<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menperin Ajak Industri dan Kampus Kerjasama Bikin Ventilator</title><description>Produksi ventilator ini hal penting saat ini karena  dibutuhkan dalam cukup banyak sebagai upaya percepatan penanganan  Covid-19.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/09/320/2196605/menperin-ajak-industri-dan-kampus-kerjasama-bikin-ventilator</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/04/09/320/2196605/menperin-ajak-industri-dan-kampus-kerjasama-bikin-ventilator"/><item><title>Menperin Ajak Industri dan Kampus Kerjasama Bikin Ventilator</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/09/320/2196605/menperin-ajak-industri-dan-kampus-kerjasama-bikin-ventilator</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/04/09/320/2196605/menperin-ajak-industri-dan-kampus-kerjasama-bikin-ventilator</guid><pubDate>Kamis 09 April 2020 13:04 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/09/320/2196605/menperin-ajak-industri-dan-kampus-kerjasama-bikin-ventilator-vFpCO1XgBx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Waspada Virus Corona. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/09/320/2196605/menperin-ajak-industri-dan-kampus-kerjasama-bikin-ventilator-vFpCO1XgBx.jpg</image><title>Waspada Virus Corona. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Perindustrian memandang sejumlah perguruan tinggi di Indonesia memiliki kesiapan dan kemampuan untuk memproduksi alat kesehatan seperti ventilator atau alat bantu pernapasan. Produksi ventilator ini menjadi salah satu hal penting saat ini karena dibutuhkan dalam cukup banyak sebagai upaya percepatan penanganan Covid-19.
&amp;ldquo;Kami mendapat laporan, tim dari perguruan tinggi sudah memiliki mitra dalam upaya memproduksi ventilator. Namun, mereka punya keterbatasan khususnya terkait ketersediaan bahan baku dan rantai pasok,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dilansir dari laman Kemenperin, Kamis (9/4/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Daftar Sektor Industri yang Terdampak Covid-19, Apa Saja?
Guna mendorong percepatan produksi ventilator tersebut, Kemenperin akan turut bantu memantau dan memastikan dua komponen tersebut. &amp;ldquo;Kalangan akademisi ini berupaya segera membuat blueprint ventilator yang kemudian akan dikoordinasikan dengan Kementerian Kesehatan,&amp;rdquo; tutur Menperin.
Adapun empat perguruan tinggi yang sedang melakukan proses produksi ventilator di Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, dan Institut Teknologi Bandung.
Baca Juga: Industri Minta Sederet Stimulus di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Daftarnya
&amp;ldquo;Tahapan perizinan dan uji klinis akan didukung secara penuh oleh Kementerian Kesehatan,&amp;rdquo; ungkapnya. Lebih lanjut, Agus mengutarakan bahwa proses pembuatan ventilator ini juga membutuhkan business model, karena menjadi langkah strategis jangka menengah dan panjang.
&amp;ldquo;Saat ini memang menjadi momentum yang tepat untuk kita bersama-sama membantu Indonesia mengatasi pandemi Covid-19. Selain itu, dapat membangkitkan gairah industri alat kesehatan di dalam negeri, dengan diawali memproduksi ventilator ini,&amp;rdquo; paparnya.
Oleh karena itu, Menperin memberikan apresiasi kepada sejumlah perguruan tinggi yang berminat untuk memproduksi ventilator. &amp;ldquo;Kami ucapkan terima kasih dan apresiasi pada kampus serta mitra-mitranya yang terlibat dalam pembuatan ventilator ini,&amp;rdquo; ujarnya.
Di samping itu, perguruan tinggi didorong juga untuk menjalin kerja  sama dengan pelaku industri. &amp;ldquo;Kolaborasi ini dilakukan untuk mempercepat  proses produksi maupun membantu penyediaan bahan baku utama pembuatan  ventilator,&amp;rdquo; imbuhnya.
Salah satu perguruan tinggi yang berkolaborasi dengan dunia industri  dalam memproduksi ventilator adalah Universitas Gadjah Mada. Kampus  tersebut menggandeng PT Yogya Presisi Teknikatama Industri (YPTI) yang  berperan sebagai project integrator, prototyping, dan hardware  developer. Sementara itu, PT YPTI bermitra dengan PT Toyota Motor  Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan pemasok komponennya untuk memenuhi  kebutuhan rantai pasok bahan baku.
