<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah 3 Perempuan Indonesia Bekerja di Tengah Pertambangan Australia</title><description>Perempuan asal Indonesia membuktikan diri kalau mereka tidak hanya mampu bekerja di Australia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/21/320/2202409/kisah-3-perempuan-indonesia-bekerja-di-tengah-pertambangan-australia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/04/21/320/2202409/kisah-3-perempuan-indonesia-bekerja-di-tengah-pertambangan-australia"/><item><title>Kisah 3 Perempuan Indonesia Bekerja di Tengah Pertambangan Australia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/21/320/2202409/kisah-3-perempuan-indonesia-bekerja-di-tengah-pertambangan-australia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/04/21/320/2202409/kisah-3-perempuan-indonesia-bekerja-di-tengah-pertambangan-australia</guid><pubDate>Selasa 21 April 2020 11:14 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/21/320/2202409/kisah-3-perempuan-indonesia-bekerja-di-tengah-pertambangan-australia-Ct2owSRCQZ.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Tambang (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/21/320/2202409/kisah-3-perempuan-indonesia-bekerja-di-tengah-pertambangan-australia-Ct2owSRCQZ.jpeg</image><title>Ilustrasi Tambang (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Perempuan asal Indonesia membuktikan diri kalau mereka tidak hanya mampu bekerja di Australia, yang memiliki budaya berbeda jauh dengan di Indonesia. Mereka bersaing di bidang-bidang yang biasanya didominasi pria, bahkan dianggap sebagai &quot;pekerjaan pria&quot;.
Untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang diperingati 8 Maret setiap tahunnya, ABC Indonesia berbincang kepada tiga perempuan asal Indonesia. Maryln Whyte, Jelita Sidabutar, dan Yulia Hadi bekerja di sektor pertambangan di Australia Barat, namun mereka bekerja di perusahaan yang berbeda.
Sebelumnya, mereka juga pernah memiliki pengalaman bekerja di bidang pertambangan, konstruksi, dan telekomunikasi saat berada di Indonesia. Berikut adalah kisahnya yang dilansir dari abcnet, Selasa (21/4/2020):
Baca Juga: Harga Patokan Ekspor Tambang Turun Akibat Virus Corona
Maryln Whyte
Berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat, Marlyn White sudah bekerja di sejumlah perusahaan pertambangan di Australia Barat selama lebih dari 10 tahun. Saat ini ia bekerja sebagai 'Project Controller' di sebuah perusahaan peralatan dan perlengkapan tambang, yang juga menuntutnya untuk bekerja dan tinggal di lokasi pertambangan.
Pekerjaannya saat berada di lapangan adalah mengecek kualitas peralatan dan perlengkapan untuk keperluan menambang. Sebelum di posisinya saat ini, ia pernah juga bekerja sebagai 'Project Planner' dan 'Project Manager' di perusahaan pertambangan serta perusahaan konstruksi.
Dari pengalamannya, ia merasa industri pertambangan di Australia adalah &quot;sangat maskulin, kasar, dan penuh dengan kata-kata kasar&quot;. Karenanya, Marlyn mengatakan kepada ABC Indonesia pentingnya memahami budaya kerja di pertambangan Australia, untuk kemudian beradaptasi dengan cepat.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2017/07/07/39589/216085_medium.jpg&quot; alt=&quot;Tambang Galian di Area Perbukitan Rowosari &quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
&quot;Belakangan saya menyadari meski teman-teman kerja pria terlihat kasar atau banyak menggunakan kata-kata kasar, tapi dalam hatinya mereka sangat baik dan peduli dengan rekan kerja perempuannya,&quot; ujar Marlyn.
&quot;Saya hanya perlu memahami budaya kerja mereka, kemudian tidak memposisikan diri saya sebagai seorang puteri, tapi pejuang.&quot;
Memiliki kepercayaan diri adalah salah satu kunci untuk bisa bertahan di industri yang didominasi para pria, seperti pertambangan, tambahnya. &quot;Mungkin mereka mengecilkan atau mempertanyakan kemampuan kita, tapi kita harus tunjukkan pada mereka, 'saya tahu apa yang saya lakukan',&quot; ujar perempuan berusia 41 tahun tersebut.
