<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Global Masih Terancam Virus Korona, Ini Penjelasannya</title><description>Wabah virus korona diyakini bakal berimbas pada pelemahan ekonomi global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/02/20/2162187/ekonomi-global-masih-terancam-virus-korona-ini-penjelasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/02/20/2162187/ekonomi-global-masih-terancam-virus-korona-ini-penjelasannya"/><item><title>Ekonomi Global Masih Terancam Virus Korona, Ini Penjelasannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/02/20/2162187/ekonomi-global-masih-terancam-virus-korona-ini-penjelasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/02/20/2162187/ekonomi-global-masih-terancam-virus-korona-ini-penjelasannya</guid><pubDate>Minggu 02 Februari 2020 18:58 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/02/20/2162187/ekonomi-global-masih-terancam-virus-korona-ini-penjelasannya-cGcPb2PZeX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Pergerakan Ekonomi Global (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/02/20/2162187/ekonomi-global-masih-terancam-virus-korona-ini-penjelasannya-cGcPb2PZeX.jpg</image><title>Ilustrasi Pergerakan Ekonomi Global (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Wabah virus korona diyakini bakal berimbas pada pelemahan ekonomi global. Lantaran China, yang merupakan negara dari virus tersebut berasal, memiliki perekonomian yang besar di dunia, sehingga sangat mempengaruhi ekonomi global.
Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan, dampak wabah virus korona akan lebih besar dibanding wabah SARS yang menewaskan 800 orang pada 2002-2003. Kala itu, SARS yang juga pertama kali ditemukan di China, penanggulangannya butuh dana kurang lebih USD33 miliar.
&quot;Namun, situasi saat ini berbeda karena China punya perekonomian yang sangat besar, maka kemungkinan butuh dana yang lebih besar dan akan mengganggu ekonomi dunia,&quot; ujar Hans dalam risetnya yang diterima Okezone, Minggu (2/2/2020).
Di sisi lain, data indeks manufaktur China bergerak stagnan pada periode Januari di level 50, sesuai perkiraan para analis berdasarkan polling Reuters. Bahkan, kalangan ekonom dan pelaku pasar mengkhawatirkan indeks manufaktur China di Februari 2020 akan berada di 40-45 poin, atau turun tajam akibat merebaknya wabah virus korona.
Baca Juga: Pulang dari Wuhan Pesawat Batik Air Bakal Disterilkan Kembali
Dampak penyebarang virus korona juga mulai terasa ke Amerika Serikat. Wall Street mengalami pelemahan, namun cukup tertahan lantaran Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Robert Redfield menyatakan, dampak risiko virus korona terhadap publik AS tergolong rendah.
Di samping itu, wabah virus korona juga telah mempengaruhi pasar Eropa, setelah Inggris dan Italia mengonfirmasi kasus virus korona yang pertama di negaranya. &quot;Virus korona akan menjadi berita utama yang diperkirakan akan memukul pertumbuhan ekonomi global dan China,&quot; kata Hans.
Baca Juga: Antisipasi Virus Korona, Kemenhub Lakukan Penundaan Penerbangan ke China
Meski demikian, lanjutnya, pasar dunia sempat pulih di tengah pekan kemarin, setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan darurat kesehatan global akibat virus korona. Namun, WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan ke China dan menyampaikan China memiliki situasi yang terkendali.
&quot;Hal ini menimbulkan optimisme (pasar) bahwa perekonomian China dan global tidak akan terlalu terganggu akibat virus korona,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Wabah virus korona diyakini bakal berimbas pada pelemahan ekonomi global. Lantaran China, yang merupakan negara dari virus tersebut berasal, memiliki perekonomian yang besar di dunia, sehingga sangat mempengaruhi ekonomi global.
Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan, dampak wabah virus korona akan lebih besar dibanding wabah SARS yang menewaskan 800 orang pada 2002-2003. Kala itu, SARS yang juga pertama kali ditemukan di China, penanggulangannya butuh dana kurang lebih USD33 miliar.
&quot;Namun, situasi saat ini berbeda karena China punya perekonomian yang sangat besar, maka kemungkinan butuh dana yang lebih besar dan akan mengganggu ekonomi dunia,&quot; ujar Hans dalam risetnya yang diterima Okezone, Minggu (2/2/2020).
Di sisi lain, data indeks manufaktur China bergerak stagnan pada periode Januari di level 50, sesuai perkiraan para analis berdasarkan polling Reuters. Bahkan, kalangan ekonom dan pelaku pasar mengkhawatirkan indeks manufaktur China di Februari 2020 akan berada di 40-45 poin, atau turun tajam akibat merebaknya wabah virus korona.
Baca Juga: Pulang dari Wuhan Pesawat Batik Air Bakal Disterilkan Kembali
Dampak penyebarang virus korona juga mulai terasa ke Amerika Serikat. Wall Street mengalami pelemahan, namun cukup tertahan lantaran Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Robert Redfield menyatakan, dampak risiko virus korona terhadap publik AS tergolong rendah.
Di samping itu, wabah virus korona juga telah mempengaruhi pasar Eropa, setelah Inggris dan Italia mengonfirmasi kasus virus korona yang pertama di negaranya. &quot;Virus korona akan menjadi berita utama yang diperkirakan akan memukul pertumbuhan ekonomi global dan China,&quot; kata Hans.
Baca Juga: Antisipasi Virus Korona, Kemenhub Lakukan Penundaan Penerbangan ke China
Meski demikian, lanjutnya, pasar dunia sempat pulih di tengah pekan kemarin, setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan darurat kesehatan global akibat virus korona. Namun, WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan ke China dan menyampaikan China memiliki situasi yang terkendali.
&quot;Hal ini menimbulkan optimisme (pasar) bahwa perekonomian China dan global tidak akan terlalu terganggu akibat virus korona,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
