<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sederet Manfaat Sawit, Lahirkan Banyak Produk Mulai Shampo hingga Margarin</title><description>Kelapa sawit ternyata sangatlah berguna bagi masyarakat di dunia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/10/320/2181105/sederet-manfaat-sawit-lahirkan-banyak-produk-mulai-shampo-hingga-margarin</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/03/10/320/2181105/sederet-manfaat-sawit-lahirkan-banyak-produk-mulai-shampo-hingga-margarin"/><item><title>Sederet Manfaat Sawit, Lahirkan Banyak Produk Mulai Shampo hingga Margarin</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/10/320/2181105/sederet-manfaat-sawit-lahirkan-banyak-produk-mulai-shampo-hingga-margarin</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/03/10/320/2181105/sederet-manfaat-sawit-lahirkan-banyak-produk-mulai-shampo-hingga-margarin</guid><pubDate>Selasa 10 Maret 2020 15:39 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/10/320/2181105/sederet-manfaat-sawit-lahirkan-banyak-produk-mulai-shampo-hingga-margarin-E02nHYlx2X.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sawit (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/10/320/2181105/sederet-manfaat-sawit-lahirkan-banyak-produk-mulai-shampo-hingga-margarin-E02nHYlx2X.jpg</image><title>Sawit (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Kelapa sawit ternyata sangatlah berguna bagi masyarakat di dunia. Tak terbayangkan banyaknya benda yang dibuat menggunakan minyak sawit.

Namun kecanduan kita terhadap sawit merugikan Bumi, karena kerusakan yang diakibatkannya pada hutan hujan. Bisakah kita mencari penggantinya?
 
&amp;nbsp;Baca juga: Wejangan Sri Mulyani untuk Bos Pengelola Dana Sawit yang Baru Dilantik
Dia ada di sampo yang Anda pakai pagi ini, atau di dalam sabun yang membersihkan tubuh Anda, bahkan di pasta gigi yang Anda pakai untuk menggosok gigi, dalam vitamin yang Anda telan, atau di kosmetik yang mempercantik wajah Anda.

Dia juga kemungkinan besar ada di dalam roti yang Anda makan untuk sarapan, atau di dalam margarin yang Anda oles di atasnya, atau di dalam krim untuk kopi Anda.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekspor Sawit RI Turun 77%, Imbas Virus Korona?
Jika Anda memakai mentega dan susu, sapi yang memproduksinya juga kemungkinan digemukkan oleh sawit. Nyaris pasti, Anda telah memakai produk sawit hari ini.

Bahkan kendaraan &amp;mdash; bis, kereta, atau mobil &amp;mdash; yang Anda naiki diisi bensin yang mengandung sawit. Sebagian besar diesel dan bensin yang kita pakai memiliki komponen tambahan biofuel, yang pada dasarnya berasal dari sawit.

Mengutip BBC Indonesia, Jakarta, Selasa (10/3/2020), minyak sawit adalah minyak sayur yang paling populer di dunia. Keberadaannya bisa ditelisik di dalam 50% produk-produk konsumen, serta memainkan peran sentral dalam industri.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Uni Eropa Persulit Minyak Sawit RI, Menko Airlangga: Tidak Bisa Dibiarkan
Petani sawit menghasilkan 77 juta ton minyak sawit untuk pasar global pada 2018, dan angka ini diprediksi naik hingga 107,6 juta ton pada 2024.

Kehadiran sawit di kehidupan kita, sebagiannya karena kandungannya yang unik. Pertama kali dipanen dari biji kelapa sawit di Afrika Barat, ia memiliki warna pucat dan tak berbau, menjadikannya bahan campuran makanan yang mendekati sempurna.

Minyaknya memiliki titik didih tinggi dan lemak jenuh tinggi, ideal untuk menciptakan krim dan penganan yang leleh di mulut. Sebagian besar minyak sayur lain harus dihidrogenasi &amp;mdash; yakni proses penambahan atom hidrogen secara kimia ke dalam molekul lemak &amp;mdash; untuk meraih bentuk yang sama. Namun, proses ini akan menghasilkan lemak tak jenuh yang tidak sehat.
Berkat kandungan kimia unik pula, minyak sawit tahan terhadap suhu  tinggi dalam proses memasak, dan tahan disimpan dalam waktu lama, cocok  untuk berbagai produk.

Minyaknya juga bisa dipakai sebagai bahan bakar, begitupun biji  kelapa yang tersisa yang masih bisa diproses kembali. Batoknya  dihancurkan dan dipakai untuk membuat beton, dan abu sisa pembakaran  sabut dan batoknya pun bisa digunakan sebagai pengganti semen.

Kelapa sawit mudah tumbuh di daerah tropis dan sangat menguntungkan  bagi petani. Bahkan tanah yang gersang sekalipun, belakangan banyak  digunakan sebagai perkebunan sawit.

