<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Virus Korona Ganggu Ekspor Batu Bara ke China?</title><description>Merebaknya virus Corona atau Covid-19 dalam sebulan terakhir belum memberikan dampak signifikan pada sektor tambang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/13/320/2167878/virus-korona-ganggu-ekspor-batu-bara-ke-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/13/320/2167878/virus-korona-ganggu-ekspor-batu-bara-ke-china"/><item><title>   Virus Korona Ganggu Ekspor Batu Bara ke China?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/13/320/2167878/virus-korona-ganggu-ekspor-batu-bara-ke-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/13/320/2167878/virus-korona-ganggu-ekspor-batu-bara-ke-china</guid><pubDate>Kamis 13 Februari 2020 14:54 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/13/320/2167878/virus-korona-ganggu-ekspor-batu-bara-ke-china-cyFXWxeG30.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Batu Bara (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/13/320/2167878/virus-korona-ganggu-ekspor-batu-bara-ke-china-cyFXWxeG30.jpg</image><title>Batu Bara (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Merebaknya virus Corona atau Covid-19 dalam sebulan terakhir belum memberikan dampak signifikan pada sektor tambang Indonesia terutama komoditas batu bara.  Kepastian ini disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Minyak dan Batubara (Minerba) Bambang Gatot Ariyono.
Baca Juga: Wabah Virus Korona Bisa Ganggu Ekspor Pertanian dan Persediaan Obat AS
Kendati China pusat penyebaran Covid-19, merupakan tujuan ekspor terbesar Indonesia, seluruh aktivitas investasi maupun operasional komoditas batu bara masih berjalan normal. Apalagi ekspor selama ini masih dijadikan sebagai kebutuhan energi pembangkit, bukan barang industri. Kurang lebih 30% dari total produksi batu bara Indonesia diekspor ke Negeri Tirai Bambu.

&quot;Virus korona kalau dari sisi batu bara mungkin belum (berdampak), ini kan baru sebentar. Mungkin kalau kami lihat alasannya sebagai energi bukan komoditas untuk industri,&quot; jelas Bambang seperti dikutip laman ESDM, Jakarta, Kamis (13/2/2020).
Baca Juga: Imbas Virus Korona, Menhub Lobi Sri Mulyani agar Maskapai Dapat Insentif PNBP
Bila penyebaran Covid-19 berlangsung dalam waktu lama, sambung Bambang, tak menutup kemungkinan memberikan sentimen negatif pada kelangsungan komoditas batu bara. &quot;Kalau sudah enam bulan baru kelihatan. Saya enggak tahu selesai kapan (virusnya). Kita lihat nanti,&quot; tegasnya.

Sejauh ini, Pemerintah belum menerima laporan khusus atas terganggunya kegiatan perdagangan Indonesia - China di sektor mineral dan batu bara akibat penyebaran Covid-19. &quot;Perusahaan belum ada yang datang ke kami untuk mengurangi produksi atau ekspor ke China,&quot; kata Bambang.
Covid-19 sendiri menyebabkan lesunya industri China sehingga berujung  pada persediaan (stockpile) yang kian menepis. Merosotnya pasokan  batubara China mengakibatkan Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Februari  2020 ikut terkerek ke angka USD66,89 per ton. &quot;Harga batu bara naik  sedikit,&quot; ungkap Bambang.

Catatan HBA bulan ini naik tipis dibanding bulan Januari yang berada  di level USD65,93 per ton atau naik 1,45% (USD0,96 per ton). Ketentuan  HBA tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 43  K/32/MEM/2020 dan berlaku sejak 1 Februari 2020.

Faktor lain yang menjadi dominan atas pembentuk HBA adalah bencana  kebakaran yang sempat melanda Australia serta meningkatnya permintaan  batubara di sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan selama  musim dingin. Sementara India dan Tiongkok membatasi impor dan  memanfaakan produksi dalam negerinya sendiri.

HBA bulan Februari akan digunakan untuk penjualan langsung (spot)  selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di  atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

Nilai HBA sendiri diperoleh rata-rata empat indeks harga batubara  yang umum digunakan dalam perdagangan batubara dunia, yaitu Indonesia  Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle  Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Merebaknya virus Corona atau Covid-19 dalam sebulan terakhir belum memberikan dampak signifikan pada sektor tambang Indonesia terutama komoditas batu bara.  Kepastian ini disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Minyak dan Batubara (Minerba) Bambang Gatot Ariyono.
Baca Juga: Wabah Virus Korona Bisa Ganggu Ekspor Pertanian dan Persediaan Obat AS
Kendati China pusat penyebaran Covid-19, merupakan tujuan ekspor terbesar Indonesia, seluruh aktivitas investasi maupun operasional komoditas batu bara masih berjalan normal. Apalagi ekspor selama ini masih dijadikan sebagai kebutuhan energi pembangkit, bukan barang industri. Kurang lebih 30% dari total produksi batu bara Indonesia diekspor ke Negeri Tirai Bambu.

&quot;Virus korona kalau dari sisi batu bara mungkin belum (berdampak), ini kan baru sebentar. Mungkin kalau kami lihat alasannya sebagai energi bukan komoditas untuk industri,&quot; jelas Bambang seperti dikutip laman ESDM, Jakarta, Kamis (13/2/2020).
Baca Juga: Imbas Virus Korona, Menhub Lobi Sri Mulyani agar Maskapai Dapat Insentif PNBP
Bila penyebaran Covid-19 berlangsung dalam waktu lama, sambung Bambang, tak menutup kemungkinan memberikan sentimen negatif pada kelangsungan komoditas batu bara. &quot;Kalau sudah enam bulan baru kelihatan. Saya enggak tahu selesai kapan (virusnya). Kita lihat nanti,&quot; tegasnya.

Sejauh ini, Pemerintah belum menerima laporan khusus atas terganggunya kegiatan perdagangan Indonesia - China di sektor mineral dan batu bara akibat penyebaran Covid-19. &quot;Perusahaan belum ada yang datang ke kami untuk mengurangi produksi atau ekspor ke China,&quot; kata Bambang.
Covid-19 sendiri menyebabkan lesunya industri China sehingga berujung  pada persediaan (stockpile) yang kian menepis. Merosotnya pasokan  batubara China mengakibatkan Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Februari  2020 ikut terkerek ke angka USD66,89 per ton. &quot;Harga batu bara naik  sedikit,&quot; ungkap Bambang.

Catatan HBA bulan ini naik tipis dibanding bulan Januari yang berada  di level USD65,93 per ton atau naik 1,45% (USD0,96 per ton). Ketentuan  HBA tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 43  K/32/MEM/2020 dan berlaku sejak 1 Februari 2020.

Faktor lain yang menjadi dominan atas pembentuk HBA adalah bencana  kebakaran yang sempat melanda Australia serta meningkatnya permintaan  batubara di sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan selama  musim dingin. Sementara India dan Tiongkok membatasi impor dan  memanfaakan produksi dalam negerinya sendiri.

HBA bulan Februari akan digunakan untuk penjualan langsung (spot)  selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di  atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

Nilai HBA sendiri diperoleh rata-rata empat indeks harga batubara  yang umum digunakan dalam perdagangan batubara dunia, yaitu Indonesia  Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle  Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
