<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>      Tingkatkan Konektivitas, 2 Jalan Lintas Tengah Aceh Mulai Dibangun</title><description>Pemerintah terus meningkatkan konektivitas antar pusat pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/24/320/2173044/tingkatkan-konektivitas-2-jalan-lintas-tengah-aceh-mulai-dibangun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/24/320/2173044/tingkatkan-konektivitas-2-jalan-lintas-tengah-aceh-mulai-dibangun"/><item><title>      Tingkatkan Konektivitas, 2 Jalan Lintas Tengah Aceh Mulai Dibangun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/24/320/2173044/tingkatkan-konektivitas-2-jalan-lintas-tengah-aceh-mulai-dibangun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/24/320/2173044/tingkatkan-konektivitas-2-jalan-lintas-tengah-aceh-mulai-dibangun</guid><pubDate>Senin 24 Februari 2020 08:27 WIB</pubDate><dc:creator>Irene</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/24/320/2173044/tingkatkan-konektivitas-2-jalan-lintas-tengah-aceh-mulai-dibangun-FilzIvBjYa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jalan Nasional di Aceh (Foto: Dok PUPR)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/24/320/2173044/tingkatkan-konektivitas-2-jalan-lintas-tengah-aceh-mulai-dibangun-FilzIvBjYa.jpg</image><title>Jalan Nasional di Aceh (Foto: Dok PUPR)</title></images><description>ACEH - Pemerintah terus meningkatkan konektivitas antar pusat pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera. Di samping pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera,  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga melakukan pembangunan dan pemeliharaan jalan arteri nasional di Lintas Timur, Barat dan Lintas Tengah yang bertujuan memangkas biaya logistik agar daya saing produk Indonesia meningkat.
Baca Juga: Sejak 2014, Presiden Jokowi Sudah Bangun dan Operasikan Tol Sepanjang 1.114 Km
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, peningkatan aksesibilitas serta konektivitas jaringan infrastruktur jalan untuk memberikan kelancaran, keselamatan, keamanan, juga kenyamanan perjalanan pengendara.

&amp;ldquo;Akses jalan yang semakin baik akan menunjang perekonomian masyarakat di kawasan sekitar,&amp;rdquo; kata Menteri Basuki dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (24/2/2020).
Baca Juga: Bamsoet Kembali Dorong Motor Bisa Masuk Jalan Tol
Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Sugiyartanto mengatakan, setiap tahunnya Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) I Banda Aceh rutin mengalokasikan anggaran untuk preservasi jalan sebagai upaya menjaga kondisi jalan tetap dalam keadaan mantap.

&quot;Berdasarkan survei kondisi jalan pada akhir 2019 lalu, 96,25% jalan nasional di Provinsi Aceh dalam keadaan mantap dari total panjang 2.102 km,&quot;tuturnya.

Sementara Kepala BPJN I Banda Aceh Kementerian PUPR Elvi Roza  mengatakan, selain melakukan preservasi jalan, di Provinsi Aceh, BPJN I   Banda Aceh juga tengah memulai pembangunan dua ruas jalan nasional yang  menghubungkan daerah Jantho-Keumala (38,91 km) dan Geumpang-Pameu (59,6  km).

Dua ruas jalan tersebut merupakan bagian jalan yang belum tersambung  di Jalur Lintas Tengah Aceh sepanjang 444,38 km dan memiliki peranan  penting agar jalur lintas tengah Aceh dapat tersambung seluruhnya tanpa  terputus. &quot;Selama ini pengendara dari wilayah Pameu atau Jantho menuju  Pidie harus memutar berpindah dari Lintas Tengah lewat Lintas Timur Aceh  terlebih dulu, sehingga harus menempuh perjalanan lebih jauh,&quot; ujar  Elvi.

