<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mampukah Anak Negeri Penuhi Kebutuhan Ventilator di Dalam Negeri?</title><description>Kebutuhan alat bantu pernapasan alias ventilator sudah sangat mendesak di tengah virus corona ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/26/320/2205202/mampukah-anak-negeri-penuhi-kebutuhan-ventilator-di-dalam-negeri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/04/26/320/2205202/mampukah-anak-negeri-penuhi-kebutuhan-ventilator-di-dalam-negeri"/><item><title>Mampukah Anak Negeri Penuhi Kebutuhan Ventilator di Dalam Negeri?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/26/320/2205202/mampukah-anak-negeri-penuhi-kebutuhan-ventilator-di-dalam-negeri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/04/26/320/2205202/mampukah-anak-negeri-penuhi-kebutuhan-ventilator-di-dalam-negeri</guid><pubDate>Minggu 26 April 2020 20:25 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/26/320/2205202/mampukah-anak-negeri-penuhi-kebutuhan-ventilator-di-dalam-negeri-DzoidzMt4S.jfif" expression="full" type="image/jpeg">Virus Corona (Foto: Ilustrasi Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/26/320/2205202/mampukah-anak-negeri-penuhi-kebutuhan-ventilator-di-dalam-negeri-DzoidzMt4S.jfif</image><title>Virus Corona (Foto: Ilustrasi Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Kebutuhan alat bantu pernapasan alias ventilator sudah sangat mendesak di tengah virus corona. Sebab, Indonesia masih sangat kekurangan alat kesehatan ini dan mengaku kesulitan untuk mendapatkan alat kesehatan dari negara lain.
Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mengatakan, memang saat ini sudah ada perguruan tinggi yang berkolaborasi untuk membuat alat bantu pernapasan tersebut. Namun, jika disimpulkan, dirinya belum melihat jika hal tersebut tidak bisa dijadikan patokan.
Baca Juga: Ekspor Produk Perhiasan RI Berhenti Total akibat Corona
 
Apalagi jika perguruan tinggi dituntut untuk memenuhi kebutuhan industri. Sangat sulit perguruan tinggi untuk merealisasikan hal tersebut mengingat kebutuhan industri apalagi di tengah virus corona ini sangat tinggi.
&quot;Kalau kita bicara dalam tahap mulai membuat, tentunya belum bisa disimpulkan kalau perguruan tinggi sdh mampu memenuhi kebutuhan industri,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Minggu (26/4/2020).
Lagi pula lanjut Indra, perguruan tinggi bukanlah tempat untuk memproduksi barang seperti ventilator. Perguruan tinggi hanya bertugas untuk melakukan riset untuk nantinya riset tersebut diberikan kepada para pelaku industri untuk diproduksi.
&amp;nbsp;
&quot;Disisi lain universitas bukan tempat untuk memproduksi apapun. Universitas adalah tempat riset. Jadi kalau riset-riset dilakukan di Universitas itu sudah tepat, produksi harus serahkan ke industri biar menyerap tenaga kerja. Yang bener sih gitu. Kan universitas bukan industri,&quot; ucapnya.
Hal ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.  Agus memandang sejumlah perguruan tinggi di Indonesia memiliki kesiapan dan kemampuan untuk memproduksi alat kesehatan seperti ventilator atau alat bantu pernapasan.Produksi ventilator ini menjadi salah satu hal penting saat ini  karena dibutuhkan dalam cukup banyak sebagai upaya percepatan penanganan  Covid-19. Ada beberapa perguruan tinggi yang siap membantu untuk  memproduksi ventilator.
Adapun empat perguruan tinggi yang sedang melakukan proses produksi  ventilator di Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas  Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, dan Institut  Teknologi Bandung.
Baca Juga:Rencana Penghentian KRL, Penumpang: Mau Makan Apa Kalau Libur Kerja
 
&quot;Kami mendapat laporan, tim dari perguruan tinggi sudah memiliki  mitra dalam upaya memproduksi ventilator. Namun, mereka punya  keterbatasan khususnya terkait ketersediaan bahan baku dan rantai  pasok,&amp;rdquo; kata Agus beberapa waktu lalu.
Beberapa hari setelah perintah dari Menperin, Gubernur Jawa Barat  Ridwan Kamil mengunggah sebuah kabar gembira terkait penanganan corona  virus disease (covid-19) di Indonesia. Ia mengungkapkan kini PT Pindad  di Kota Bandung sudah dapat memproduksi alat ventilator yang biasa  digunakan pasien terpapar virus corona.

