<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bonus Demografi, RI Perlu Belajar dari Jepang   </title><description>Indonesia akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/16/320/2169342/bonus-demografi-ri-perlu-belajar-dari-jepang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/16/320/2169342/bonus-demografi-ri-perlu-belajar-dari-jepang"/><item><title>Bonus Demografi, RI Perlu Belajar dari Jepang   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/16/320/2169342/bonus-demografi-ri-perlu-belajar-dari-jepang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/16/320/2169342/bonus-demografi-ri-perlu-belajar-dari-jepang</guid><pubDate>Minggu 16 Februari 2020 20:18 WIB</pubDate><dc:creator>Vania Halim</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/16/320/2169342/bonus-demografi-ri-perlu-belajar-dari-jepang-CHUqfbPkJG.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia Akan Alami Bonus Demografi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/16/320/2169342/bonus-demografi-ri-perlu-belajar-dari-jepang-CHUqfbPkJG.jpeg</image><title>Indonesia Akan Alami Bonus Demografi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Keberhasilan suatu negara dalam mengelola kelompok usia produktif bergantung pada kemampuan negara tersebut mempersiapkan generasinya agar dapat memanfaatkan celah kesempatan (window of opportunity) dari bonus demografi. Tidak semua negara berhasil memanfaatkan bonus demografi.
Jepang adalah salah satu yang sukses, namun Brasil dan Afrika Selatan dinilai gagal.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengingatkan soal bonus demografi yang akan dialami Indonesia pada 2030-2040. Diprediksi Indonesia akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).
Baca Juga: Langkah Sri Mulyani Respons Gejolak Ekonomi Global Akibat Virus Korona
Pada bonus demografi tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64% dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa.
&quot;Bonus demografi adalah tantangan sekaligus kesempatan besar. Bagaimana cara kita menghadapi masalah besar jika kita tidak mampu menyediakan lapangan kerja,&quot; ucap Jokowi.
Staf Khusus Presiden Jokowi Bidang Ekonomi Arif Budimanta mengungkapkan Indonesia harus bisa memanfaatkan momentum demografi karena kalau gagal mengkapitalisasi &amp;ldquo;momentum&amp;rdquo; yang ada, maka bonus demografi hanya akan menjadi bencana.
Baca Juga: Skema Penyaluran Dana BOS Diubah, Kemenkeu: Minimalisir Korupsi
Menurut Arief, Indonesia harus belajar dari kegagalan Brasil dan Afrika Selatan dalam mengkapitalisasi peluang bonus demografi.
&amp;ldquo;Periode bonus demografi di Brasil dimulai awal 1970-an dan berakhir pada 2018 yang lalu.
Brazil dianggap &amp;ldquo;gagal&amp;rdquo; mempersiapkan diri sejak awal periode bonus demografi dimulai,&amp;rdquo; kata Arif dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Minggu (16/2/2020).
Resesi ekonomi yang terjadi di Brazil telah banyak mempengaruhi sektor formal sehingga pemerintah lebih memprioritaskan alokasi sumber daya untuk kebutuhan jaring pengaman sosial dan pensiun.
Hal tersebut mengakibatkan defisit anggaran yang sangat besar sehingga Brasil tidak mampu mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk penyediaan akses pendidikan yang berkualitas, infrastruktur, kesehatan dan penyediaan lapangan pekerjaan.Sedangkan untuk kasus Afrika Selatan, permasalahan utama terkait  tingginya angka pengangguran. Terjadi diskoneksi antara tingkat  pertumbuhan angkatan kerja yang tidak bisa diimbangi oleh tingkat  pertumbuhan lapangan pekerjaan.
Hal ini akibat adanya skill mismatch antara apa yang dibutuhkan oleh  dunia kerja dengan apa yang bisa ditawarkan oleh pekerja. Mismatch yang  ada disebabkan karena kualitas pendidikan yang kurang baik dan kegagalan  pemerintah meng-link-an antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan  pasar tenaga kerja.