Dikatakan Elvi, pada tahun 2020 telah teralokasi anggaran sebesar  Rp10,45 miliar di ruas Jantho-Keumala untuk pembentukan badan jalan baru  sepanjang 2,6 km. Sedangkan untuk ruas Geumpang-Pameu dialokasikan  anggaran sebesar Rp 80 miliar untuk pembentukan badan jalan baru  sepanjang 15 km dari arah Geumpang dan sepanjang 14 km dari arah Pameu.  &quot;Sebagian jalan sudah terbuka dan sebagian lagi masih berupa hutan yang  melewati Gunung Leuser ,&quot; ujarnya.

Menurut Elvi, diperkirakan kebutuhan anggaran untuk dapat  menyelesaikan pembangunan jalan nasional pada dua ruas tersebut sebesar  Rp 855,65 miliar dengan target pengerjaan hingga tahun 2024. &quot;Saat ini  tengah dalam proses lelang untuk pekerjaan. Untuk tahun 2020 ini alokasi  anggaran masih berupa tahun tunggal, diharapkan pada 2021 dapat  dilakokasikan sisa kebutuhan anggaran dengan kontrak pekerjaan tahun  jamak (multi years contract,&quot; katanya.

Selain pembangunan dan preservasi jalan nasional, dari tahun  2018-2019 di Provinsi Aceh juga telah dibangun sebanyak lima jembatan  gantung, yakni Jembatan Gantung Gunung Setan (96 meter) pada 2018  senilai Rp 2,66 miliar, Jembatan Gantung Tanjung Dalam (72 meter) pada  2018 senilai Rp 2,13 miliar, Jembatan Gantung Pante Kala (60 meter) pada  2018 senilai Rp 1,8 miliar. Sementara pada tahun 2019 dibangun dua  jembatan gantung yakni Jembatan Alur Ngiang (60 meter) senilai Rp 1,94  miliar dan Jembatan Geunie (42 meter) senilai Rp 1,37 miliar .

Pada tahun 2020 dikatakan Elvi menurut rencana akan dibangun dua  jembatan yakni Jembatan Dusun Mulo sepanjang 60 meter dengan anggaran Rp  2,7 miliar di Kabupaten Gayo Lues dan Jembatan Gampong Teungoh  sepanjang 96 meter dengan anggaran Rp 4 miliar di Kabupaten Aceh  Selatan.

Jembatan gantung merupakan salah satu wujud kebijakan Presiden Joko  Widodo untuk membangun infrastruktur daerah perdesaan terutama yang  sulit dijangkau sehingga lebih terbuka. Kehadiran jembatan gantung  sangat dibutuhkan masyarakat karena kondisi geografi wilayah Indonesia  yang memiliki banyak gunung, lembah dan sungai. Secara fisik, kondisi  ini kerap menjadi pemisah antara lokasi tempat tinggal penduduk dengan  berbagai fasilitas pelayanan publik seperti sekolah, pasar, dan kantor  pemerintahan</description><content:encoded>ACEH - Pemerintah terus meningkatkan konektivitas antar pusat pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera. Di samping pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera,  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga melakukan pembangunan dan pemeliharaan jalan arteri nasional di Lintas Timur, Barat dan Lintas Tengah yang bertujuan memangkas biaya logistik agar daya saing produk Indonesia meningkat.
Baca Juga: Sejak 2014, Presiden Jokowi Sudah Bangun dan Operasikan Tol Sepanjang 1.114 Km
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, peningkatan aksesibilitas serta konektivitas jaringan infrastruktur jalan untuk memberikan kelancaran, keselamatan, keamanan, juga kenyamanan perjalanan pengendara.

&amp;ldquo;Akses jalan yang semakin baik akan menunjang perekonomian masyarakat di kawasan sekitar,&amp;rdquo; kata Menteri Basuki dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (24/2/2020).
Baca Juga: Bamsoet Kembali Dorong Motor Bisa Masuk Jalan Tol
Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Sugiyartanto mengatakan, setiap tahunnya Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) I Banda Aceh rutin mengalokasikan anggaran untuk preservasi jalan sebagai upaya menjaga kondisi jalan tetap dalam keadaan mantap.

&quot;Berdasarkan survei kondisi jalan pada akhir 2019 lalu, 96,25% jalan nasional di Provinsi Aceh dalam keadaan mantap dari total panjang 2.102 km,&quot;tuturnya.

