<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lawan Covid-19, Eropa hingga Asia Kembali Hidupkan Kegiatan Ekonomi</title><description>Dua kota besar di Spanyol pada Minggu 17 Mei 2020 masih memberlakukan lockdown.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/18/320/2215726/lawan-covid-19-eropa-hingga-asia-kembali-hidupkan-kegiatan-ekonomi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/05/18/320/2215726/lawan-covid-19-eropa-hingga-asia-kembali-hidupkan-kegiatan-ekonomi"/><item><title>Lawan Covid-19, Eropa hingga Asia Kembali Hidupkan Kegiatan Ekonomi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/18/320/2215726/lawan-covid-19-eropa-hingga-asia-kembali-hidupkan-kegiatan-ekonomi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/05/18/320/2215726/lawan-covid-19-eropa-hingga-asia-kembali-hidupkan-kegiatan-ekonomi</guid><pubDate>Senin 18 Mei 2020 10:44 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/18/320/2215726/lawan-covid-19-eropa-hingga-asia-kembali-hidupkan-kegiatan-ekonomi-bR7kfxFtlr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Covid-19 (Foto: Ilustrasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/18/320/2215726/lawan-covid-19-eropa-hingga-asia-kembali-hidupkan-kegiatan-ekonomi-bR7kfxFtlr.jpg</image><title>Covid-19 (Foto: Ilustrasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Dua kota besar di Spanyol pada Minggu 17 Mei 2020 masih memberlakukan lockdown, sementara seluruh bagian lain di negara itu mulai menghidupkan kembali kegiatan ekonominya.

Spanyol, yang saat ini menjadi negara keempat dengan jumlah korban meninggal akibat virus corona terbesar di dunia, hari Minggu melaporkan korban meninggal terendah sejak lockdown dimulai pertengahan Maret lalu.
Baca Juga: Progres Capai 92%, Jembatan Teluk Kendari Dukung Pemulihan Ekonomi Pasca-Corona
Italia juga akan mulai menghidupkan kegiatan ekonominya minggu ini dan wisatawan mulai diizinkan berkunjung lagi mulai 3 Juni nanti.

Di Turki, warga lansia diizinkan meninggalkan rumah hari Minggu, bagian dari pedoman baru yang mengizinkan orang-orang yang berusia di atas 65 tahun atau yang berisiko tinggi tertular virus itu, untuk keluar rumah selama enam jam.
Baca Juga: Pengusaha Siap Buka Bisnis asal Tren Penularan Covid-19 Turun
Inggris mengumumkan telah mempekerjakan hampir semua pelacak kontak untuk melacak perebakan virus ini ketika negara itu melonggarkan langkah-langkah lockdown. Tetapi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte akhir pekan lalu mengingatkan bahwa warga untuk tidak mengharapkan tersedianya vaksin dalam waktu dekat.

&amp;ldquo;Prosesnya masih sangat lama dan saya harus jujur mengatakan bahwa vaksin mungkin belum akan bisa dibuat,&amp;rdquo; demikian tulisan Johnson di suratkabar Inggris seperti dilansir VOA Indonesia, Jakarta, Senin (18/5/2020).

Sementara itu di Thailand, pusat-pusat perbelanjaan dibuka kembali untuk pertama kalinya hari Minggu ini ketika negara itu melaporkan kasus baru Covid-19 di bawah angka sepuluh.
Perebakan virus corona dan jumlah korban yang meninggal dunia akibat  virus ini masih mencemaskan. Lebih dari 4,6 juta orang di seluruh dunia  tertular dan lebih dari 312.000 orang meninggal dunia.

Amerika masih menjadi negara dengan jumlah korban terbesar di dunia,  yaitu hampir 1,5 juta orang tertular dan lebih dari 90.000 orang  meninggal .

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan hampir seperempat juta  orang di dunia akan tertular virus ini dan 150 ribu orang di Afrika akan  meninggal jika tidak ada langkah serius yang diambil. Kajian yang  dipublikasikan di jurnal BMJ

Global Health itu memproyeksikan tingkat perebakan dan kematian yang  lebih rendah di beberapa bagian dunia, seperti Eropa dan Amerika.</description><content:encoded>JAKARTA - Dua kota besar di Spanyol pada Minggu 17 Mei 2020 masih memberlakukan lockdown, sementara seluruh bagian lain di negara itu mulai menghidupkan kembali kegiatan ekonominya.

Spanyol, yang saat ini menjadi negara keempat dengan jumlah korban meninggal akibat virus corona terbesar di dunia, hari Minggu melaporkan korban meninggal terendah sejak lockdown dimulai pertengahan Maret lalu.
Baca Juga: Progres Capai 92%, Jembatan Teluk Kendari Dukung Pemulihan Ekonomi Pasca-Corona
Italia juga akan mulai menghidupkan kegiatan ekonominya minggu ini dan wisatawan mulai diizinkan berkunjung lagi mulai 3 Juni nanti.

Di Turki, warga lansia diizinkan meninggalkan rumah hari Minggu, bagian dari pedoman baru yang mengizinkan orang-orang yang berusia di atas 65 tahun atau yang berisiko tinggi tertular virus itu, untuk keluar rumah selama enam jam.
Baca Juga: Pengusaha Siap Buka Bisnis asal Tren Penularan Covid-19 Turun
Inggris mengumumkan telah mempekerjakan hampir semua pelacak kontak untuk melacak perebakan virus ini ketika negara itu melonggarkan langkah-langkah lockdown. Tetapi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte akhir pekan lalu mengingatkan bahwa warga untuk tidak mengharapkan tersedianya vaksin dalam waktu dekat.

&amp;ldquo;Prosesnya masih sangat lama dan saya harus jujur mengatakan bahwa vaksin mungkin belum akan bisa dibuat,&amp;rdquo; demikian tulisan Johnson di suratkabar Inggris seperti dilansir VOA Indonesia, Jakarta, Senin (18/5/2020).

Sementara itu di Thailand, pusat-pusat perbelanjaan dibuka kembali untuk pertama kalinya hari Minggu ini ketika negara itu melaporkan kasus baru Covid-19 di bawah angka sepuluh.
Perebakan virus corona dan jumlah korban yang meninggal dunia akibat  virus ini masih mencemaskan. Lebih dari 4,6 juta orang di seluruh dunia  tertular dan lebih dari 312.000 orang meninggal dunia.

Amerika masih menjadi negara dengan jumlah korban terbesar di dunia,  yaitu hampir 1,5 juta orang tertular dan lebih dari 90.000 orang  meninggal .

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan hampir seperempat juta  orang di dunia akan tertular virus ini dan 150 ribu orang di Afrika akan  meninggal jika tidak ada langkah serius yang diambil. Kajian yang  dipublikasikan di jurnal BMJ

Global Health itu memproyeksikan tingkat perebakan dan kematian yang  lebih rendah di beberapa bagian dunia, seperti Eropa dan Amerika.</content:encoded></item></channel></rss>
