<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sempat Putus Asa, UMKM Souvenir di Manado Ini Berhasil Bertahan Hidup</title><description>Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor yang terdampak pandemi Corona Virus Disease (Covid-19).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/18/320/2215756/sempat-putus-asa-umkm-souvenir-di-manado-ini-berhasil-bertahan-hidup</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/05/18/320/2215756/sempat-putus-asa-umkm-souvenir-di-manado-ini-berhasil-bertahan-hidup"/><item><title>Sempat Putus Asa, UMKM Souvenir di Manado Ini Berhasil Bertahan Hidup</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/18/320/2215756/sempat-putus-asa-umkm-souvenir-di-manado-ini-berhasil-bertahan-hidup</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/05/18/320/2215756/sempat-putus-asa-umkm-souvenir-di-manado-ini-berhasil-bertahan-hidup</guid><pubDate>Senin 18 Mei 2020 11:29 WIB</pubDate><dc:creator>Subhan Sabu</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/18/320/2215756/sempat-putus-asa-umkm-souvenir-di-manado-ini-berhasil-bertahan-hidup-3WVPvcFlrD.png" expression="full" type="image/jpeg">UMKM Berhasil Bertahan Hidup (Foto: Okezone.com/Subhan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/18/320/2215756/sempat-putus-asa-umkm-souvenir-di-manado-ini-berhasil-bertahan-hidup-3WVPvcFlrD.png</image><title>UMKM Berhasil Bertahan Hidup (Foto: Okezone.com/Subhan)</title></images><description>MANADO - Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor yang terdampak pandemi Corona Virus Disease (Covid-19). Seperti dialami oleh Mariani Montu, pemilik UMKM kerajinan Sang Bayu Handycraft yang terpaksa banting setir dengan membuat masker untuk bisa bertahan hidup.



Sebelum adanya pandemi, usaha Mariani tergolong sukses, setiap bulannya dia bisa meraup untung sampai dengan Rp25 juta per bulan. Jumlah tersebut didapat dari penjualan souvenir kerajinan tangan, kaos, dan kain batik produksinya sendiri.
Baca Juga: Fakta di Balik Penyelamatan UMKM dari Virus Corona
Namun sejak pandemi melanda, omzet dari usaha yang sudah digelutinya sejak 2012 itu mulai menurun drastis sampai dengan 90 persen. Mariani terpaksa harus putar otak mencari cara untuk bisa bertahan demi menghidupi dirinya dan 12 orang karyawannya.



&quot;Sejak awal Maret sudah mulai sunyi, sudah tidak ada pengunjung sama sekali, dalam tiga minggu itu kamikan tetap ada biaya hidup dengan orang-orang kerja, jadi berpikir bagaimana caranya supaya tetap ada uang, dapat penghasilan,&quot; ujar Mariani kepada Okezone.
&amp;nbsp;

Mariani kemudian mencoba membuat masker kain yang saat itu banyak dicari orang. Dengan dibantu beberapa karyawannya, dia mulai memproduksi masker dan menjualnya dengan bantuan pedagang asongan.
Baca Juga: Sederet Cara Pelaku UMKM Bisa Naik Kelas di Tengah Pandemi Covid-19
Sayang usahanya itu belum berdampak signifikan. Dia kemudian menjual masker hasil produksinya dengan mempostingnya di media sosial Facebook.



&quot;Ternyata di situ banyak peminatnya. Dan juga saya mulai menghubungi kepala-kepala dinas atau pejabat-pejabat, Alhamdulillah mereka tertarik dan mulai pesan paling sedikit lima lusin, nah itu sangat membantu,&quot; kata Mariani.

&amp;nbsp;
Lama kelamaan, masker buatannya mulai sepi peminat selama dua minggu  tidak ada penjualan lagi, apalagi dengan kemunculan masker scuba, di  samping bahannya lain, Mariani tidak punya bahan kain untuk membuat  masker tersebut.



&quot;Akhirnya saya beranikan diri membeli contoh masker scuba, ternyata  pas saya beli ternyata masker scuba itu ada juga sama saya, cumakan saya  sudah putus asa mungkin, ternyata bahannya ada. Saya mulai membuat dan  menjualnya, jadi bisa bersaing,&quot; tuturnya.



Kemudian muncul lagi masker scuba model corak. Karena tidak punya  bahan model corak, mariani kemudian berinovasi membuat masker dengan  gratis sablon. Hingga kini sudah 19 model masker diproduksi olehnya.



