<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pendapatan Turun Efek Corona, Bulog Diminta Serap Hasil Produksi Petani</title><description>Perum Bulog diminta untuk lebih dioptimalkan dalam menjamin ketersediaan stok pangan nasional.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/02/320/2193103/pendapatan-turun-efek-corona-bulog-diminta-serap-hasil-produksi-petani</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/04/02/320/2193103/pendapatan-turun-efek-corona-bulog-diminta-serap-hasil-produksi-petani"/><item><title>Pendapatan Turun Efek Corona, Bulog Diminta Serap Hasil Produksi Petani</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/02/320/2193103/pendapatan-turun-efek-corona-bulog-diminta-serap-hasil-produksi-petani</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/04/02/320/2193103/pendapatan-turun-efek-corona-bulog-diminta-serap-hasil-produksi-petani</guid><pubDate>Kamis 02 April 2020 17:21 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/02/320/2193103/pendapatan-turun-efek-corona-bulog-diminta-serap-hasil-produksi-petani-r2AnR6t6a6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Petani (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/02/320/2193103/pendapatan-turun-efek-corona-bulog-diminta-serap-hasil-produksi-petani-r2AnR6t6a6.jpg</image><title>Petani (Foto: Okezone.com)</title></images><description>&amp;nbsp;JAKARTA &amp;ndash; Peran Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) diminta untuk lebih dioptimalkan dalam menjamin ketersediaan stok pangan nasional. Selain itu, perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu juga diminta untuk menjadi offtaker untuk menyerap produk pertanian dari para petani.
Staf Khusus Wakil Presiden RI Lukmanul Hakim mengatakan, pertanian menjadi salah satu yang terdampak signifikan virus corona atau covid-19. Hal ini ditandai dengan rendahnya serapan komoditas pertanian, seperti sayuran dan hortikultura yang diproduksi petani.
Menurut Lukman, rendahnya serapan akibat berkurangnya bandar-bandar yang selama ini membeli produk pertanian dari petani dan mensuplai ke pasar-pasar dan industri. Jika dibiarkan hal ini akan berakibat pada lesunya ekonomi, terganggunya jalur distribusi logistik, dan menurunnya daya beli masyarakat.
Baca juga: Anggaran Jaring Pengaman Sosial di Tangan Sri Mulyani
Oleh karena itu lanjut Lukman kebijakan ini bisa menjadi solusi untuk menjaga pendapatan jutaan petani Indonesia. Sehingga daya beli juga bisa tetap terjaga.
&amp;ldquo;Pemerintah perlu mengoptimalkan peran Bulog dan BUMN untuk ketersediaan pangan dan menjadi off-taker produk hasil pertanian,&amp;rdquo; ujarnya mengutip keterangan tertulis, Kamis (2/4/2020).
Lukman juga menyebut perlu ada tindak lanjut atas kebijakan pemerintah mengeluarkan stimulus penanganan dampak covid-19 senilai Rp 405,1 triliun. Sehingga para pekerja informal seperti petani maupun pengusaha Usaha Kecil Menengah (UKM) bisa terbantu.
Asal tahu saja, Presiden Joko Widodo mengumumkan jika pemerintah memberikan tambahan anggaran Rp 405,1 triliun untuk penanganan covid-19.  Total anggaran dialokasikan Rp 75 triliun untuk bidang kesehatan, Rp 110 triliun untuk perlindungan sosial, Rp 150 triliun untuk program pemulihan ekonomi nasional, dan Rp 70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat.&amp;ldquo;Ini harus kita tindaklanjuti dan diimplementasikan secara efektif,&amp;rdquo; ucapnya
Sementara itu, Direktur Utama PTPN VIII Dr. Wahyu menyebut  ketersediaan pangan menjadi sangat penting di tengah pandemi virus  corona ini. Idealnya, cadangan beras dan bahan pokok lainnya harus bisa  mencukupi untuk rentan waktu 3 sampai 6 bulan ke depan.
&quot;Menurut data informasi lapangan, stok beras saat ini di Bulog  sekitar 1,4 juta ton. Sementara kebutuhan beras rata-rata sekitar 2,5  juta ton &amp;ndash; 3 juta ton per bulan,&quot; ucapnya.
Sementara itu, Perhimpunan Ahli Agronomi Indonesia Muhammad Syakir  menambahkan, selain cadangan beras di Bulog, saat ini stok beras di  penggilingan besar sekitar 1,2 juta ton, dan stok beras di pasar induk  sekitar 26 ribu ton.
Menurutnya, cadangan beras diharapkan bertambah meskipun diprediksi  akan ada penurunan produksi padi akibat keterlambatan mulai menanam  karena iklim dan cuaca yang kurang mendukung. Keterlambatan masa tanam  tersebut berdampak pada meningkatnya hama, salah satunya tikus.
Pantauan lapangan di produksi padi petani turun dari rata-rata  sekitar 5-6 ton per hektar menjadi 3-3,5 ton per hektar. Solusinya,  pasca panen diharapkan masyarakat dapat melanjutkan penanam padi untuk  menjaga produksi nasional, dengan meningkatkan dukungan pemerintah  terkait penyediaan air, irigasi, dan pendukung lainnya.
Selain itu, lanjut Muhammad Syakir, beberapa komoditas strategis yang  mempengaruhi inflasi harganya sudah tinggi sejak sebelum covid-19.  Misalnya saja harga cabai, bawang putih, bawang bombay, dan  rempah-rempah di antaranya jahe, menunjukkan bahwa produksi kurang.
Bahan pokok yang melonjak tajamnya juga gula pasir. Harga gula pasir  di Bandung yang  pekan lalu mencapai Rp27.000 per kilogram, pekan ini  melonjak lagi menjadi Rp 50.000,-.