Menurutnya kepercayaan diri kini telah menjadi masalah bagi banyak perempuan muda, karena mereka sering membandingkannya dengan orang lain, termasuk untuk mendefinisikan arti kecantikan. Sering kali yang disebut cantik adalah perempuan berkulit putih, bermata biru, berambut pirang, atau terlihat seperti perempuan-perempuan yang ada di majalah-majalah fashion.
Jelita Sidabutar
Dia adalah seorang 'Project Geologist' di perusahaan Seequent yang  berbasis di kota Perth, Australia Barat. Setelah lulus dari bidang ilmu  geologi di Universitas Padjajaran Bandung, Jelita pernah bekerja sebagai  ahli geologi di PT Nusa Halmahera Minerals di Indonesia.
Sebagai seorang ahli geologi, Jelita bertanggung jawab dengan  melakukan pemetaan dan memperkirakan simpanan mineral, serta menafsirkan  data geologi, untuk kemudian memberi saran soal rencana produksi  tambang. Sebuah pekerjaan yang sangat membutuhkan kekuatan fisik,  menurutnya, karena juga kadang ia harus mengangkat peralatan berat ke  lapangan.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2017/07/26/40343/218047_medium.jpg&quot; alt=&quot;Melihat dari Atas Proyek Tambang Emas&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Tapi Jelita mengaku tantangan terbesarnya sebagai seorang perempuan  bekerja di pertambangan Australia adalah justru datang dari luar.  Seringkali perempuan asal Pulau Samosir, Sumatera Utara ini mendapatkan  &quot;komentar-komentar negatif&quot; sebagai seorang istri dan ibu yang kerja di  lokasi pertambangan.
Seperti kebanyakan pekerja pertambangan, ia setidaknya bekerja di  lapangan setidaknya selama dua minggu. &quot;Seringkali saya dihakimi terlalu  mengejar karir dengan pergi ke lokasi tambang, yang terpencil,  ketimbang mengurus keluarga,&quot; katanya kepada ABC Indonesia.
Tapi ia menyadari jika perempuan memang memiliki banyak peran,  sebagai seorang istri, ibu, dan juga kadang bekerja untuk membantu  keluarga. &quot;Bagi saya, prioritas saya adalah orang-orang di sekeliling  saya, dimulai dengan suami dan anak-anak, dan tentunya diri sendiri,&quot;  kata Jelita.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/01/16/46474/238807_medium.jpg&quot; alt=&quot;Tak Ada Pengawalan Pemerintah, 40 persen Kawasan Karst di&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jawa Barat Rusak Akibat Aktivitas Pertambangan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Saat ia sedang berada di rumah, ia mengaku selalu memastikan memiliki  &quot;pembicaraan yang mendalam&quot; dengan anak-anaknya, sehingga ia tetap bisa  melihat perkembangan anak-anaknya.
&quot;Kuncinya adalah harus menemukan keseimbangan dalam memainkan  peran-peran itu, misalnya kalau saya sedang tidak bisa melakukan  pekerjaan rumah, ya saya bayar orang saja.&quot;
&quot;Kita hanya perlu fleksibel saat menghadapi situasi, jangan kemudian  marah-marah kalau rumah berantakan, kemudian jadi stress sendiri.&quot;
Jelita mengatakan sudah banyak melihat pekerja pertambangan yang  sukses menunjukkan kemampuannya menjalankan peran berbeda sebagai  seorang perempuan.Yulia Hadi
Tinggal di sebuah 'camp' saat berada di lokasi tambang menjadi salah   satu hal yang paling dinikmati oleh Yulia Hadi.  Meski kadang ia merasa   tinggal di &quot;sebuah penjara&quot;, karena letaknya yang jauh di pedalaman,   dengan rutinitas yang hanya &quot;kerja, makan, tidur&quot; setiap harinya.
