<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Dorong Skema Kemitraan Pariwisata Baru dalam &quot;New Normal&quot; di ASEAN</title><description>Angela Tanoesoedibjo menegaskan kembali dukungan Indonesia dalam pengembangan pariwisata digital.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/29/320/2206903/indonesia-dorong-skema-kemitraan-pariwisata-baru-dalam-new-normal-di-asean</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/04/29/320/2206903/indonesia-dorong-skema-kemitraan-pariwisata-baru-dalam-new-normal-di-asean"/><item><title>Indonesia Dorong Skema Kemitraan Pariwisata Baru dalam &quot;New Normal&quot; di ASEAN</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/04/29/320/2206903/indonesia-dorong-skema-kemitraan-pariwisata-baru-dalam-new-normal-di-asean</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/04/29/320/2206903/indonesia-dorong-skema-kemitraan-pariwisata-baru-dalam-new-normal-di-asean</guid><pubDate>Rabu 29 April 2020 21:28 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/29/320/2206903/indonesia-dorong-skema-kemitraan-pariwisata-baru-dalam-new-normal-di-asean-v3DkOgJpJS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo (Foto: Okezone.com/dok. Kemenparekraf)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/29/320/2206903/indonesia-dorong-skema-kemitraan-pariwisata-baru-dalam-new-normal-di-asean-v3DkOgJpJS.jpg</image><title>Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo (Foto: Okezone.com/dok. Kemenparekraf)</title></images><description>JAKARTA - Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo menegaskan kembali dukungan Indonesia dalam pengembangan pariwisata digital dan memasukkannya ke Rencana Strategis Pariwisata ASEAN 2016-2025.
Angela Tanoesoedibjo saat berbicara dalam Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), Rabu (29/4/2020), mengatakan pertemuan yang dihadiri para menteri pariwisata dari negara-negara ASEAN ini sangatlah penting sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap pariwisata yang merupakan sektor paling terdampak wabah COVID-19. Tidak hanya dapat bertahan dalam masa yang sulit ini, tapi juga dapat segera pulih setelah pandemi berakhir.
Baca Juga:&amp;nbsp;Industri Pariwisata Diprediksi Kembali Booming Tahun Depan, Ini Faktanya!
&quot;Saya ingin menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk mendukung program dan kegiatan, dalam konteks Rencana Strategis Pariwisata ASEAN dan banyak lagi, terutama di masa-masa sulit ini untuk mendorong kegiatan yang dapat mempercepat pemulihan pariwisata di ASEAN,&quot; kata Angela dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2020).
M-ATM COVID-19 dipimpin oleh Kamboja selaku Chair dan Indonesia sebagai Vice-Chair. Negara-negara anggota ASEAN yang berpartisipasi dalam agenda ini adalah Brunei Darussalam, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Pertemuan ini merupakan gagasan Menteri Wishnutama Kusubandio untuk membahas dampak COVID-19 terhadap pariwisata di ASEAN, sekaligus menemukan solusi kerja sama untuk memitigasinya.

Angela mengatakan, sejak kasus COVID-19 terkonfirmasi pertama kali di Indonesia pada awal Maret 2020, pemerintah Indonesia telah bersiap menghadapi dampak yang tak dapat dipungkiri. Pemerintah Indonesia bekerja keras untuk mengatasi dampak pandemi ini di bawah kebijakan stimulus ekonomi dengan anggaran lebih dari 24 miliar dolar AS untuk jaring pengamanan sosial, keringanan pajak, bantuan bagi pekerja yang terdampak, dan lain sebagainya.
