<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Poin Prioritas Pemerintah Dalam Menjaga Ketahanan Ekonomi saat Covid-19</title><description>Pemerintah selalu mengawasi dampak dari penyebaran Covid-19 terhadap perekonomian</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/23/20/2203860/poin-prioritas-pemerintah-dalam-menjaga-ketahanan-ekonomi-saat-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/04/23/20/2203860/poin-prioritas-pemerintah-dalam-menjaga-ketahanan-ekonomi-saat-covid-19"/><item><title>Poin Prioritas Pemerintah Dalam Menjaga Ketahanan Ekonomi saat Covid-19</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/23/20/2203860/poin-prioritas-pemerintah-dalam-menjaga-ketahanan-ekonomi-saat-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/04/23/20/2203860/poin-prioritas-pemerintah-dalam-menjaga-ketahanan-ekonomi-saat-covid-19</guid><pubDate>Kamis 23 April 2020 18:12 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/23/20/2203860/poin-prioritas-pemerintah-dalam-menjaga-ketahanan-ekonomi-saat-covid-19-jlX68qO5EI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Okezone.com/Kemenko Ekonomi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/23/20/2203860/poin-prioritas-pemerintah-dalam-menjaga-ketahanan-ekonomi-saat-covid-19-jlX68qO5EI.jpg</image><title>Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Okezone.com/Kemenko Ekonomi)</title></images><description>JAKARTA -Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pemerintah Indonesia selalu menempatkan keamanan dan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama, di samping menyeimbangkan ketahanan ekonomi dalam menghadapi Covid-19.
Terkait perkembangan ekonomi nasional terkini, pemerintah pun selalu mengawasi dampak dari penyebaran Covid-19 terhadap perekonomian. Ada 6 poin yang menjadi priotias utama.
Pertama, nilai tukar Rupiah, yang pada awalnya melemah pada posisi year to date (ytd), namun menguat akhir-akhir ini. Kedua, ekspor Indonesia di Maret 2020 meningkat 2,9% (ytd).
Baca Juga:&amp;nbsp;Di Tengah Pandemi Covid-19, Menperin: Kita Harus Pastikan Perekonomian Bisa Berjalan
&quot;Kemudian (ketiga), pada kuartal I-2020, investasi naik 8% jika dibandingkan dengan periode sama tahun 2019.
(Keempat) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun mengalami tekanan (ytd), tapi juga membaik dalam beberapa waktu ini,&quot; ujarnya, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/4/2020).
Lalu, penjualan ritel menurun cukup tajam pada Februari 2020, yakni minus 1,9% year on year (yoy). Dan yang terakhir, Per 20 April 2020, penyebaran Covid-19 berdampak kepada lebih dari 2 juta pekerja.
Menyikapi hal tersebut, pemerintah pun telah mengambil beberapa kebijakan ekonomi untuk mengatasinya, yaitu Paket Stimulus I (Februari 2020), untuk menguatkan perekonomian domestik melalui, akselerasi proses penyebaran pengeluaran modal (capital expenditure), penunjukkan pejabat perbendaharaan resmi, implementasi lelang, dan penyaluran bantuan sosial (bansos).
&quot;Transfer Dana Desa; dan Ekspansi jumlah penerima manfaat Kartu Sembako,&quot; tuturnya,Kemudian, Paket Stimulus II (Februari 2020), ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat, likuiditas perusahaan dan kemudahan ekspor-impor, yaitu melalui, stimulus fiskal untuk menyokong industri melalui pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan (sekitar Rp70,1 triliun). Stimulus non fiskal dengan menyederhanakan dan mengurangi hambatan ekspor-impor (manufaktur, makanan dan obat-obatan/alat kesehatan), akselerasi proses ekspor-impor untuk reputable traders, dan layanan ekspor-impor melalui Sistem Logistik Nasional.
