<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Usulan Cetak Rp600 Triliun, Bos OJK: Jangan Pikirkan Uang Terlalu Jauh</title><description>Usulan mencetak uang baru sebagai solusi keluar dari tekanan ekonomi akibat Covid-19 mulai tercetus.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/05/320/2209594/usulan-cetak-rp600-triliun-bos-ojk-jangan-pikirkan-uang-terlalu-jauh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/05/05/320/2209594/usulan-cetak-rp600-triliun-bos-ojk-jangan-pikirkan-uang-terlalu-jauh"/><item><title>Usulan Cetak Rp600 Triliun, Bos OJK: Jangan Pikirkan Uang Terlalu Jauh</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/05/320/2209594/usulan-cetak-rp600-triliun-bos-ojk-jangan-pikirkan-uang-terlalu-jauh</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/05/05/320/2209594/usulan-cetak-rp600-triliun-bos-ojk-jangan-pikirkan-uang-terlalu-jauh</guid><pubDate>Selasa 05 Mei 2020 16:11 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/05/320/2209594/usulan-cetak-rp600-triliun-bos-ojk-jangan-pikirkan-uang-terlalu-jauh-WXgX8zmGZG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua OJK Wimboh Santoso (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/05/320/2209594/usulan-cetak-rp600-triliun-bos-ojk-jangan-pikirkan-uang-terlalu-jauh-WXgX8zmGZG.jpg</image><title>Ketua OJK Wimboh Santoso (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Usulan mencetak uang baru sebagai solusi keluar dari tekanan ekonomi akibat Covid-19 mulai tercetus. Badan Anggaran DPR menyarankan sudah saatnya mencetak uang Rp600 triliun. Selain itu, mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan juga mengusulkan agar dicetak uang sebanyak Rp4.000 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan pada dasarnya pencetakan uang merupakan kewenangan Bank Indonesia selaku bank sentral. Kendati demikian, mengomentari mengenai usulan mencetak uang, menurut Wimboh pada saat mencetak uang perlu memikirkan risiko inflasi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi Hanya Tumbuh 2,97%, OJK: Fokusnya Bersama-sama Atasi Covid-19
&quot;Jangan memikirkan duit terlalu jauh, berarti itukan (berkaitan dengan) inflasi. Padahal itu kita belum apa-apa,&quot; ujarnya, dalam diskusi dari OJK dengan MNC Media Group secara daring, Selasa (5/5/2020).

Menurutnya, mengeluarkan uang kartal adalah dengan menerbitkan surat utang pemerintah itu mekanisme mencetak uang di pasar perdana. &quot;Jangan dihubungkan dengan fiskal, itu APBN yang sudah diperlonggar defisit. Kalau sampai cetak berapa ribu triliun, itukan suatu andai-andai. Padahal itu kita belum apa-apa,&quot; ujarnya.

Saat ini, dia menegaskan, likuiditas perbankan dalam kondisi yang baik. Bahkan likuitias interbank call money dalam kondisi baik.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi RI Kuartal I Diprediksi Tumbuh di Bawah 4,5%
&quot;Jadi masih aman hanya saja kita siap-siap kalau enggak diperlukan ya alhamdulilalh. Jadi jangan terlalu terpancing hal-hal yang mudah-mudahan enggaklah,&quot; ujarnya.

Sebelumnya, mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengusulkan supaya Bank Indonesia (BI) mencetak uang sebanyak Rp4.000 triliun. Langkah ini dinilai bisa selamatkan persoalan ekonomi karena dampak Covid-19.

&quot;Uang tersebut tidak hanya digunakan untuk memberi stimulus pada mereka yang kehilangan pendapatan, tapi juga untuk restrukturisasi penyelamatan sektor riil dan UMKM,&quot; ujar Gita.

Menteri Perdagangan periode 2011-2014 ini menekankan kebijakan pencetakan uang tersebut tidak akan menimbulkan inflasi karena uang yang disalurkan ke masyarakat. Hanya untuk menjamin kebutuhan dasar, bukan untuk meningkatkan gaya hidup.

Kekhawatiran lain soal depresiasi Rupiah melemah dihadapan mata uang lain, menurut Gita juga tak perlu. Sebab, banyak negara kini mencetak uang untuk mencukup kebutuhan ekonomi dalam negerinya.</description><content:encoded>JAKARTA - Usulan mencetak uang baru sebagai solusi keluar dari tekanan ekonomi akibat Covid-19 mulai tercetus. Badan Anggaran DPR menyarankan sudah saatnya mencetak uang Rp600 triliun. Selain itu, mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan juga mengusulkan agar dicetak uang sebanyak Rp4.000 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan pada dasarnya pencetakan uang merupakan kewenangan Bank Indonesia selaku bank sentral. Kendati demikian, mengomentari mengenai usulan mencetak uang, menurut Wimboh pada saat mencetak uang perlu memikirkan risiko inflasi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi Hanya Tumbuh 2,97%, OJK: Fokusnya Bersama-sama Atasi Covid-19
&quot;Jangan memikirkan duit terlalu jauh, berarti itukan (berkaitan dengan) inflasi. Padahal itu kita belum apa-apa,&quot; ujarnya, dalam diskusi dari OJK dengan MNC Media Group secara daring, Selasa (5/5/2020).

Menurutnya, mengeluarkan uang kartal adalah dengan menerbitkan surat utang pemerintah itu mekanisme mencetak uang di pasar perdana. &quot;Jangan dihubungkan dengan fiskal, itu APBN yang sudah diperlonggar defisit. Kalau sampai cetak berapa ribu triliun, itukan suatu andai-andai. Padahal itu kita belum apa-apa,&quot; ujarnya.

Saat ini, dia menegaskan, likuiditas perbankan dalam kondisi yang baik. Bahkan likuitias interbank call money dalam kondisi baik.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi RI Kuartal I Diprediksi Tumbuh di Bawah 4,5%
&quot;Jadi masih aman hanya saja kita siap-siap kalau enggak diperlukan ya alhamdulilalh. Jadi jangan terlalu terpancing hal-hal yang mudah-mudahan enggaklah,&quot; ujarnya.

Sebelumnya, mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengusulkan supaya Bank Indonesia (BI) mencetak uang sebanyak Rp4.000 triliun. Langkah ini dinilai bisa selamatkan persoalan ekonomi karena dampak Covid-19.

&quot;Uang tersebut tidak hanya digunakan untuk memberi stimulus pada mereka yang kehilangan pendapatan, tapi juga untuk restrukturisasi penyelamatan sektor riil dan UMKM,&quot; ujar Gita.

Menteri Perdagangan periode 2011-2014 ini menekankan kebijakan pencetakan uang tersebut tidak akan menimbulkan inflasi karena uang yang disalurkan ke masyarakat. Hanya untuk menjamin kebutuhan dasar, bukan untuk meningkatkan gaya hidup.

Kekhawatiran lain soal depresiasi Rupiah melemah dihadapan mata uang lain, menurut Gita juga tak perlu. Sebab, banyak negara kini mencetak uang untuk mencukup kebutuhan ekonomi dalam negerinya.</content:encoded></item></channel></rss>
