<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Impor Besi Bekas Dipermudah, Ini Alasannya</title><description>Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk merelaksasi impor scrap logam atau besi rongsokan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/12/320/2167424/impor-besi-bekas-dipermudah-ini-alasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/12/320/2167424/impor-besi-bekas-dipermudah-ini-alasannya"/><item><title>Impor Besi Bekas Dipermudah, Ini Alasannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/12/320/2167424/impor-besi-bekas-dipermudah-ini-alasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/12/320/2167424/impor-besi-bekas-dipermudah-ini-alasannya</guid><pubDate>Rabu 12 Februari 2020 16:41 WIB</pubDate><dc:creator>Fahreza Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/12/320/2167424/impor-besi-bekas-dipermudah-ini-alasannya-Sj8E7HGLKV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Industri Baja. (Foto: Okezone.com/Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/12/320/2167424/impor-besi-bekas-dipermudah-ini-alasannya-Sj8E7HGLKV.jpg</image><title>Industri Baja. (Foto: Okezone.com/Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk merelaksasi impor scrap logam atau besi rongsokan. Hal ini untuk mendukung kinerja industri baja dan lainnya, karena scarp sangat dibutuhkan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan, kebutuhan scrap logam untuk mendukung hilirisasi sangat besar. Di mana kebutuhannya mencapai 9 juta ton per tahun.
Baca Juga: Impor Baja Disindir Jokowi, Menperin: Produksi Dalam Negeri Belum Cukup
&quot;Terakhir juga diputuskan untuk scrap logam, agar juga dibuat relaksasinya untuk impor,&quot; ujarnya, di Istana Negara, Rabu (12/2/2020).
Menurut Agus, dengan relaksasi scarp logam ini, bisa mendukung produksi dari billet atau baja batangan setengah jadi yang selam ini dibutuhkan industri.
&quot;Kita lihat bahwa kenapa sektor baja itu masih memberikan kontribusi terhadap defisit neraca dagang, karena berkaitan billet. Impor billet itu naik. Impor billet naik karena memang billet yang ada di scrap,&quot; tuturnya.
Baca Juga: Presiden Jokowi Soroti Impor Baja: Salah Satu Sumber Defisit Neraca Dagang
Jadi, kata Agus, billet yang diproses di dalam negeri belum memiliki bahan baku yang cukup. Padahal dengan mengolah scrap logam, bisa menghasilkan billet yang kemudian diproses menjadi bahan baku.
&quot;Yang saya sebut scrap logam tadi. Kita bisa lihat bahwa harga per  ton dari billet yang impor itu berbeda, yang impor dari luar negeri  USD100 per ton lebih mahal dari pada billet yang diproduksi industri  dalam negeri. Jadi kalau kebutuhan sisa impor scrap logam 4 juta ton per  tahun, maka kalau tidak diproduksi dalam negeri akan ada defisit (hanya  dari billet) sebesar USD400 juta per tahun. Artinya ada opportunity  loss bagi industri dalam negeri sebesar USD400 juta per tahun,&quot;  tuturnya.
Sementara itu, untuk aturan relaksasi ini sudah diputuskan juga dalam  rapat terbatas dengan Presiden Jokowi. Di mana industri dalam negeri  bisa mengimpor scarp logam.</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk merelaksasi impor scrap logam atau besi rongsokan. Hal ini untuk mendukung kinerja industri baja dan lainnya, karena scarp sangat dibutuhkan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan, kebutuhan scrap logam untuk mendukung hilirisasi sangat besar. Di mana kebutuhannya mencapai 9 juta ton per tahun.
Baca Juga: Impor Baja Disindir Jokowi, Menperin: Produksi Dalam Negeri Belum Cukup
&quot;Terakhir juga diputuskan untuk scrap logam, agar juga dibuat relaksasinya untuk impor,&quot; ujarnya, di Istana Negara, Rabu (12/2/2020).
Menurut Agus, dengan relaksasi scarp logam ini, bisa mendukung produksi dari billet atau baja batangan setengah jadi yang selam ini dibutuhkan industri.
&quot;Kita lihat bahwa kenapa sektor baja itu masih memberikan kontribusi terhadap defisit neraca dagang, karena berkaitan billet. Impor billet itu naik. Impor billet naik karena memang billet yang ada di scrap,&quot; tuturnya.
Baca Juga: Presiden Jokowi Soroti Impor Baja: Salah Satu Sumber Defisit Neraca Dagang
Jadi, kata Agus, billet yang diproses di dalam negeri belum memiliki bahan baku yang cukup. Padahal dengan mengolah scrap logam, bisa menghasilkan billet yang kemudian diproses menjadi bahan baku.
&quot;Yang saya sebut scrap logam tadi. Kita bisa lihat bahwa harga per  ton dari billet yang impor itu berbeda, yang impor dari luar negeri  USD100 per ton lebih mahal dari pada billet yang diproduksi industri  dalam negeri. Jadi kalau kebutuhan sisa impor scrap logam 4 juta ton per  tahun, maka kalau tidak diproduksi dalam negeri akan ada defisit (hanya  dari billet) sebesar USD400 juta per tahun. Artinya ada opportunity  loss bagi industri dalam negeri sebesar USD400 juta per tahun,&quot;  tuturnya.
Sementara itu, untuk aturan relaksasi ini sudah diputuskan juga dalam  rapat terbatas dengan Presiden Jokowi. Di mana industri dalam negeri  bisa mengimpor scarp logam.</content:encoded></item></channel></rss>
