<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Didi Kempot Meninggal Dunia, Ini Jejak Karier The Godfather of Broken Heart</title><description>Didi Kempot telah mencapai titik kesuksesan sebagai seorang penyanyi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/05/320/2209317/didi-kempot-meninggal-dunia-ini-jejak-karier-the-godfather-of-broken-heart</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/05/05/320/2209317/didi-kempot-meninggal-dunia-ini-jejak-karier-the-godfather-of-broken-heart"/><item><title>Didi Kempot Meninggal Dunia, Ini Jejak Karier The Godfather of Broken Heart</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/05/320/2209317/didi-kempot-meninggal-dunia-ini-jejak-karier-the-godfather-of-broken-heart</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/05/05/320/2209317/didi-kempot-meninggal-dunia-ini-jejak-karier-the-godfather-of-broken-heart</guid><pubDate>Selasa 05 Mei 2020 10:14 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/05/320/2209317/didi-kempot-meninggal-dunia-ini-jejak-karier-the-godfather-of-broken-heart-5c4KnyE4JP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Didi Kempot (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/05/320/2209317/didi-kempot-meninggal-dunia-ini-jejak-karier-the-godfather-of-broken-heart-5c4KnyE4JP.jpg</image><title>Didi Kempot (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Didi Kempot telah mencapai titik kesuksesan sebagai seorang penyanyi. Padahal, dia merupakan penyanyi campursari, bukan genre pop yang biasanya populer di kalangan milenial.
Penyanyi campursari ini sukses bikin ambyar dengan berbagai lagunya bertema patah hati. Istilah tersebut sering dipakai penggemar Didi Kempot, Sad Bois dan Sad Gerls, atau biasa disebut Sobat Ambyar.
Penyanyi kondang asal Solo, Jawa Tengah, itu mendapat gelar The Godfather of Broken Heart alias Bapak Patah Hati Nasional. Julukan itu diraih Didi Kempot karena kepiawaiannya membawa pendengar larut dalam emosi ketika mendengar lantunan suara merdunya.
Baca Juga: Didi Kempot Meninggal, Eko Patrio: Jujur Hatiku Ambyar
 
Julukan The Godfather of Broken Heart tercetus saat Didi Kempot tampil di acara Bakdan Ing Balekambang di Taman Balekambang Solo, 9 Juni 2019. Kemudian, gelar The Godfather of Broken Heart disahkan dalam Musyawarah Nasional Pengukuhan Awal Solo Sad Bois Club di Rumah Blogger Indonesia pada 15 Juni 2019.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNS8wNS82LzEyMTMwMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Sebenarnya titel The Godfather sebelumnya pernah diberikan kepada penyanyi Amerika Serikat, James Brown, pada 1973 silam. Dia dijuluki The Godfather of Soul. Julukan itu diberikan karena dia mampu mengaduk emosi pendengar lewat lagunya yang menjadi soundtrack Slaughter's Big Rip-Off.
Baca Juga: Istri Masih Temani Jenazah Didi Kempot di RS Kasih Ibu
 
Secara tidak langsung Didi Kempot disamakan dengan James Brown karena piawai mengaduk emosi pendengar lewat alunan lagu yang menyayat hati. Kesuksesan pria yang bernama asli Didik Prasetyo tersebut tentunya tak datang begitu saja. Ia meraih impiannya menjadi musisi terkenal dengan tekad kuat dalam waktu yang cukup panjang. Demikian dilansir dari Solopos.
Dipantau melalui channel Youtube Hook Space atau Ruang Ngibul, Didi Kempot memulai kariernya pada 1984 sebagai pengamen. Bermodalkan ukulele dan gendang, penyanyi kondang Didi Kempot mulai mengamen di kota kelahirannya Solo, Jawa Tengah, selama tiga tahun (1984-1986).Setelah menjalani kehidupannya sebagai pengamen di Solo, Didi Kempot  mengadu nasib ke Jogja. Didi Kempot menjadikan Malioboro sebagai tempat  unjuk kebolehan. Selama itu, Didi Kempot menyanyi lagu keroncong dangdut  (congdut) yang kemudian dikenal masyarakat dengan musik campursari.
Pada 1988 penyanyi campursari asal Solo tersebut mulai menginjakkan  kaki di Jakarta. Dilansir Okezone, Didi Kempot kerap berkumpul dan  mengamen bersama teman-temannya di daerah Slipi, Palmerah, Cakung,  maupun Senen. Nah, saat inilah julukan Kempot yang merupakan kependekan  dari kelompok pengamen trotoar terbentuk.
Baca Juga: 6 Lagu Terbaik Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart
 
