<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Anak JB Sumarlin Ungkap Sang Ayah Menderita Stroke dan Diabetes</title><description>Prof Dr Johannes Baptista (JB) Sumarlin meninggal dunia pada hari ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/06/20/2164505/anak-jb-sumarlin-ungkap-sang-ayah-menderita-stroke-dan-diabetes</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/06/20/2164505/anak-jb-sumarlin-ungkap-sang-ayah-menderita-stroke-dan-diabetes"/><item><title>Anak JB Sumarlin Ungkap Sang Ayah Menderita Stroke dan Diabetes</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/06/20/2164505/anak-jb-sumarlin-ungkap-sang-ayah-menderita-stroke-dan-diabetes</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/06/20/2164505/anak-jb-sumarlin-ungkap-sang-ayah-menderita-stroke-dan-diabetes</guid><pubDate>Kamis 06 Februari 2020 19:04 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/06/20/2164505/anak-jb-sumarlin-ungkap-sang-ayah-menderita-stroke-dan-diabetes-6kIfrNvwQu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">JB Sumarlin Meninggal Dunia (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/06/20/2164505/anak-jb-sumarlin-ungkap-sang-ayah-menderita-stroke-dan-diabetes-6kIfrNvwQu.jpg</image><title>JB Sumarlin Meninggal Dunia (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Prof Dr Johannes Baptista (JB) Sumarlin meninggal dunia pada hari ini. JB Sumarlin pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan ke-17 pada periode 1988 sampai 1993 era Presiden Soeharto.

Anak Kedua dari JB Sumarlin yakni Sylvia Sumarlin mengatakan, pada hari Minggu, tangan sang ayah tiba-tiba lemas. Di saat bersamaan, penglihatan sang ayah juga tiba tiba kabur sebelah.

&quot;Makan siang di Grand Mahaka tiba-tiba tangan lemas stroke selama ini buta sebelah. 'Gawat nih jangan-jangan stroke,&quot; ujarnya saat ditemui di rumah duka di RS Siloam Semanggi, Jakarta, Kamis (6/2/2020).
Baca Juga: JB Sumarlin Hadapi Negara Nyaris Bangkrut Akibat Keuangan Pertamina
Saat itu juga lanjut Sylvia, sang ayah langsung dilarikan menuju rumah sakit. Menurut penjelasan dari pihak rumah sakit, ketika struk maka satu per satu organ tubuh tidak berfungsi.

Namun, sang dokter berusaha memberikan penanganan yang terbaik kepada Dewan Pembina Partai Golkar tersebut. Meskipun saat itu lambung dari sang ayah sudah tak lagi berfungsi.

&quot;Bawa langsung ke RS Carolus rupanya (pada) Minggu (mengalami) stroke mengakibatkan organ satu per satu tidak berfungsi. Dokter upayakan terbaik. Lambung tidak befungsi menyebabkan infeksi ke paru,&quot; jelasnya.
Baca Juga: JB Sumarlin Pernah Menyamar demi Brantas Pungli Pajak dan Uang Pensiunan
Menurut Sylvia, sebenarnya memang sang ayah memiliki riwayat penyakit diabetes. Menurutnya jika penyakit ini menyebabkan penglihatannya kabur pada satu matanya.

&quot;Bapak tuh diabet sebenarnya. Jadi diabet lalu kena glaukoma. Jadi matanya sudah kena 30 tahun,&quot; ucapnya.
Sebagai informasi, JB Sumarlin lahir di Blitar pada tanggal 7  Desember 1932, JB Sumarlin menempuh pendidikan S1 Ekonomi di Universitas  Indonesia. Gelar sarjananya diraih tahun 1958. Kemudian dia menempuh  pendidikan S2 di Universitas California Amerika Serikat dan mendapatkan  gelar Master of Arts (M.A) pada tahun 1960.

Kemudian, pendidikan S3 nya ditempuh di Universitas Pittsburg Amerika  Serikat dan gelar doktor Ph.D didapat pada tahun 1968. Sebelum masuk ke  dalam instansi pemerintah pernah bekerja sebagai dosen di Fakultas  Ekonomi dan sempat bekerja di sebuah perusahaan industri di Jakarta.  Bahkan di masa Revolusi fisik berperan serta bergerilya sebagai anggota  Palang Merah Indonesia, dan sebagai anggota TNI (Tentara Nasional  Indonesia) di Jawa Timur

Perjalanan karier di Kementerian Keuangan dirintis sejak melakukan  Gebrakan Sumarlin I pada tahun 1987. Pada saat itu menjabat sebagai  Ketua Bappenas dan Menteri Keuangan ad Interim. Gebrakan Sumarlin I  adalah pengetatan moneter dengan cara menaikkan suku bunga Sertifikat  Bank Indonesia (SBI).

Hal ini dilakukan pemerintah bersama Bank Indonesia untuk mengatasi  perekonomian Indonesia yang menghadapi kesulitan. Gebrakan Sumarlin I  berhasil menunjukkan perkembangan yang membaik dengan angka pertumbuhan  5,7% melebihi target rata-rata pertumbuhan 5% (1988).

