<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Neraca Dagang April Defisit USD350 Juta</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia pada April 2020 mengalami defisit sebesar USD350 juta.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/15/320/2214430/neraca-dagang-april-defisit-usd350-juta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/05/15/320/2214430/neraca-dagang-april-defisit-usd350-juta"/><item><title>Neraca Dagang April Defisit USD350 Juta</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/15/320/2214430/neraca-dagang-april-defisit-usd350-juta</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/05/15/320/2214430/neraca-dagang-april-defisit-usd350-juta</guid><pubDate>Jum'at 15 Mei 2020 09:54 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/15/320/2214430/neraca-dagang-april-defisit-usd350-juta-1Ow9Zp2Q7t.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/15/320/2214430/neraca-dagang-april-defisit-usd350-juta-1Ow9Zp2Q7t.jpg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia pada April 2020 mengalami defisit sebesar USD350 juta. Angka ini masih lebih bagus dibandingkan April 2019 yang mengalami defisit sebesar USD2,3 miliar.
Sementara dalam periode Januari hingga April 2020, kinerja perdagangan Indonesia masih positif. Sebab, neraca dagang hingga hari ini masih mengalami surplus USD2,25 miliar.
Baca Juga:&amp;nbsp;Cerita Sri Mulyani soal Optimisme Neraca Perdagangan Jadi Buruk akibat Covid-19
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit neraca dagang ini disebabkan angka ekspor lebih kecil dibandingkan angka impor. Adapun angka ekspor April 2020 mencapai USD12,19 miliar sedangkan impor sebesar USD12,5 miliar
&amp;ldquo;Kalau kita gabungkan ekspor dan impor April 2020 sehingga pada April 2020 defisit mengalami USD350 juta. Defisit ini jauh lebih landai dibandingkan April 2019,&amp;rdquo; ujarnya dalam telekonferensi, Jumat (15/5/2020).

Menurut Kecuk, turunnya angka ekspor disebabkan oleh turunnya angka ekspor migas dan non migas. Untuk ekspor migas mencatatkan penurunan sebesar 6,55% dari USD650 juta menjadi USD610 juta (month to month).
Sementara untuk ekspor migas jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu turun 17,70%. Sebab pada April 2019 ekspor migas mencapai USD740 juta.
Sementara ekspor non migas justru jatuh lebih dalam lagi, sebab jika dibandingkan Maret 2020 anjlok 13,66% dari USD l13,41 miliar menjadi USD11,58 miliar (MtM). Sedangkan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu turun tipis yakni sebesar 6,38%.Sementara untuk impor sebenarnya mengalami penurunan pada April ini.  Namun angka impor masih lebih tinggi sedikit jika dibandingkan dengan  ekspor. Penurunan impor ini dipengaruhi oleh anjloknya impor migas.  Sedangkan impor non migas meskipun mengalami penurunan namun angkanya  masih sangat tinggi.
Jika dibandingkan dengan Maret 2020, angka impor migas anjlok 46,83%.  Sebab pada Maret 2020, impor migas mencapai USD1,61 miliar turun  menjadi USD850 juta.
Sedangkan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,  angka impor migas juga turun sebesar 61,78. Pada April 2019, impor migas  tercatat USD2,24 miliar turun menjadi USD850 juta pada tahun ini.
Sementara untuk impor non migas juga mengalami penurun tipis yakni  sebesar 0,53% (MtM). Pada Maret 2020, impor non migas tercatat USD11,75  miliar turun menjadi USD11,68 miliar.
Sedangkan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu juga hanya  turun tipis yakni sebesar 11,24%. Pada April 2019, angka impor non migas  mencapai USD13,16 miliar turun jadi USD11,68 miliar.
&amp;ldquo;Sangat dipengaruhi melemahnya permintaan dan menurunnya harga komoditas,&amp;rdquo; ucapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia pada April 2020 mengalami defisit sebesar USD350 juta. Angka ini masih lebih bagus dibandingkan April 2019 yang mengalami defisit sebesar USD2,3 miliar.
Sementara dalam periode Januari hingga April 2020, kinerja perdagangan Indonesia masih positif. Sebab, neraca dagang hingga hari ini masih mengalami surplus USD2,25 miliar.
Baca Juga:&amp;nbsp;Cerita Sri Mulyani soal Optimisme Neraca Perdagangan Jadi Buruk akibat Covid-19
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit neraca dagang ini disebabkan angka ekspor lebih kecil dibandingkan angka impor. Adapun angka ekspor April 2020 mencapai USD12,19 miliar sedangkan impor sebesar USD12,5 miliar
&amp;ldquo;Kalau kita gabungkan ekspor dan impor April 2020 sehingga pada April 2020 defisit mengalami USD350 juta. Defisit ini jauh lebih landai dibandingkan April 2019,&amp;rdquo; ujarnya dalam telekonferensi, Jumat (15/5/2020).

Menurut Kecuk, turunnya angka ekspor disebabkan oleh turunnya angka ekspor migas dan non migas. Untuk ekspor migas mencatatkan penurunan sebesar 6,55% dari USD650 juta menjadi USD610 juta (month to month).
Sementara untuk ekspor migas jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu turun 17,70%. Sebab pada April 2019 ekspor migas mencapai USD740 juta.
Sementara ekspor non migas justru jatuh lebih dalam lagi, sebab jika dibandingkan Maret 2020 anjlok 13,66% dari USD l13,41 miliar menjadi USD11,58 miliar (MtM). Sedangkan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu turun tipis yakni sebesar 6,38%.Sementara untuk impor sebenarnya mengalami penurunan pada April ini.  Namun angka impor masih lebih tinggi sedikit jika dibandingkan dengan  ekspor. Penurunan impor ini dipengaruhi oleh anjloknya impor migas.  Sedangkan impor non migas meskipun mengalami penurunan namun angkanya  masih sangat tinggi.
Jika dibandingkan dengan Maret 2020, angka impor migas anjlok 46,83%.  Sebab pada Maret 2020, impor migas mencapai USD1,61 miliar turun  menjadi USD850 juta.
Sedangkan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,  angka impor migas juga turun sebesar 61,78. Pada April 2019, impor migas  tercatat USD2,24 miliar turun menjadi USD850 juta pada tahun ini.
Sementara untuk impor non migas juga mengalami penurun tipis yakni  sebesar 0,53% (MtM). Pada Maret 2020, impor non migas tercatat USD11,75  miliar turun menjadi USD11,68 miliar.
Sedangkan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu juga hanya  turun tipis yakni sebesar 11,24%. Pada April 2019, angka impor non migas  mencapai USD13,16 miliar turun jadi USD11,68 miliar.
&amp;ldquo;Sangat dipengaruhi melemahnya permintaan dan menurunnya harga komoditas,&amp;rdquo; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
