<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bank Dunia Ramal Ekonomi Asia Selatan Alami Kondisi Terburuk dalam 40 Tahun</title><description>Negara-negara Asia Selatan diperkirakan akan mengalami angka pertumbuhan ekonomi terburuk dalam 40 tahun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/13/20/2198328/bank-dunia-ramal-ekonomi-asia-selatan-alami-kondisi-terburuk-dalam-40-tahun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/04/13/20/2198328/bank-dunia-ramal-ekonomi-asia-selatan-alami-kondisi-terburuk-dalam-40-tahun"/><item><title>Bank Dunia Ramal Ekonomi Asia Selatan Alami Kondisi Terburuk dalam 40 Tahun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/13/20/2198328/bank-dunia-ramal-ekonomi-asia-selatan-alami-kondisi-terburuk-dalam-40-tahun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/04/13/20/2198328/bank-dunia-ramal-ekonomi-asia-selatan-alami-kondisi-terburuk-dalam-40-tahun</guid><pubDate>Senin 13 April 2020 12:47 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/13/20/2198328/bank-dunia-ramal-ekonomi-asia-selatan-alami-kondisi-terburuk-dalam-40-tahun-hBItDVdzFm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/13/20/2198328/bank-dunia-ramal-ekonomi-asia-selatan-alami-kondisi-terburuk-dalam-40-tahun-hBItDVdzFm.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description> 
JAKARTA - Laporan Bank Dunia mengatakan, negara-negara Asia Selatan diperkirakan akan mengalami angka pertumbuhan ekonomi terburuk dalam 40 tahun karena kebijakan lockdown untuk mencegah meluasnya perebakan virus corona telah membekukan sebagian besar pertumbuhan ekonomi kawasan padat penduduk itu.
 
Baca Juga: Dampak Corona, Ekonomi China Diprediksi Hanya Tumbuh 2% 
India dan negara-negara Asia Selatan lainnya mungkin akan mencatatkan kinerja pertumbuhan ekonomi terburuk dalam empat dekade terakhir tahun ini. Pertumbuhan yang buruk tersebut merupakan akibat dari adanya pandemi corona.

&quot;Wilayah Asia Selatan, yang terdiri dari delapan negara, kemungkinan akan menunjukkan pertumbuhan ekonomi 1,8% hingga 2,8% pada tahun ini. Padahal proyeksi yang dilakukan pada enam bulan yang lalu menunjukkan pertumbuhan di wilayah tersebut bisa mencapai 6,3%,&quot; kata Bank Dunia dalam laporan bertajuk South Asia Economic Focus seperti dikutip VOA Indonesia, Jakarta, Senin (13/4/2020).
 
Baca Juga: Ekonomi AS Hadapi Jalan Panjang dan Sulit dalam Pemulihan Imbas Corona 

Ekonomi India diperkirakan akan tumbuh sekitar 1,5% hingga 2,8% pada tahun fiskal yang dimulai pada 1 April. Sementara pada tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan India mencapai 4,8% hingga 5% .

Rebound yang terjadi pada akhir 2019 telah diambilalih oleh dampak negatif dari krisis global,&quot; kata laporan Bank Dunia.

Selain India, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sri Lanka, Nepal, Bhutan dan Bangladesh juga akan mengalami penurunan tajam.
Tiga negara lain -Pakistan, Afghanistan dan Maladewa- diperkirakan  akan jatuh ke dalam resesi, Bank Dunia mengatakan dalam laporan itu  berdasarkan data hingga tanggal 7 April.

Langkah-langkah yang diambil untuk melawan virus corona telah  mengganggu rantai pasokan di seluruh Asia Selatan, yang telah mencatat  lebih dari 13 ribu kasus sejauh ini -masih lebih rendah daripada banyak  bagian dunia.

Karantina wilayah (lockdown) di India yang melibatkan 1,3 miliar  orang juga menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Selain itu  juga mengganggu bisnis besar dan kecil, dan memaksa sejumlah besar  pekerja pindah dari kota ke rumah mereka di desa-desa.

Jika terjadi karantina wilayah yang berkepanjangan dan luas, laporan  itu memperingatkan skenario terburuk bahwa seluruh wilayah akan  mengalami kontraksi ekonomi tahun ini.
Untuk meminimalkan dampak ekonomi dalam jangka pendek, Bank Dunia   menyerukan negara-negara di kawasan tersebut untuk mengumumkan   langkah-langkah fiskal dan moneter lebih banyak. Hal itu dilakukan untuk   mendukung pekerja migran yang menganggur, serta pengurangan utang  untuk  bisnis dan individu.