Sembari mengamen di Jakarta, Didi Kempot dan temannya mencoba  rekaman. Kemudian, mereka menitipkan kaset rekaman ke beberapa studio  musik di Jakarta. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya mereka berhasil  menarik perhatian label Musica Studio. Tepat di 1989, Didi kempot mulai  meluncurkan album pertamanya. Salah satu lagu andalan di album tersebut  adalah Cidro.
Lagu Cidro diangkat dari kisah asmara Didi Kempot yang gagal. Jalinan  asmara yang ia jalani bersama kekasih tidak disetujui oleh orang tua  wanita tersebut. Itulah yang membuat lagu Cidro begitu menyentuh hingga  membuat pendengar terbawa perasaan. Sejak saat itulah Didi Kempot mulai  sering menulis lagi bertema patah hati.
&amp;nbsp;
Dihimpun melalui channel Youtube SuaraVid Present, perjalanan karier  Didi Kempot tak berhenti di situ saja. Pada 1993, penyanyi asal Solo  tersebut mulai tampil di luar negeri, tepatnya di Suriname, Amerika  Selatan. Lagu Cidro yang dibawakan sukses meningkatkan pamornya sebagai  musisi terkenal di Suriname.
Setelah Suriname, Didi Kempot lanjut menginjakkan kakinya di benua  Eropa. Pada 1996, ia mulai menggarap dan merekam lagu berjudul Layang  Kangen di Rotterdam, Belanda. Kemudian, Didi Kempot pulang ke Indonesia  pada 1998 untuk memulai kembali profesinya sebagai musisi. Tak lama  setelah pulang kampung, pada era reformasi, 1999, dia mengeluarkan lagu  Stasiun Balapan.Kembalinya Didi Kempot ke Indonesia ternyata membuat kariernya   semakin moncer. Hal itu dibuktikan dengan keluarnya lagu-lagu baru di   awal 2000-an. Beberapa lagunya adalah Plong (2000),   Ketaman Asmoro (2001), Poko&amp;rsquo;e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu  Alas  (2004), dan Ono Opo (2005).
Nama Didi Kempot kembali meroket setelah mengeluarkan lagu Kalung   Emas pada 2013 lalu. Kemudian pada 2016, penyanyi asal Solo tersebut   mengeluarkan lagu Suket Teki. Lagu tersebut juga mendapatkan apresiasi   yang tinggi dari warga Indonesia.
Perjalanan karier Didi Kempot yang berliku hingga mencapai kesuksesan   seperti saat ini tidak membuatnya sombong. Pria berusia 52 tahun itu   kini menjadi idola generasi milenial yang akrab dengan media sosial.
Sebagai penyanyi senior, Didi Kempot memperlakukan penggemar layaknya   sahabat. Dia bahkan tidak ragu mengajak penggemarnya bernyanyi bersama   di panggung. Dia juga sering memberikan motivasi kepada penggemarnya   agar tidak menyerah untuk berkarya agar sukses.</description><content:encoded>JAKARTA - Didi Kempot telah mencapai titik kesuksesan sebagai seorang penyanyi. Padahal, dia merupakan penyanyi campursari, bukan genre pop yang biasanya populer di kalangan milenial.
Penyanyi campursari ini sukses bikin ambyar dengan berbagai lagunya bertema patah hati. Istilah tersebut sering dipakai penggemar Didi Kempot, Sad Bois dan Sad Gerls, atau biasa disebut Sobat Ambyar.
Penyanyi kondang asal Solo, Jawa Tengah, itu mendapat gelar The Godfather of Broken Heart alias Bapak Patah Hati Nasional. Julukan itu diraih Didi Kempot karena kepiawaiannya membawa pendengar larut dalam emosi ketika mendengar lantunan suara merdunya.
Baca Juga: Didi Kempot Meninggal, Eko Patrio: Jujur Hatiku Ambyar
 
Julukan The Godfather of Broken Heart tercetus saat Didi Kempot tampil di acara Bakdan Ing Balekambang di Taman Balekambang Solo, 9 Juni 2019. Kemudian, gelar The Godfather of Broken Heart disahkan dalam Musyawarah Nasional Pengukuhan Awal Solo Sad Bois Club di Rumah Blogger Indonesia pada 15 Juni 2019.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNS8wNS82LzEyMTMwMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

Sebenarnya titel The Godfather sebelumnya pernah diberikan kepada penyanyi Amerika Serikat, James Brown, pada 1973 silam. Dia dijuluki The Godfather of Soul. Julukan itu diberikan karena dia mampu mengaduk emosi pendengar lewat lagunya yang menjadi soundtrack Slaughter's Big Rip-Off.
Baca Juga: Istri Masih Temani Jenazah Didi Kempot di RS Kasih Ibu
 
