<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Realisasi Belanja Negara Rp452,4 Triliun, Dihabiskan untuk Apa Saja?</title><description>Kementerian Keuangan mencatat belanja negara hingga Maret 2020 mencapai Rp452,4 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/17/20/2200678/realisasi-belanja-negara-rp452-4-triliun-dihabiskan-untuk-apa-saja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/04/17/20/2200678/realisasi-belanja-negara-rp452-4-triliun-dihabiskan-untuk-apa-saja"/><item><title>Realisasi Belanja Negara Rp452,4 Triliun, Dihabiskan untuk Apa Saja?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/17/20/2200678/realisasi-belanja-negara-rp452-4-triliun-dihabiskan-untuk-apa-saja</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/04/17/20/2200678/realisasi-belanja-negara-rp452-4-triliun-dihabiskan-untuk-apa-saja</guid><pubDate>Jum'at 17 April 2020 13:49 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/17/20/2200678/realisasi-belanja-negara-rp452-4-triliun-dihabiskan-untuk-apa-saja-AYOXqbrXox.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Rupiah (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/17/20/2200678/realisasi-belanja-negara-rp452-4-triliun-dihabiskan-untuk-apa-saja-AYOXqbrXox.jpg</image><title>Uang Rupiah (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Keuangan mencatat belanja negara hingga Maret 2020 mencapai Rp452,4 triliun. Angka tersebut tumbuh melambat jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, belanja negara tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat mencapai Rp277,9 triliun atau tumbuh 6,6% (yoy). Angka ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mampu tumbuh 11,4% (yoy).
Baca Juga: Penerimaan Pajak Turun 2,5% hingga Akhir Maret
Adapun rinciannya adalah Belanja Kementerian/Lembaga tercatat Rp143 triliun. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp128,8 triliun.

Belanja K/L ditunjang oleh belanja pegawai sebesar Rp48,6 triliun atau tumbuh 8% (yoy), kemudian belanja barang sebesar Rp35,2 triliun minus 6,6% (yoy). Selanjutnya ada belanja modal yang mencapai Rp12 triliun atau tumbuh 32,1% dan terakhir belanja bantuan sosial yang meningkat 27,5% menjadi Rp47,2 triliun.
Baca Juga: Dividen Dongkrak Pendapatan Negara Jadi Rp375,9 Triliun
&quot;Belanja pegawai tumbuh 8% karena awal tahun bayar tunjangan kinerja untuk beberapa Kementerian Lembaga. Di sisi lain, belanja barang kontraksi 6,6%,&quot; ujar Sri Mulyani dalam telekonferensi, Jumat (16/4/2020).
Sedangkan untuk belanja non Kementerian Lembaga tercatat sebesar  Rp134,9 triliun. Angka tersebut tumbuh 2,2% dibandingkan periode yang  sama tahun lalu yang hanya Rp132 triliun.

Adapun rinciannya adalah untuk pembayaran bunga utang sebesar Rp73,8  triliun atau tumbuh 4,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.  Selanjutnya belanja digunakan untuk subsidi  Rp18,7 triliun atau turun  14,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

&quot;Untuk belanja non K/L pembayaran bunga kita capai 73,8% atau 25%  dari alokasi APBN tumbuh 4,6%. Subsidi karena harga minyak turun maka  pembayaran subsidi akan turun baik untuk listrik dan minyak,&quot; jelasnya.

Sementara untuk transfer ke Daerah dan Dana Desa mencapai Rp 174,5  triliun atau turun 8,8% (yoy). Padahal di periode yang sama tahun lalu,  pos anggaran ini mampu tumbuh 3,1% (yoy).

Adapun rinciannya transfer ke daerah sebesar Rp 167,3 triliun atau  turun 7,7% (yoy). Sementara Dana Desa hanya Rp 7,2 triliun, anjlok 28,6%  (yoy).

&quot;Untuk daerah-daerah ini diubah instrumen agar siap menangani  covid-19. Dan juga kita minta daerah untuk melakukan penghentian proses  pengadaan fsik di luar pendidikan dan kesehatan,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Keuangan mencatat belanja negara hingga Maret 2020 mencapai Rp452,4 triliun. Angka tersebut tumbuh melambat jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, belanja negara tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat mencapai Rp277,9 triliun atau tumbuh 6,6% (yoy). Angka ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mampu tumbuh 11,4% (yoy).
Baca Juga: Penerimaan Pajak Turun 2,5% hingga Akhir Maret
Adapun rinciannya adalah Belanja Kementerian/Lembaga tercatat Rp143 triliun. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp128,8 triliun.

Belanja K/L ditunjang oleh belanja pegawai sebesar Rp48,6 triliun atau tumbuh 8% (yoy), kemudian belanja barang sebesar Rp35,2 triliun minus 6,6% (yoy). Selanjutnya ada belanja modal yang mencapai Rp12 triliun atau tumbuh 32,1% dan terakhir belanja bantuan sosial yang meningkat 27,5% menjadi Rp47,2 triliun.
Baca Juga: Dividen Dongkrak Pendapatan Negara Jadi Rp375,9 Triliun
&quot;Belanja pegawai tumbuh 8% karena awal tahun bayar tunjangan kinerja untuk beberapa Kementerian Lembaga. Di sisi lain, belanja barang kontraksi 6,6%,&quot; ujar Sri Mulyani dalam telekonferensi, Jumat (16/4/2020).
Sedangkan untuk belanja non Kementerian Lembaga tercatat sebesar  Rp134,9 triliun. Angka tersebut tumbuh 2,2% dibandingkan periode yang  sama tahun lalu yang hanya Rp132 triliun.

Adapun rinciannya adalah untuk pembayaran bunga utang sebesar Rp73,8  triliun atau tumbuh 4,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.  Selanjutnya belanja digunakan untuk subsidi  Rp18,7 triliun atau turun  14,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

&quot;Untuk belanja non K/L pembayaran bunga kita capai 73,8% atau 25%  dari alokasi APBN tumbuh 4,6%. Subsidi karena harga minyak turun maka  pembayaran subsidi akan turun baik untuk listrik dan minyak,&quot; jelasnya.

Sementara untuk transfer ke Daerah dan Dana Desa mencapai Rp 174,5  triliun atau turun 8,8% (yoy). Padahal di periode yang sama tahun lalu,  pos anggaran ini mampu tumbuh 3,1% (yoy).

Adapun rinciannya transfer ke daerah sebesar Rp 167,3 triliun atau  turun 7,7% (yoy). Sementara Dana Desa hanya Rp 7,2 triliun, anjlok 28,6%  (yoy).

&quot;Untuk daerah-daerah ini diubah instrumen agar siap menangani  covid-19. Dan juga kita minta daerah untuk melakukan penghentian proses  pengadaan fsik di luar pendidikan dan kesehatan,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