&amp;ldquo;Kondisi yang terjadi mengakibatnya sekitar 53% generasi milenial di  Afrika Selatan menganggur karena tidak terserap pasar tenaga kerja,&amp;rdquo;  kata Arif.
Karena itu, dalam konteks memanfaatkan momentum bonus demografi,  Pemerintah RI akan mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing  Sumber Daya Manusia (SDM). Karena peningkatan indeks pembangunan manusia  sebesar 1% saja mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 5%</description><content:encoded>JAKARTA - Keberhasilan suatu negara dalam mengelola kelompok usia produktif bergantung pada kemampuan negara tersebut mempersiapkan generasinya agar dapat memanfaatkan celah kesempatan (window of opportunity) dari bonus demografi. Tidak semua negara berhasil memanfaatkan bonus demografi.
Jepang adalah salah satu yang sukses, namun Brasil dan Afrika Selatan dinilai gagal.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengingatkan soal bonus demografi yang akan dialami Indonesia pada 2030-2040. Diprediksi Indonesia akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).
Baca Juga: Langkah Sri Mulyani Respons Gejolak Ekonomi Global Akibat Virus Korona
Pada bonus demografi tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64% dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa.
&quot;Bonus demografi adalah tantangan sekaligus kesempatan besar. Bagaimana cara kita menghadapi masalah besar jika kita tidak mampu menyediakan lapangan kerja,&quot; ucap Jokowi.
Staf Khusus Presiden Jokowi Bidang Ekonomi Arif Budimanta mengungkapkan Indonesia harus bisa memanfaatkan momentum demografi karena kalau gagal mengkapitalisasi &amp;ldquo;momentum&amp;rdquo; yang ada, maka bonus demografi hanya akan menjadi bencana.
Baca Juga: Skema Penyaluran Dana BOS Diubah, Kemenkeu: Minimalisir Korupsi
Menurut Arief, Indonesia harus belajar dari kegagalan Brasil dan Afrika Selatan dalam mengkapitalisasi peluang bonus demografi.
&amp;ldquo;Periode bonus demografi di Brasil dimulai awal 1970-an dan berakhir pada 2018 yang lalu.
Brazil dianggap &amp;ldquo;gagal&amp;rdquo; mempersiapkan diri sejak awal periode bonus demografi dimulai,&amp;rdquo; kata Arif dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Minggu (16/2/2020).
Resesi ekonomi yang terjadi di Brazil telah banyak mempengaruhi sektor formal sehingga pemerintah lebih memprioritaskan alokasi sumber daya untuk kebutuhan jaring pengaman sosial dan pensiun.
Hal tersebut mengakibatkan defisit anggaran yang sangat besar sehingga Brasil tidak mampu mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk penyediaan akses pendidikan yang berkualitas, infrastruktur, kesehatan dan penyediaan lapangan pekerjaan.Sedangkan untuk kasus Afrika Selatan, permasalahan utama terkait  tingginya angka pengangguran. Terjadi diskoneksi antara tingkat  pertumbuhan angkatan kerja yang tidak bisa diimbangi oleh tingkat  pertumbuhan lapangan pekerjaan.
Hal ini akibat adanya skill mismatch antara apa yang dibutuhkan oleh  dunia kerja dengan apa yang bisa ditawarkan oleh pekerja. Mismatch yang  ada disebabkan karena kualitas pendidikan yang kurang baik dan kegagalan  pemerintah meng-link-an antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan  pasar tenaga kerja.
&amp;ldquo;Kondisi yang terjadi mengakibatnya sekitar 53% generasi milenial di  Afrika Selatan menganggur karena tidak terserap pasar tenaga kerja,&amp;rdquo;  kata Arif.
Karena itu, dalam konteks memanfaatkan momentum bonus demografi,  Pemerintah RI akan mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing  Sumber Daya Manusia (SDM). Karena peningkatan indeks pembangunan manusia  sebesar 1% saja mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 5%</content:encoded></item></channel></rss>