Kang Emil sapaan akrabnya menyatakan harga ventilator karya anak  bangsa ini sangat terjangkau, yakni hanya belasan juta rupiah. Jauh  lebih murah dibanding ventilator buatan luar negeri yang biasa dipakai.
&quot;Berita gembira. Ventilator untuk pasien covid yang selama ini impor  dan mahal sekitar 500&amp;ndash;700 juta rupiah per unit, sekarang bisa turun  menjadi hanya 10&amp;ndash;15 juta rupiah per unit produksi PT Pindad untuk tipe  pasien akut dan PT Dirgantara Indonesia untuk tipe pasien moderat,&quot;  ungkap Emil.Mantan Walikota Bandung itu menerangkan, PT Pindad yang biasanya   memproduksi senjata, kini bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI)   dan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk bisa memproduksi 200  ventilator  setiap bulannya.
Kemudian PT DI, lanjut dia, yang biasanya memproduksi pesawat   terbang, sekarang berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB)   serta Yayasan Salman ITB bisa memproduksi 500 ventilator per minggu.
Dia menyatakan inilah kerja bersama dari para inventor serta industri   di Jawa Barat untuk Indonesia dan dunia dalam menangani masalah virus   corona.
Baca Juga: Viral Bupati Marah-Marah dan Kritik Penyaluran Bansos Covid-19
 
&quot;Insya Allah semua rumah sakit yang merawat pasien covid tidak akan   kekurangan alat bantu pernapasan atau ventilator lagi dan tidak usah   impor lagi. Dan insya Allah, optimis #KitaPastiMenang,&quot; tegasnya.
Sementara itu, PT Pindad juga bersiap untuk memasok alat kesehatan   ventilator untuk industri. Apalagi kebutuhan alat bantu pernapasan ini   sudah sangat mendesak.
Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose menjelaskan progress   ventilator VRM (Ventilator Resusitator Manual) yang saat ini dalam  tahap  sertifikasi kelaikan dan rencana produksi ke depan. Menuruntya   prototype (ventilator) saat ini sudah diuji bekerjasama dengan dokter   rumah sakit Pindad.
&amp;nbsp;
Selain itu, Pindad juga bekerja sama dengan instansi dan universitas   lainnya mengembangkan dan memproduksi ventilator varian lain, salah   satunya Covent-20, ventilator darurat dan transportasi bekerjasama   dengan Universitas Indonesia.
&quot;Sedang proses sertifikasi kelaikan di Balai Pengamanan Fasilitas   Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan,&quot; kata dia seperti dilansir dari   situs Pindad. Pada prinsipnya Pindad siap untuk mendukung dan   memproduksi kebutuhan ventilator di Jawa Barat maupun nasional. Ke   depannya, PT Pindad akan melaksanakan produksi Pindad VRM dengan   perencanaan produksi 40 unit per hari,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kebutuhan alat bantu pernapasan alias ventilator sudah sangat mendesak di tengah virus corona. Sebab, Indonesia masih sangat kekurangan alat kesehatan ini dan mengaku kesulitan untuk mendapatkan alat kesehatan dari negara lain.
Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mengatakan, memang saat ini sudah ada perguruan tinggi yang berkolaborasi untuk membuat alat bantu pernapasan tersebut. Namun, jika disimpulkan, dirinya belum melihat jika hal tersebut tidak bisa dijadikan patokan.
Baca Juga: Ekspor Produk Perhiasan RI Berhenti Total akibat Corona
 
Apalagi jika perguruan tinggi dituntut untuk memenuhi kebutuhan industri. Sangat sulit perguruan tinggi untuk merealisasikan hal tersebut mengingat kebutuhan industri apalagi di tengah virus corona ini sangat tinggi.
&quot;Kalau kita bicara dalam tahap mulai membuat, tentunya belum bisa disimpulkan kalau perguruan tinggi sdh mampu memenuhi kebutuhan industri,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Minggu (26/4/2020).
Lagi pula lanjut Indra, perguruan tinggi bukanlah tempat untuk memproduksi barang seperti ventilator. Perguruan tinggi hanya bertugas untuk melakukan riset untuk nantinya riset tersebut diberikan kepada para pelaku industri untuk diproduksi.
&amp;nbsp;
&quot;Disisi lain universitas bukan tempat untuk memproduksi apapun. Universitas adalah tempat riset. Jadi kalau riset-riset dilakukan di Universitas itu sudah tepat, produksi harus serahkan ke industri biar menyerap tenaga kerja. Yang bener sih gitu. Kan universitas bukan industri,&quot; ucapnya.
Hal ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.  Agus memandang sejumlah perguruan tinggi di Indonesia memiliki kesiapan dan kemampuan untuk memproduksi alat kesehatan seperti ventilator atau alat bantu pernapasan.Produksi ventilator ini menjadi salah satu hal penting saat ini  karena dibutuhkan dalam cukup banyak sebagai upaya percepatan penanganan  Covid-19. Ada beberapa perguruan tinggi yang siap membantu untuk  memproduksi ventilator.
Adapun empat perguruan tinggi yang sedang melakukan proses produksi  ventilator di Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas  Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, dan Institut  Teknologi Bandung.
Baca Juga:Rencana Penghentian KRL, Penumpang: Mau Makan Apa Kalau Libur Kerja
 
