<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Presiden Jokowi Ingin Sektor Pertanian Tidak Hanya Tanam Sawit hingga Karet   </title><description>Kata Presiden, negara-negara lain banyak yang berminat pada buah tropis seperti Manggis</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/12/320/2182245/presiden-jokowi-ingin-sektor-pertanian-tidak-hanya-tanam-sawit-hingga-karet</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/03/12/320/2182245/presiden-jokowi-ingin-sektor-pertanian-tidak-hanya-tanam-sawit-hingga-karet"/><item><title>Presiden Jokowi Ingin Sektor Pertanian Tidak Hanya Tanam Sawit hingga Karet   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/12/320/2182245/presiden-jokowi-ingin-sektor-pertanian-tidak-hanya-tanam-sawit-hingga-karet</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/03/12/320/2182245/presiden-jokowi-ingin-sektor-pertanian-tidak-hanya-tanam-sawit-hingga-karet</guid><pubDate>Kamis 12 Maret 2020 14:57 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/12/320/2182245/presiden-jokowi-ingin-sektor-pertanian-tidak-hanya-tanam-sawit-hingga-karet-l6GGjQeJPQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sawit. (Foto: Okezone.com/Ilustrasi Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/12/320/2182245/presiden-jokowi-ingin-sektor-pertanian-tidak-hanya-tanam-sawit-hingga-karet-l6GGjQeJPQ.jpg</image><title>Sawit. (Foto: Okezone.com/Ilustrasi Shutterstock)</title></images><description> 
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mau komoditas yang ditanam memiliki nilai tinggi dan ceruk pasar besar. Dirinya juga tidak mau yang ditanami hanya sawit hingga karet.
&amp;rdquo;Sekarang ini misalnya, di daerah-daerah tertentu sebetulnya minyak atsiri tapi juga sampai penyulingannya, itu permintaannya banyak. Dari Perancis, nilam. Tapi memang enggak pernah kita kerjakan secara serius,&amp;rdquo; tutur Presiden Jokowi, dikutip dari Setkab, Kamis (12/3/2020).
Baca Juga: Presiden Jokowi Soroti Pertanian dari Hulu sampai Hilir
Kemudian, ada juga buah-buah tropis yang hingga kini belum memiliki luas tanam hingga 10.000 hektare. Selama ini ditanami buah tropis yang banyak adalah sawit, karet sejak dahulu hingga sekarang.
&amp;rdquo;Nanti kalau pas harganya turun kayak sekarang karet turun, sakit bareng-bareng. Nanti, beberapa tahun yang lalu itu sawit juga harganya turun, sakit bareng-bareng. Masak kita senang seperti itu, seperti tadi yang disampaikan oleh Pak Moeldoko (bahwa) semuanya harus dimanajemeni dengan baik,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga: Petani Milenial Ini Punya Penghasilan Rp500 Juta/Bulan
Sebetulnya, kata Presiden, negara-negara lain banyak yang berminat pada buah tropis seperti Manggis. Bahkan pernah meminta langsung ke Jokowi, namun barangnya tidak ada, padahal permintaannya banyak.
&amp;rdquo;Dari Timur Tengah, dari Eropa, dari Tiongkok. Tapi barangnya enggak ada. Mestinya kan ada. Dari HKTI 1-2 yang memiliki kebun manggis. Ya, enggak usah banyak-banyak lah, enggak usah 100.000 hektare tapi ya 5.000 hektare manggis. Minta lahan segitu kan mudah, enggak sulit. Asal jangan di Jawa. Masih banyak lahan kita,&amp;rdquo; tuturnya.Ada lagi, menurut Presiden, durian yang permintaan dari Tiongkok  besar sekali, tapi Indonesia enggak bisa mensuplai dengan kualitas yang  diinginkan karena ada yang enak, ada yang enggak enak, sehingga rasanya  campur-campur.
Kepala Negara mengaku pernah beli durian mahal, harganya mahal,  barangnya lihat bagus dan dipakai untuk hadiah ulang tahun Ibu Negara  Iriana. Namun setelah dibuka ternyata enggak enak rasanya.
&amp;rdquo;Hal ini memang harus ada sebuah manajemen yang bagus dalam sebuah  hektare yang luas tetapi barang yang di buka dari kebun itu harusnya  enak, enak, enak, enak semuanya. Karena memang ada manajemen pembibitan  yang bagus, spesiesnya memang yang betul. Masak kita enggak bisa? Masak  HKTI tidak bisa? Saya yakin bisa,&amp;rdquo; imbuhnya.</description><content:encoded> 
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mau komoditas yang ditanam memiliki nilai tinggi dan ceruk pasar besar. Dirinya juga tidak mau yang ditanami hanya sawit hingga karet.
&amp;rdquo;Sekarang ini misalnya, di daerah-daerah tertentu sebetulnya minyak atsiri tapi juga sampai penyulingannya, itu permintaannya banyak. Dari Perancis, nilam. Tapi memang enggak pernah kita kerjakan secara serius,&amp;rdquo; tutur Presiden Jokowi, dikutip dari Setkab, Kamis (12/3/2020).
Baca Juga: Presiden Jokowi Soroti Pertanian dari Hulu sampai Hilir
Kemudian, ada juga buah-buah tropis yang hingga kini belum memiliki luas tanam hingga 10.000 hektare. Selama ini ditanami buah tropis yang banyak adalah sawit, karet sejak dahulu hingga sekarang.
&amp;rdquo;Nanti kalau pas harganya turun kayak sekarang karet turun, sakit bareng-bareng. Nanti, beberapa tahun yang lalu itu sawit juga harganya turun, sakit bareng-bareng. Masak kita senang seperti itu, seperti tadi yang disampaikan oleh Pak Moeldoko (bahwa) semuanya harus dimanajemeni dengan baik,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga: Petani Milenial Ini Punya Penghasilan Rp500 Juta/Bulan
Sebetulnya, kata Presiden, negara-negara lain banyak yang berminat pada buah tropis seperti Manggis. Bahkan pernah meminta langsung ke Jokowi, namun barangnya tidak ada, padahal permintaannya banyak.
&amp;rdquo;Dari Timur Tengah, dari Eropa, dari Tiongkok. Tapi barangnya enggak ada. Mestinya kan ada. Dari HKTI 1-2 yang memiliki kebun manggis. Ya, enggak usah banyak-banyak lah, enggak usah 100.000 hektare tapi ya 5.000 hektare manggis. Minta lahan segitu kan mudah, enggak sulit. Asal jangan di Jawa. Masih banyak lahan kita,&amp;rdquo; tuturnya.Ada lagi, menurut Presiden, durian yang permintaan dari Tiongkok  besar sekali, tapi Indonesia enggak bisa mensuplai dengan kualitas yang  diinginkan karena ada yang enak, ada yang enggak enak, sehingga rasanya  campur-campur.
Kepala Negara mengaku pernah beli durian mahal, harganya mahal,  barangnya lihat bagus dan dipakai untuk hadiah ulang tahun Ibu Negara  Iriana. Namun setelah dibuka ternyata enggak enak rasanya.
&amp;rdquo;Hal ini memang harus ada sebuah manajemen yang bagus dalam sebuah  hektare yang luas tetapi barang yang di buka dari kebun itu harusnya  enak, enak, enak, enak semuanya. Karena memang ada manajemen pembibitan  yang bagus, spesiesnya memang yang betul. Masak kita enggak bisa? Masak  HKTI tidak bisa? Saya yakin bisa,&amp;rdquo; imbuhnya.</content:encoded></item></channel></rss>