Saat ini, kolaborasi yang disebut &amp;lsquo;Tim Jogja&amp;rsquo; tersebut sedang dalam  tahap pengembangan prototype yang diharapkan siap minggu depan. &amp;ldquo;Mereka  kemudian akan melakukan pengujian dan evaluasi, pertama kali akan  dilakukan dengan alat uji dan kalibrasi ventilator dukungan dari  Kemenperin,&amp;rdquo; ungkap Agus.
Perguruan tinggi lainnya yang juga menjalin kerja sama dengan sektor  industri adalah Institut Teknologi Bandung. Tim dari ITB menggandeng  industri yang berada di bawah Kementerian BUMN, yaitu PT Dirgantara  Indonesia, PT Len Industri, dan PT Pindad. ITB juga dikabarkan sudah  siap untuk segera memproduksi ventilator sebanyak 10 ribu unit dengan  harga relatif terjangkau dalam beberapa minggu ke depan.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor  Indonesia (Gaikindo) Yohanes Nanggoi mengungkapkan, salah satu supplier  saat ini sedang melakukan pengembangan prototype ventilator yang  dilakukan dengan skema reverse engineering. &amp;ldquo;Apabila bisa dijalankan,  produksi akan dilakukan secepat dan sebanyak mungkin serta akan  diproduksi menggunakan kapasitas perusahaan-perusahaan otomotif,&amp;rdquo;  terangnya.Direktur Jendral Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT)   Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan, untuk mempercepat produksi   ventilator, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah stimulus. Sebut saja   seperti pembiayaan prototyping ventilator medical grade dengan melakukan   reverse engineering sehingga menghasilkan ventilator sederhana di luar   ICU dan ventilator advance untuk ruang ICU.
Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan kemudahan ketentuan lartas   impor bahan baku atau komponen ventilator. Selanjutnya dari Kemenkes   juga akan merelaksasi uji performa. Terakhir, membuat standar atau   spesifikasi jenis dan kualitas serta kebutuhan untuk ventilator.
&amp;ldquo;Kami akan melakukan penunjukan langsung kepada perusahaan yang   dianggap mampu melakukan prototyping ventilator dan pengecualian izin   edar untuk ventilator pada K/L terkait,&amp;rdquo; ujarnya.
Merujuk data Aplikasi Sarana, Prasarana, dan Alat Kesehatan (ASPAK)   Kementerian Kesehatan, jumlah ventilator di Indonesia saat ini sebanyak   8.396 unit yang tersebar di 1.827 rumah sakit di seluruh negeri.  Adapun,  harga ventilator saat ini berkisar Rp300 juta&amp;mdash;Rp800 juta per  unit.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Perindustrian memandang sejumlah perguruan tinggi di Indonesia memiliki kesiapan dan kemampuan untuk memproduksi alat kesehatan seperti ventilator atau alat bantu pernapasan. Produksi ventilator ini menjadi salah satu hal penting saat ini karena dibutuhkan dalam cukup banyak sebagai upaya percepatan penanganan Covid-19.
&amp;ldquo;Kami mendapat laporan, tim dari perguruan tinggi sudah memiliki mitra dalam upaya memproduksi ventilator. Namun, mereka punya keterbatasan khususnya terkait ketersediaan bahan baku dan rantai pasok,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dilansir dari laman Kemenperin, Kamis (9/4/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Daftar Sektor Industri yang Terdampak Covid-19, Apa Saja?
Guna mendorong percepatan produksi ventilator tersebut, Kemenperin akan turut bantu memantau dan memastikan dua komponen tersebut. &amp;ldquo;Kalangan akademisi ini berupaya segera membuat blueprint ventilator yang kemudian akan dikoordinasikan dengan Kementerian Kesehatan,&amp;rdquo; tutur Menperin.
Adapun empat perguruan tinggi yang sedang melakukan proses produksi ventilator di Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, dan Institut Teknologi Bandung.
Baca Juga: Industri Minta Sederet Stimulus di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Daftarnya
&amp;ldquo;Tahapan perizinan dan uji klinis akan didukung secara penuh oleh Kementerian Kesehatan,&amp;rdquo; ungkapnya. Lebih lanjut, Agus mengutarakan bahwa proses pembuatan ventilator ini juga membutuhkan business model, karena menjadi langkah strategis jangka menengah dan panjang.