Sementara Kepala BPJN I Banda Aceh Kementerian PUPR Elvi Roza  mengatakan, selain melakukan preservasi jalan, di Provinsi Aceh, BPJN I   Banda Aceh juga tengah memulai pembangunan dua ruas jalan nasional yang  menghubungkan daerah Jantho-Keumala (38,91 km) dan Geumpang-Pameu (59,6  km).

Dua ruas jalan tersebut merupakan bagian jalan yang belum tersambung  di Jalur Lintas Tengah Aceh sepanjang 444,38 km dan memiliki peranan  penting agar jalur lintas tengah Aceh dapat tersambung seluruhnya tanpa  terputus. &quot;Selama ini pengendara dari wilayah Pameu atau Jantho menuju  Pidie harus memutar berpindah dari Lintas Tengah lewat Lintas Timur Aceh  terlebih dulu, sehingga harus menempuh perjalanan lebih jauh,&quot; ujar  Elvi.

Dikatakan Elvi, pada tahun 2020 telah teralokasi anggaran sebesar  Rp10,45 miliar di ruas Jantho-Keumala untuk pembentukan badan jalan baru  sepanjang 2,6 km. Sedangkan untuk ruas Geumpang-Pameu dialokasikan  anggaran sebesar Rp 80 miliar untuk pembentukan badan jalan baru  sepanjang 15 km dari arah Geumpang dan sepanjang 14 km dari arah Pameu.  &quot;Sebagian jalan sudah terbuka dan sebagian lagi masih berupa hutan yang  melewati Gunung Leuser ,&quot; ujarnya.

Menurut Elvi, diperkirakan kebutuhan anggaran untuk dapat  menyelesaikan pembangunan jalan nasional pada dua ruas tersebut sebesar  Rp 855,65 miliar dengan target pengerjaan hingga tahun 2024. &quot;Saat ini  tengah dalam proses lelang untuk pekerjaan. Untuk tahun 2020 ini alokasi  anggaran masih berupa tahun tunggal, diharapkan pada 2021 dapat  dilakokasikan sisa kebutuhan anggaran dengan kontrak pekerjaan tahun  jamak (multi years contract,&quot; katanya.

Selain pembangunan dan preservasi jalan nasional, dari tahun  2018-2019 di Provinsi Aceh juga telah dibangun sebanyak lima jembatan  gantung, yakni Jembatan Gantung Gunung Setan (96 meter) pada 2018  senilai Rp 2,66 miliar, Jembatan Gantung Tanjung Dalam (72 meter) pada  2018 senilai Rp 2,13 miliar, Jembatan Gantung Pante Kala (60 meter) pada  2018 senilai Rp 1,8 miliar. Sementara pada tahun 2019 dibangun dua  jembatan gantung yakni Jembatan Alur Ngiang (60 meter) senilai Rp 1,94  miliar dan Jembatan Geunie (42 meter) senilai Rp 1,37 miliar .

Pada tahun 2020 dikatakan Elvi menurut rencana akan dibangun dua  jembatan yakni Jembatan Dusun Mulo sepanjang 60 meter dengan anggaran Rp  2,7 miliar di Kabupaten Gayo Lues dan Jembatan Gampong Teungoh  sepanjang 96 meter dengan anggaran Rp 4 miliar di Kabupaten Aceh  Selatan.

Jembatan gantung merupakan salah satu wujud kebijakan Presiden Joko  Widodo untuk membangun infrastruktur daerah perdesaan terutama yang  sulit dijangkau sehingga lebih terbuka. Kehadiran jembatan gantung  sangat dibutuhkan masyarakat karena kondisi geografi wilayah Indonesia  yang memiliki banyak gunung, lembah dan sungai. Secara fisik, kondisi  ini kerap menjadi pemisah antara lokasi tempat tinggal penduduk dengan  berbagai fasilitas pelayanan publik seperti sekolah, pasar, dan kantor  pemerintahan</content:encoded></item></channel></rss>