&quot;Saya harus bangun jam 4:30 setiap paginya, mulai kerja jam 5:30 pagi   dan kita bekerja selama 12 jam setiap hari selama dua minggu,&quot;  katanya.  Yulia sudah bekerja di industri tambang Australia selama 10  tahun,  dengan posisi terakhirnya adalah sebagai 'Trade Assistant' dan  'All  Rounder' di kawasan Pilbara, Australia Barat.
Ia masih ingat saat pertama kali bekerja di pertambangan Australia.   &quot;Saya deg-degan, merasa tidak nyaman, karena saya satu-satunya perempuan   Asia yang kerja di perusahaan itu,&quot; ujar perempuan berusia 37 tahun   ini.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/01/16/46474/238808_medium.jpg&quot; alt=&quot;Tak Ada Pengawalan Pemerintah, 40 persen Kawasan Karst di&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jawa Barat Rusak Akibat Aktivitas Pertambangan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&quot;Tapi saya punya tujuan, saya melakukan ini untuk keluarga, karena   saya adalah tulang punggung mereka, jadi saya paksa untuk bisa mampu dan   secara mental siap.&quot; Lahir dan besar di Balikpapan, Kalimantan Timur,   Yulia mengatakan ayahnya juga pernah bekerja di perusahaan tambang batu   bara sebagai pengendara truk.
&quot;Suatu hari saya bilang ke ayah, 'saya ingin mengendarainya'. Saya   enggak tahu, tapi saya senang mengerjakan hal-hal yang maskulin sejak   kecil.&quot;
Yulia yang seorang ibu tunggal mengatakan ia lebih memilih mengendari   truk di lokasi pertambangan, ketimbang pekerjaan sebelumnya. Ia pernah   menjadi pengemudi truk di kota Melbourne, untuk mengirimkan buku-buku   sekolah ke seluruh kawasan di negara bagian Victoria.
Baca Juga:&amp;nbsp; Harga Patokan Ekspor Tambang Turun Akibat Virus Korona
Menurutnya, salah satu tantangan bekerja di industri tambang   Australia adalah &quot;budaya maskulin barat&quot;, kadang dengan lelucon yang   bisa salah kaprah dan penuh kata-kata kasar. &quot;Saya tentu tidak   membawanya ke hati, saya katakan pada mereka kalau itu tidak benar,   meski saya tahu mereka tidak benar-benar bermaksud seperti itu.&quot;
Bekerja di pertambangan dikenal dengan gajinya yang tinggi, ia   mengaku bayarannya bisa mencapai AU$ 2.700, atau lebih dari Rp25 juta,   per pekan setelah pajak.
Saat ia pulang dari tugasnya di lokasi tambang, ia lebih banyak   menghabiskan waktunya untuk beristirahat, bertemu anak-anaknya atau   bersama teman-temannya.</description><content:encoded>JAKARTA - Perempuan asal Indonesia membuktikan diri kalau mereka tidak hanya mampu bekerja di Australia, yang memiliki budaya berbeda jauh dengan di Indonesia. Mereka bersaing di bidang-bidang yang biasanya didominasi pria, bahkan dianggap sebagai &quot;pekerjaan pria&quot;.
Untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang diperingati 8 Maret setiap tahunnya, ABC Indonesia berbincang kepada tiga perempuan asal Indonesia. Maryln Whyte, Jelita Sidabutar, dan Yulia Hadi bekerja di sektor pertambangan di Australia Barat, namun mereka bekerja di perusahaan yang berbeda.
Sebelumnya, mereka juga pernah memiliki pengalaman bekerja di bidang pertambangan, konstruksi, dan telekomunikasi saat berada di Indonesia. Berikut adalah kisahnya yang dilansir dari abcnet, Selasa (21/4/2020):
Baca Juga: Harga Patokan Ekspor Tambang Turun Akibat Virus Corona
Maryln Whyte
Berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat, Marlyn White sudah bekerja di sejumlah perusahaan pertambangan di Australia Barat selama lebih dari 10 tahun. Saat ini ia bekerja sebagai 'Project Controller' di sebuah perusahaan peralatan dan perlengkapan tambang, yang juga menuntutnya untuk bekerja dan tinggal di lokasi pertambangan.
