<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Setengah Pusat Bisnis di China Tutup karena Virus Korona, Apa Dampaknya?</title><description>Mayoritas pusat perbelanjaan di China telah menghentikan bisnisnya sementara waktu.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/03/320/2162391/setengah-pusat-bisnis-di-china-tutup-karena-virus-korona-apa-dampaknya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/03/320/2162391/setengah-pusat-bisnis-di-china-tutup-karena-virus-korona-apa-dampaknya"/><item><title>Setengah Pusat Bisnis di China Tutup karena Virus Korona, Apa Dampaknya?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/03/320/2162391/setengah-pusat-bisnis-di-china-tutup-karena-virus-korona-apa-dampaknya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/03/320/2162391/setengah-pusat-bisnis-di-china-tutup-karena-virus-korona-apa-dampaknya</guid><pubDate>Senin 03 Februari 2020 11:08 WIB</pubDate><dc:creator>Fabbiola Irawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/03/320/2162391/setengah-pusat-bisnis-di-china-tutup-karena-virus-korona-apa-dampaknya-dYIR5qokaa.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Daerah di China (Bloomberg)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/03/320/2162391/setengah-pusat-bisnis-di-china-tutup-karena-virus-korona-apa-dampaknya-dYIR5qokaa.jpeg</image><title>Daerah di China (Bloomberg)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Mayoritas pusat perbelanjaan di China telah menghentikan bisnisnya sementara waktu. Hal ini dikarenakan penyebaran Virus Korona yang telah menewaskan lebih dari 200 orang.

Setidaknya pusat bisnis perbelanjaan di 24 provinsi yang tersebar di China telah memutuskan untuk menutup gerainya dan belum akan melanjutkan pembukaan bisnis sampai 10 Februari mendatang.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Virus Korona hingga Brexit Buat Harga Bitcoin Melonjak
Melansir CNBC, Senin (3/2/2020), dengan adanya penutupan beberapa bisnis di China akan berimbas pada pertumbuhan dan perdagangan internasional. Apalagi China terkenal sebagai pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Ahli Ekonomi Morgan Stanley memperkirakan dengan adanya Virus Korona ini akan menurunkan angka produksi industri bulan Januari dan Februari sebesar 5% hingga 8%.
 
&amp;nbsp;Baca juga: 238 WNI Diobservasi di Natuna, Seluruh Peserta Tes SKD Kenakan Masker
Belum diketahui lebih lanjut sampai mana gangguan yang ditimbulkan terkait penyebaran Virus Korona kepada pertumbuhan ekonomi China setahun ke depan. Pemerintah China juga telah mengerahkan tenaga untuk mencari sumber daya medis yang diperlukan guna mencegah dan mengendalikan virus itu.

Walau beberapa pusat perbelanjaan atau bisnis tutup di China, pada pusat kota, bisnis yang terlibat dalam utilitas publik, supermarket, atau industri penting lainnya harus tetap buka.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dampak Virus Korona, 3 Maskapai Utama AS Tangguhkan Penerbangan ke China
Pemerintah China juga telah meminta kepada perusahaan untuk memperpanjang libur atau meminta kepada pekerjanya agar bisa bekerja dari rumah.
Seperti daerah Beijing yang menginginkan perusahaan untuk mendorong  karyawannya bekerja dari rumah hingga 10 Februari mendatang. Tetapi  berbeda dengan provinsi Hubei, yang menjadi awal mula penyebaran Virus  Korona. Pejabat setempat meminta perusahaan di Hubei untuk tetap menutup  bisnisnya sampai waktu yang belum ditentukan.

Sama halnya dengan daerah Tiajin, yang pusat bisnis hingga sekolah tidak akan dibuka kembali sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Adapun daerah Anhui, Chongqing, Fujian, Guangdong, Guangxi, Guizhou,  Hebei, Heilongjiang, Henan, Hunan, Mongolia Dalam, Jiangsu, Jiangxi,  Jilin, Liaoning, Ningxia, Shaanxi, Shandong, Shanghai, Shanxi, Suzhou,  Xi'an, Yunnan, untuk tidak bekerja tidak lebih dari tengah malam pada 9  Februari.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Mayoritas pusat perbelanjaan di China telah menghentikan bisnisnya sementara waktu. Hal ini dikarenakan penyebaran Virus Korona yang telah menewaskan lebih dari 200 orang.

Setidaknya pusat bisnis perbelanjaan di 24 provinsi yang tersebar di China telah memutuskan untuk menutup gerainya dan belum akan melanjutkan pembukaan bisnis sampai 10 Februari mendatang.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Virus Korona hingga Brexit Buat Harga Bitcoin Melonjak
Melansir CNBC, Senin (3/2/2020), dengan adanya penutupan beberapa bisnis di China akan berimbas pada pertumbuhan dan perdagangan internasional. Apalagi China terkenal sebagai pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Ahli Ekonomi Morgan Stanley memperkirakan dengan adanya Virus Korona ini akan menurunkan angka produksi industri bulan Januari dan Februari sebesar 5% hingga 8%.
 
&amp;nbsp;Baca juga: 238 WNI Diobservasi di Natuna, Seluruh Peserta Tes SKD Kenakan Masker
Belum diketahui lebih lanjut sampai mana gangguan yang ditimbulkan terkait penyebaran Virus Korona kepada pertumbuhan ekonomi China setahun ke depan. Pemerintah China juga telah mengerahkan tenaga untuk mencari sumber daya medis yang diperlukan guna mencegah dan mengendalikan virus itu.

Walau beberapa pusat perbelanjaan atau bisnis tutup di China, pada pusat kota, bisnis yang terlibat dalam utilitas publik, supermarket, atau industri penting lainnya harus tetap buka.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dampak Virus Korona, 3 Maskapai Utama AS Tangguhkan Penerbangan ke China
Pemerintah China juga telah meminta kepada perusahaan untuk memperpanjang libur atau meminta kepada pekerjanya agar bisa bekerja dari rumah.
Seperti daerah Beijing yang menginginkan perusahaan untuk mendorong  karyawannya bekerja dari rumah hingga 10 Februari mendatang. Tetapi  berbeda dengan provinsi Hubei, yang menjadi awal mula penyebaran Virus  Korona. Pejabat setempat meminta perusahaan di Hubei untuk tetap menutup  bisnisnya sampai waktu yang belum ditentukan.

Sama halnya dengan daerah Tiajin, yang pusat bisnis hingga sekolah tidak akan dibuka kembali sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Adapun daerah Anhui, Chongqing, Fujian, Guangdong, Guangxi, Guizhou,  Hebei, Heilongjiang, Henan, Hunan, Mongolia Dalam, Jiangsu, Jiangxi,  Jilin, Liaoning, Ningxia, Shaanxi, Shandong, Shanghai, Shanxi, Suzhou,  Xi'an, Yunnan, untuk tidak bekerja tidak lebih dari tengah malam pada 9  Februari.</content:encoded></item></channel></rss>
