<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Imbas Corona, 6 Perusahaan di Kabupaten Lebak Tutup</title><description>Imbas corona sudah mulai menjangkiti sektor usaha</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/22/320/2202929/imbas-corona-6-perusahaan-di-kabupaten-lebak-tutup</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/04/22/320/2202929/imbas-corona-6-perusahaan-di-kabupaten-lebak-tutup"/><item><title>Imbas Corona, 6 Perusahaan di Kabupaten Lebak Tutup</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/22/320/2202929/imbas-corona-6-perusahaan-di-kabupaten-lebak-tutup</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/04/22/320/2202929/imbas-corona-6-perusahaan-di-kabupaten-lebak-tutup</guid><pubDate>Rabu 22 April 2020 08:52 WIB</pubDate><dc:creator>Yaomi Suhayatmi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/22/320/2202929/imbas-corona-6-perusahaan-di-kabupaten-lebak-tutup-gQlQ9r4TNl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Virus Corona (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/22/320/2202929/imbas-corona-6-perusahaan-di-kabupaten-lebak-tutup-gQlQ9r4TNl.jpg</image><title>Virus Corona (Foto: Okezone)</title></images><description>
JAKARTA - Dahsyatnya pandemi corona atau Covid-19 tidak hanya berdampak terhadap kesehatan akan tetapi juga terhadap ekonomi masyarakat. Di Kabupaten Lebak misalnya, imbas corona sudah  mulai menjangkiti sektor usaha, khususnya pelaku industri pabrik manufaktur maupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Cabang Lebak, Pepep Faisaluddin mengatakan pihaknya menerima laporan 6 perusahaan anggota Apindo tutup akibat dihempas &amp;lsquo;badai&amp;rsquo; corona.

Apindo sendiri merupakan asosiasi yang menaungi tidak kurang dari 100 pengusaha yang beroperasi di Kabupaten Lebak. &amp;ldquo;Hari ini saya mendapatkan laporan PT Sijen Lestari Furniture dan PT Karya Perdana Indonesia yang bergerak dibidang mebel export tutup karena imbas dari wabah virus corona,&amp;rdquo; kata Pepep kepada Okezone, Jakarta, Selasa (21/4/2020)
Baca Juga:&amp;nbsp;Marak PHK akibat Covid-19, Apa Kata Kepala BKPM?&amp;nbsp;
Dengan penutupan tersebut, ratusan karyawan terpaksa diistirahatkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sebelumnya, ia telah menerima laporan, empat perusahaan anggota lainnya telah berhenti beroperasi.&amp;ldquo;Keempat perusahaan yang tutup tersebut adalah PT Balaraja Sembada, PT Parako, Andika Resto, PT Nusa Alam Rubber, PT Balaraja Sembada merupakan rekanan Sandal Homypad,&amp;rdquo;  jelanya.

Dihubungi secara terpisah, Khotib, pemilik PT Balaraja Sembada yang berlokasi di Kecamatan Maja mengatakan sudah satu bulan terakhir ia menutup pabriknya. Selain kesulitan bahan baku yang diimpor dari Tiongkok, pabriknya juga tidak dapat beroperasi karena tidak ada permintaan dari pasar, belum lagi ia juga terkendala dengan masalah pengiriman.

&amp;ldquo;Sebelum corona masuk di Indonesia, kami sudah duluan mengalami kesulitan bahan baku karena bahan baku diimpor dari Tiongkok. Nah ditambah lagi dengan suasana sekarang ya sudah, makin terkapar,&amp;rdquo; jelasnya.

Akibatnya, Khotib terpaksa merumahkan 425 karyawannya, yang tersisa hanya beberapa orang petugas security untuk berjaga pabrik. &amp;ldquo;Produksi padat karya yang kami hasilkan ini kan erat kaitannya dengan fashion, sementara sekarang orang lagi gak mikirin fashion, mikirnya cuma sembako,&amp;rdquo; imbuhnya.