&quot;Kami mendapat laporan, tim dari perguruan tinggi sudah memiliki  mitra dalam upaya memproduksi ventilator. Namun, mereka punya  keterbatasan khususnya terkait ketersediaan bahan baku dan rantai  pasok,&amp;rdquo; kata Agus beberapa waktu lalu.
Beberapa hari setelah perintah dari Menperin, Gubernur Jawa Barat  Ridwan Kamil mengunggah sebuah kabar gembira terkait penanganan corona  virus disease (covid-19) di Indonesia. Ia mengungkapkan kini PT Pindad  di Kota Bandung sudah dapat memproduksi alat ventilator yang biasa  digunakan pasien terpapar virus corona.

Kang Emil sapaan akrabnya menyatakan harga ventilator karya anak  bangsa ini sangat terjangkau, yakni hanya belasan juta rupiah. Jauh  lebih murah dibanding ventilator buatan luar negeri yang biasa dipakai.
&quot;Berita gembira. Ventilator untuk pasien covid yang selama ini impor  dan mahal sekitar 500&amp;ndash;700 juta rupiah per unit, sekarang bisa turun  menjadi hanya 10&amp;ndash;15 juta rupiah per unit produksi PT Pindad untuk tipe  pasien akut dan PT Dirgantara Indonesia untuk tipe pasien moderat,&quot;  ungkap Emil.Mantan Walikota Bandung itu menerangkan, PT Pindad yang biasanya   memproduksi senjata, kini bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI)   dan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk bisa memproduksi 200  ventilator  setiap bulannya.
Kemudian PT DI, lanjut dia, yang biasanya memproduksi pesawat   terbang, sekarang berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB)   serta Yayasan Salman ITB bisa memproduksi 500 ventilator per minggu.
Dia menyatakan inilah kerja bersama dari para inventor serta industri   di Jawa Barat untuk Indonesia dan dunia dalam menangani masalah virus   corona.
Baca Juga: Viral Bupati Marah-Marah dan Kritik Penyaluran Bansos Covid-19
 
&quot;Insya Allah semua rumah sakit yang merawat pasien covid tidak akan   kekurangan alat bantu pernapasan atau ventilator lagi dan tidak usah   impor lagi. Dan insya Allah, optimis #KitaPastiMenang,&quot; tegasnya.
Sementara itu, PT Pindad juga bersiap untuk memasok alat kesehatan   ventilator untuk industri. Apalagi kebutuhan alat bantu pernapasan ini   sudah sangat mendesak.
Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose menjelaskan progress   ventilator VRM (Ventilator Resusitator Manual) yang saat ini dalam  tahap  sertifikasi kelaikan dan rencana produksi ke depan. Menuruntya   prototype (ventilator) saat ini sudah diuji bekerjasama dengan dokter   rumah sakit Pindad.
&amp;nbsp;
Selain itu, Pindad juga bekerja sama dengan instansi dan universitas   lainnya mengembangkan dan memproduksi ventilator varian lain, salah   satunya Covent-20, ventilator darurat dan transportasi bekerjasama   dengan Universitas Indonesia.
&quot;Sedang proses sertifikasi kelaikan di Balai Pengamanan Fasilitas   Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan,&quot; kata dia seperti dilansir dari   situs Pindad. Pada prinsipnya Pindad siap untuk mendukung dan   memproduksi kebutuhan ventilator di Jawa Barat maupun nasional. Ke   depannya, PT Pindad akan melaksanakan produksi Pindad VRM dengan   perencanaan produksi 40 unit per hari,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
