<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dividen Dongkrak Pendapatan Negara Jadi Rp375,9 Triliun</title><description>Kementerian Keuangan mencatat pendapatan negara mencapai Rp375,9 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/17/20/2200642/dividen-dongkrak-pendapatan-negara-jadi-rp375-9-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/04/17/20/2200642/dividen-dongkrak-pendapatan-negara-jadi-rp375-9-triliun"/><item><title>Dividen Dongkrak Pendapatan Negara Jadi Rp375,9 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/17/20/2200642/dividen-dongkrak-pendapatan-negara-jadi-rp375-9-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/04/17/20/2200642/dividen-dongkrak-pendapatan-negara-jadi-rp375-9-triliun</guid><pubDate>Jum'at 17 April 2020 12:46 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/17/20/2200642/dividen-dongkrak-pendapatan-negara-jadi-rp375-9-triliun-PRBI50df5s.png" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani soal APBN 2020 (Foto: Youtube Kemenkeu)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/17/20/2200642/dividen-dongkrak-pendapatan-negara-jadi-rp375-9-triliun-PRBI50df5s.png</image><title>Sri Mulyani soal APBN 2020 (Foto: Youtube Kemenkeu)</title></images><description> 
JAKARTA - Kementerian Keuangan mencatat pendapatan  negara mencapai Rp375,9 triliun atau sekitar 16,8% dari target APBN 2020. Angka ini mengalami pertumbuhan 7,7% dari penerimaan pada Maret tahun lalu yang sebesar Rp349 triliun.
Baca Juga: Penerimaan Pajak Turun 2,5% hingga Akhir Maret
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penerimaan negara yang tumbuh ini ditopang oleh meningkatnya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 36,8% menjadi Rp96 triliun. Angka ini setara dengan 26,2% dari target APBN 2020.

Menurutnya, peningkatan ini bukan menggambarkan ekonomi yang membaik. Sebab peningkatan ini lebih disebabkan oleh pembayaran dividen oleh perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) lebih dulu.
Baca Juga: Kian Melebar, Defisit APBN Tembus Rp76,4 Triliun
&quot;Kalau kita lihat sampai posisi Maret, pendapatan negara tumbuh 7,7%. Namun ini bukan dari kegiatan ekonomi karena ada pergeseran pembayaran dividen dari BUMN kita, sehingga ini muncul PNBP kita melonjak. Karena bank-bank BUMN kita melakukan RUPS lebih awal dan mereka membayarkan dividen pada Maret ini, yang sebabkan kelihatannya pendapatan negara melonjak,&quot; ujarnya dalam telekonferensi, Jumat (17/4/2020).

Hal ini terlihat dari penerimaan lainnya seperti pendapatan yang  berasal dari perpajakan tumbuh stagnan 0,4% dari tahun lalu yakni  Rp279,9 triliun. Sementara itu, penerimaan pajak dari migas itu anjlok  2,5% menjadi Rp241,6 triliun.

&quot;Bila dibandingkan dengan penerimaan pajak tahun lalu Rp247,7 triliun. Mulai menunjukan adanya tren negatif 2,5%,&quot; ucapnya.

Sementara penerimaan Bea Cukai Rp38,3 triliun atau tumbuh 23,6%  (yoy). Hanya saja jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu,  pertumbuhannya melambat sebab pada tahun lalu  mampu tumbuh 73,1% (yoy).

&quot;Kenaikan tinggi pada penerimaan bea cukai karena pabrik rokok  membeli cukai lebih awal untuk mengantisipasi social distancing,&quot; kata  Sri Mulyani.</description><content:encoded> 
JAKARTA - Kementerian Keuangan mencatat pendapatan  negara mencapai Rp375,9 triliun atau sekitar 16,8% dari target APBN 2020. Angka ini mengalami pertumbuhan 7,7% dari penerimaan pada Maret tahun lalu yang sebesar Rp349 triliun.
Baca Juga: Penerimaan Pajak Turun 2,5% hingga Akhir Maret
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penerimaan negara yang tumbuh ini ditopang oleh meningkatnya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 36,8% menjadi Rp96 triliun. Angka ini setara dengan 26,2% dari target APBN 2020.

Menurutnya, peningkatan ini bukan menggambarkan ekonomi yang membaik. Sebab peningkatan ini lebih disebabkan oleh pembayaran dividen oleh perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) lebih dulu.
Baca Juga: Kian Melebar, Defisit APBN Tembus Rp76,4 Triliun
&quot;Kalau kita lihat sampai posisi Maret, pendapatan negara tumbuh 7,7%. Namun ini bukan dari kegiatan ekonomi karena ada pergeseran pembayaran dividen dari BUMN kita, sehingga ini muncul PNBP kita melonjak. Karena bank-bank BUMN kita melakukan RUPS lebih awal dan mereka membayarkan dividen pada Maret ini, yang sebabkan kelihatannya pendapatan negara melonjak,&quot; ujarnya dalam telekonferensi, Jumat (17/4/2020).

Hal ini terlihat dari penerimaan lainnya seperti pendapatan yang  berasal dari perpajakan tumbuh stagnan 0,4% dari tahun lalu yakni  Rp279,9 triliun. Sementara itu, penerimaan pajak dari migas itu anjlok  2,5% menjadi Rp241,6 triliun.

&quot;Bila dibandingkan dengan penerimaan pajak tahun lalu Rp247,7 triliun. Mulai menunjukan adanya tren negatif 2,5%,&quot; ucapnya.

Sementara penerimaan Bea Cukai Rp38,3 triliun atau tumbuh 23,6%  (yoy). Hanya saja jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu,  pertumbuhannya melambat sebab pada tahun lalu  mampu tumbuh 73,1% (yoy).

&quot;Kenaikan tinggi pada penerimaan bea cukai karena pabrik rokok  membeli cukai lebih awal untuk mengantisipasi social distancing,&quot; kata  Sri Mulyani.</content:encoded></item></channel></rss>
