<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Sebelum Laris Manis, Ini Kisah Sulitnya Penjual Tempe di Australia</title><description>Kini tempe menjadi makanan populer di Australia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/11/320/2181493/sebelum-laris-manis-ini-kisah-sulitnya-penjual-tempe-di-australia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/03/11/320/2181493/sebelum-laris-manis-ini-kisah-sulitnya-penjual-tempe-di-australia"/><item><title>   Sebelum Laris Manis, Ini Kisah Sulitnya Penjual Tempe di Australia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/11/320/2181493/sebelum-laris-manis-ini-kisah-sulitnya-penjual-tempe-di-australia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/03/11/320/2181493/sebelum-laris-manis-ini-kisah-sulitnya-penjual-tempe-di-australia</guid><pubDate>Rabu 11 Maret 2020 11:31 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/11/320/2181493/sebelum-laris-manis-ini-kisah-sulitnya-penjual-tempe-di-australia-UgEJd0JsFy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Warga Australia Rela Antre demi Tempe Mendoan (Foto: ABC News)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/11/320/2181493/sebelum-laris-manis-ini-kisah-sulitnya-penjual-tempe-di-australia-UgEJd0JsFy.jpg</image><title>Warga Australia Rela Antre demi Tempe Mendoan (Foto: ABC News)</title></images><description>JAKARTA - Kini tempe menjadi makanan populer di Australia. Tempe bahkan menjadi pengganti daging bagi vegetarian.

Puluhan warga Australia mengantre untuk membeli tempe mendoan yang masih hangat dan pas untuk dinikmati dengan cuaca Melbourne yang sedang dingin pagi itu.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Pedagang Tempe Pusing
Sebagai pembuat dan penjual tempe, Sinta Santoso pernah merasakan kesulitan menjual tempe, saat ia memulai bisnisnya 15 tahun lalu.

&quot;Pertama kita buka sangat merepotkan karena orang selalu tanya tempe itu apa dan kita seharian mengulang terus, mengedukasi publik tentang bagaimana tempe dibuat, bedanya tempe dan tahu,&quot; kata Sinta seperti dilansir ABC News, Jakarta, Rabu (11/3/2020).

&quot;Sekarang, orang cuma datang dan bilang, 'Bolehkah saya beli lima tempe? Atau enam?' Jadi (kami) tidak perlu lagi menerangkan tempe itu apa.&quot;
Baca Juga: Pengganti Daging, Warga Australia Rela Antre Panjang demi Tempe Mendoan
Menurut perempuan asal Malang ini, tempe juga diminati warga Australia karena semakin banyak orang menjadi vegetarian.

&quot;Beberapa tahun terakhir jumlah vegetarian meningkat di Australia dan global. Tempe itu tepat sekali untuk menjadi sustainable food atau makanan berkelanjutan,&quot; katanya.

&quot;Karena tempe natural, tidak pakai bahan kimia dan difermentasi.&quot;

Untuk rencanannya ke depan, perempuan yang sudah 37 tahun tinggal di  Australia ini ingin membuat produk yang dijualnya lebih ramah  lingkungan.

&quot;Di Indonesia pembuat tempe menggunakan daun pisang, sedangkan di  sini penggantinya plastik dan orang tidak senang karena tidak ramah  lingkungan,&quot; kata Sinta.

&quot;Saya ingin mengembangkan tempe memakai sustainable packaging, kalau  bisa agar reusable (atau bisa digunakan berkali-kali) dan biodegradeable  atau cepat terurai,&quot;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kini tempe menjadi makanan populer di Australia. Tempe bahkan menjadi pengganti daging bagi vegetarian.

Puluhan warga Australia mengantre untuk membeli tempe mendoan yang masih hangat dan pas untuk dinikmati dengan cuaca Melbourne yang sedang dingin pagi itu.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Pedagang Tempe Pusing
Sebagai pembuat dan penjual tempe, Sinta Santoso pernah merasakan kesulitan menjual tempe, saat ia memulai bisnisnya 15 tahun lalu.

&quot;Pertama kita buka sangat merepotkan karena orang selalu tanya tempe itu apa dan kita seharian mengulang terus, mengedukasi publik tentang bagaimana tempe dibuat, bedanya tempe dan tahu,&quot; kata Sinta seperti dilansir ABC News, Jakarta, Rabu (11/3/2020).

&quot;Sekarang, orang cuma datang dan bilang, 'Bolehkah saya beli lima tempe? Atau enam?' Jadi (kami) tidak perlu lagi menerangkan tempe itu apa.&quot;
Baca Juga: Pengganti Daging, Warga Australia Rela Antre Panjang demi Tempe Mendoan
Menurut perempuan asal Malang ini, tempe juga diminati warga Australia karena semakin banyak orang menjadi vegetarian.

&quot;Beberapa tahun terakhir jumlah vegetarian meningkat di Australia dan global. Tempe itu tepat sekali untuk menjadi sustainable food atau makanan berkelanjutan,&quot; katanya.

&quot;Karena tempe natural, tidak pakai bahan kimia dan difermentasi.&quot;

Untuk rencanannya ke depan, perempuan yang sudah 37 tahun tinggal di  Australia ini ingin membuat produk yang dijualnya lebih ramah  lingkungan.

&quot;Di Indonesia pembuat tempe menggunakan daun pisang, sedangkan di  sini penggantinya plastik dan orang tidak senang karena tidak ramah  lingkungan,&quot; kata Sinta.

&quot;Saya ingin mengembangkan tempe memakai sustainable packaging, kalau  bisa agar reusable (atau bisa digunakan berkali-kali) dan biodegradeable  atau cepat terurai,&quot;
</content:encoded></item></channel></rss>
