<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Kisah Bos yang Kehilangan Rp25,3 Triliun dalam Semalam</title><description>Pionir teknologi asal Inggris, Andrew Rickman, pernah kaya raya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/16/320/2183955/kisah-bos-yang-kehilangan-rp25-3-triliun-dalam-semalam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/03/16/320/2183955/kisah-bos-yang-kehilangan-rp25-3-triliun-dalam-semalam"/><item><title>   Kisah Bos yang Kehilangan Rp25,3 Triliun dalam Semalam</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/03/16/320/2183955/kisah-bos-yang-kehilangan-rp25-3-triliun-dalam-semalam</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/03/16/320/2183955/kisah-bos-yang-kehilangan-rp25-3-triliun-dalam-semalam</guid><pubDate>Senin 16 Maret 2020 11:54 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/03/16/320/2183955/kisah-bos-yang-kehilangan-rp25-3-triliun-dalam-semalam-N6hEKBpqc1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/03/16/320/2183955/kisah-bos-yang-kehilangan-rp25-3-triliun-dalam-semalam-N6hEKBpqc1.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - Pionir teknologi asal Inggris, Andrew Rickman, pernah kaya raya. Perusahaan yang dia dirikan, Bookham Technology, masuk bursa dan nilai sahamnya pada pertengahan tahun 2000 ditaksir sekitar 1,5 miliar pounsterling atau hampir Rp28 triliun.

Dia adalah pemegang saham mayoritas di perusahaan tersebut. Nilai perusahaannya melesat seiring dengan peningkatan jumlah pemakai internet dan telepon genggam. Demikian seperti dilansir BBC Indonesia, Jakarta, Senin (16/3/2020).

Media secara besar-besaran memberitakan sosok Rickman, yang mendapat predikat miliarder teknologi pertama Inggris. Dia diperlakukan selebritas, meski dalam keseharian, dia mengaku sebagai sosok yang sederhana.

Tapi ini tak menghentikan media membandingkan dengan aset milik orang-orang kaya di Inggris. Dia digambarkan lebih kaya dari Ratu Elizabeth atau musisi Sir Paul McCartney bahkan jika kekayaan keduanya digabung, begitu ulasan media ketika itu.

Lalu era kejayaan dotcom tiba-tiba berakhir. Nilai saham perusahaannya anjlok. Ambruknya era dotcom membuat ia kehilangan USD1,8 miliar (setara dengan Rp25,3 triliun) hanya dalam waktu satu malam.

&quot;Rasanya seperti hidup di musim dingin yang berkepanjangan setelah perang nuklir,&quot; kenang Rickman kepada BBC memberi perumpamaan. Dengan kata lain, ia menjalani kehidupan yang sangat sulit.

Melihat lagi ke belakang pada masa-masa sulit di akhir tahun 2000, ia mengatakan bukan uang yang ia pikirkan.

&quot;Jumlah uang [yang saya miliki] kan hanya deretan angka-angka di atas kertas. Saya juga tak masalah kehilangan predikat sebagai miliarder dotcom pertama di Inggris,&quot; kata Rickman.

&quot;Yang sulit adalah menghadapi dampak terpuruknya era dotcom ini bagi perusahaan dan sektor teknologi,&quot; katanya.
Produk yang dihasilkan Bookham tergolong canggih. Perusahaan yang  didirikan pada 1988 ini memasok komponen optik bagi industri komputer  dan telekomunikasi. Teknologi yang ia kembangkan memungkinkan transfer  data secara cepat dengan menggunakan laser dan serat kaca.

Persoalannya adalah, harga produk ini mahal. Dan ketika dotcom  ambruk, konsumen Rickman, perusahaan-perusahaan yang membangun jaringan  baru, beralih memakai produk dan teknologi yang lebih murah dan lebih  sederhana.

Untunglah, Rickman masih punya tabungan 50 juta pounsterling.  Bermodal uang tabungan ini, ia membangun lagi Bookham, perusahaan yang  ia dirikan di dapur rumahnya di Wiltshire saat ia berusia 28 tahun.

Dia mencabut perusahaan dari bursa dan memindahkan kantor dari  Inggris ke Silicon Valley di Amerika Serikat agar lebih dekat ke  konsumen dan juga untuk membuat produknya lebih kompetitif dari sisi  harga.

Bertahan di Inggris dan memakai mata uang pound membuat biaya  produksi menjadi lebih mahal. Bookham akhirnya bisa bangkit. Pada 2004  Rickman meninggalkan perusahaan untuk menjalani karier baru sebagai  investor teknologi.

Sekitar sepuluh tahun kemudian ia mendirikan Rockley Photonics di  Oxford, Inggris, yang menghasilkan cip fotonik silicon yang digambarkan  sebagai generasi baru cip mikro. Kelebihan cip fotonik silicon, di  antaranya adalah, bisa memproses lebih banyak data secara lebih cepat.

Produk teknologi ini semakin banyak dipakai di pusat data, sistem  sensor kendaraan swakemudi hingga telepon genggam keluaran terbaru.  Rickman mengatakan penghasilan Rockey saat ini &quot;puluhan juta pound&quot; per  tahun namun berpotensi &quot;naik menjadi miliaran&quot; per tahun.

Peter Clarke, wartawan yang banyak meliput industri komunikasi,  mengatakan Rickman adalah &quot;satu dari sedikit pelopor teknologi yang juga  punya darah sebagai pebisnis&quot;.