&amp;ldquo;Saat ini memang menjadi momentum yang tepat untuk kita bersama-sama membantu Indonesia mengatasi pandemi Covid-19. Selain itu, dapat membangkitkan gairah industri alat kesehatan di dalam negeri, dengan diawali memproduksi ventilator ini,&amp;rdquo; paparnya.
Oleh karena itu, Menperin memberikan apresiasi kepada sejumlah perguruan tinggi yang berminat untuk memproduksi ventilator. &amp;ldquo;Kami ucapkan terima kasih dan apresiasi pada kampus serta mitra-mitranya yang terlibat dalam pembuatan ventilator ini,&amp;rdquo; ujarnya.
Di samping itu, perguruan tinggi didorong juga untuk menjalin kerja  sama dengan pelaku industri. &amp;ldquo;Kolaborasi ini dilakukan untuk mempercepat  proses produksi maupun membantu penyediaan bahan baku utama pembuatan  ventilator,&amp;rdquo; imbuhnya.
Salah satu perguruan tinggi yang berkolaborasi dengan dunia industri  dalam memproduksi ventilator adalah Universitas Gadjah Mada. Kampus  tersebut menggandeng PT Yogya Presisi Teknikatama Industri (YPTI) yang  berperan sebagai project integrator, prototyping, dan hardware  developer. Sementara itu, PT YPTI bermitra dengan PT Toyota Motor  Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan pemasok komponennya untuk memenuhi  kebutuhan rantai pasok bahan baku.
Saat ini, kolaborasi yang disebut &amp;lsquo;Tim Jogja&amp;rsquo; tersebut sedang dalam  tahap pengembangan prototype yang diharapkan siap minggu depan. &amp;ldquo;Mereka  kemudian akan melakukan pengujian dan evaluasi, pertama kali akan  dilakukan dengan alat uji dan kalibrasi ventilator dukungan dari  Kemenperin,&amp;rdquo; ungkap Agus.
Perguruan tinggi lainnya yang juga menjalin kerja sama dengan sektor  industri adalah Institut Teknologi Bandung. Tim dari ITB menggandeng  industri yang berada di bawah Kementerian BUMN, yaitu PT Dirgantara  Indonesia, PT Len Industri, dan PT Pindad. ITB juga dikabarkan sudah  siap untuk segera memproduksi ventilator sebanyak 10 ribu unit dengan  harga relatif terjangkau dalam beberapa minggu ke depan.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor  Indonesia (Gaikindo) Yohanes Nanggoi mengungkapkan, salah satu supplier  saat ini sedang melakukan pengembangan prototype ventilator yang  dilakukan dengan skema reverse engineering. &amp;ldquo;Apabila bisa dijalankan,  produksi akan dilakukan secepat dan sebanyak mungkin serta akan  diproduksi menggunakan kapasitas perusahaan-perusahaan otomotif,&amp;rdquo;  terangnya.Direktur Jendral Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT)   Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan, untuk mempercepat produksi   ventilator, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah stimulus. Sebut saja   seperti pembiayaan prototyping ventilator medical grade dengan melakukan   reverse engineering sehingga menghasilkan ventilator sederhana di luar   ICU dan ventilator advance untuk ruang ICU.
Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan kemudahan ketentuan lartas   impor bahan baku atau komponen ventilator. Selanjutnya dari Kemenkes   juga akan merelaksasi uji performa. Terakhir, membuat standar atau   spesifikasi jenis dan kualitas serta kebutuhan untuk ventilator.
&amp;ldquo;Kami akan melakukan penunjukan langsung kepada perusahaan yang   dianggap mampu melakukan prototyping ventilator dan pengecualian izin   edar untuk ventilator pada K/L terkait,&amp;rdquo; ujarnya.
Merujuk data Aplikasi Sarana, Prasarana, dan Alat Kesehatan (ASPAK)   Kementerian Kesehatan, jumlah ventilator di Indonesia saat ini sebanyak   8.396 unit yang tersebar di 1.827 rumah sakit di seluruh negeri.  Adapun,  harga ventilator saat ini berkisar Rp300 juta&amp;mdash;Rp800 juta per  unit.</content:encoded></item></channel></rss>
