususnya terhadap perekonomian Indonesia. Pasalnya,  perekonomian Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh negara-negara  seperti China, Asia Timur, ASEAN dan Amerika Serikat.



Meski begitu, Indonesia harus tetap waspada bagaimana perekonomian  Britania Raya itu pasca keluar dari Uni Eropa, karena kalau  perekonomiannya mengalami perlambatan maka otomatis ekspor Indonesia ke  Inggris atau Eropa akan menjadi berkurang


&amp;ldquo;Adapun dampak yang bisa terjadi apabila kemudian kalau aftermath  dari Brexit bagi Inggris dan Uni Eropa, kalau aftermath-nya berdampak  misalkan slowing down pertumbuhan ekonomi Inggris, atau juga Eropa  setelah lepas dari Inggris, itu berarti dampaknya kepada posisi  perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa dan Inggris. Jadi kalau mereka  mengalami slow down, potensi ekspor kita ke Uni Eropa dan Inggris  berarti berkurang.Jadi, dampaknya kepada kinerja ekspor kita,&amp;rdquo; jelas  Faisal.

Ditambahkannya, Indonesia bisa mengambil keuntungan dari keluarnya   Inggris dari Uni Eropa. Beberapa potensi kebijakan perdagangan yang   selama ini sulit dilakukan dengan Uni Eropa, mungkin bisa akan bisa   dilakukan dengan Inggris pada masa depan.



&amp;ldquo;Mungkin ada sisi positifnya bagi Indonesia. Misalkan begini, selama   ini kan kita dengan Uni Eropa ada beberapa permasalahan perdagangan,   termasuk kesulitan produk sawit dan turunannya untuk masuk ke pasar Uni   Eropa, karena ada sentimen kampanye negatif terhadap sawit yang dinilai   tidak sesuai dengan pelestarian lingkungan. Ini kalau dengan lepasnya   Inggris kan berarti tidak musti patuh terhadap kesepakatan  negara-negara  Uni Eropa untuk mem-banned sawit. Jadi ini artinya kita  dengan Inggris  bisa punya kesepakatan baru ya tentang sawit,&amp;rdquo;  tambahnya.



Sebelumnya, minggu ini adalah minggu bersejarah bagi Britania Raya   dan Uni Eropa, karena hari ini, Jumat (31/1) pukul 11 malam waktu   Inggris, Tengah malam di Brussel, atau pukul 6 pagi hari Sabtu (1/2)   Waktu Indonesia Bagian Barat, Pemerintah Inggris akan memenuhi janji   kepada rakyatnya yang telah melakukan pemungutan suara tiga tahun yang   lalu untuk meninggalkan Uni Eropa.



&amp;ldquo;Meninggalkan Uni Eropa adalah kesempatan bagi kami untuk menunjukkan   definisi sebenarnya dari Global Britain. Global Britain berarti   pemerintah Inggris yang bervisi global, membina hubungan baru dengan Uni   Eropa, bahkan hubungan yang lebih kuat dengan negara-negara seperti   Indonesia,&amp;rdquo; jelas Owen.
</description><content:encoded>JAKARTA - Inggris resmi berpisah dengan Uni Eropa pada Jumat 31 Januari 2020 waktu setempat. Lalu bagaimana dampak hubungan ekonomi dengan Indonesia pasca Brexit (British exit) ini?
Baca Juga: Brexit, Inggris Optimis Ekonomi Tetap Tumbuh
Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins sangat optimis bahwa hubungan ekonomi dengan Indonesia akan berkembang dengan baik pada masa transisi dalam 11 bulan ke depan dan pada masa yang akan datang. Menurutnya, sejauh ini belum akan ada perubahan perjanjian perdagangan pasca Brexit tersebut.

&amp;ldquo;Inggris dan Indonesia sudah berbisnis dengan persyaratan WTO. Jadi hubungan perdagangan kami tetap sama. Kami telah menandatangani perjanjian yang mirip dengan perjanjian UE tentang kayu legal, untuk menjamin keberlangsungan, dan kami telah meluncurkan Tinjauan Perdagangan Bersama, untuk mencari tahu di mana peluang masa depan kita berada. Brexit akan melihat Inggris berusaha untuk memperkuat kemitraan kami, membangun fondasi kuat kami di seluruh dunia - yang hanya bisa menjadi hal yang baik untuk Indonesia,&amp;rdquo; katanya seperti dikutip VOA Indonesia, Jakarta, Sabtu (1/2/2020).

Baca Juga: Brexit Jadi Kesempatan Inggris Tunjukkan Global Britania
Selain itu, terkait kebijakan sawit (crude palm oil) Indonesia yang selama ini mendapatkan kampanye merugikan dari Uni Eropa, Owen mengatakan bahwa pasca melewati masa transisi Brexit ini, ada kemungkinan pihaknya akan mengkaji kerjasama dalam perdagangan sawit dengan Indonesia.