Namun ekspansi besar-besaran perkebunan sawit dituduh menjadi biang  kerok pembabatan hutan masif di Indonesia dan Malaysia, termasuk  menghancurkan habitat hewan-hewan yang terancam punah di sana, seperti  orang utan.

Dua negara ini saja, bilang digabung, memiliki sekitar 13 juta hektar perkebunan sawit, nyaris separuh dari total seluruh dunia.

Menurut Global Forest Watch, Indonesia kehilangan cakupan pohon  seluas 25,6 juta hektar pada medio 2001 dan 2008, sebuah area yang  besarnya nyaris seluas New Zealand.

Ini yang membuat pemerintah dari seluruh dunia, juga pengusaha,  berusaha mencari alternatif selain sawit. Namun menemukan pengganti  untuk produk ini bukan pekerjaan mudah.

Pendekatan paling mudah adalah mencari minyak sayur lain, yang memiliki sifat serupa.

Saat merancang sabun bebas sawit, merek kosmetik LUSH dari Inggris  menggantikannya dengan campuran minyak dari biji rapeseed dan minyak  kelapa. Sejak itu, mereka juga berangsur-angsur memakai minyak bunga  matahari, mentega kakao, minyak olive, dan biji gandum.

Sementara itu, para ahli makanan dan kosmetik membuat ramuan dengan  alternatif yang lebih eksotis, seperti minyak dari shea, sal, jojoba,  kokum, illip&amp;eacute;, jatropha dan kulit mangga.

Dengan cara menghidrogenasi dan mencampurkan &quot;minyak eksotis&quot; ini,  campuran baru yang menyerupai sawit bisa tercipta. Namun tidak satupun  yang semurah atau semudah sawit.

Kacang shea Afrika, misalnya, dipanen dan dijual dengan jumlah kecil  oleh komunitas lokal. Ini menjadikan rantai persediaan sangat kecil dan  rentan terhadap gangguan.

Bukan itu saja kesulitannya. Seperti halnya kedelai &amp;mdash; tanaman lain  yang dituduh menyumbang kerusakan hutan hujan &amp;mdash; penggunaan besar sawit  lainnya adalah pakan ternak dan hewan peliharaan.

Selain mengandung kalori tinggi, sawit juga kaya akan asam lemak  esensial dan membantu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak. Saat  permintaan global akan daging, unggas, dan produk berbahan susu naik,  maka permintaan akan sawit juga akan terus meningkat.

Peneliti di Pozna&amp;#324; University of Life Sciences di Polandia telah  berusaha menggantikan kandungan sawit yang ada di pakan ayam dengan  sumber nutrisi yang lebih berkelanjutan: serangga.

Mereka memberi makan ayam-ayam dengan minyak dari larva sebagai  pengganti sawit, dan menemukan tak ada pengaruhnya pada pertumbuhan  ayam. Larva memiliki kandungan protein tinggi, dan bisa diternakkan dari  sampah sisa makanan.</description><content:encoded>JAKARTA - Kelapa sawit ternyata sangatlah berguna bagi masyarakat di dunia. Tak terbayangkan banyaknya benda yang dibuat menggunakan minyak sawit.

Namun kecanduan kita terhadap sawit merugikan Bumi, karena kerusakan yang diakibatkannya pada hutan hujan. Bisakah kita mencari penggantinya?
 
&amp;nbsp;Baca juga: Wejangan Sri Mulyani untuk Bos Pengelola Dana Sawit yang Baru Dilantik
Dia ada di sampo yang Anda pakai pagi ini, atau di dalam sabun yang membersihkan tubuh Anda, bahkan di pasta gigi yang Anda pakai untuk menggosok gigi, dalam vitamin yang Anda telan, atau di kosmetik yang mempercantik wajah Anda.

Dia juga kemungkinan besar ada di dalam roti yang Anda makan untuk sarapan, atau di dalam margarin yang Anda oles di atasnya, atau di dalam krim untuk kopi Anda.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekspor Sawit RI Turun 77%, Imbas Virus Korona?
Jika Anda memakai mentega dan susu, sapi yang memproduksinya juga kemungkinan digemukkan oleh sawit. Nyaris pasti, Anda telah memakai produk sawit hari ini.

Bahkan kendaraan &amp;mdash; bis, kereta, atau mobil &amp;mdash; yang Anda naiki diisi bensin yang mengandung sawit. Sebagian besar diesel dan bensin yang kita pakai memiliki komponen tambahan biofuel, yang pada dasarnya berasal dari sawit.

