<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Bagaimana Nasib Pekerja Asing di Swedia?</title><description>Banyak pekerja asing yang terampil tetap berada dalam ketidakpastian.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/03/320/2162733/bagaimana-nasib-pekerja-asing-di-swedia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/03/320/2162733/bagaimana-nasib-pekerja-asing-di-swedia"/><item><title>   Bagaimana Nasib Pekerja Asing di Swedia?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/03/320/2162733/bagaimana-nasib-pekerja-asing-di-swedia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/03/320/2162733/bagaimana-nasib-pekerja-asing-di-swedia</guid><pubDate>Senin 03 Februari 2020 19:15 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/03/320/2162733/bagaimana-nasib-pekerja-asing-di-swedia-J2tqxR85t5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kerja (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/03/320/2162733/bagaimana-nasib-pekerja-asing-di-swedia-J2tqxR85t5.jpg</image><title>Kerja (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Banyak pekerja asing yang terampil tetap berada dalam ketidakpastian jika bekerja di Swedia. Pengembang web front end, Zena Jose, yang berasal dari India, saat ini mengajukan banding terhadap keputusan yang menolak perpanjangan visanya.

Perempuan berusia 28 tahun itu bekerja di sebuah perusahaan rintisan di Stockholm, tetapi sebelumnya bekerja untuk suatu perusahaan besar di ibu kota Swedia itu, bersama dengan pekerjaan jarak jauh dari Mumbai.
Baca Juga: Swedia Deportasi Tenaga Kerja Asing di Bidang Teknologi, Kenapa?
Dia menceritakan bahwa kegagalan majikan pertamanya untuk membatalkan visa aslinya dianggap sebagai kesalahan administrasi yang memastikan deportasinya.

&quot;Sangat mengecewakan karena ini bukan salah saya sampai hal ini terjadi dan saya tidak melakukan kesalahan apapun. Tetapi saya yang harus membayarnya,&quot; katanya seperti dilansir BBC Indonesia, Jakarta, Senin (3/2/2020).
Baca Juga: Wabah Virus Korona, Pekerja Indonesia di Luar Negeri Diimbau Tetap Tenang
Pekerja startup itu telah disarankan untuk tidak meninggalkan Swedia selama proses banding, karena bisa jadi dia akan menghadapi masalah jika dia kembali tanpa berkas-berkas yang valid.

Artinya dia tidak dapat mengunjungi keluarga selama liburan Natal.

&quot;Hal ini benar-benar membuat depresi karena saya tidak dapat mengunjungi keluarga atau teman-teman di negara saya&amp;hellip; dan sudah hampir setahun sekarang,&quot; katanya.
Aniel Bhaga, seseorang yang berusia 34 tahun dari Australia yang  tadinya bekerja sebagai pengembangan bisnis untuk produk fesyen Swedia  merek H&amp;amp;M di Stockholm, kalah dalam proses pengadilan selama tiga  tahun agar tetap tinggal di negara itu pada bulan Oktober, akibat  kesalahan administrasi yang dilakukan oleh perusahaan start-up tempatnya  bekerja sebelumnya.

&quot;Saya membangun jaringan profesional yang sangat luas, membangun  suatu jaringan keluarga-dan-pertemanan yang amat, sangat baik di sini,  saya membangun hidup saya,&quot; keluhnya.

Sekarang Bhaga tinggal bersama orang tuanya di Brisbane dan melakukan  pekerjaan lepas sambil memasukkan pendaftaran izin kerja yang baru  untuk melanjutkan pekerjaannya di H&amp;amp;M.

Kendati muak dengan keadaannya, dia yakin dia adalah &quot;salah satu yang  beruntung&quot;, menjelaskan bahwa &quot;ada banyak orang yang berada dalam  situasi yang lebih sulit&amp;hellip; yang tidak memiliki negara yang mudah dan baik  untuk kembali&quot; sambil menunggu proses.

Pada bulan Januari, sebuah kesepakatan ditandatangani antara Perdana   Menteri Stefan L&amp;ouml;fven yang berasal dari partai kiri-tengah Sosial   Demokrat, mitra koalisi hijau dengan dua partai kecil tengah-kanan,   menjanjikan untuk &quot;memecahkan masalah&quot; kompetensutvisning dan   melemparkan rencana untuk mengeluarkan visa tenaga kerja yang baru bagi   pekerja asing yang berkualitas tinggi, mulai tahun 2021.

Sejak saat itu, beberapa detail konkrit sudah diungkapkan dan Menteri   Migrasi Morgan Johansson menolak diwawancarai untuk artikel ini..

Migrasi tenaga kerja umumnya tetap menjadi masalah yang memecah   belah, dengan partai-partai oposisi dan serikat pekerja yang menawarkan   berbagai pandangan dan pendapat tentang prioritas utama untuk setiap   perubahan hukum yang lebih lanjut.

