<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,02% pada 2019</title><description>BPS merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02% sepanjang 2019.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/05/20/2163613/bps-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-02-pada-2019</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/05/20/2163613/bps-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-02-pada-2019"/><item><title>BPS: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,02% pada 2019</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/05/20/2163613/bps-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-02-pada-2019</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/05/20/2163613/bps-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-02-pada-2019</guid><pubDate>Rabu 05 Februari 2020 11:34 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/05/20/2163613/bps-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-02-pada-2019-e12M7kAcOp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BPS rilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019. (Foto: Yohana AU/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/05/20/2163613/bps-ekonomi-indonesia-tumbuh-5-02-pada-2019-e12M7kAcOp.jpg</image><title>BPS rilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019. (Foto: Yohana AU/Okezone)</title></images><description>JAKARTA&amp;nbsp;- Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data&amp;nbsp;pertumbuhan ekonomi&amp;nbsp;Indonesia sebesar 5,02% (year on year/yoy) sepanjang 2019. Realisasi ini lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 yang sebesar 5,17%.

Sementara, pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2019 tercatat sebesar 4,97%. Lebih rendah dari pertumbuhan kuartal IV-2018 yang sebesar 5,17%, begitupula dari pertumbuhan di kuartal III-2019 yang sebesar 5,02%.

(BPS rilis laporan pertumbuhan ekonomi RI 2019. Foto: Yohana AU/Okezone)

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksi 5,02%-5,06% pada 2019

&quot;Pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 sebesar 5,02%, lebih lambat dari tahun-tahun sebelumnya, dan mendekati ke posisi tahun 2016 yang tumbuh 5,03%,&quot; ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Kecuk, sapaan akrabnya, menjelaskan realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut tidak terlepas dari kondisi perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian. Di antaranya masih berlangsungnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China, tensi geopolitik yang berlangsung di beberapa negara, juga harga komoditas yang berfluktuatif.
BPS mencatat harga komoditas migas dan non migas di pasar  internasional pada kuartal IV-2019 secara umum mengalami peningkatan  baik secara kuartalan (q to q) maupun secara tahunan (yoy). Hal ini sangat berpengaruh pada perekonomian Indonesia.

Di antaranya harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian  Crude Price (ICP) pada kuartal IV-2019 mengalami peningkatan 6,04% dari  kuartal III-2019, namun menurun 2,06% bila dibandingkan kuartal IV-2018.  Di sisi lain, komoditas cokelat, kedelai, daging sapi, minyak kelapa  sawit, dan karet mengalami kenaikan harga di kuartal IV-2019.
&amp;nbsp;
Ekonomi Indonesia juga tak terlepas dari empat negara mitra dagang  utama yang perekonomiannya melambat di sepanjang 2019, yakni Singapura,  China, dan Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Ini semua menunjukkan  perekonomian global masih lemah dan belum stabil, akibat lemahnya  perdagangan global dan investasi.

&quot;Jadi banyak negara yang alami perlambatan ekonomi,&quot; kata Kecuk.

Menurut Kecuk, dengan realiasi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02% di  tahun 2019, menunjukkan Indonesia masih mampu mempertahankan pertumbuhan  di kisaran 5%. Mengingat, kondisi ekonomi global memang tengah  mengalami perlambatan.

&quot;Mempertahankan 5% disituasi sekarang tidaklah gampang, dengan  situasi global yang menunjukkan perlemahan, ini cukup baik,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA&amp;nbsp;- Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data&amp;nbsp;pertumbuhan ekonomi&amp;nbsp;Indonesia sebesar 5,02% (year on year/yoy) sepanjang 2019. Realisasi ini lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 yang sebesar 5,17%.

Sementara, pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2019 tercatat sebesar 4,97%. Lebih rendah dari pertumbuhan kuartal IV-2018 yang sebesar 5,17%, begitupula dari pertumbuhan di kuartal III-2019 yang sebesar 5,02%.

(BPS rilis laporan pertumbuhan ekonomi RI 2019. Foto: Yohana AU/Okezone)

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksi 5,02%-5,06% pada 2019

&quot;Pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 sebesar 5,02%, lebih lambat dari tahun-tahun sebelumnya, dan mendekati ke posisi tahun 2016 yang tumbuh 5,03%,&quot; ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Kecuk, sapaan akrabnya, menjelaskan realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut tidak terlepas dari kondisi perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian. Di antaranya masih berlangsungnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China, tensi geopolitik yang berlangsung di beberapa negara, juga harga komoditas yang berfluktuatif.
BPS mencatat harga komoditas migas dan non migas di pasar  internasional pada kuartal IV-2019 secara umum mengalami peningkatan  baik secara kuartalan (q to q) maupun secara tahunan (yoy). Hal ini sangat berpengaruh pada perekonomian Indonesia.

Di antaranya harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian  Crude Price (ICP) pada kuartal IV-2019 mengalami peningkatan 6,04% dari  kuartal III-2019, namun menurun 2,06% bila dibandingkan kuartal IV-2018.  Di sisi lain, komoditas cokelat, kedelai, daging sapi, minyak kelapa  sawit, dan karet mengalami kenaikan harga di kuartal IV-2019.
&amp;nbsp;
Ekonomi Indonesia juga tak terlepas dari empat negara mitra dagang  utama yang perekonomiannya melambat di sepanjang 2019, yakni Singapura,  China, dan Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Ini semua menunjukkan  perekonomian global masih lemah dan belum stabil, akibat lemahnya  perdagangan global dan investasi.

&quot;Jadi banyak negara yang alami perlambatan ekonomi,&quot; kata Kecuk.

Menurut Kecuk, dengan realiasi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02% di  tahun 2019, menunjukkan Indonesia masih mampu mempertahankan pertumbuhan  di kisaran 5%. Mengingat, kondisi ekonomi global memang tengah  mengalami perlambatan.

&quot;Mempertahankan 5% disituasi sekarang tidaklah gampang, dengan  situasi global yang menunjukkan perlemahan, ini cukup baik,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