Untuk Paket Stimulus Tambahan (April 2020) yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp405,1 triliun, dibagi menjadi:
&amp;bull; Jaring Pengaman Kesehatan (Rp75 triliun) =&amp;gt; untuk pengeluaran layanan kesehatan dan insentif tenaga medis;
&amp;bull; Jaring Pengaman Sosial (Rp110 triliun) =&amp;gt; untuk Program Keluarga Harapan, Program Makanan Pokok/Sembako, pembebasan biaya listrik untuk pelanggan 450 VA selama tiga bulan, insentif perumahan, dan Program Padat Karya;
&amp;bull; Jaring Pengaman Ekonomi (Rp70,1 triliun) =&amp;gt; untuk ekspansi stimulus fiskal kedua dan subsidi bunga kepada debitur KUR, PNM dan Pegadaian; serta
&amp;bull; Program Pemulihan Ekonomi Nasional (Rp150 triliun) =&amp;gt; untuk paket stimulus di bidang keuangan.</description><content:encoded>JAKARTA -Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pemerintah Indonesia selalu menempatkan keamanan dan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama, di samping menyeimbangkan ketahanan ekonomi dalam menghadapi Covid-19.
Terkait perkembangan ekonomi nasional terkini, pemerintah pun selalu mengawasi dampak dari penyebaran Covid-19 terhadap perekonomian. Ada 6 poin yang menjadi priotias utama.
Pertama, nilai tukar Rupiah, yang pada awalnya melemah pada posisi year to date (ytd), namun menguat akhir-akhir ini. Kedua, ekspor Indonesia di Maret 2020 meningkat 2,9% (ytd).
Baca Juga:&amp;nbsp;Di Tengah Pandemi Covid-19, Menperin: Kita Harus Pastikan Perekonomian Bisa Berjalan
&quot;Kemudian (ketiga), pada kuartal I-2020, investasi naik 8% jika dibandingkan dengan periode sama tahun 2019.
(Keempat) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun mengalami tekanan (ytd), tapi juga membaik dalam beberapa waktu ini,&quot; ujarnya, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/4/2020).
Lalu, penjualan ritel menurun cukup tajam pada Februari 2020, yakni minus 1,9% year on year (yoy). Dan yang terakhir, Per 20 April 2020, penyebaran Covid-19 berdampak kepada lebih dari 2 juta pekerja.
Menyikapi hal tersebut, pemerintah pun telah mengambil beberapa kebijakan ekonomi untuk mengatasinya, yaitu Paket Stimulus I (Februari 2020), untuk menguatkan perekonomian domestik melalui, akselerasi proses penyebaran pengeluaran modal (capital expenditure), penunjukkan pejabat perbendaharaan resmi, implementasi lelang, dan penyaluran bantuan sosial (bansos).
&quot;Transfer Dana Desa; dan Ekspansi jumlah penerima manfaat Kartu Sembako,&quot; tuturnya,Kemudian, Paket Stimulus II (Februari 2020), ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat, likuiditas perusahaan dan kemudahan ekspor-impor, yaitu melalui, stimulus fiskal untuk menyokong industri melalui pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan (sekitar Rp70,1 triliun). Stimulus non fiskal dengan menyederhanakan dan mengurangi hambatan ekspor-impor (manufaktur, makanan dan obat-obatan/alat kesehatan), akselerasi proses ekspor-impor untuk reputable traders, dan layanan ekspor-impor melalui Sistem Logistik Nasional.
Untuk Paket Stimulus Tambahan (April 2020) yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp405,1 triliun, dibagi menjadi:
&amp;bull; Jaring Pengaman Kesehatan (Rp75 triliun) =&amp;gt; untuk pengeluaran layanan kesehatan dan insentif tenaga medis;
&amp;bull; Jaring Pengaman Sosial (Rp110 triliun) =&amp;gt; untuk Program Keluarga Harapan, Program Makanan Pokok/Sembako, pembebasan biaya listrik untuk pelanggan 450 VA selama tiga bulan, insentif perumahan, dan Program Padat Karya;
&amp;bull; Jaring Pengaman Ekonomi (Rp70,1 triliun) =&amp;gt; untuk ekspansi stimulus fiskal kedua dan subsidi bunga kepada debitur KUR, PNM dan Pegadaian; serta
&amp;bull; Program Pemulihan Ekonomi Nasional (Rp150 triliun) =&amp;gt; untuk paket stimulus di bidang keuangan.</content:encoded></item></channel></rss>