Pekerjaannya saat berada di lapangan adalah mengecek kualitas peralatan dan perlengkapan untuk keperluan menambang. Sebelum di posisinya saat ini, ia pernah juga bekerja sebagai 'Project Planner' dan 'Project Manager' di perusahaan pertambangan serta perusahaan konstruksi.
Dari pengalamannya, ia merasa industri pertambangan di Australia adalah &quot;sangat maskulin, kasar, dan penuh dengan kata-kata kasar&quot;. Karenanya, Marlyn mengatakan kepada ABC Indonesia pentingnya memahami budaya kerja di pertambangan Australia, untuk kemudian beradaptasi dengan cepat.
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2017/07/07/39589/216085_medium.jpg&quot; alt=&quot;Tambang Galian di Area Perbukitan Rowosari &quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;&amp;nbsp;
&quot;Belakangan saya menyadari meski teman-teman kerja pria terlihat kasar atau banyak menggunakan kata-kata kasar, tapi dalam hatinya mereka sangat baik dan peduli dengan rekan kerja perempuannya,&quot; ujar Marlyn.
&quot;Saya hanya perlu memahami budaya kerja mereka, kemudian tidak memposisikan diri saya sebagai seorang puteri, tapi pejuang.&quot;
Memiliki kepercayaan diri adalah salah satu kunci untuk bisa bertahan di industri yang didominasi para pria, seperti pertambangan, tambahnya. &quot;Mungkin mereka mengecilkan atau mempertanyakan kemampuan kita, tapi kita harus tunjukkan pada mereka, 'saya tahu apa yang saya lakukan',&quot; ujar perempuan berusia 41 tahun tersebut.
Menurutnya kepercayaan diri kini telah menjadi masalah bagi banyak perempuan muda, karena mereka sering membandingkannya dengan orang lain, termasuk untuk mendefinisikan arti kecantikan. Sering kali yang disebut cantik adalah perempuan berkulit putih, bermata biru, berambut pirang, atau terlihat seperti perempuan-perempuan yang ada di majalah-majalah fashion.
Jelita Sidabutar
Dia adalah seorang 'Project Geologist' di perusahaan Seequent yang  berbasis di kota Perth, Australia Barat. Setelah lulus dari bidang ilmu  geologi di Universitas Padjajaran Bandung, Jelita pernah bekerja sebagai  ahli geologi di PT Nusa Halmahera Minerals di Indonesia.
Sebagai seorang ahli geologi, Jelita bertanggung jawab dengan  melakukan pemetaan dan memperkirakan simpanan mineral, serta menafsirkan  data geologi, untuk kemudian memberi saran soal rencana produksi  tambang. Sebuah pekerjaan yang sangat membutuhkan kekuatan fisik,  menurutnya, karena juga kadang ia harus mengangkat peralatan berat ke  lapangan.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2017/07/26/40343/218047_medium.jpg&quot; alt=&quot;Melihat dari Atas Proyek Tambang Emas&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Tapi Jelita mengaku tantangan terbesarnya sebagai seorang perempuan  bekerja di pertambangan Australia adalah justru datang dari luar.  Seringkali perempuan asal Pulau Samosir, Sumatera Utara ini mendapatkan  &quot;komentar-komentar negatif&quot; sebagai seorang istri dan ibu yang kerja di  lokasi pertambangan.
Seperti kebanyakan pekerja pertambangan, ia setidaknya bekerja di  lapangan setidaknya selama dua minggu. &quot;Seringkali saya dihakimi terlalu  mengejar karir dengan pergi ke lokasi tambang, yang terpencil,  ketimbang mengurus keluarga,&quot; katanya kepada ABC Indonesia.
Tapi ia menyadari jika perempuan memang memiliki banyak peran,  sebagai seorang istri, ibu, dan juga kadang bekerja untuk membantu  keluarga. &quot;Bagi saya, prioritas saya adalah orang-orang di sekeliling  saya, dimulai dengan suami dan anak-anak, dan tentunya diri sendiri,&quot;  kata Jelita.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/01/16/46474/238807_medium.jpg&quot; alt=&quot;Tak Ada Pengawalan Pemerintah, 40 persen Kawasan Karst di&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jawa Barat Rusak Akibat Aktivitas Pertambangan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Saat ia sedang berada di rumah, ia mengaku selalu memastikan memiliki  &quot;pembicaraan yang mendalam&quot; dengan anak-anaknya, sehingga ia tetap bisa  melihat perkembangan anak-anaknya.