Rickman mengatakan belajar banyak dari keguncangan yang diakibatkan  oleh runtuhnya dotcom. Sejak itu Rickman membentuk tim yang menganalisis  lingkungan tempat ia menjalankan bisnis. Tim ini berfungsi seperti alat  yang bisa memberi peringatan tentang apa yang mungkin akan terjadi.

&quot;Kami tak hanya menganalisis potensi bencana, tapi juga tren-tren yang meledak (yang disambut oleh konsumen),&quot; katanya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Pionir teknologi asal Inggris, Andrew Rickman, pernah kaya raya. Perusahaan yang dia dirikan, Bookham Technology, masuk bursa dan nilai sahamnya pada pertengahan tahun 2000 ditaksir sekitar 1,5 miliar pounsterling atau hampir Rp28 triliun.

Dia adalah pemegang saham mayoritas di perusahaan tersebut. Nilai perusahaannya melesat seiring dengan peningkatan jumlah pemakai internet dan telepon genggam. Demikian seperti dilansir BBC Indonesia, Jakarta, Senin (16/3/2020).

Media secara besar-besaran memberitakan sosok Rickman, yang mendapat predikat miliarder teknologi pertama Inggris. Dia diperlakukan selebritas, meski dalam keseharian, dia mengaku sebagai sosok yang sederhana.

Tapi ini tak menghentikan media membandingkan dengan aset milik orang-orang kaya di Inggris. Dia digambarkan lebih kaya dari Ratu Elizabeth atau musisi Sir Paul McCartney bahkan jika kekayaan keduanya digabung, begitu ulasan media ketika itu.

Lalu era kejayaan dotcom tiba-tiba berakhir. Nilai saham perusahaannya anjlok. Ambruknya era dotcom membuat ia kehilangan USD1,8 miliar (setara dengan Rp25,3 triliun) hanya dalam waktu satu malam.

&quot;Rasanya seperti hidup di musim dingin yang berkepanjangan setelah perang nuklir,&quot; kenang Rickman kepada BBC memberi perumpamaan. Dengan kata lain, ia menjalani kehidupan yang sangat sulit.

Melihat lagi ke belakang pada masa-masa sulit di akhir tahun 2000, ia mengatakan bukan uang yang ia pikirkan.

&quot;Jumlah uang [yang saya miliki] kan hanya deretan angka-angka di atas kertas. Saya juga tak masalah kehilangan predikat sebagai miliarder dotcom pertama di Inggris,&quot; kata Rickman.

&quot;Yang sulit adalah menghadapi dampak terpuruknya era dotcom ini bagi perusahaan dan sektor teknologi,&quot; katanya.
Produk yang dihasilkan Bookham tergolong canggih. Perusahaan yang  didirikan pada 1988 ini memasok komponen optik bagi industri komputer  dan telekomunikasi. Teknologi yang ia kembangkan memungkinkan transfer  data secara cepat dengan menggunakan laser dan serat kaca.

Persoalannya adalah, harga produk ini mahal. Dan ketika dotcom  ambruk, konsumen Rickman, perusahaan-perusahaan yang membangun jaringan  baru, beralih memakai produk dan teknologi yang lebih murah dan lebih  sederhana.

Untunglah, Rickman masih punya tabungan 50 juta pounsterling.  Bermodal uang tabungan ini, ia membangun lagi Bookham, perusahaan yang  ia dirikan di dapur rumahnya di Wiltshire saat ia berusia 28 tahun.

Dia mencabut perusahaan dari bursa dan memindahkan kantor dari  Inggris ke Silicon Valley di Amerika Serikat agar lebih dekat ke  konsumen dan juga untuk membuat produknya lebih kompetitif dari sisi  harga.

Bertahan di Inggris dan memakai mata uang pound membuat biaya  produksi menjadi lebih mahal. Bookham akhirnya bisa bangkit. Pada 2004  Rickman meninggalkan perusahaan untuk menjalani karier baru sebagai  investor teknologi.

Sekitar sepuluh tahun kemudian ia mendirikan Rockley Photonics di  Oxford, Inggris, yang menghasilkan cip fotonik silicon yang digambarkan  sebagai generasi baru cip mikro. Kelebihan cip fotonik silicon, di  antaranya adalah, bisa memproses lebih banyak data secara lebih cepat.

Produk teknologi ini semakin banyak dipakai di pusat data, sistem  sensor kendaraan swakemudi hingga telepon genggam keluaran terbaru.  Rickman mengatakan penghasilan Rockey saat ini &quot;puluhan juta pound&quot; per  tahun namun berpotensi &quot;naik menjadi miliaran&quot; per tahun.

Peter Clarke, wartawan yang banyak meliput industri komunikasi,  mengatakan Rickman adalah &quot;satu dari sedikit pelopor teknologi yang juga  punya darah sebagai pebisnis&quot;.

Rickman mengatakan belajar banyak dari keguncangan yang diakibatkan  oleh runtuhnya dotcom. Sejak itu Rickman membentuk tim yang menganalisis  lingkungan tempat ia menjalankan bisnis. Tim ini berfungsi seperti alat  yang bisa memberi peringatan tentang apa yang mungkin akan terjadi.

&quot;Kami tak hanya menganalisis potensi bencana, tapi juga tren-tren yang meledak (yang disambut oleh konsumen),&quot; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