Khusus di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan tiga langkah utama. Yakni program perlindungan sosial untuk para pekerja, stimulus ekonomi untuk bisnis di sektor ini, serta realokasi anggaran kementerian ke dalam berbagai program yang diantaranya padat karya. Untuk mengimplemenasi instruksi tersebut, Angela mengatakan Kemenparekraf telah memformulasikan berbagai program dan aktivitas untuk mendukung lebih dari 13 juta tenaga kerja langsung dan 32,5 juta tenaga kerja tidak langsung di sektor pariwisata Indonesia.Program dan aktivitas itu diantaranya mendistribusikan kebutuhan  sehari-hari serta perlengkapan kebersihan dan sanitasi, juga pelathian  dan peningkatan keterampilan bagi para pekerja pariwisata yang  terdampak, serta menerapkan standar protokol untuk kesehatan, kebersihan  dan keselamatan di destinasi.
&quot;Kami juga bekerja sama dengan sektor swasta untuk mendukung ribuan  tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam menghadapi COVID-19 dengan  penyediaan akomodasi, layanan antar-jemput (transportasi), makanan dan  minuman, serta binatu,&quot; kata Angela.
Kerja sama ini juga sebagai  bentuk dukungan Kemenparekraf terhadap industri pariwisata yakni bisnis  hotel dan transportasi agar tetap bisa mempekerjakan pegawainya. Di sisi  lain, Angela mengatakan, saat ini kita melihat bagaimana teknologi dan  media digital memberi cara baru dalam rutinitas dan kehidupan yang akan  menjadi &quot;New Normal&quot;. Untuk itu ia kembali menegaskan dukungan Indonesia  untuk memasukkan pariwisata digital ke Rencana Strategis Pariwisata  ASEAN 2016-2025.
&amp;ldquo;Pandemi ini akan membawa kita pada kondisi &quot;New Normal&quot;. Di samping  mendorong pentingnya standar kesehatan dan kebersihan bagi para  profesional pariwisata, melalui pertemuan virtual ini, kita ditunjukkan  bagaimana teknologi dan media digital membawa kita pada rutinitas dan  cara hidup yang baru. Ini yang akan segera kita alami dalam industri  pariwisata kita,&amp;rdquo; ujar Angela.
&quot;Kita harus menanggapi tantangan bersama ini dengan bekerja sama. Bersama kita akan kuat,&quot; kata Angela.
Special  Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease  2019 (COVID-19) kemudian menghasilkan dua hal penting, yakni  Consolidated Paper dan Joint Statement. Consolidated Paper digunakan  sebagai referensi mengenai penilaian dan langkah awal mengurangi dampak  COVID-19 terhadap negara anggota ASEAN.
Sedangkan Joint Statement  memuat komitmen para negara, usulan pembentukan ASEAN Tourism Crisis  Communication Team, dan eksplorasi kebijakan bersama untuk dibahas oleh  para Head of National Tourism Organisations (NTOs) and Committee.</description><content:encoded>JAKARTA - Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo menegaskan kembali dukungan Indonesia dalam pengembangan pariwisata digital dan memasukkannya ke Rencana Strategis Pariwisata ASEAN 2016-2025.
Angela Tanoesoedibjo saat berbicara dalam Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), Rabu (29/4/2020), mengatakan pertemuan yang dihadiri para menteri pariwisata dari negara-negara ASEAN ini sangatlah penting sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap pariwisata yang merupakan sektor paling terdampak wabah COVID-19. Tidak hanya dapat bertahan dalam masa yang sulit ini, tapi juga dapat segera pulih setelah pandemi berakhir.
Baca Juga:&amp;nbsp;Industri Pariwisata Diprediksi Kembali Booming Tahun Depan, Ini Faktanya!
&quot;Saya ingin menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk mendukung program dan kegiatan, dalam konteks Rencana Strategis Pariwisata ASEAN dan banyak lagi, terutama di masa-masa sulit ini untuk mendorong kegiatan yang dapat mempercepat pemulihan pariwisata di ASEAN,&quot; kata Angela dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2020).