&quot;Kuncinya adalah harus menemukan keseimbangan dalam memainkan  peran-peran itu, misalnya kalau saya sedang tidak bisa melakukan  pekerjaan rumah, ya saya bayar orang saja.&quot;
&quot;Kita hanya perlu fleksibel saat menghadapi situasi, jangan kemudian  marah-marah kalau rumah berantakan, kemudian jadi stress sendiri.&quot;
Jelita mengatakan sudah banyak melihat pekerja pertambangan yang  sukses menunjukkan kemampuannya menjalankan peran berbeda sebagai  seorang perempuan.Yulia Hadi
Tinggal di sebuah 'camp' saat berada di lokasi tambang menjadi salah   satu hal yang paling dinikmati oleh Yulia Hadi.  Meski kadang ia merasa   tinggal di &quot;sebuah penjara&quot;, karena letaknya yang jauh di pedalaman,   dengan rutinitas yang hanya &quot;kerja, makan, tidur&quot; setiap harinya.
&quot;Saya harus bangun jam 4:30 setiap paginya, mulai kerja jam 5:30 pagi   dan kita bekerja selama 12 jam setiap hari selama dua minggu,&quot;  katanya.  Yulia sudah bekerja di industri tambang Australia selama 10  tahun,  dengan posisi terakhirnya adalah sebagai 'Trade Assistant' dan  'All  Rounder' di kawasan Pilbara, Australia Barat.
Ia masih ingat saat pertama kali bekerja di pertambangan Australia.   &quot;Saya deg-degan, merasa tidak nyaman, karena saya satu-satunya perempuan   Asia yang kerja di perusahaan itu,&quot; ujar perempuan berusia 37 tahun   ini.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2018/01/16/46474/238808_medium.jpg&quot; alt=&quot;Tak Ada Pengawalan Pemerintah, 40 persen Kawasan Karst di&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jawa Barat Rusak Akibat Aktivitas Pertambangan&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&quot;Tapi saya punya tujuan, saya melakukan ini untuk keluarga, karena   saya adalah tulang punggung mereka, jadi saya paksa untuk bisa mampu dan   secara mental siap.&quot; Lahir dan besar di Balikpapan, Kalimantan Timur,   Yulia mengatakan ayahnya juga pernah bekerja di perusahaan tambang batu   bara sebagai pengendara truk.
&quot;Suatu hari saya bilang ke ayah, 'saya ingin mengendarainya'. Saya   enggak tahu, tapi saya senang mengerjakan hal-hal yang maskulin sejak   kecil.&quot;
Yulia yang seorang ibu tunggal mengatakan ia lebih memilih mengendari   truk di lokasi pertambangan, ketimbang pekerjaan sebelumnya. Ia pernah   menjadi pengemudi truk di kota Melbourne, untuk mengirimkan buku-buku   sekolah ke seluruh kawasan di negara bagian Victoria.
Baca Juga:&amp;nbsp; Harga Patokan Ekspor Tambang Turun Akibat Virus Korona
Menurutnya, salah satu tantangan bekerja di industri tambang   Australia adalah &quot;budaya maskulin barat&quot;, kadang dengan lelucon yang   bisa salah kaprah dan penuh kata-kata kasar. &quot;Saya tentu tidak   membawanya ke hati, saya katakan pada mereka kalau itu tidak benar,   meski saya tahu mereka tidak benar-benar bermaksud seperti itu.&quot;
Bekerja di pertambangan dikenal dengan gajinya yang tinggi, ia   mengaku bayarannya bisa mencapai AU$ 2.700, atau lebih dari Rp25 juta,   per pekan setelah pajak.
Saat ia pulang dari tugasnya di lokasi tambang, ia lebih banyak   menghabiskan waktunya untuk beristirahat, bertemu anak-anaknya atau   bersama teman-temannya.</content:encoded></item></channel></rss>
