<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Anjlok, Sempat Tembus Level USD27,34/Barel</title><description>Harga minyak turun karena Arab Saudi dan Rusia memulai perang harga.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/10/320/2180839/harga-minyak-anjlok-sempat-tembus-level-usd27-34-barel</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/03/10/320/2180839/harga-minyak-anjlok-sempat-tembus-level-usd27-34-barel"/><item><title>Harga Minyak Anjlok, Sempat Tembus Level USD27,34/Barel</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/10/320/2180839/harga-minyak-anjlok-sempat-tembus-level-usd27-34-barel</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/03/10/320/2180839/harga-minyak-anjlok-sempat-tembus-level-usd27-34-barel</guid><pubDate>Selasa 10 Maret 2020 08:26 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/10/320/2180839/harga-minyak-anjlok-sempat-tembus-level-usd27-34-barel-MTVBpmC06Q.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kilang Minyak (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/10/320/2180839/harga-minyak-anjlok-sempat-tembus-level-usd27-34-barel-MTVBpmC06Q.jpg</image><title>Kilang Minyak (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Harga minyak mentah merosot tajam pada perdagangan kemarin. Harga minyak turun karena Arab Saudi dan Rusia memulai perang harga serta mengancam akan membanjiri pasar minyak global dengan stok minyak mereka.
Kemerosotan harga minyak hampir 25% ini memicu kepanikan dan kerugian besar pada indeks saham utama Wall Street karena penyebaran cepat virus corona memperkuat kekhawatiran akan resesi global.
Baca Juga: Minyak Anjlok 30% ke Level Terendah Sejak 1991, Imbas Konflik Arab Saudi-Rusia
Arab Saudi dan Rusia sama-sama mengatakan mereka akan meningkatkan produksi pada akhir pekan setelah pakta tiga tahun antara mereka dan produsen minyak utama lainnya untuk membatasi pasokan jatuh pada hari Jumat.
Moskow telah menolak untuk mendukung Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam melakukan pengurangan minyak yang lebih dalam untuk mengatasi penurunan permintaan secara substansial yang disebabkan oleh dampak virus korona pada perjalanan dan kegiatan ekonomi.
Minyak mentah berjangka Brent LCOc1 turun USD10,91 atau 24,1%, menjadi USD34,36 per barel. Kontrak turun sebanyak 31% pada hari sebelumnya menjadi USD31,02 terendah sejak 12 Februari 2016.
Baca Juga: Sri Mulyani Kaget Harga Minyak Dunia Anjlok
 
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS CLc1 turun USD10,15 atau 24,6% menjadi USD31,13 per barel. WTI sebelumnya sempat turun 33% menjadi USD27,34.
Arab Saudi berencana untuk meningkatkan produksi minyak mentahnya di atas 10 juta barel per hari (bph) pada April dari 9,7 juta bph dalam beberapa bulan terakhir. Kerajaan memangkas harga ekspor pada akhir pekan untuk mendorong pabrik penyulingan membeli lebih banyak.Rusia, salah satu produsen top dunia bersama Arab Saudi dan Amerika  Serikat, juga mengatakan mereka dapat meningkatkan produksi dan dapat  mengatasi harga minyak yang rendah selama enam hingga 10 tahun.
OPEC, Rusia dan produsen lain telah bekerja sama selama tiga tahun  untuk menahan pasokan dalam kelompok yang dikenal sebagai OPEC +.  Negara-negara lain dalam kelompok itu kemungkinan akan meningkatkan  pasokan dan memangkas harga untuk bersaing, menambah pasar yang sudah  dibanjiri minyak mentah.
&amp;ldquo;Prognosis untuk pasar minyak bahkan lebih mengerikan daripada pada  November 2014, ketika perang harga seperti itu dimulai bersamaan dengan  jatuhnya permintaan minyak akibat virus korona,&amp;rdquo; kata Goldman Sachs  dilansir dari Reuters, Selasa (10/3/2020).</description><content:encoded>JAKARTA - Harga minyak mentah merosot tajam pada perdagangan kemarin. Harga minyak turun karena Arab Saudi dan Rusia memulai perang harga serta mengancam akan membanjiri pasar minyak global dengan stok minyak mereka.
Kemerosotan harga minyak hampir 25% ini memicu kepanikan dan kerugian besar pada indeks saham utama Wall Street karena penyebaran cepat virus corona memperkuat kekhawatiran akan resesi global.
Baca Juga: Minyak Anjlok 30% ke Level Terendah Sejak 1991, Imbas Konflik Arab Saudi-Rusia
Arab Saudi dan Rusia sama-sama mengatakan mereka akan meningkatkan produksi pada akhir pekan setelah pakta tiga tahun antara mereka dan produsen minyak utama lainnya untuk membatasi pasokan jatuh pada hari Jumat.
Moskow telah menolak untuk mendukung Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam melakukan pengurangan minyak yang lebih dalam untuk mengatasi penurunan permintaan secara substansial yang disebabkan oleh dampak virus korona pada perjalanan dan kegiatan ekonomi.
Minyak mentah berjangka Brent LCOc1 turun USD10,91 atau 24,1%, menjadi USD34,36 per barel. Kontrak turun sebanyak 31% pada hari sebelumnya menjadi USD31,02 terendah sejak 12 Februari 2016.
Baca Juga: Sri Mulyani Kaget Harga Minyak Dunia Anjlok
 
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS CLc1 turun USD10,15 atau 24,6% menjadi USD31,13 per barel. WTI sebelumnya sempat turun 33% menjadi USD27,34.
Arab Saudi berencana untuk meningkatkan produksi minyak mentahnya di atas 10 juta barel per hari (bph) pada April dari 9,7 juta bph dalam beberapa bulan terakhir. Kerajaan memangkas harga ekspor pada akhir pekan untuk mendorong pabrik penyulingan membeli lebih banyak.Rusia, salah satu produsen top dunia bersama Arab Saudi dan Amerika  Serikat, juga mengatakan mereka dapat meningkatkan produksi dan dapat  mengatasi harga minyak yang rendah selama enam hingga 10 tahun.
OPEC, Rusia dan produsen lain telah bekerja sama selama tiga tahun  untuk menahan pasokan dalam kelompok yang dikenal sebagai OPEC +.  Negara-negara lain dalam kelompok itu kemungkinan akan meningkatkan  pasokan dan memangkas harga untuk bersaing, menambah pasar yang sudah  dibanjiri minyak mentah.
&amp;ldquo;Prognosis untuk pasar minyak bahkan lebih mengerikan daripada pada  November 2014, ketika perang harga seperti itu dimulai bersamaan dengan  jatuhnya permintaan minyak akibat virus korona,&amp;rdquo; kata Goldman Sachs  dilansir dari Reuters, Selasa (10/3/2020).</content:encoded></item></channel></rss>