Pada Kabinet Pembangunan V, dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri  Keuangan didampingi Menteri Muda Keuangan Nasruddin Sumintapura.  Kebijakan yang dikeluarkan untuk mendukung pengendalian inflasi dan  memperkuat struktur perkreditan yaitu Paket Kebijakan Deregulasi di  Bidang Moneter, Keuangan dan Perbankan (Pako 1988), Paket Maret 1989,  dan Paket Januari 1990. Kebijakan ini malah menghasilkan ekspansi kredit  perbankan yang berlebihan dan kurang selektif. Pada Maret 1991 Gebrakan  Sumarlin II dikeluarkan. Gebrakan II ini mampu mengekang laju inflasi  hingga secara berangsur-angsur turun menjadi 4,9% pada 1992.
</description><content:encoded>JAKARTA - Prof Dr Johannes Baptista (JB) Sumarlin meninggal dunia pada hari ini. JB Sumarlin pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan ke-17 pada periode 1988 sampai 1993 era Presiden Soeharto.

Anak Kedua dari JB Sumarlin yakni Sylvia Sumarlin mengatakan, pada hari Minggu, tangan sang ayah tiba-tiba lemas. Di saat bersamaan, penglihatan sang ayah juga tiba tiba kabur sebelah.

&quot;Makan siang di Grand Mahaka tiba-tiba tangan lemas stroke selama ini buta sebelah. 'Gawat nih jangan-jangan stroke,&quot; ujarnya saat ditemui di rumah duka di RS Siloam Semanggi, Jakarta, Kamis (6/2/2020).
Baca Juga: JB Sumarlin Hadapi Negara Nyaris Bangkrut Akibat Keuangan Pertamina
Saat itu juga lanjut Sylvia, sang ayah langsung dilarikan menuju rumah sakit. Menurut penjelasan dari pihak rumah sakit, ketika struk maka satu per satu organ tubuh tidak berfungsi.

Namun, sang dokter berusaha memberikan penanganan yang terbaik kepada Dewan Pembina Partai Golkar tersebut. Meskipun saat itu lambung dari sang ayah sudah tak lagi berfungsi.

&quot;Bawa langsung ke RS Carolus rupanya (pada) Minggu (mengalami) stroke mengakibatkan organ satu per satu tidak berfungsi. Dokter upayakan terbaik. Lambung tidak befungsi menyebabkan infeksi ke paru,&quot; jelasnya.
Baca Juga: JB Sumarlin Pernah Menyamar demi Brantas Pungli Pajak dan Uang Pensiunan
Menurut Sylvia, sebenarnya memang sang ayah memiliki riwayat penyakit diabetes. Menurutnya jika penyakit ini menyebabkan penglihatannya kabur pada satu matanya.

&quot;Bapak tuh diabet sebenarnya. Jadi diabet lalu kena glaukoma. Jadi matanya sudah kena 30 tahun,&quot; ucapnya.
Sebagai informasi, JB Sumarlin lahir di Blitar pada tanggal 7  Desember 1932, JB Sumarlin menempuh pendidikan S1 Ekonomi di Universitas  Indonesia. Gelar sarjananya diraih tahun 1958. Kemudian dia menempuh  pendidikan S2 di Universitas California Amerika Serikat dan mendapatkan  gelar Master of Arts (M.A) pada tahun 1960.

Kemudian, pendidikan S3 nya ditempuh di Universitas Pittsburg Amerika  Serikat dan gelar doktor Ph.D didapat pada tahun 1968. Sebelum masuk ke  dalam instansi pemerintah pernah bekerja sebagai dosen di Fakultas  Ekonomi dan sempat bekerja di sebuah perusahaan industri di Jakarta.  Bahkan di masa Revolusi fisik berperan serta bergerilya sebagai anggota  Palang Merah Indonesia, dan sebagai anggota TNI (Tentara Nasional  Indonesia) di Jawa Timur

Perjalanan karier di Kementerian Keuangan dirintis sejak melakukan  Gebrakan Sumarlin I pada tahun 1987. Pada saat itu menjabat sebagai  Ketua Bappenas dan Menteri Keuangan ad Interim. Gebrakan Sumarlin I  adalah pengetatan moneter dengan cara menaikkan suku bunga Sertifikat  Bank Indonesia (SBI).

Hal ini dilakukan pemerintah bersama Bank Indonesia untuk mengatasi  perekonomian Indonesia yang menghadapi kesulitan. Gebrakan Sumarlin I  berhasil menunjukkan perkembangan yang membaik dengan angka pertumbuhan  5,7% melebihi target rata-rata pertumbuhan 5% (1988).

Pada Kabinet Pembangunan V, dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri  Keuangan didampingi Menteri Muda Keuangan Nasruddin Sumintapura.  Kebijakan yang dikeluarkan untuk mendukung pengendalian inflasi dan  memperkuat struktur perkreditan yaitu Paket Kebijakan Deregulasi di  Bidang Moneter, Keuangan dan Perbankan (Pako 1988), Paket Maret 1989,  dan Paket Januari 1990. Kebijakan ini malah menghasilkan ekspansi kredit  perbankan yang berlebihan dan kurang selektif. Pada Maret 1991 Gebrakan  Sumarlin II dikeluarkan. Gebrakan II ini mampu mengekang laju inflasi  hingga secara berangsur-angsur turun menjadi 4,9% pada 1992.
</content:encoded></item></channel></rss>
