<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Efek Corona, Ekonomi RI Diproyeksi Kembali Pulih Akhir 2021</title><description>Selain menyebabkan mandeknya berbagai bidang usaha, pandemi virus corona  atau covid-19 juga berpotensi mengubah tatanan ekonomi dunia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/27/20/2205736/efek-corona-ekonomi-ri-diproyeksi-kembali-pulih-akhir-2021</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/04/27/20/2205736/efek-corona-ekonomi-ri-diproyeksi-kembali-pulih-akhir-2021"/><item><title>Efek Corona, Ekonomi RI Diproyeksi Kembali Pulih Akhir 2021</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/27/20/2205736/efek-corona-ekonomi-ri-diproyeksi-kembali-pulih-akhir-2021</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/04/27/20/2205736/efek-corona-ekonomi-ri-diproyeksi-kembali-pulih-akhir-2021</guid><pubDate>Senin 27 April 2020 20:17 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/27/20/2205736/efek-corona-ekonomi-ri-diproyeksi-kembali-pulih-akhir-2021-MYwcutxIze.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/27/20/2205736/efek-corona-ekonomi-ri-diproyeksi-kembali-pulih-akhir-2021-MYwcutxIze.jpg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Selain menyebabkan mandeknya berbagai bidang usaha, pandemi virus corona atau covid-19 juga berpotensi mengubah tatanan ekonomi dunia yang ditandai dengan berubahnya peta perdagangan dunia.
Kinerja perdagangan global dipastikan akan terganggu akibat lambatnya perbaikan kinerja manufaktur, khususnya di China hingga menjelang semester pertama tahun ini.
Di tambah dengan jalur distribusi logistik yang juga terganggu, dampak negatif mau tak mau akan menerpa ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.
Baca Juga: Revisi PMK Nomor 23, Sri Mulyani Beri Insentif Rp35 Triliun untuk 18 Sektor Industri
Menurut uji simulasi pandemi dengan model sistem dinamik, pandemi corona virus di Indonesia diperkirakan akan reda pada awal Juni 2020. Lantas, jika wabah covid-19 di Indonesia diperkirakan baru bisa mereda pada Juni 2020, bagaimana dengan pemulihan ekonomi Indonesia?
&amp;ldquo;Tentunya proses pemulihan ekonomi akan membutuhkan waktu yang lebih panjang, setidaknya sampai akhir 2021,&amp;rdquo; kata peneliti Visi Teliti Saksama M Widyar Rahman dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (27/4/2020).
Pandemi tidak akan bertahan bertahun-tahun di Indonesia. Melalui peran aktif seluruh warga negara, penurunan jumlah kasus covid-19, seharusnya dapat lebih cepat dari perkiraan model tersebut. Namun, hal ini tetap dipengaruhi oleh kebijakan yang diambil pemerintah dalam upaya menekan penyebarannya.
Baca Juga:&amp;nbsp;11 Sektor Dapat Insentif Pajak, Ini Aturan Mainnya
&amp;ldquo;Kami memperkirakan, peningkatan permintaan barang dan jasa akan terjadi di bulan Ramadhan dan Idul Fitri, meski tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, sedikit kenaikan permintaan ini belum cukup untuk mengkompensasi cedera pada industri,&amp;rdquo; tuturnya.
Pasalnya, pemenuhan stok yang seharusnya dilakukan dua sampai tiga bulan jelang Ramadhan tidak bisa terpenuhi akibat impor yang mandek. Melihat dampaknya yang masif, kerugian yang ditimbulkan pamdemi covid-19 tentu tidak main-main.
&amp;ldquo;Jika dibandingkan wabah SARS 2002&amp;ndash;2003 yang juga berasal dari China, dampak negatif dari merebaknya covid-19 terhadap perekonomian akan jauh lebih luas,&amp;rdquo; lanjutnya.Dalam kaitan analisa dampak ini, Visi  mengumpulkan berbagai  informasi untuk memperkirakan dampak yang terjadi pada perekonomian  Indonesia. Adapun studi dilakukan di bulan Februari hingga awal Maret.  Analisa yang dilakukan berawal dengan melihat hubungan ekonomi antara  Indonesia dengan China, sebagai episentrum awal penyebaran virus.