India sejauh ini telah meluncurkan rencana ekonomi senilai USD23   miliar untuk menawarkan transfer tunai langsung ke jutaan orang miskin   yang terkena dampak karantina wllayah. Pemerintah Pakistan juga telah   mengumumkan rencana AS$ 6 miliar untuk mendukung perekonomian.

&amp;ldquo;Prioritas bagi semua pemerintah Asia Selatan adalah untuk menahan   penyebaran virus dan melindungi rakyat mereka, terutama yang   termiskin,,&amp;rdquo; kata pejabat senior Bank Dunia, Hartwig Schafer</description><content:encoded> 
JAKARTA - Laporan Bank Dunia mengatakan, negara-negara Asia Selatan diperkirakan akan mengalami angka pertumbuhan ekonomi terburuk dalam 40 tahun karena kebijakan lockdown untuk mencegah meluasnya perebakan virus corona telah membekukan sebagian besar pertumbuhan ekonomi kawasan padat penduduk itu.
 
Baca Juga: Dampak Corona, Ekonomi China Diprediksi Hanya Tumbuh 2% 
India dan negara-negara Asia Selatan lainnya mungkin akan mencatatkan kinerja pertumbuhan ekonomi terburuk dalam empat dekade terakhir tahun ini. Pertumbuhan yang buruk tersebut merupakan akibat dari adanya pandemi corona.

&quot;Wilayah Asia Selatan, yang terdiri dari delapan negara, kemungkinan akan menunjukkan pertumbuhan ekonomi 1,8% hingga 2,8% pada tahun ini. Padahal proyeksi yang dilakukan pada enam bulan yang lalu menunjukkan pertumbuhan di wilayah tersebut bisa mencapai 6,3%,&quot; kata Bank Dunia dalam laporan bertajuk South Asia Economic Focus seperti dikutip VOA Indonesia, Jakarta, Senin (13/4/2020).
 
Baca Juga: Ekonomi AS Hadapi Jalan Panjang dan Sulit dalam Pemulihan Imbas Corona 

Ekonomi India diperkirakan akan tumbuh sekitar 1,5% hingga 2,8% pada tahun fiskal yang dimulai pada 1 April. Sementara pada tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan India mencapai 4,8% hingga 5% .

Rebound yang terjadi pada akhir 2019 telah diambilalih oleh dampak negatif dari krisis global,&quot; kata laporan Bank Dunia.

Selain India, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sri Lanka, Nepal, Bhutan dan Bangladesh juga akan mengalami penurunan tajam.
Tiga negara lain -Pakistan, Afghanistan dan Maladewa- diperkirakan  akan jatuh ke dalam resesi, Bank Dunia mengatakan dalam laporan itu  berdasarkan data hingga tanggal 7 April.

Langkah-langkah yang diambil untuk melawan virus corona telah  mengganggu rantai pasokan di seluruh Asia Selatan, yang telah mencatat  lebih dari 13 ribu kasus sejauh ini -masih lebih rendah daripada banyak  bagian dunia.

Karantina wilayah (lockdown) di India yang melibatkan 1,3 miliar  orang juga menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Selain itu  juga mengganggu bisnis besar dan kecil, dan memaksa sejumlah besar  pekerja pindah dari kota ke rumah mereka di desa-desa.

Jika terjadi karantina wilayah yang berkepanjangan dan luas, laporan  itu memperingatkan skenario terburuk bahwa seluruh wilayah akan  mengalami kontraksi ekonomi tahun ini.
Untuk meminimalkan dampak ekonomi dalam jangka pendek, Bank Dunia   menyerukan negara-negara di kawasan tersebut untuk mengumumkan   langkah-langkah fiskal dan moneter lebih banyak. Hal itu dilakukan untuk   mendukung pekerja migran yang menganggur, serta pengurangan utang  untuk  bisnis dan individu.

India sejauh ini telah meluncurkan rencana ekonomi senilai USD23   miliar untuk menawarkan transfer tunai langsung ke jutaan orang miskin   yang terkena dampak karantina wllayah. Pemerintah Pakistan juga telah   mengumumkan rencana AS$ 6 miliar untuk mendukung perekonomian.

&amp;ldquo;Prioritas bagi semua pemerintah Asia Selatan adalah untuk menahan   penyebaran virus dan melindungi rakyat mereka, terutama yang   termiskin,,&amp;rdquo; kata pejabat senior Bank Dunia, Hartwig Schafer</content:encoded></item></channel></rss>
