<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Berinvestasi Saham di Saat Pasar Terkoreksi</title><description>Pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bursa efek dunia tengah mengalami koreksi akibat isu virus Corona.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/14/278/2183195/berinvestasi-saham-di-saat-pasar-terkoreksi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/03/14/278/2183195/berinvestasi-saham-di-saat-pasar-terkoreksi"/><item><title>Berinvestasi Saham di Saat Pasar Terkoreksi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/14/278/2183195/berinvestasi-saham-di-saat-pasar-terkoreksi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/03/14/278/2183195/berinvestasi-saham-di-saat-pasar-terkoreksi</guid><pubDate>Sabtu 14 Maret 2020 14:19 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/14/278/2183195/berinvestasi-saham-di-saat-pasar-terkoreksi-E0dwV6DqTn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Pergerakan IHSG (Foto Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/14/278/2183195/berinvestasi-saham-di-saat-pasar-terkoreksi-E0dwV6DqTn.jpg</image><title>Ilustrasi: Pergerakan IHSG (Foto Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bursa efek dunia tengah mengalami koreksi akibat isu virus Corona. Ditambah di bursa domestik tengah dalam penyelesaian sejumlah kasus manajer investasi. Apa yang harus dilakukan para pemodal saham saat ini? Di industri pasar modal seluruh dunia ada siklus naik dan turun.

Tahun 2008 misalnya, Indonesia dan negara-negara di dunia mengalami resesi ekonomi yang berawal dari peristiwa subprime mortgage di Amerika Serikat. Sepuluh tahun sebelumnya, 1998, Indonesia mengalami resesi ekonomi yang berakhir dengan reformasi politik.Krisis saat itu di dunia diawali dari resesi mata uang Bath di Thailand yang akhirnya merembet ke Kawasan.
Baca Juga: Asing Cetak Aksi Jual Bersih Rp575,8 Miliar di Pasar Saham
Tahun 2018 sejatinya masuk gelombang dekade krisis. Tetapi saat itu masih cukup aman dan baru memburuk di tahun 2020. Sama seperti dekade-dekade sebelumnya, Pasar Modal Indonesia mengalami koreksi yang tajam.

Pelaku pasar modal tentunya banyak yang mengalami kerugian investasi akibat turunnnya harga-harga saham. Menariknya, di pasar modal, selalu ada peluang di setiap situasi. Saat harga-harga saham sedang turun karena banyak investor yang menjual saham. Dan ini menjadi peluang kentungan bagi investor yang membeli saham-saham tersebut di harga rendah.
Baca Juga: IHSG Anjlok, Jokowi: Kita Tidak Bisa Melawan Kepanikan Global
Dalam siklus ekonomi, setelah berada di titik terendahnya (bottom), akan kembali mengalami siklus naik. Waktunya memamg tidak sama. Ada yang cepat mialnya hanya satu tahun ada yang dua bahkan tiga sampai lima tahun untuk kembali naik. Jadi investor pasar modal tetap bisa memanfaatkan situasi pasar yang sedang turun ini untuk mendapatkan keuntungan investasi dalam jangka waktu panjang.
Saham-saham apa yang penurunannya tidak terlalu besar dalam situasi  krisis dan cepat pulih? Saham perusahaan industri farmasi contohnya  adalah saham yang relatif tahan krisis dan akan cepat recovery. Mengapa?  Karena obat-obatan tetap dibutuhkan orang yang akan tetap terkena  penyakit dalam situasi ekonomi apapun. Artinya, perusahaan-perusahaan  farmasi tidak akan mengalami penurunan kinerja yang signifikan. Dan  harga saham sektor ini relatif stabil.

Sektor yang kedua berdasarkan analisa beberapa perusahaan sekuritas,  yang tahan krisis adalah sektor makanan. Karena orang tetap butuh makan.  Perusahaan yang memproduki mi instan, harga sahamnya relatif  bertahan.Orang akan mengkonsumsi lebih banyak makanan cepat saji yang  harganya terjangkau di masa resesi.

Sebaliknya, sektor konsumsi non primer seperti otomotif, gaya hidup  contohnya pusat perbelanjaan, otomotif, gadget, dan barang lain yang  berkomponen impor cenderung menurun harganya dan agak lama untuk naik  kembali. Sektor perumahan atau real estate juga cenderung paling  terpukul saat krisis.

Sementara sektor perbankan walaupun cepat turun di saat krisis  ekonomi terjadi, umumnya paling cepat bangkit juga. Karena ketika  perekonomian pulih, para pengusaha cenderung mencari bank untuk  mendapatkan modal kerja untuk berusaha melakukan ekspansi dan menambah  modal kerja.

Jadi, selain melakukan wait and see. Melihat dan menunggu situasi,  investor bisa pelan-pelan melakukan pembelian saham-saham yang  berpotensi naik ke depan. Tidak perlu sekaligus besar, karena tidak ada  yang tahu, apakah saat ini sudah pada titik bottom atau masih akan  terjadi penurunan. Pembelian berkala menjadi pilihan untuk memanfaatkan  momentum.
Yang terpenting, berinvestasilah dalam jangka waktu yang panjang,   saat krisis melanda. Pilih perusahaan yang berkinerja baik. Artinya,   penurunan harga sahamnya diakibatkan lebih banyak karena faktor   eksternal situaisi ekonomi. Bukan terutama akibat kinerja fundamental   perusahaannya yang jelek.

Investor juga perlu memahami karakteristik sektor usaha dari emiten   yang sahamnya hendak dipilih. Dengan memahami perusahaan dan karakter   bisnisnya, investor akan memahami kapan siklus perusahaan tersebut akan   kembali membaik. Berdiskusilah dengan para analis pasar modal. Jangan   terbawa aksi panic selling para investor.