Dalam lima tahun terakhir, China selalu menempati tiga besar mitra  dagang utama Indonesia. Malahan, sejak tahun 2014, China merupakan  negara asal impor dengan nilai terbesar bagi Indonesia.
Berdasar kategori barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal  sepanjang Januari hingga Desember 2019, makin kentara ketergantungan  Indonesia terhadap China. Dari ketiga kategori barang yang diimpor oleh  negara ini, sebanyak 37% barang konsumsi, 25% bahan baku penolong, dan  44% barang modal jelas diimpor dari China.
Dalam hal investasi langsung, selama rentang lima tahun terakhir  (2016&amp;mdash;2019), Indonesia menerima aliran investasi China sebesar USD13,2  miliar atau peringkat ketiga terbesar bagi Indonesia.
Selain di bidang investasi, China juga memiliki peran besar dalam  sektor pariwisata di Indonesia. Dalam kurun 8 tahun, turis China  meningkat jumlahnya sebanyak 309%, yaitu dari 511 ribu pada tahun 2010  menjadi 2,14 juta pada tahun 2017.Peneliti Senior Visi , Sita Wardhani menuturkan, dari sisi produksi,   rata-rata produsen dalam negeri memiliki stok bahan baku hingga Maret   dan April 2020. Jika pada bulan-bulan tersebut belum juga ada pasokan   dari China atau hanya terpenuhi sedikit, proses produksi pabrik di   Indonesia dapat terhambat.
&amp;ldquo;Dampak minimum pada perekonomian adalah dengan asumsi perekonomian China bangkit dan kembali aktif di bulan April,&amp;rdquo; kata Sita.
Ada sedikit harapan dari rilis Biro Statistik Nasional (NBS) China   soal Indeks Pembelian Manajer (Purchasing Manager Index/PMI) resmi China   yang naik menjadi 52 pada Maret. Pada bulan Februari, ketika pandemi   meninggi, PMI China hanya 35,7, rekor terendah yang pernah dialami   China. Untuk informasi, angka di atas 50 menunjukkan, industri mengalami   ekspansi. Sebaliknya, angka di bawah 50 menggambarkan kondisi   kontraksi.
Masih menurut NBS, industri China memperoleh 370,66 miliar yuan atau   USD52,43 miliar pada Maret 2020. Nilai tersebut turun 34,9%  dibandingkan  tahun sebelumnya, dan melanjutkan tren di Januari-Februari  yang  tercatat turun 38,3%. Setidaknya, menurut NBS ada delapan dari 41  sektor  industri yang disurvei mencatat kenaikan laba pada Maret.  Kondisi ini  lebih baik dibandingkan Januari-Februari yang mencatat  hanya empat  sektor mengalami kenaikan laba.
Tapi, hal ini diyakini belum menandakan stabilisasi dalam kegiatan   ekonomi. Pasalnya, di tengah biaya produksi yang makin tinggi karena   terganggunya jalur distribusi, permintaan pasar juga belum sembuh   sepenuhnya. Apalagi, ada penurunan permintaan impor dari negara lain,   termasuk Indonesia.
&amp;ldquo;Namun jika masa pemulihan yang dialami China lebih lama lagi, asumsi   China baru berproduksi kembali di bulan Juni, artinya proses impor  baru  bisa dilakukan di bulan Juli. Dengan begitu, dampak resesi yang   dihadapi Indonesia akan lebih dalam lagi,&amp;rdquo; cetusnya.
Selain dialami industri mamin, lanjutnya, gangguan lebih dalam juga   bakal dialami industri manufaktur lain. Dampak dari kelangkaan bahan   baku ini akan membawa inflasi yang lebih tinggi karena industri   manufaktur tidak mampu memenuhi permintaan dan memicu terjadinya   shortage.