Dijelaskan Khotib, memang bukan hal mudah ketika ia menyampaikan keputusan merumahkan ratusan karayawannya, tapi apa boleh buat untuk saat ini, ia tak punya pilihan lain selain menutup operasional pabrik yang biasanya bisa menghasilkan 700 pasang sandal per hari. &amp;ldquo;Sebenarnya bicara soal kualitas kemampuan karyawan saya ini boleh lah, kami gak cuma terima pesanan Homypad, yang lain pun seperti Nike atau brand lain pun kami siap. Tapi kalau kondisi sekarang berat, bahan baku susah, ngirim juga susah, pesanan gak ada, apalagi tarif listrik juga kan tidak ada keringanan, ya matilah&amp;rdquo; kata pemilik pabrik manufaktur ini.

Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi Apindo dan mendesak pemerintah untuk segera memberikan perhatian kepada para karyawan yang di rumahkan, &amp;ldquo;Instruksi pemerintah sudah jelas, agar warga masyarakat kita membatasi aktivitas di rumah saja, tetapi jika tidak ada penghasilan mau makan apa. Untuk itu, pemerintah harus segera memberikan perhatian kepada para karyawan yang terkena perampingan agar secara real diberikan insentif,&amp;rdquo; desak mantan Ketua DPRD Lebak itu.

Sementara itu, pengusaha Lebak lainnya, Dimyati Andhika meskipun sudah menutup restorannnya, tetapi ia masih berjuang untuk tidak memberhentikan karyawannya. Sekuat tenaga ia mencoba survive dengan menjalankan usahanya secara online. Meskpun tentu saja omzetnya tidak sebesar ketika restorannya tetap buka. Ia pun berharap pemerintah daerah memperhatikan para pelaku usaha seperti dirinya dengan cara menggandeng sebagai mitra.

&amp;ldquo;Saya bingung karena bukan kami saja yang terdampak tapi semuanya. Hal yang bisa mempertahankan usaha kami hanya jika Pemda bekerjasama untuk perbaikan kendaraan dengan Andhika Motor dan pesan makan siang delivery ke andhika resto. Ketika itu dilakukan maka kami tidak perlu merumahkan karyawan yang akan berdampak pada jumlah pengangguran yang semakin banyak di Lebak,&amp;rdquo; harapnya.
Selain membuka usaha restoran, Andhika juga membuka jasa bengkel kendaraan bermotor dan distributor gula aren, meskipun pendapatannya melorot tajam. &amp;ldquo;Untuk bengkel kami masih buka karena masih ada kontrak dengan Polres, begitu juga Semar Food, bidang gula aren kami juga masih buka karena karyawan hanya 3 orang, hanya saja pendapatan melorot sampe 80%&amp;rdquo; kata Andhika.

Kebingungan dan kepanikan para pengusaha seperti Andhika, Khotib dan para anggota Apindo maupun pelaku UMK lainnya, menurut Pepep sangat tidak berlebihan mengingat ketidakpastian ekonomi saat ini. Untuk itu ia mendesak pemerintah segera mengambil langkah kongkret dalam upaya penyelamatan sektor usaha.
&amp;ldquo;Saya berharap pemerintah pusat maupun daerah secara kongkrit bukan sekedar wacana untuk segera memberikan stimulus kepada pengusaha. Stimulus ini penting agar para pengusaha bisa kembali melanjutkan usahanya. Keberadaan mereka sangat berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja yakni warga masyarakat Lebak dan memiliki kontribusi terhadap pendapatan daerah,&amp;rdquo; tegasnya.