Berpikirlah dan menganalisa dengan tenang. Yang tak kalah pnting   jangan gunakan dana jangka pendek apalagi dana pinjaman saat   berinvestasi di saham. Lakukan diversifikasi untuk meminimalkan risiko.   Dan evaluasi secara berkala.  (TIM BEI)
</description><content:encoded>JAKARTA - Pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bursa efek dunia tengah mengalami koreksi akibat isu virus Corona. Ditambah di bursa domestik tengah dalam penyelesaian sejumlah kasus manajer investasi. Apa yang harus dilakukan para pemodal saham saat ini? Di industri pasar modal seluruh dunia ada siklus naik dan turun.

Tahun 2008 misalnya, Indonesia dan negara-negara di dunia mengalami resesi ekonomi yang berawal dari peristiwa subprime mortgage di Amerika Serikat. Sepuluh tahun sebelumnya, 1998, Indonesia mengalami resesi ekonomi yang berakhir dengan reformasi politik.Krisis saat itu di dunia diawali dari resesi mata uang Bath di Thailand yang akhirnya merembet ke Kawasan.
Baca Juga: Asing Cetak Aksi Jual Bersih Rp575,8 Miliar di Pasar Saham
Tahun 2018 sejatinya masuk gelombang dekade krisis. Tetapi saat itu masih cukup aman dan baru memburuk di tahun 2020. Sama seperti dekade-dekade sebelumnya, Pasar Modal Indonesia mengalami koreksi yang tajam.

Pelaku pasar modal tentunya banyak yang mengalami kerugian investasi akibat turunnnya harga-harga saham. Menariknya, di pasar modal, selalu ada peluang di setiap situasi. Saat harga-harga saham sedang turun karena banyak investor yang menjual saham. Dan ini menjadi peluang kentungan bagi investor yang membeli saham-saham tersebut di harga rendah.
Baca Juga: IHSG Anjlok, Jokowi: Kita Tidak Bisa Melawan Kepanikan Global
Dalam siklus ekonomi, setelah berada di titik terendahnya (bottom), akan kembali mengalami siklus naik. Waktunya memamg tidak sama. Ada yang cepat mialnya hanya satu tahun ada yang dua bahkan tiga sampai lima tahun untuk kembali naik. Jadi investor pasar modal tetap bisa memanfaatkan situasi pasar yang sedang turun ini untuk mendapatkan keuntungan investasi dalam jangka waktu panjang.
Saham-saham apa yang penurunannya tidak terlalu besar dalam situasi  krisis dan cepat pulih? Saham perusahaan industri farmasi contohnya  adalah saham yang relatif tahan krisis dan akan cepat recovery. Mengapa?  Karena obat-obatan tetap dibutuhkan orang yang akan tetap terkena  penyakit dalam situasi ekonomi apapun. Artinya, perusahaan-perusahaan  farmasi tidak akan mengalami penurunan kinerja yang signifikan. Dan  harga saham sektor ini relatif stabil.

Sektor yang kedua berdasarkan analisa beberapa perusahaan sekuritas,  yang tahan krisis adalah sektor makanan. Karena orang tetap butuh makan.  Perusahaan yang memproduki mi instan, harga sahamnya relatif  bertahan.Orang akan mengkonsumsi lebih banyak makanan cepat saji yang  harganya terjangkau di masa resesi.

Sebaliknya, sektor konsumsi non primer seperti otomotif, gaya hidup  contohnya pusat perbelanjaan, otomotif, gadget, dan barang lain yang  berkomponen impor cenderung menurun harganya dan agak lama untuk naik  kembali. Sektor perumahan atau real estate juga cenderung paling  terpukul saat krisis.

Sementara sektor perbankan walaupun cepat turun di saat krisis  ekonomi terjadi, umumnya paling cepat bangkit juga. Karena ketika  perekonomian pulih, para pengusaha cenderung mencari bank untuk  mendapatkan modal kerja untuk berusaha melakukan ekspansi dan menambah  modal kerja.

Jadi, selain melakukan wait and see. Melihat dan menunggu situasi,  investor bisa pelan-pelan melakukan pembelian saham-saham yang  berpotensi naik ke depan. Tidak perlu sekaligus besar, karena tidak ada  yang tahu, apakah saat ini sudah pada titik bottom atau masih akan  terjadi penurunan. Pembelian berkala menjadi pilihan untuk memanfaatkan  momentum.
Yang terpenting, berinvestasilah dalam jangka waktu yang panjang,   saat krisis melanda. Pilih perusahaan yang berkinerja baik. Artinya,   penurunan harga sahamnya diakibatkan lebih banyak karena faktor   eksternal situaisi ekonomi. Bukan terutama akibat kinerja fundamental   perusahaannya yang jelek.

Investor juga perlu memahami karakteristik sektor usaha dari emiten   yang sahamnya hendak dipilih. Dengan memahami perusahaan dan karakter   bisnisnya, investor akan memahami kapan siklus perusahaan tersebut akan   kembali membaik. Berdiskusilah dengan para analis pasar modal. Jangan   terbawa aksi panic selling para investor.

Berpikirlah dan menganalisa dengan tenang. Yang tak kalah pnting   jangan gunakan dana jangka pendek apalagi dana pinjaman saat   berinvestasi di saham. Lakukan diversifikasi untuk meminimalkan risiko.   Dan evaluasi secara berkala.  (TIM BEI)
</content:encoded></item></channel></rss>