Di sisi lain, dengan inflasi yang tinggi, tentu rumah tangga akan   menurunkan konsumsinya. Padahal kontribusi terbesar dari pertumbuhan   ekonomi Indonesia sejauh ini adalah konsumsi rumah tangga.
&amp;ldquo;Dengan tingkat inflasi tinggi, konsumsi rumah tangga juga turun   sejalan dengan daya beli yang juga menurun. Imbasnya, pertumbuhan   ekonomi pun dapat terpuruk lebih jauh,&amp;rdquo; tutur Sita.</description><content:encoded>JAKARTA - Selain menyebabkan mandeknya berbagai bidang usaha, pandemi virus corona atau covid-19 juga berpotensi mengubah tatanan ekonomi dunia yang ditandai dengan berubahnya peta perdagangan dunia.
Kinerja perdagangan global dipastikan akan terganggu akibat lambatnya perbaikan kinerja manufaktur, khususnya di China hingga menjelang semester pertama tahun ini.
Di tambah dengan jalur distribusi logistik yang juga terganggu, dampak negatif mau tak mau akan menerpa ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.
Baca Juga: Revisi PMK Nomor 23, Sri Mulyani Beri Insentif Rp35 Triliun untuk 18 Sektor Industri
Menurut uji simulasi pandemi dengan model sistem dinamik, pandemi corona virus di Indonesia diperkirakan akan reda pada awal Juni 2020. Lantas, jika wabah covid-19 di Indonesia diperkirakan baru bisa mereda pada Juni 2020, bagaimana dengan pemulihan ekonomi Indonesia?
&amp;ldquo;Tentunya proses pemulihan ekonomi akan membutuhkan waktu yang lebih panjang, setidaknya sampai akhir 2021,&amp;rdquo; kata peneliti Visi Teliti Saksama M Widyar Rahman dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (27/4/2020).
Pandemi tidak akan bertahan bertahun-tahun di Indonesia. Melalui peran aktif seluruh warga negara, penurunan jumlah kasus covid-19, seharusnya dapat lebih cepat dari perkiraan model tersebut. Namun, hal ini tetap dipengaruhi oleh kebijakan yang diambil pemerintah dalam upaya menekan penyebarannya.
Baca Juga:&amp;nbsp;11 Sektor Dapat Insentif Pajak, Ini Aturan Mainnya
&amp;ldquo;Kami memperkirakan, peningkatan permintaan barang dan jasa akan terjadi di bulan Ramadhan dan Idul Fitri, meski tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, sedikit kenaikan permintaan ini belum cukup untuk mengkompensasi cedera pada industri,&amp;rdquo; tuturnya.
Pasalnya, pemenuhan stok yang seharusnya dilakukan dua sampai tiga bulan jelang Ramadhan tidak bisa terpenuhi akibat impor yang mandek. Melihat dampaknya yang masif, kerugian yang ditimbulkan pamdemi covid-19 tentu tidak main-main.
&amp;ldquo;Jika dibandingkan wabah SARS 2002&amp;ndash;2003 yang juga berasal dari China, dampak negatif dari merebaknya covid-19 terhadap perekonomian akan jauh lebih luas,&amp;rdquo; lanjutnya.Dalam kaitan analisa dampak ini, Visi  mengumpulkan berbagai  informasi untuk memperkirakan dampak yang terjadi pada perekonomian  Indonesia. Adapun studi dilakukan di bulan Februari hingga awal Maret.  Analisa yang dilakukan berawal dengan melihat hubungan ekonomi antara  Indonesia dengan China, sebagai episentrum awal penyebaran virus.
Dalam lima tahun terakhir, China selalu menempati tiga besar mitra  dagang utama Indonesia. Malahan, sejak tahun 2014, China merupakan  negara asal impor dengan nilai terbesar bagi Indonesia.