Mengutip BBC Indonesia, Jakarta, Selasa (10/3/2020), minyak sawit adalah minyak sayur yang paling populer di dunia. Keberadaannya bisa ditelisik di dalam 50% produk-produk konsumen, serta memainkan peran sentral dalam industri.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Uni Eropa Persulit Minyak Sawit RI, Menko Airlangga: Tidak Bisa Dibiarkan
Petani sawit menghasilkan 77 juta ton minyak sawit untuk pasar global pada 2018, dan angka ini diprediksi naik hingga 107,6 juta ton pada 2024.

Kehadiran sawit di kehidupan kita, sebagiannya karena kandungannya yang unik. Pertama kali dipanen dari biji kelapa sawit di Afrika Barat, ia memiliki warna pucat dan tak berbau, menjadikannya bahan campuran makanan yang mendekati sempurna.

Minyaknya memiliki titik didih tinggi dan lemak jenuh tinggi, ideal untuk menciptakan krim dan penganan yang leleh di mulut. Sebagian besar minyak sayur lain harus dihidrogenasi &amp;mdash; yakni proses penambahan atom hidrogen secara kimia ke dalam molekul lemak &amp;mdash; untuk meraih bentuk yang sama. Namun, proses ini akan menghasilkan lemak tak jenuh yang tidak sehat.
Berkat kandungan kimia unik pula, minyak sawit tahan terhadap suhu  tinggi dalam proses memasak, dan tahan disimpan dalam waktu lama, cocok  untuk berbagai produk.

Minyaknya juga bisa dipakai sebagai bahan bakar, begitupun biji  kelapa yang tersisa yang masih bisa diproses kembali. Batoknya  dihancurkan dan dipakai untuk membuat beton, dan abu sisa pembakaran  sabut dan batoknya pun bisa digunakan sebagai pengganti semen.

Kelapa sawit mudah tumbuh di daerah tropis dan sangat menguntungkan  bagi petani. Bahkan tanah yang gersang sekalipun, belakangan banyak  digunakan sebagai perkebunan sawit.

Namun ekspansi besar-besaran perkebunan sawit dituduh menjadi biang  kerok pembabatan hutan masif di Indonesia dan Malaysia, termasuk  menghancurkan habitat hewan-hewan yang terancam punah di sana, seperti  orang utan.

Dua negara ini saja, bilang digabung, memiliki sekitar 13 juta hektar perkebunan sawit, nyaris separuh dari total seluruh dunia.

Menurut Global Forest Watch, Indonesia kehilangan cakupan pohon  seluas 25,6 juta hektar pada medio 2001 dan 2008, sebuah area yang  besarnya nyaris seluas New Zealand.

Ini yang membuat pemerintah dari seluruh dunia, juga pengusaha,  berusaha mencari alternatif selain sawit. Namun menemukan pengganti  untuk produk ini bukan pekerjaan mudah.

Pendekatan paling mudah adalah mencari minyak sayur lain, yang memiliki sifat serupa.

Saat merancang sabun bebas sawit, merek kosmetik LUSH dari Inggris  menggantikannya dengan campuran minyak dari biji rapeseed dan minyak  kelapa. Sejak itu, mereka juga berangsur-angsur memakai minyak bunga  matahari, mentega kakao, minyak olive, dan biji gandum.

Sementara itu, para ahli makanan dan kosmetik membuat ramuan dengan  alternatif yang lebih eksotis, seperti minyak dari shea, sal, jojoba,  kokum, illip&amp;eacute;, jatropha dan kulit mangga.

Dengan cara menghidrogenasi dan mencampurkan &quot;minyak eksotis&quot; ini,  campuran baru yang menyerupai sawit bisa tercipta. Namun tidak satupun  yang semurah atau semudah sawit.

Kacang shea Afrika, misalnya, dipanen dan dijual dengan jumlah kecil  oleh komunitas lokal. Ini menjadikan rantai persediaan sangat kecil dan  rentan terhadap gangguan.

Bukan itu saja kesulitannya. Seperti halnya kedelai &amp;mdash; tanaman lain  yang dituduh menyumbang kerusakan hutan hujan &amp;mdash; penggunaan besar sawit  lainnya adalah pakan ternak dan hewan peliharaan.

Selain mengandung kalori tinggi, sawit juga kaya akan asam lemak  esensial dan membantu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak. Saat  permintaan global akan daging, unggas, dan produk berbahan susu naik,  maka permintaan akan sawit juga akan terus meningkat.

Peneliti di Pozna&amp;#324; University of Life Sciences di Polandia telah  berusaha menggantikan kandungan sawit yang ada di pakan ayam dengan  sumber nutrisi yang lebih berkelanjutan: serangga.

Mereka memberi makan ayam-ayam dengan minyak dari larva sebagai  pengganti sawit, dan menemukan tak ada pengaruhnya pada pertumbuhan  ayam. Larva memiliki kandungan protein tinggi, dan bisa diternakkan dari  sampah sisa makanan.</content:encoded></item></channel></rss>