&quot;Sampai saat ini variasi masker saya sudah ada 19, karena untuk  supaya terus ada pendapatan, karenakan kalau cuma satu model orang pasti  bosan, tidak ada yang unik,&quot; tambahnya



Dari 12 orang karyawan yang dimilikinya, kini tinggal tersisa empat  orang saja, beberapa orang karyawan yang membuat kerajinan, batik, kaos,  serta beberapa bidang lain terpaksa harus dirumahkan.

Meski perharinya Mariani meraih omset Rp100 ribu dari hasil penjualan  masker, baginya itu sudah cukup membantu biaya hidup sehari-hari  bersama karyawannya.



&quot;Itu yang penting aja, yang lain-lain kami belum memikirkannya, yang  penting biaya kehidupan sehari-hari Saja boleh, yang penting istilahnya  ada untuk bayar listrik sama beli beras, itu saja,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>MANADO - Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor yang terdampak pandemi Corona Virus Disease (Covid-19). Seperti dialami oleh Mariani Montu, pemilik UMKM kerajinan Sang Bayu Handycraft yang terpaksa banting setir dengan membuat masker untuk bisa bertahan hidup.



Sebelum adanya pandemi, usaha Mariani tergolong sukses, setiap bulannya dia bisa meraup untung sampai dengan Rp25 juta per bulan. Jumlah tersebut didapat dari penjualan souvenir kerajinan tangan, kaos, dan kain batik produksinya sendiri.
Baca Juga: Fakta di Balik Penyelamatan UMKM dari Virus Corona
Namun sejak pandemi melanda, omzet dari usaha yang sudah digelutinya sejak 2012 itu mulai menurun drastis sampai dengan 90 persen. Mariani terpaksa harus putar otak mencari cara untuk bisa bertahan demi menghidupi dirinya dan 12 orang karyawannya.



&quot;Sejak awal Maret sudah mulai sunyi, sudah tidak ada pengunjung sama sekali, dalam tiga minggu itu kamikan tetap ada biaya hidup dengan orang-orang kerja, jadi berpikir bagaimana caranya supaya tetap ada uang, dapat penghasilan,&quot; ujar Mariani kepada Okezone.
&amp;nbsp;

Mariani kemudian mencoba membuat masker kain yang saat itu banyak dicari orang. Dengan dibantu beberapa karyawannya, dia mulai memproduksi masker dan menjualnya dengan bantuan pedagang asongan.
Baca Juga: Sederet Cara Pelaku UMKM Bisa Naik Kelas di Tengah Pandemi Covid-19
Sayang usahanya itu belum berdampak signifikan. Dia kemudian menjual masker hasil produksinya dengan mempostingnya di media sosial Facebook.



&quot;Ternyata di situ banyak peminatnya. Dan juga saya mulai menghubungi kepala-kepala dinas atau pejabat-pejabat, Alhamdulillah mereka tertarik dan mulai pesan paling sedikit lima lusin, nah itu sangat membantu,&quot; kata Mariani.

&amp;nbsp;
Lama kelamaan, masker buatannya mulai sepi peminat selama dua minggu  tidak ada penjualan lagi, apalagi dengan kemunculan masker scuba, di  samping bahannya lain, Mariani tidak punya bahan kain untuk membuat  masker tersebut.



&quot;Akhirnya saya beranikan diri membeli contoh masker scuba, ternyata  pas saya beli ternyata masker scuba itu ada juga sama saya, cumakan saya  sudah putus asa mungkin, ternyata bahannya ada. Saya mulai membuat dan  menjualnya, jadi bisa bersaing,&quot; tuturnya.



Kemudian muncul lagi masker scuba model corak. Karena tidak punya  bahan model corak, mariani kemudian berinovasi membuat masker dengan  gratis sablon. Hingga kini sudah 19 model masker diproduksi olehnya.



&quot;Sampai saat ini variasi masker saya sudah ada 19, karena untuk  supaya terus ada pendapatan, karenakan kalau cuma satu model orang pasti  bosan, tidak ada yang unik,&quot; tambahnya



Dari 12 orang karyawan yang dimilikinya, kini tinggal tersisa empat  orang saja, beberapa orang karyawan yang membuat kerajinan, batik, kaos,  serta beberapa bidang lain terpaksa harus dirumahkan.

Meski perharinya Mariani meraih omset Rp100 ribu dari hasil penjualan  masker, baginya itu sudah cukup membantu biaya hidup sehari-hari  bersama karyawannya.



&quot;Itu yang penting aja, yang lain-lain kami belum memikirkannya, yang  penting biaya kehidupan sehari-hari Saja boleh, yang penting istilahnya  ada untuk bayar listrik sama beli beras, itu saja,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