&amp;ldquo;Setelah kami sepenuhnya keluar dari Uni Eropa, kami akan mengkaji kembali hal tersebut (kesepakatan perdagangan sawit). Kami tahu, betapa pentingnya perdagangan sawit untuk Indonesia,&quot; ujarnya.

Selain di bidang ekonomi, menurut Owen Indonesia juga bisa mengambil  keuntungan lain pasca Brexit ini. Pemerintah Inggris, kata Owen sudah  mengambil langkah strategis sebagai negara yang semakin terbuka bagi  seluruh dunia. Dia mencontohkan, bahwa mahasiswa/mahasiswi Indonesia  yang menempuh pendidikan di Inggris, bisa tinggal dan bekerja di Inggris  selama dua tahun lamanya setelah lulus, padahal sebelumnya hanya  diperbolehkan tinggal dan bekerja di Inggris dalam waktu beberapa bulan  saja.



&amp;ldquo;Kita ingin lebih banyak pelajar atau mahasiswa/mahasiswi Indonesia  datang dan mengambil keuntungan dengan belajar di Universitas kelas  dunia yang ada di Inggris. Kita juga ingin memperkuat perdagangan,  investasi, dan hubungan politik dan hubungan kerjasama lainnya dengan  Indonesia. Kita melihat semua potensi itu ada, dan saya tidak sabar  untuk mengambil kesempatan itu,&amp;rdquo; jelasnya.


Sementara itu, pengamat ekonomi CORE Indonesia, Moh Faisal,  mengatakan dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa ini tidak terlalu  berpengaruh khususnya terhadap perekonomian Indonesia. Pasalnya,  perekonomian Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh negara-negara  seperti China, Asia Timur, ASEAN dan Amerika Serikat.



Meski begitu, Indonesia harus tetap waspada bagaimana perekonomian  Britania Raya itu pasca keluar dari Uni Eropa, karena kalau  perekonomiannya mengalami perlambatan maka otomatis ekspor Indonesia ke  Inggris atau Eropa akan menjadi berkurang


&amp;ldquo;Adapun dampak yang bisa terjadi apabila kemudian kalau aftermath  dari Brexit bagi Inggris dan Uni Eropa, kalau aftermath-nya berdampak  misalkan slowing down pertumbuhan ekonomi Inggris, atau juga Eropa  setelah lepas dari Inggris, itu berarti dampaknya kepada posisi  perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa dan Inggris. Jadi kalau mereka  mengalami slow down, potensi ekspor kita ke Uni Eropa dan Inggris  berarti berkurang.Jadi, dampaknya kepada kinerja ekspor kita,&amp;rdquo; jelas  Faisal.

Ditambahkannya, Indonesia bisa mengambil keuntungan dari keluarnya   Inggris dari Uni Eropa. Beberapa potensi kebijakan perdagangan yang   selama ini sulit dilakukan dengan Uni Eropa, mungkin bisa akan bisa   dilakukan dengan Inggris pada masa depan.



&amp;ldquo;Mungkin ada sisi positifnya bagi Indonesia. Misalkan begini, selama   ini kan kita dengan Uni Eropa ada beberapa permasalahan perdagangan,   termasuk kesulitan produk sawit dan turunannya untuk masuk ke pasar Uni   Eropa, karena ada sentimen kampanye negatif terhadap sawit yang dinilai   tidak sesuai dengan pelestarian lingkungan. Ini kalau dengan lepasnya   Inggris kan berarti tidak musti patuh terhadap kesepakatan  negara-negara  Uni Eropa untuk mem-banned sawit. Jadi ini artinya kita  dengan Inggris  bisa punya kesepakatan baru ya tentang sawit,&amp;rdquo;  tambahnya.



Sebelumnya, minggu ini adalah minggu bersejarah bagi Britania Raya   dan Uni Eropa, karena hari ini, Jumat (31/1) pukul 11 malam waktu   Inggris, Tengah malam di Brussel, atau pukul 6 pagi hari Sabtu (1/2)   Waktu Indonesia Bagian Barat, Pemerintah Inggris akan memenuhi janji   kepada rakyatnya yang telah melakukan pemungutan suara tiga tahun yang   lalu untuk meninggalkan Uni Eropa.



&amp;ldquo;Meninggalkan Uni Eropa adalah kesempatan bagi kami untuk menunjukkan   definisi sebenarnya dari Global Britain. Global Britain berarti   pemerintah Inggris yang bervisi global, membina hubungan baru dengan Uni   Eropa, bahkan hubungan yang lebih kuat dengan negara-negara seperti   Indonesia,&amp;rdquo; jelas Owen.
</content:encoded></item></channel></rss>