Secara tidak langsung Didi Kempot disamakan dengan James Brown karena piawai mengaduk emosi pendengar lewat alunan lagu yang menyayat hati. Kesuksesan pria yang bernama asli Didik Prasetyo tersebut tentunya tak datang begitu saja. Ia meraih impiannya menjadi musisi terkenal dengan tekad kuat dalam waktu yang cukup panjang. Demikian dilansir dari Solopos.
Dipantau melalui channel Youtube Hook Space atau Ruang Ngibul, Didi Kempot memulai kariernya pada 1984 sebagai pengamen. Bermodalkan ukulele dan gendang, penyanyi kondang Didi Kempot mulai mengamen di kota kelahirannya Solo, Jawa Tengah, selama tiga tahun (1984-1986).Setelah menjalani kehidupannya sebagai pengamen di Solo, Didi Kempot  mengadu nasib ke Jogja. Didi Kempot menjadikan Malioboro sebagai tempat  unjuk kebolehan. Selama itu, Didi Kempot menyanyi lagu keroncong dangdut  (congdut) yang kemudian dikenal masyarakat dengan musik campursari.
Pada 1988 penyanyi campursari asal Solo tersebut mulai menginjakkan  kaki di Jakarta. Dilansir Okezone, Didi Kempot kerap berkumpul dan  mengamen bersama teman-temannya di daerah Slipi, Palmerah, Cakung,  maupun Senen. Nah, saat inilah julukan Kempot yang merupakan kependekan  dari kelompok pengamen trotoar terbentuk.
Baca Juga: 6 Lagu Terbaik Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart
 
Sembari mengamen di Jakarta, Didi Kempot dan temannya mencoba  rekaman. Kemudian, mereka menitipkan kaset rekaman ke beberapa studio  musik di Jakarta. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya mereka berhasil  menarik perhatian label Musica Studio. Tepat di 1989, Didi kempot mulai  meluncurkan album pertamanya. Salah satu lagu andalan di album tersebut  adalah Cidro.
Lagu Cidro diangkat dari kisah asmara Didi Kempot yang gagal. Jalinan  asmara yang ia jalani bersama kekasih tidak disetujui oleh orang tua  wanita tersebut. Itulah yang membuat lagu Cidro begitu menyentuh hingga  membuat pendengar terbawa perasaan. Sejak saat itulah Didi Kempot mulai  sering menulis lagi bertema patah hati.
&amp;nbsp;
Dihimpun melalui channel Youtube SuaraVid Present, perjalanan karier  Didi Kempot tak berhenti di situ saja. Pada 1993, penyanyi asal Solo  tersebut mulai tampil di luar negeri, tepatnya di Suriname, Amerika  Selatan. Lagu Cidro yang dibawakan sukses meningkatkan pamornya sebagai  musisi terkenal di Suriname.
Setelah Suriname, Didi Kempot lanjut menginjakkan kakinya di benua  Eropa. Pada 1996, ia mulai menggarap dan merekam lagu berjudul Layang  Kangen di Rotterdam, Belanda. Kemudian, Didi Kempot pulang ke Indonesia  pada 1998 untuk memulai kembali profesinya sebagai musisi. Tak lama  setelah pulang kampung, pada era reformasi, 1999, dia mengeluarkan lagu  Stasiun Balapan.Kembalinya Didi Kempot ke Indonesia ternyata membuat kariernya   semakin moncer. Hal itu dibuktikan dengan keluarnya lagu-lagu baru di   awal 2000-an. Beberapa lagunya adalah Plong (2000),   Ketaman Asmoro (2001), Poko&amp;rsquo;e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu  Alas  (2004), dan Ono Opo (2005).
Nama Didi Kempot kembali meroket setelah mengeluarkan lagu Kalung   Emas pada 2013 lalu. Kemudian pada 2016, penyanyi asal Solo tersebut   mengeluarkan lagu Suket Teki. Lagu tersebut juga mendapatkan apresiasi   yang tinggi dari warga Indonesia.
Perjalanan karier Didi Kempot yang berliku hingga mencapai kesuksesan   seperti saat ini tidak membuatnya sombong. Pria berusia 52 tahun itu   kini menjadi idola generasi milenial yang akrab dengan media sosial.
Sebagai penyanyi senior, Didi Kempot memperlakukan penggemar layaknya   sahabat. Dia bahkan tidak ragu mengajak penggemarnya bernyanyi bersama   di panggung. Dia juga sering memberikan motivasi kepada penggemarnya   agar tidak menyerah untuk berkarya agar sukses.</content:encoded></item></channel></rss>
