<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Tumbuh 5,02%, Konsumsi Rumah Tangga hingga Pemerintah yang Melambat</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02% di tahun 2019.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/05/20/2163694/ekonomi-tumbuh-5-02-konsumsi-rumah-tangga-hingga-pemerintah-yang-melambat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/05/20/2163694/ekonomi-tumbuh-5-02-konsumsi-rumah-tangga-hingga-pemerintah-yang-melambat"/><item><title>Ekonomi Tumbuh 5,02%, Konsumsi Rumah Tangga hingga Pemerintah yang Melambat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/05/20/2163694/ekonomi-tumbuh-5-02-konsumsi-rumah-tangga-hingga-pemerintah-yang-melambat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/05/20/2163694/ekonomi-tumbuh-5-02-konsumsi-rumah-tangga-hingga-pemerintah-yang-melambat</guid><pubDate>Rabu 05 Februari 2020 13:53 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/05/20/2163694/ekonomi-tumbuh-5-02-konsumsi-rumah-tangga-hingga-pemerintah-yang-melambat-0O79A0DIhE.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/05/20/2163694/ekonomi-tumbuh-5-02-konsumsi-rumah-tangga-hingga-pemerintah-yang-melambat-0O79A0DIhE.jpeg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02% di tahun 2019. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di 2019 tercatat sebesar Rp15.833,9 triliun.
Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, menurut pengeluaran, mayoritas komponen penopang pertumbuhan ekonomi mengalami pertumbuhan, hanya ekspor dan impor yang terkontraksi.
Konsumsi rumah tangga masih jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, namun pertumbuhan tertinggi terjadi pada konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT).
Baca Juga: Tumbuh 5,02%, Pertumbuhan Ekonomi 2019 Nyaris Lebih Rendah dari 2016
&quot;Pertumbuhan tertinggi ada di LNPRT. Seperti yang diketahui pada 2019 ada pemilu, jadi pertumbuhan tinggi itu karena di dorong kegiatan pemilu,&quot; katanya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2020).
Konsumsi LNPRT tumbuh 10,62% di 2019, lebih tinggi dari pertumbuhan di 2018 yang sebesar 9,10%. Meski demikian, kontribusinya pada total PDB tidak signifikan, hanya sebesar 1,30%.
Sementara konsumsi rumah tangga berkontribusi 56,62% pada total PDB Indonesia dengan pertumbuhan sebesar 5,04% di tahun 2019. Realisasi itu melambat dari pertumbuhan di 2018 yang sebesar 5,05%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 5,02% pada 2019, Ini Sederet Faktor yang Mempengaruhinya
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di dorong kelompok kesehatan dan pendidikan, restoran dan hotel, serta makanan dan minuman selain restoran.
Kontribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi sebesar 32,33% terhadap PDB, menjadi terbesar kedua. Realisasinya tumbuh 4,45%, melambat cukup dalam dari tahun 2018 yang tumbuh sebesar 6,64%.Pertumbuhan investasi di dorong barang modal jenis bangunan, mesin  dan perlengkapan, serta sumber daya hayati (Cultivated Biological  Resources/CBR).
Konsumsi pemerintah juga mencatatkan perlambatan, tahun 2019 hanya  tumbuh 3,25% dari tahun 2018 yang mampu tumbuh 4,80%. Adapun  kontribusinya terhadap PDB sebesar 8,75%.
Sementara pertumbuhan ekspor mengalami kontraksi -0,87%, turun  signifikan dari tahun 2018 yang tumbuh sebesar 6,55%. Hal ini di dorong  penurunan nilai dan volume ekspor migas. Adapun ekspor berkontribusi  cukup besar yakni 18,41% terhadap PDB Indonesia.
Impor juga mengalami kontraksi -7,69%, jauh dari 2018 yang mampu  tumbuh 11,88%. Utamanya dipengaruhi kontraksi pertumbuhan impor migas.  Adapun kontribusi impor pada jumlah PDB -18,40%.
&quot;Ekspor dan impor terkontraksi, maka ini jadi pekerjaan rumah yang  besar untuk neraca dagang Indonesia agar tidak defisit, melainkan  meningkat di tengah adanya situasi ekonomi global yang melemah,&quot; kata  Suhariyanto.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02% di tahun 2019. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di 2019 tercatat sebesar Rp15.833,9 triliun.
Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, menurut pengeluaran, mayoritas komponen penopang pertumbuhan ekonomi mengalami pertumbuhan, hanya ekspor dan impor yang terkontraksi.
Konsumsi rumah tangga masih jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, namun pertumbuhan tertinggi terjadi pada konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT).
Baca Juga: Tumbuh 5,02%, Pertumbuhan Ekonomi 2019 Nyaris Lebih Rendah dari 2016
&quot;Pertumbuhan tertinggi ada di LNPRT. Seperti yang diketahui pada 2019 ada pemilu, jadi pertumbuhan tinggi itu karena di dorong kegiatan pemilu,&quot; katanya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2020).
Konsumsi LNPRT tumbuh 10,62% di 2019, lebih tinggi dari pertumbuhan di 2018 yang sebesar 9,10%. Meski demikian, kontribusinya pada total PDB tidak signifikan, hanya sebesar 1,30%.
Sementara konsumsi rumah tangga berkontribusi 56,62% pada total PDB Indonesia dengan pertumbuhan sebesar 5,04% di tahun 2019. Realisasi itu melambat dari pertumbuhan di 2018 yang sebesar 5,05%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 5,02% pada 2019, Ini Sederet Faktor yang Mempengaruhinya
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di dorong kelompok kesehatan dan pendidikan, restoran dan hotel, serta makanan dan minuman selain restoran.
Kontribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi sebesar 32,33% terhadap PDB, menjadi terbesar kedua. Realisasinya tumbuh 4,45%, melambat cukup dalam dari tahun 2018 yang tumbuh sebesar 6,64%.Pertumbuhan investasi di dorong barang modal jenis bangunan, mesin  dan perlengkapan, serta sumber daya hayati (Cultivated Biological  Resources/CBR).
Konsumsi pemerintah juga mencatatkan perlambatan, tahun 2019 hanya  tumbuh 3,25% dari tahun 2018 yang mampu tumbuh 4,80%. Adapun  kontribusinya terhadap PDB sebesar 8,75%.
Sementara pertumbuhan ekspor mengalami kontraksi -0,87%, turun  signifikan dari tahun 2018 yang tumbuh sebesar 6,55%. Hal ini di dorong  penurunan nilai dan volume ekspor migas. Adapun ekspor berkontribusi  cukup besar yakni 18,41% terhadap PDB Indonesia.
Impor juga mengalami kontraksi -7,69%, jauh dari 2018 yang mampu  tumbuh 11,88%. Utamanya dipengaruhi kontraksi pertumbuhan impor migas.  Adapun kontribusi impor pada jumlah PDB -18,40%.
&quot;Ekspor dan impor terkontraksi, maka ini jadi pekerjaan rumah yang  besar untuk neraca dagang Indonesia agar tidak defisit, melainkan  meningkat di tengah adanya situasi ekonomi global yang melemah,&quot; kata  Suhariyanto.</content:encoded></item></channel></rss>