Beberapa ada yang ingin membatasi visa, hanya menawarkan visa kepada   orang asing yang bekerja di bidang yang sudah terbukti kekurangan  tenaga  kerja, sementara yang lainnya menentang uji coba pasar tenaga  kerja dan  bahkan menginginkan lebih banyak keleluasaan ketika timbul  masalah  administrasi ringan yang disebabkan kesalahan pemberi kerja.

Sementara baru-baru ini terdapat beberapa investigasi media terkenal,   seperti dokumentasi penyiaran layanan publik oleh SVT tentang   eksploitasi pekerja salon kuku Vietnam, yang membuat perdebatan semakin   panas, dengan mengangkat potensi menghindari peraturan, bahkan yang   masih berlaku saat ini.

Matthew Kriteman, chief operating officer di The Diversify   Foundation, mengatakan Swedia sedang ditarik ke arah yang berbeda-beda,   dengan para pejabat yang masih &quot;menemukan cara mereka tentang bagaimana   tetap menjalankan tradisi peraturan tenaga kerja&quot; sementara juga   &quot;mengintegrasikan pekerja asing yang mereka butuhkan untuk alih   teknologi&quot;.
Dia mengatakan pengalaman Swedia itu harus diawasi ketat, dengan   kompetensutnisning yang mewakili lebih dari sekedar kumpulan dari   perjuangan individu di pengadilan atau debat-debat internal.

&quot;Menurut saya itu sebenarnya mencerminkan tantangan dari sejenis   revolusi industri keempat, di mana teknologi, gagasan dan inovasi lebih   lancar,&quot; katanya.

&quot;Ketika bicara soal mobilitas, itulah masalah di masa depan&amp;hellip; tidak   diragukan lagi bahwa inovasi dan gangguan dan talenta nyata sebenarnya   [memiliki] pasar yang sangat besar dari berbagai tujuan yang harus   dijalani.&quot;

&quot;Jika Anda ingin berkembang dan terus melangkah maju dan menjadi   perusahaan global, Anda membutuhkan bakat internasional untuk membawa   'bumbu' tambahan ke dalam perusahaan dan tim,&quot; ungkap Aniel Bhaga, yang   memperingatkan bahwa talenta start-up asing di Swedia akan semakin   tergoda untuk pindah ke kota-kota lain seperti Berlin atau London jika   negara Nordic itu tidak menemukan solusi jangka panjang untuk   kompetensutvisning.

Dia berpendapat bahwa &quot;meningkatkan kesadaran&quot; tentang peraturan yang   berlaku saat ini di antara karyawan dan majikan merupakan langkah   pertama yang penting, di samping &quot;kolaborasi yang lebih baik&quot; antara   perusahaan terkemuka di negara itu dan perusahaan baru, serikat pekerja   dan politisi.

&quot;Anda menarik semua orang di sini. Tetapi Anda juga perlu   mempertahankan yang Anda miliki&amp;hellip; karena itulah yang akan mendorong   inovasi di Swedia.&quot;</description><content:encoded>JAKARTA - Banyak pekerja asing yang terampil tetap berada dalam ketidakpastian jika bekerja di Swedia. Pengembang web front end, Zena Jose, yang berasal dari India, saat ini mengajukan banding terhadap keputusan yang menolak perpanjangan visanya.

Perempuan berusia 28 tahun itu bekerja di sebuah perusahaan rintisan di Stockholm, tetapi sebelumnya bekerja untuk suatu perusahaan besar di ibu kota Swedia itu, bersama dengan pekerjaan jarak jauh dari Mumbai.
Baca Juga: Swedia Deportasi Tenaga Kerja Asing di Bidang Teknologi, Kenapa?
Dia menceritakan bahwa kegagalan majikan pertamanya untuk membatalkan visa aslinya dianggap sebagai kesalahan administrasi yang memastikan deportasinya.

&quot;Sangat mengecewakan karena ini bukan salah saya sampai hal ini terjadi dan saya tidak melakukan kesalahan apapun. Tetapi saya yang harus membayarnya,&quot; katanya seperti dilansir BBC Indonesia, Jakarta, Senin (3/2/2020).
Baca Juga: Wabah Virus Korona, Pekerja Indonesia di Luar Negeri Diimbau Tetap Tenang
Pekerja startup itu telah disarankan untuk tidak meninggalkan Swedia selama proses banding, karena bisa jadi dia akan menghadapi masalah jika dia kembali tanpa berkas-berkas yang valid.

Artinya dia tidak dapat mengunjungi keluarga selama liburan Natal.

&quot;Hal ini benar-benar membuat depresi karena saya tidak dapat mengunjungi keluarga atau teman-teman di negara saya&amp;hellip; dan sudah hampir setahun sekarang,&quot; katanya.
Aniel Bhaga, seseorang yang berusia 34 tahun dari Australia yang  tadinya bekerja sebagai pengembangan bisnis untuk produk fesyen Swedia  merek H&amp;amp;M di Stockholm, kalah dalam proses pengadilan selama tiga  tahun agar tetap tinggal di negara itu pada bulan Oktober, akibat  kesalahan administrasi yang dilakukan oleh perusahaan start-up tempatnya  bekerja sebelumnya.

