<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ingin Berutang? Hitung-Hitung Dulu Penghasilan dan Aset</title><description>Sebagian besar masyarakat mungkin takut mendengar kata utang atau bahkan takut berutang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/29/320/2175994/ingin-berutang-hitung-hitung-dulu-penghasilan-dan-aset</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/02/29/320/2175994/ingin-berutang-hitung-hitung-dulu-penghasilan-dan-aset"/><item><title>Ingin Berutang? Hitung-Hitung Dulu Penghasilan dan Aset</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/02/29/320/2175994/ingin-berutang-hitung-hitung-dulu-penghasilan-dan-aset</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/02/29/320/2175994/ingin-berutang-hitung-hitung-dulu-penghasilan-dan-aset</guid><pubDate>Sabtu 29 Februari 2020 19:08 WIB</pubDate><dc:creator>Vania Halim</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/29/320/2175994/ingin-berutang-hitung-hitung-dulu-penghasilan-dan-aset-Dw4GQswbGZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Trik Hemat (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/02/29/320/2175994/ingin-berutang-hitung-hitung-dulu-penghasilan-dan-aset-Dw4GQswbGZ.jpg</image><title>Trik Hemat (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Sebagian besar masyarakat mungkin takut mendengar kata utang atau bahkan takut berutang. Namun mungkin sebagian orang malah hobi untuk berutang.
Lantas, apakah anda telah memahami apa arti dari utang itu? Melansir buku 'Successful Financial Planner' karya Adler H. Manurung dan Lutfi T. Rizky, utang adalah sejumlah uang atau sesuatu yang dapat dinilai dengan uang yang diterima dari pihak lain berdasarkan persetujuan dengan kewajiban mengembalikan atau melunasi.
Baca Juga: Pengusaha Pemula Selalu Kena Masalah Keuangan, Kenapa?
Bila anda terlalu biasa untuk berutang, mungkin anda akan sulit untuk lepas dari sindrom berutang. Namun bila anda baru ingin memutuskan untuk berutang, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan sebelum mengambil keputusan untuk berutang.
Pertama adalah memperhatikan rasio utang dengan penghasilan. Total keseluruhan utang yang anda miliki tidak boleh melebihi dari 35% penghasilan utama keluarga anda. Jika rasio utang anda memasuki angka 45%, ini berarti anda memasuki kategori berbahaya atau berpotensi mengalami kebangkrutan.
Baca Juga: Punya Gaji Besar tapi Cepat Habis, Ini Penyebabny
Sebagai contoh jika sang suami memiliki penghasilan Rp10 juta dan istrinya Rp5 juta, jumlah maksimum utang yang dapat diambil adalah sebesar Rp3,5 juta. Penghasilan suami dan istri tidak dapat digabung dalam menghitung jumlah utang yang dapat diambil. Hal ini merupakan bentuk dari manajemen risiko bila nantinya salah satu penghasilan terhenti.
Kedua adalah memperhatikan rasio total utang terhadap total aset yang dimiliki. Jika jumlah utang melebihi aset, pasti anda akan mengalami kesulitan dalam pembayaran tagihan. Rasio utang dapat dengan mudah dikalkulasi hanya dengan membagi total utang dengan total aset.Sebagai contoh, bila total utang yang dimiliki sebesar Rp30 juta dan  total aset Rp50 juta maka rasionya adalah sebesar 0,6. Rasio ini berarti  bahwa terdapat 600 ribu total utang dalam setiap satu juta total aset.  Rasio yang semakin rendah akan semakin baik karena ini artinya anda  memiliki sedikit utang apalagi utang yang non produktif. Jumlah utang  yang lebih sedikit juga akan lebih baik bila aset yang dimiliki  mempunyai nilai pasar yang sangat berfluktuasi.