Berdasar kategori barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal  sepanjang Januari hingga Desember 2019, makin kentara ketergantungan  Indonesia terhadap China. Dari ketiga kategori barang yang diimpor oleh  negara ini, sebanyak 37% barang konsumsi, 25% bahan baku penolong, dan  44% barang modal jelas diimpor dari China.
Dalam hal investasi langsung, selama rentang lima tahun terakhir  (2016&amp;mdash;2019), Indonesia menerima aliran investasi China sebesar USD13,2  miliar atau peringkat ketiga terbesar bagi Indonesia.
Selain di bidang investasi, China juga memiliki peran besar dalam  sektor pariwisata di Indonesia. Dalam kurun 8 tahun, turis China  meningkat jumlahnya sebanyak 309%, yaitu dari 511 ribu pada tahun 2010  menjadi 2,14 juta pada tahun 2017.Peneliti Senior Visi , Sita Wardhani menuturkan, dari sisi produksi,   rata-rata produsen dalam negeri memiliki stok bahan baku hingga Maret   dan April 2020. Jika pada bulan-bulan tersebut belum juga ada pasokan   dari China atau hanya terpenuhi sedikit, proses produksi pabrik di   Indonesia dapat terhambat.
&amp;ldquo;Dampak minimum pada perekonomian adalah dengan asumsi perekonomian China bangkit dan kembali aktif di bulan April,&amp;rdquo; kata Sita.
Ada sedikit harapan dari rilis Biro Statistik Nasional (NBS) China   soal Indeks Pembelian Manajer (Purchasing Manager Index/PMI) resmi China   yang naik menjadi 52 pada Maret. Pada bulan Februari, ketika pandemi   meninggi, PMI China hanya 35,7, rekor terendah yang pernah dialami   China. Untuk informasi, angka di atas 50 menunjukkan, industri mengalami   ekspansi. Sebaliknya, angka di bawah 50 menggambarkan kondisi   kontraksi.
Masih menurut NBS, industri China memperoleh 370,66 miliar yuan atau   USD52,43 miliar pada Maret 2020. Nilai tersebut turun 34,9%  dibandingkan  tahun sebelumnya, dan melanjutkan tren di Januari-Februari  yang  tercatat turun 38,3%. Setidaknya, menurut NBS ada delapan dari 41  sektor  industri yang disurvei mencatat kenaikan laba pada Maret.  Kondisi ini  lebih baik dibandingkan Januari-Februari yang mencatat  hanya empat  sektor mengalami kenaikan laba.
Tapi, hal ini diyakini belum menandakan stabilisasi dalam kegiatan   ekonomi. Pasalnya, di tengah biaya produksi yang makin tinggi karena   terganggunya jalur distribusi, permintaan pasar juga belum sembuh   sepenuhnya. Apalagi, ada penurunan permintaan impor dari negara lain,   termasuk Indonesia.
&amp;ldquo;Namun jika masa pemulihan yang dialami China lebih lama lagi, asumsi   China baru berproduksi kembali di bulan Juni, artinya proses impor  baru  bisa dilakukan di bulan Juli. Dengan begitu, dampak resesi yang   dihadapi Indonesia akan lebih dalam lagi,&amp;rdquo; cetusnya.
Selain dialami industri mamin, lanjutnya, gangguan lebih dalam juga   bakal dialami industri manufaktur lain. Dampak dari kelangkaan bahan   baku ini akan membawa inflasi yang lebih tinggi karena industri   manufaktur tidak mampu memenuhi permintaan dan memicu terjadinya   shortage.
Di sisi lain, dengan inflasi yang tinggi, tentu rumah tangga akan   menurunkan konsumsinya. Padahal kontribusi terbesar dari pertumbuhan   ekonomi Indonesia sejauh ini adalah konsumsi rumah tangga.
&amp;ldquo;Dengan tingkat inflasi tinggi, konsumsi rumah tangga juga turun   sejalan dengan daya beli yang juga menurun. Imbasnya, pertumbuhan   ekonomi pun dapat terpuruk lebih jauh,&amp;rdquo; tutur Sita.</content:encoded></item></channel></rss>
