<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bekerja dari Rumah Imbas Virus Korona, Perusahaan Bisa Rugi?</title><description>Protokoler bekerja dari rumah di tengah kondisi merebaknya virus korona di Indonesia kian hangat diperbincangkan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/14/320/2183360/bekerja-dari-rumah-imbas-virus-korona-perusahaan-bisa-rugi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/03/14/320/2183360/bekerja-dari-rumah-imbas-virus-korona-perusahaan-bisa-rugi"/><item><title>Bekerja dari Rumah Imbas Virus Korona, Perusahaan Bisa Rugi?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/14/320/2183360/bekerja-dari-rumah-imbas-virus-korona-perusahaan-bisa-rugi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/03/14/320/2183360/bekerja-dari-rumah-imbas-virus-korona-perusahaan-bisa-rugi</guid><pubDate>Sabtu 14 Maret 2020 16:39 WIB</pubDate><dc:creator>Irene</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/14/320/2183360/bekerja-dari-rumah-imbas-virus-korona-perusahaan-bisa-rugi-p7D1KcufsM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Virus Korona (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/14/320/2183360/bekerja-dari-rumah-imbas-virus-korona-perusahaan-bisa-rugi-p7D1KcufsM.jpg</image><title>Virus Korona (Foto: Shutterstock)</title></images><description> 
JAKARTA - Protokoler bekerja dari rumah di tengah kondisi merebaknya virus korona di Indonesia kian hangat diperbincangkan. Protokoler ini dinilai akan membawa kerugian bagi perusahaan.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani menjelaskan bahwa tidak seluruh perusahaan dapat menjalankan fungsi pekerjaannya tanpa interaksi langsung dan tidak berada di tempat atau kantor. Dengan tidak adanya interaksi maka produktifitas kerja tidak akan terjadi.
&quot;Banyak kegiatan usaha dan pekerjaan yang masih membutuhkan interaksi langsung antar manusia atau menuntut pekerjaan tersebut dilakukan di tempat tertentu. Tanpa adanya interaksi atau tidak berada di tempat tersebut, pekerjaan atau produktifitas tidak terjadi,&quot; papar Shinta dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Jakarta, Sabtu (14/3/2020).
Dengan tak terjadinya produktifitas, maka perusahaan berpotensi mengalami kerugian. Kerugian ini pun ditaksir Shinta akan bergantung pada jenis usaha dan berapa banyak porsi pekerjaan yang dapat dipertahankan secara remote.

&quot;Kalau tidak ada produktifitas sudah pasti perusahaan akan rugi. Kerugiannya berapa ya belum tahu karena tergantung jenis usahanya dan seberapa banyak porsi pekerjaan/produktifitas yang bisa dipertahankan dalam kondisi remote,&quot; tambah Shinta.
Bila kinerja suatu perusahaan semakin bergantung pada interaksi  langsung, maka kerugian akan semakin besar yang nantinya akan dialami.  &quot;Semakin kinerja/produktifitas perusahaan tergantung pada direct  interaction dan pada tempat tertentu, akan semakin tinggi damage-nya  terhadap produktifitas sehingga kerugian lebih besar,&quot; kata Shinta.

Kerugian yang dimaksud bukan berarti perusahaan tak akan mendapat  keuntungan saja, melainkan perusahaan tak akan mencapai target atau  niche namun harus tetap menggelontorkan pengeluaran dengan besaran yang  sama. Produktifitas yang dapat terjadi dengan interaksi langsung dan  menciptakan penghasilan bagi perusahaan nantinya juga dinilai akan  merosot.

&quot;Kerugian yang dimaksud di sini bukan hanya masalah perusahaan tidak  menciptakan keuntungan tetapi kerugian niche karena perusahaan harus  membayar pengeluaran dengan besaran yang sama (fixed cost usaha akan  terus jalan) tetapi output produktifitas yang bisa menciptakan  penghasilan bagi perusahaan turun secara drastis,&quot; jelas Shinta.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, dunia usaha dianjurkan untuk  mempersiapkan protokoler bekerja dari rumah. Hal ini disampaikan  langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai langkah  antisipasi kondisi penyebaran Covid-19.</description><content:encoded> 
JAKARTA - Protokoler bekerja dari rumah di tengah kondisi merebaknya virus korona di Indonesia kian hangat diperbincangkan. Protokoler ini dinilai akan membawa kerugian bagi perusahaan.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani menjelaskan bahwa tidak seluruh perusahaan dapat menjalankan fungsi pekerjaannya tanpa interaksi langsung dan tidak berada di tempat atau kantor. Dengan tidak adanya interaksi maka produktifitas kerja tidak akan terjadi.
&quot;Banyak kegiatan usaha dan pekerjaan yang masih membutuhkan interaksi langsung antar manusia atau menuntut pekerjaan tersebut dilakukan di tempat tertentu. Tanpa adanya interaksi atau tidak berada di tempat tersebut, pekerjaan atau produktifitas tidak terjadi,&quot; papar Shinta dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Jakarta, Sabtu (14/3/2020).
Dengan tak terjadinya produktifitas, maka perusahaan berpotensi mengalami kerugian. Kerugian ini pun ditaksir Shinta akan bergantung pada jenis usaha dan berapa banyak porsi pekerjaan yang dapat dipertahankan secara remote.

&quot;Kalau tidak ada produktifitas sudah pasti perusahaan akan rugi. Kerugiannya berapa ya belum tahu karena tergantung jenis usahanya dan seberapa banyak porsi pekerjaan/produktifitas yang bisa dipertahankan dalam kondisi remote,&quot; tambah Shinta.
Bila kinerja suatu perusahaan semakin bergantung pada interaksi  langsung, maka kerugian akan semakin besar yang nantinya akan dialami.  &quot;Semakin kinerja/produktifitas perusahaan tergantung pada direct  interaction dan pada tempat tertentu, akan semakin tinggi damage-nya  terhadap produktifitas sehingga kerugian lebih besar,&quot; kata Shinta.

Kerugian yang dimaksud bukan berarti perusahaan tak akan mendapat  keuntungan saja, melainkan perusahaan tak akan mencapai target atau  niche namun harus tetap menggelontorkan pengeluaran dengan besaran yang  sama. Produktifitas yang dapat terjadi dengan interaksi langsung dan  menciptakan penghasilan bagi perusahaan nantinya juga dinilai akan  merosot.

&quot;Kerugian yang dimaksud di sini bukan hanya masalah perusahaan tidak  menciptakan keuntungan tetapi kerugian niche karena perusahaan harus  membayar pengeluaran dengan besaran yang sama (fixed cost usaha akan  terus jalan) tetapi output produktifitas yang bisa menciptakan  penghasilan bagi perusahaan turun secara drastis,&quot; jelas Shinta.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, dunia usaha dianjurkan untuk  mempersiapkan protokoler bekerja dari rumah. Hal ini disampaikan  langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai langkah  antisipasi kondisi penyebaran Covid-19.</content:encoded></item></channel></rss>