&quot;Saya membangun jaringan profesional yang sangat luas, membangun  suatu jaringan keluarga-dan-pertemanan yang amat, sangat baik di sini,  saya membangun hidup saya,&quot; keluhnya.

Sekarang Bhaga tinggal bersama orang tuanya di Brisbane dan melakukan  pekerjaan lepas sambil memasukkan pendaftaran izin kerja yang baru  untuk melanjutkan pekerjaannya di H&amp;amp;M.

Kendati muak dengan keadaannya, dia yakin dia adalah &quot;salah satu yang  beruntung&quot;, menjelaskan bahwa &quot;ada banyak orang yang berada dalam  situasi yang lebih sulit&amp;hellip; yang tidak memiliki negara yang mudah dan baik  untuk kembali&quot; sambil menunggu proses.

Pada bulan Januari, sebuah kesepakatan ditandatangani antara Perdana   Menteri Stefan L&amp;ouml;fven yang berasal dari partai kiri-tengah Sosial   Demokrat, mitra koalisi hijau dengan dua partai kecil tengah-kanan,   menjanjikan untuk &quot;memecahkan masalah&quot; kompetensutvisning dan   melemparkan rencana untuk mengeluarkan visa tenaga kerja yang baru bagi   pekerja asing yang berkualitas tinggi, mulai tahun 2021.

Sejak saat itu, beberapa detail konkrit sudah diungkapkan dan Menteri   Migrasi Morgan Johansson menolak diwawancarai untuk artikel ini..

Migrasi tenaga kerja umumnya tetap menjadi masalah yang memecah   belah, dengan partai-partai oposisi dan serikat pekerja yang menawarkan   berbagai pandangan dan pendapat tentang prioritas utama untuk setiap   perubahan hukum yang lebih lanjut.

Beberapa ada yang ingin membatasi visa, hanya menawarkan visa kepada   orang asing yang bekerja di bidang yang sudah terbukti kekurangan  tenaga  kerja, sementara yang lainnya menentang uji coba pasar tenaga  kerja dan  bahkan menginginkan lebih banyak keleluasaan ketika timbul  masalah  administrasi ringan yang disebabkan kesalahan pemberi kerja.

Sementara baru-baru ini terdapat beberapa investigasi media terkenal,   seperti dokumentasi penyiaran layanan publik oleh SVT tentang   eksploitasi pekerja salon kuku Vietnam, yang membuat perdebatan semakin   panas, dengan mengangkat potensi menghindari peraturan, bahkan yang   masih berlaku saat ini.

Matthew Kriteman, chief operating officer di The Diversify   Foundation, mengatakan Swedia sedang ditarik ke arah yang berbeda-beda,   dengan para pejabat yang masih &quot;menemukan cara mereka tentang bagaimana   tetap menjalankan tradisi peraturan tenaga kerja&quot; sementara juga   &quot;mengintegrasikan pekerja asing yang mereka butuhkan untuk alih   teknologi&quot;.
Dia mengatakan pengalaman Swedia itu harus diawasi ketat, dengan   kompetensutnisning yang mewakili lebih dari sekedar kumpulan dari   perjuangan individu di pengadilan atau debat-debat internal.

&quot;Menurut saya itu sebenarnya mencerminkan tantangan dari sejenis   revolusi industri keempat, di mana teknologi, gagasan dan inovasi lebih   lancar,&quot; katanya.

&quot;Ketika bicara soal mobilitas, itulah masalah di masa depan&amp;hellip; tidak   diragukan lagi bahwa inovasi dan gangguan dan talenta nyata sebenarnya   [memiliki] pasar yang sangat besar dari berbagai tujuan yang harus   dijalani.&quot;

&quot;Jika Anda ingin berkembang dan terus melangkah maju dan menjadi   perusahaan global, Anda membutuhkan bakat internasional untuk membawa   'bumbu' tambahan ke dalam perusahaan dan tim,&quot; ungkap Aniel Bhaga, yang   memperingatkan bahwa talenta start-up asing di Swedia akan semakin   tergoda untuk pindah ke kota-kota lain seperti Berlin atau London jika   negara Nordic itu tidak menemukan solusi jangka panjang untuk   kompetensutvisning.

Dia berpendapat bahwa &quot;meningkatkan kesadaran&quot; tentang peraturan yang   berlaku saat ini di antara karyawan dan majikan merupakan langkah   pertama yang penting, di samping &quot;kolaborasi yang lebih baik&quot; antara   perusahaan terkemuka di negara itu dan perusahaan baru, serikat pekerja   dan politisi.

&quot;Anda menarik semua orang di sini. Tetapi Anda juga perlu   mempertahankan yang Anda miliki&amp;hellip; karena itulah yang akan mendorong   inovasi di Swedia.&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