M-ATM COVID-19 dipimpin oleh Kamboja selaku Chair dan Indonesia sebagai Vice-Chair. Negara-negara anggota ASEAN yang berpartisipasi dalam agenda ini adalah Brunei Darussalam, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Pertemuan ini merupakan gagasan Menteri Wishnutama Kusubandio untuk membahas dampak COVID-19 terhadap pariwisata di ASEAN, sekaligus menemukan solusi kerja sama untuk memitigasinya.

Angela mengatakan, sejak kasus COVID-19 terkonfirmasi pertama kali di Indonesia pada awal Maret 2020, pemerintah Indonesia telah bersiap menghadapi dampak yang tak dapat dipungkiri. Pemerintah Indonesia bekerja keras untuk mengatasi dampak pandemi ini di bawah kebijakan stimulus ekonomi dengan anggaran lebih dari 24 miliar dolar AS untuk jaring pengamanan sosial, keringanan pajak, bantuan bagi pekerja yang terdampak, dan lain sebagainya.
Khusus di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan tiga langkah utama. Yakni program perlindungan sosial untuk para pekerja, stimulus ekonomi untuk bisnis di sektor ini, serta realokasi anggaran kementerian ke dalam berbagai program yang diantaranya padat karya. Untuk mengimplemenasi instruksi tersebut, Angela mengatakan Kemenparekraf telah memformulasikan berbagai program dan aktivitas untuk mendukung lebih dari 13 juta tenaga kerja langsung dan 32,5 juta tenaga kerja tidak langsung di sektor pariwisata Indonesia.Program dan aktivitas itu diantaranya mendistribusikan kebutuhan  sehari-hari serta perlengkapan kebersihan dan sanitasi, juga pelathian  dan peningkatan keterampilan bagi para pekerja pariwisata yang  terdampak, serta menerapkan standar protokol untuk kesehatan, kebersihan  dan keselamatan di destinasi.
&quot;Kami juga bekerja sama dengan sektor swasta untuk mendukung ribuan  tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam menghadapi COVID-19 dengan  penyediaan akomodasi, layanan antar-jemput (transportasi), makanan dan  minuman, serta binatu,&quot; kata Angela.
Kerja sama ini juga sebagai  bentuk dukungan Kemenparekraf terhadap industri pariwisata yakni bisnis  hotel dan transportasi agar tetap bisa mempekerjakan pegawainya. Di sisi  lain, Angela mengatakan, saat ini kita melihat bagaimana teknologi dan  media digital memberi cara baru dalam rutinitas dan kehidupan yang akan  menjadi &quot;New Normal&quot;. Untuk itu ia kembali menegaskan dukungan Indonesia  untuk memasukkan pariwisata digital ke Rencana Strategis Pariwisata  ASEAN 2016-2025.
&amp;ldquo;Pandemi ini akan membawa kita pada kondisi &quot;New Normal&quot;. Di samping  mendorong pentingnya standar kesehatan dan kebersihan bagi para  profesional pariwisata, melalui pertemuan virtual ini, kita ditunjukkan  bagaimana teknologi dan media digital membawa kita pada rutinitas dan  cara hidup yang baru. Ini yang akan segera kita alami dalam industri  pariwisata kita,&amp;rdquo; ujar Angela.
&quot;Kita harus menanggapi tantangan bersama ini dengan bekerja sama. Bersama kita akan kuat,&quot; kata Angela.
Special  Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease  2019 (COVID-19) kemudian menghasilkan dua hal penting, yakni  Consolidated Paper dan Joint Statement. Consolidated Paper digunakan  sebagai referensi mengenai penilaian dan langkah awal mengurangi dampak  COVID-19 terhadap negara anggota ASEAN.
Sedangkan Joint Statement  memuat komitmen para negara, usulan pembentukan ASEAN Tourism Crisis  Communication Team, dan eksplorasi kebijakan bersama untuk dibahas oleh  para Head of National Tourism Organisations (NTOs) and Committee.</content:encoded></item></channel></rss>