Persoalan lain adalah ketersediaan daging ayam dan telur juga  terpengaruh oleh suplai pakan yang diproduksi dari jagung. Padahal dalam  kondisi covid-19 ini masyarakat perlu mengkonsumsi gizi dan protein  yang cukup sehingga dapat menjaga daya tahan tubuhnya dengan baik.
&amp;ldquo;Total cadangan beras saat ini diperkirakan sekitar 3,6 juta ton.  Sementara konsumsi beras rata-rata per bulan sekitar 2,5 juta &amp;ndash; 3 juta  ton,&amp;rdquo; ucapnya.</description><content:encoded>&amp;nbsp;JAKARTA &amp;ndash; Peran Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) diminta untuk lebih dioptimalkan dalam menjamin ketersediaan stok pangan nasional. Selain itu, perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu juga diminta untuk menjadi offtaker untuk menyerap produk pertanian dari para petani.
Staf Khusus Wakil Presiden RI Lukmanul Hakim mengatakan, pertanian menjadi salah satu yang terdampak signifikan virus corona atau covid-19. Hal ini ditandai dengan rendahnya serapan komoditas pertanian, seperti sayuran dan hortikultura yang diproduksi petani.
Menurut Lukman, rendahnya serapan akibat berkurangnya bandar-bandar yang selama ini membeli produk pertanian dari petani dan mensuplai ke pasar-pasar dan industri. Jika dibiarkan hal ini akan berakibat pada lesunya ekonomi, terganggunya jalur distribusi logistik, dan menurunnya daya beli masyarakat.
Baca juga: Anggaran Jaring Pengaman Sosial di Tangan Sri Mulyani
Oleh karena itu lanjut Lukman kebijakan ini bisa menjadi solusi untuk menjaga pendapatan jutaan petani Indonesia. Sehingga daya beli juga bisa tetap terjaga.
&amp;ldquo;Pemerintah perlu mengoptimalkan peran Bulog dan BUMN untuk ketersediaan pangan dan menjadi off-taker produk hasil pertanian,&amp;rdquo; ujarnya mengutip keterangan tertulis, Kamis (2/4/2020).
Lukman juga menyebut perlu ada tindak lanjut atas kebijakan pemerintah mengeluarkan stimulus penanganan dampak covid-19 senilai Rp 405,1 triliun. Sehingga para pekerja informal seperti petani maupun pengusaha Usaha Kecil Menengah (UKM) bisa terbantu.
Asal tahu saja, Presiden Joko Widodo mengumumkan jika pemerintah memberikan tambahan anggaran Rp 405,1 triliun untuk penanganan covid-19.  Total anggaran dialokasikan Rp 75 triliun untuk bidang kesehatan, Rp 110 triliun untuk perlindungan sosial, Rp 150 triliun untuk program pemulihan ekonomi nasional, dan Rp 70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat.&amp;ldquo;Ini harus kita tindaklanjuti dan diimplementasikan secara efektif,&amp;rdquo; ucapnya
Sementara itu, Direktur Utama PTPN VIII Dr. Wahyu menyebut  ketersediaan pangan menjadi sangat penting di tengah pandemi virus  corona ini. Idealnya, cadangan beras dan bahan pokok lainnya harus bisa  mencukupi untuk rentan waktu 3 sampai 6 bulan ke depan.
&quot;Menurut data informasi lapangan, stok beras saat ini di Bulog  sekitar 1,4 juta ton. Sementara kebutuhan beras rata-rata sekitar 2,5  juta ton &amp;ndash; 3 juta ton per bulan,&quot; ucapnya.
Sementara itu, Perhimpunan Ahli Agronomi Indonesia Muhammad Syakir  menambahkan, selain cadangan beras di Bulog, saat ini stok beras di  penggilingan besar sekitar 1,2 juta ton, dan stok beras di pasar induk  sekitar 26 ribu ton.
Menurutnya, cadangan beras diharapkan bertambah meskipun diprediksi  akan ada penurunan produksi padi akibat keterlambatan mulai menanam  karena iklim dan cuaca yang kurang mendukung. Keterlambatan masa tanam  tersebut berdampak pada meningkatnya hama, salah satunya tikus.
Pantauan lapangan di produksi padi petani turun dari rata-rata  sekitar 5-6 ton per hektar menjadi 3-3,5 ton per hektar. Solusinya,  pasca panen diharapkan masyarakat dapat melanjutkan penanam padi untuk  menjaga produksi nasional, dengan meningkatkan dukungan pemerintah  terkait penyediaan air, irigasi, dan pendukung lainnya.
Selain itu, lanjut Muhammad Syakir, beberapa komoditas strategis yang  mempengaruhi inflasi harganya sudah tinggi sejak sebelum covid-19.  Misalnya saja harga cabai, bawang putih, bawang bombay, dan  rempah-rempah di antaranya jahe, menunjukkan bahwa produksi kurang.
Bahan pokok yang melonjak tajamnya juga gula pasir. Harga gula pasir  di Bandung yang  pekan lalu mencapai Rp27.000 per kilogram, pekan ini  melonjak lagi menjadi Rp 50.000,-.
Persoalan lain adalah ketersediaan daging ayam dan telur juga  terpengaruh oleh suplai pakan yang diproduksi dari jagung. Padahal dalam  kondisi covid-19 ini masyarakat perlu mengkonsumsi gizi dan protein  yang cukup sehingga dapat menjaga daya tahan tubuhnya dengan baik.
&amp;ldquo;Total cadangan beras saat ini diperkirakan sekitar 3,6 juta ton.  Sementara konsumsi beras rata-rata per bulan sekitar 2,5 juta &amp;ndash; 3 juta  ton,&amp;rdquo; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