Ketiga adalah memperhatikan rasio penghasilan bersih terhadap  pembayaran utang. Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur kemampuan dalam  mengendalikan utang bukan hanya bergantung pada banyaknya aset melainkan  pada penghasilan bersih.
Sebagai contoh, bila penghasilan bersih sebesar Rp40 juta dan  pembayaran utang yang meliputi pokok dan bunga sebesar Rp10 juta, maka  bila keduanya dibagi, rasionya adalah 4. Angka ini maksudnya adalah ada 4  juta penghasilan bersih bulanan untuk setiap 1 juta kebutuhan  pembayaran utang. Secara umum rasio ini minimum wajib berada di angka 2.</description><content:encoded>JAKARTA - Sebagian besar masyarakat mungkin takut mendengar kata utang atau bahkan takut berutang. Namun mungkin sebagian orang malah hobi untuk berutang.
Lantas, apakah anda telah memahami apa arti dari utang itu? Melansir buku 'Successful Financial Planner' karya Adler H. Manurung dan Lutfi T. Rizky, utang adalah sejumlah uang atau sesuatu yang dapat dinilai dengan uang yang diterima dari pihak lain berdasarkan persetujuan dengan kewajiban mengembalikan atau melunasi.
Baca Juga: Pengusaha Pemula Selalu Kena Masalah Keuangan, Kenapa?
Bila anda terlalu biasa untuk berutang, mungkin anda akan sulit untuk lepas dari sindrom berutang. Namun bila anda baru ingin memutuskan untuk berutang, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan sebelum mengambil keputusan untuk berutang.
Pertama adalah memperhatikan rasio utang dengan penghasilan. Total keseluruhan utang yang anda miliki tidak boleh melebihi dari 35% penghasilan utama keluarga anda. Jika rasio utang anda memasuki angka 45%, ini berarti anda memasuki kategori berbahaya atau berpotensi mengalami kebangkrutan.
Baca Juga: Punya Gaji Besar tapi Cepat Habis, Ini Penyebabny
Sebagai contoh jika sang suami memiliki penghasilan Rp10 juta dan istrinya Rp5 juta, jumlah maksimum utang yang dapat diambil adalah sebesar Rp3,5 juta. Penghasilan suami dan istri tidak dapat digabung dalam menghitung jumlah utang yang dapat diambil. Hal ini merupakan bentuk dari manajemen risiko bila nantinya salah satu penghasilan terhenti.
Kedua adalah memperhatikan rasio total utang terhadap total aset yang dimiliki. Jika jumlah utang melebihi aset, pasti anda akan mengalami kesulitan dalam pembayaran tagihan. Rasio utang dapat dengan mudah dikalkulasi hanya dengan membagi total utang dengan total aset.Sebagai contoh, bila total utang yang dimiliki sebesar Rp30 juta dan  total aset Rp50 juta maka rasionya adalah sebesar 0,6. Rasio ini berarti  bahwa terdapat 600 ribu total utang dalam setiap satu juta total aset.  Rasio yang semakin rendah akan semakin baik karena ini artinya anda  memiliki sedikit utang apalagi utang yang non produktif. Jumlah utang  yang lebih sedikit juga akan lebih baik bila aset yang dimiliki  mempunyai nilai pasar yang sangat berfluktuasi.
Ketiga adalah memperhatikan rasio penghasilan bersih terhadap  pembayaran utang. Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur kemampuan dalam  mengendalikan utang bukan hanya bergantung pada banyaknya aset melainkan  pada penghasilan bersih.
Sebagai contoh, bila penghasilan bersih sebesar Rp40 juta dan  pembayaran utang yang meliputi pokok dan bunga sebesar Rp10 juta, maka  bila keduanya dibagi, rasionya adalah 4. Angka ini maksudnya adalah ada 4  juta penghasilan bersih bulanan untuk setiap 1 juta kebutuhan  pembayaran utang. Secara umum rasio ini minimum wajib berada di angka 2.</content:encoded></item></channel></rss>