Demikian pula, stimulus harus segera diberikan kepada para pengusaha yang saat ini masih berjuang untuk tetap menjalankan roda perusahaanya agar bisa bertahan, segera diberikan insentif. &amp;ldquo;Insentif ini sifatnya sangat urgent untuk segera diberikan agar para pengusaha bisa survive. Misalnya, penundaan pajak, penundaan atau bahkan pembebasan perpanjangan izin, dan insentif lain yang mendukung mereka, jangan dipersulit&amp;rdquo; tegasnya





Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dedi Rahmatullah mengatakan bahwa apa yang menimpa sektor usaha saat ini adalah sesuatu yang harus diterima karena merupakan imbas dari pandemi global. &amp;ldquo;Saya juga sudah memantau dan melakukan pendataan langsung ke lapangan. Memang ini kan bukan hanya terjadi di sini (Kabupaten Lebak), tapi di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Jadi mau gimana juga ya pasti rugi, jadi ditunggu saja sampai pandemi selesai,&amp;rdquo; katanya.
</description><content:encoded>
JAKARTA - Dahsyatnya pandemi corona atau Covid-19 tidak hanya berdampak terhadap kesehatan akan tetapi juga terhadap ekonomi masyarakat. Di Kabupaten Lebak misalnya, imbas corona sudah  mulai menjangkiti sektor usaha, khususnya pelaku industri pabrik manufaktur maupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Cabang Lebak, Pepep Faisaluddin mengatakan pihaknya menerima laporan 6 perusahaan anggota Apindo tutup akibat dihempas &amp;lsquo;badai&amp;rsquo; corona.

Apindo sendiri merupakan asosiasi yang menaungi tidak kurang dari 100 pengusaha yang beroperasi di Kabupaten Lebak. &amp;ldquo;Hari ini saya mendapatkan laporan PT Sijen Lestari Furniture dan PT Karya Perdana Indonesia yang bergerak dibidang mebel export tutup karena imbas dari wabah virus corona,&amp;rdquo; kata Pepep kepada Okezone, Jakarta, Selasa (21/4/2020)
Baca Juga:&amp;nbsp;Marak PHK akibat Covid-19, Apa Kata Kepala BKPM?&amp;nbsp;
Dengan penutupan tersebut, ratusan karyawan terpaksa diistirahatkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sebelumnya, ia telah menerima laporan, empat perusahaan anggota lainnya telah berhenti beroperasi.&amp;ldquo;Keempat perusahaan yang tutup tersebut adalah PT Balaraja Sembada, PT Parako, Andika Resto, PT Nusa Alam Rubber, PT Balaraja Sembada merupakan rekanan Sandal Homypad,&amp;rdquo;  jelanya.

Dihubungi secara terpisah, Khotib, pemilik PT Balaraja Sembada yang berlokasi di Kecamatan Maja mengatakan sudah satu bulan terakhir ia menutup pabriknya. Selain kesulitan bahan baku yang diimpor dari Tiongkok, pabriknya juga tidak dapat beroperasi karena tidak ada permintaan dari pasar, belum lagi ia juga terkendala dengan masalah pengiriman.

&amp;ldquo;Sebelum corona masuk di Indonesia, kami sudah duluan mengalami kesulitan bahan baku karena bahan baku diimpor dari Tiongkok. Nah ditambah lagi dengan suasana sekarang ya sudah, makin terkapar,&amp;rdquo; jelasnya.

Akibatnya, Khotib terpaksa merumahkan 425 karyawannya, yang tersisa hanya beberapa orang petugas security untuk berjaga pabrik. &amp;ldquo;Produksi padat karya yang kami hasilkan ini kan erat kaitannya dengan fashion, sementara sekarang orang lagi gak mikirin fashion, mikirnya cuma sembako,&amp;rdquo; imbuhnya.

Dijelaskan Khotib, memang bukan hal mudah ketika ia menyampaikan keputusan merumahkan ratusan karayawannya, tapi apa boleh buat untuk saat ini, ia tak punya pilihan lain selain menutup operasional pabrik yang biasanya bisa menghasilkan 700 pasang sandal per hari. &amp;ldquo;Sebenarnya bicara soal kualitas kemampuan karyawan saya ini boleh lah, kami gak cuma terima pesanan Homypad, yang lain pun seperti Nike atau brand lain pun kami siap. Tapi kalau kondisi sekarang berat, bahan baku susah, ngirim juga susah, pesanan gak ada, apalagi tarif listrik juga kan tidak ada keringanan, ya matilah&amp;rdquo; kata pemilik pabrik manufaktur ini.

Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi Apindo dan mendesak pemerintah untuk segera memberikan perhatian kepada para karyawan yang di rumahkan, &amp;ldquo;Instruksi pemerintah sudah jelas, agar warga masyarakat kita membatasi aktivitas di rumah saja, tetapi jika tidak ada penghasilan mau makan apa. Untuk itu, pemerintah harus segera memberikan perhatian kepada para karyawan yang terkena perampingan agar secara real diberikan insentif,&amp;rdquo; desak mantan Ketua DPRD Lebak itu.

Sementara itu, pengusaha Lebak lainnya, Dimyati Andhika meskipun sudah menutup restorannnya, tetapi ia masih berjuang untuk tidak memberhentikan karyawannya. Sekuat tenaga ia mencoba survive dengan menjalankan usahanya secara online. Meskpun tentu saja omzetnya tidak sebesar ketika restorannya tetap buka. Ia pun berharap pemerintah daerah memperhatikan para pelaku usaha seperti dirinya dengan cara menggandeng sebagai mitra.

&amp;ldquo;Saya bingung karena bukan kami saja yang terdampak tapi semuanya. Hal yang bisa mempertahankan usaha kami hanya jika Pemda bekerjasama untuk perbaikan kendaraan dengan Andhika Motor dan pesan makan siang delivery ke andhika resto. Ketika itu dilakukan maka kami tidak perlu merumahkan karyawan yang akan berdampak pada jumlah pengangguran yang semakin banyak di Lebak,&amp;rdquo; harapnya.
Selain membuka usaha restoran, Andhika juga membuka jasa bengkel kendaraan bermotor dan distributor gula aren, meskipun pendapatannya melorot tajam. &amp;ldquo;Untuk bengkel kami masih buka karena masih ada kontrak dengan Polres, begitu juga Semar Food, bidang gula aren kami juga masih buka karena karyawan hanya 3 orang, hanya saja pendapatan melorot sampe 80%&amp;rdquo; kata Andhika.

Kebingungan dan kepanikan para pengusaha seperti Andhika, Khotib dan para anggota Apindo maupun pelaku UMK lainnya, menurut Pepep sangat tidak berlebihan mengingat ketidakpastian ekonomi saat ini. Untuk itu ia mendesak pemerintah segera mengambil langkah kongkret dalam upaya penyelamatan sektor usaha.
&amp;ldquo;Saya berharap pemerintah pusat maupun daerah secara kongkrit bukan sekedar wacana untuk segera memberikan stimulus kepada pengusaha. Stimulus ini penting agar para pengusaha bisa kembali melanjutkan usahanya. Keberadaan mereka sangat berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja yakni warga masyarakat Lebak dan memiliki kontribusi terhadap pendapatan daerah,&amp;rdquo; tegasnya.

Demikian pula, stimulus harus segera diberikan kepada para pengusaha yang saat ini masih berjuang untuk tetap menjalankan roda perusahaanya agar bisa bertahan, segera diberikan insentif. &amp;ldquo;Insentif ini sifatnya sangat urgent untuk segera diberikan agar para pengusaha bisa survive. Misalnya, penundaan pajak, penundaan atau bahkan pembebasan perpanjangan izin, dan insentif lain yang mendukung mereka, jangan dipersulit&amp;rdquo; tegasnya





Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dedi Rahmatullah mengatakan bahwa apa yang menimpa sektor usaha saat ini adalah sesuatu yang harus diterima karena merupakan imbas dari pandemi global. &amp;ldquo;Saya juga sudah memantau dan melakukan pendataan langsung ke lapangan. Memang ini kan bukan hanya terjadi di sini (Kabupaten Lebak), tapi di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Jadi mau gimana juga ya pasti rugi, jadi ditunggu saja sampai pandemi selesai,&amp;rdquo; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
