<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengenal Istilah 'Toko Lawas' di Jepang</title><description>Ada ribuan perusahaan di Jepang yang bisa bertahan hingga satu abad.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/03/320/2177676/mengenal-istilah-toko-lawas-di-jepang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/03/03/320/2177676/mengenal-istilah-toko-lawas-di-jepang"/><item><title>Mengenal Istilah 'Toko Lawas' di Jepang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/03/320/2177676/mengenal-istilah-toko-lawas-di-jepang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/03/03/320/2177676/mengenal-istilah-toko-lawas-di-jepang</guid><pubDate>Selasa 03 Maret 2020 20:19 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/03/320/2177676/mengenal-istilah-toko-lawas-di-jepang-UvbbS7MVX5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi Jepang (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/03/320/2177676/mengenal-istilah-toko-lawas-di-jepang-UvbbS7MVX5.jpg</image><title>Ekonomi Jepang (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Ada ribuan perusahaan di Jepang yang bisa bertahan hingga satu abad. Pertanyaannya, mengapa Jepang memiliki bisnis yang bertahan begitu lama? Dan di era yang identik dengan perkelahian antara perusahaan rintisan yang bersaing secara kilat, apa yang dapat diajarkan bisnis-bisnis lawas Jepang itu?
Yoshinori Hara, dekan sekaligus profesor di Graduate School of Management Universitas Kyoto, menyebut entitas yang berusia tua itu, yang setidaknya telah berdiri selama 100 tahun, dikenal dengan istilah 'shinise' yang secara harafiah berarti 'toko lawas'.
Hara, yang bekerja di Sillicon Valley selama satu dekade, berkata bahwa perusahaan Jepang menekankan kesinambungan ketimbang target memaksimalkan profit. Itulah, kata dia, alasan mengapa begitu banyak bisnis di Jepang terus bertahan.
Baca Juga: Kalahkan Rusia, Jepang Terpilih Jadi Tuan Rumah World Expo 2025
&quot;Di Jepang, pemikirannya lebih pada bagaimana kita dapat mewariskan perusahaan ini kepada keturunan kita, anak-cucu kita,&quot; tuturnya dilansir dari BBCIndonesia, Selasa (3/3/2020).
Di Tsuen Tea, Tsuen menyebut banyak teman masa kecilnya di Kyoto juga lahir di keluarga yang menjalankan bisnis berusia ratusan tahun. Baginya, mengambil alih usaha keluarga bukanlah sebuah pertanyaan.
&quot;Bukan bisnis keluarga yang saya mulai. Saya menjalankan usaha yang dimulai pendahulu saya. Jika saya tidak mengambil alih, warisan itu akan berakhir,&quot; tuturnya.
Baca Juga: China Bakal Musnahkan Uang Kertas Terindikasi Virus Korona
&quot;Saat kamu masih kecil, saat beraktivitas di taman kanak-kanak dan sekolah dasar, kami ditanya tentang cita-cita masa depan. Saya kira jawaban saya waktu itu adalah melanjutkan bisnis keluarga. Itu alamiah,&quot; kata Tsuen.
Kota-kota di Jepang telah ada sejak berabad-abad lalu, jadi barangkali tidak mengherankan melihat ada perusahaan lawas. Namun Innan Sasaki, asisten profesor di sekolah bisnis University of Warwick yang meneliti tentang umur panjang bisnis Jepang, menilai ada alasan lain di balik fenomena ini.
&quot;Secara umum, kami rasa ini karena orientasi jangka panjang: budaya menghargai tradisi dan pendahulu, dikombinasikan dengan fakta bahwa Jepang adalah negara kepulauan yang dulu jarang berinteraksi dengan negara lain,&quot; ujarnya.
Sasaki juga merujuk pada hasrat orang-orang Jepang memaksimalkan yang mereka miliki selama mungkin, salah satunya menjaga keberadaan perusahaan lawas.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Ada ribuan perusahaan di Jepang yang bisa bertahan hingga satu abad. Pertanyaannya, mengapa Jepang memiliki bisnis yang bertahan begitu lama? Dan di era yang identik dengan perkelahian antara perusahaan rintisan yang bersaing secara kilat, apa yang dapat diajarkan bisnis-bisnis lawas Jepang itu?
Yoshinori Hara, dekan sekaligus profesor di Graduate School of Management Universitas Kyoto, menyebut entitas yang berusia tua itu, yang setidaknya telah berdiri selama 100 tahun, dikenal dengan istilah 'shinise' yang secara harafiah berarti 'toko lawas'.
Hara, yang bekerja di Sillicon Valley selama satu dekade, berkata bahwa perusahaan Jepang menekankan kesinambungan ketimbang target memaksimalkan profit. Itulah, kata dia, alasan mengapa begitu banyak bisnis di Jepang terus bertahan.
Baca Juga: Kalahkan Rusia, Jepang Terpilih Jadi Tuan Rumah World Expo 2025
&quot;Di Jepang, pemikirannya lebih pada bagaimana kita dapat mewariskan perusahaan ini kepada keturunan kita, anak-cucu kita,&quot; tuturnya dilansir dari BBCIndonesia, Selasa (3/3/2020).
Di Tsuen Tea, Tsuen menyebut banyak teman masa kecilnya di Kyoto juga lahir di keluarga yang menjalankan bisnis berusia ratusan tahun. Baginya, mengambil alih usaha keluarga bukanlah sebuah pertanyaan.
&quot;Bukan bisnis keluarga yang saya mulai. Saya menjalankan usaha yang dimulai pendahulu saya. Jika saya tidak mengambil alih, warisan itu akan berakhir,&quot; tuturnya.
Baca Juga: China Bakal Musnahkan Uang Kertas Terindikasi Virus Korona
&quot;Saat kamu masih kecil, saat beraktivitas di taman kanak-kanak dan sekolah dasar, kami ditanya tentang cita-cita masa depan. Saya kira jawaban saya waktu itu adalah melanjutkan bisnis keluarga. Itu alamiah,&quot; kata Tsuen.
Kota-kota di Jepang telah ada sejak berabad-abad lalu, jadi barangkali tidak mengherankan melihat ada perusahaan lawas. Namun Innan Sasaki, asisten profesor di sekolah bisnis University of Warwick yang meneliti tentang umur panjang bisnis Jepang, menilai ada alasan lain di balik fenomena ini.
&quot;Secara umum, kami rasa ini karena orientasi jangka panjang: budaya menghargai tradisi dan pendahulu, dikombinasikan dengan fakta bahwa Jepang adalah negara kepulauan yang dulu jarang berinteraksi dengan negara lain,&quot; ujarnya.
Sasaki juga merujuk pada hasrat orang-orang Jepang memaksimalkan yang mereka miliki selama mungkin, salah satunya menjaga keberadaan perusahaan lawas.</content:encoded></item></channel></rss>
