<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ada Covid-19, Laba Bersih BNI Naik 4,3% di Rp4,25 Triliun pada Kuartal I</title><description>Bank BNI mencatatkan kinerja yang moncer pada kuartal I-2020.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/19/278/2216624/ada-covid-19-laba-bersih-bni-naik-4-3-di-rp4-25-triliun-pada-kuartal-i</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/05/19/278/2216624/ada-covid-19-laba-bersih-bni-naik-4-3-di-rp4-25-triliun-pada-kuartal-i"/><item><title>Ada Covid-19, Laba Bersih BNI Naik 4,3% di Rp4,25 Triliun pada Kuartal I</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/19/278/2216624/ada-covid-19-laba-bersih-bni-naik-4-3-di-rp4-25-triliun-pada-kuartal-i</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/05/19/278/2216624/ada-covid-19-laba-bersih-bni-naik-4-3-di-rp4-25-triliun-pada-kuartal-i</guid><pubDate>Selasa 19 Mei 2020 17:42 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/19/278/2216624/ada-covid-19-laba-bersih-bni-naik-4-3-di-rp4-25-triliun-pada-kuartal-i-nGZlRbmEB8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Akuntan (reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/19/278/2216624/ada-covid-19-laba-bersih-bni-naik-4-3-di-rp4-25-triliun-pada-kuartal-i-nGZlRbmEB8.jpg</image><title>Akuntan (reuters)</title></images><description>JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan kinerja yang moncer pada kuartal I-2020. Hal ini tergambar dari laba bersih yang diraup mencapai Rp4,25 triliun di kuartal I-2020 atau naik 4,3% dibandingkan kaurtal sebelumnya.

Mengutip keterangan resmi dari Bank BNI, capaian ini cukup menggemberikan. Mengingat pada kuartal I-2020, Indonesia mulai terfieksi virus corona.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dua Bulan Pertama 2020, BNI Catat Laba Rp2,58 Triliun
Pada akhir kuartal I 2020, BNI masih mampu menumbuhkan pinjaman sebesar 11,2% year over year (YoY), yaitu dari Rp 521,35 triliun pada kuartal I 2019 menjadi Rp 579,60 triliun pada kuartal I 2020. Jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2019, pinjaman tumbuh 4,1% year to date (YtD).

Hal ini sejalan dengan strategi BNI yang sangat selektif dalam melakukan ekspansi di tengah pandemi COVID-19. Adapun peningkatan pinjaman ini ditopang oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 10,4% YoY, yaitu dari Rp 575,75 triliun pada kuartal I 2019 menjadi Rp 635,75 triliun pada kuartal I 2020.
 
&amp;nbsp;Baca juga: BNI Siapkan Rp1,8 Triliun untuk Buyback Saham 
&quot;Dengan pertumbuhan DPK yang baik ini, BNI memiliki likuiditas yang sehat loan to deposit ratio (LDR) BNI pada kuartal I 2020 tercatat sebesar 92,3%,&quot; bunyi keterangan resmi BNI, Selasa (19/5/2020).

Kinerja solid tersebut tidak membuat BNI kehilangan kewaspadaan terhadap kondisi perekonomian ke depan yang belum dapat diprediksi secara akurat, terutama akibat dampak COVID-19, yang belum dapat diperkirakan akhir penyebarannya.
Terlebih, pada kuartal I 2020, indikasi pengaruh COVID-19 terlihat pada peningkatan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) dari 2,3% pada 2019 menjadi 2,4% pada 2020&amp;mdash;meskipun masih jauh di bawah batas maksimal NPL yang ditetapkan regulator sebesar 5%.

&quot;Ke depan, BNI melihat pentingnya mengantisipasi potensi tekanan pada likuiditas, yang dipengaruhi oleh adanya penundaan pembayaran angsuran pokok dan pembayaran bunga dari debitur karena bisnisnya terpengaruh COVID-19, serta tekanan capital outflow dan potensi melemahnya ekspor,&quot; bunyi keterangan tertulis.

Dari sisi profitabilitas, kinerja kredit yang baik mampu mendorong pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp 9,54 triliun atau meningkat 7,7% YoY dibanding periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 8,86 triliun. Kenaikan NII tersebut dikontribusikan oleh kenaikan pendapatan bunga sebesar 3,8% dan penurunan beban bunga sebesar -2,5%.
&quot;Penurunan beban bunga ini menarik karena disebabkan oleh biaya dana (cost of fund)yang turun sebesar 30 bps,&quot; bunyi keterangan tertulis.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan kinerja yang moncer pada kuartal I-2020. Hal ini tergambar dari laba bersih yang diraup mencapai Rp4,25 triliun di kuartal I-2020 atau naik 4,3% dibandingkan kaurtal sebelumnya.

Mengutip keterangan resmi dari Bank BNI, capaian ini cukup menggemberikan. Mengingat pada kuartal I-2020, Indonesia mulai terfieksi virus corona.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Dua Bulan Pertama 2020, BNI Catat Laba Rp2,58 Triliun
Pada akhir kuartal I 2020, BNI masih mampu menumbuhkan pinjaman sebesar 11,2% year over year (YoY), yaitu dari Rp 521,35 triliun pada kuartal I 2019 menjadi Rp 579,60 triliun pada kuartal I 2020. Jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2019, pinjaman tumbuh 4,1% year to date (YtD).

Hal ini sejalan dengan strategi BNI yang sangat selektif dalam melakukan ekspansi di tengah pandemi COVID-19. Adapun peningkatan pinjaman ini ditopang oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 10,4% YoY, yaitu dari Rp 575,75 triliun pada kuartal I 2019 menjadi Rp 635,75 triliun pada kuartal I 2020.
 
&amp;nbsp;Baca juga: BNI Siapkan Rp1,8 Triliun untuk Buyback Saham 
&quot;Dengan pertumbuhan DPK yang baik ini, BNI memiliki likuiditas yang sehat loan to deposit ratio (LDR) BNI pada kuartal I 2020 tercatat sebesar 92,3%,&quot; bunyi keterangan resmi BNI, Selasa (19/5/2020).

Kinerja solid tersebut tidak membuat BNI kehilangan kewaspadaan terhadap kondisi perekonomian ke depan yang belum dapat diprediksi secara akurat, terutama akibat dampak COVID-19, yang belum dapat diperkirakan akhir penyebarannya.
Terlebih, pada kuartal I 2020, indikasi pengaruh COVID-19 terlihat pada peningkatan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) dari 2,3% pada 2019 menjadi 2,4% pada 2020&amp;mdash;meskipun masih jauh di bawah batas maksimal NPL yang ditetapkan regulator sebesar 5%.

&quot;Ke depan, BNI melihat pentingnya mengantisipasi potensi tekanan pada likuiditas, yang dipengaruhi oleh adanya penundaan pembayaran angsuran pokok dan pembayaran bunga dari debitur karena bisnisnya terpengaruh COVID-19, serta tekanan capital outflow dan potensi melemahnya ekspor,&quot; bunyi keterangan tertulis.

Dari sisi profitabilitas, kinerja kredit yang baik mampu mendorong pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp 9,54 triliun atau meningkat 7,7% YoY dibanding periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 8,86 triliun. Kenaikan NII tersebut dikontribusikan oleh kenaikan pendapatan bunga sebesar 3,8% dan penurunan beban bunga sebesar -2,5%.
&quot;Penurunan beban bunga ini menarik karena disebabkan oleh biaya dana (cost of fund)yang turun sebesar 30 bps,&quot; bunyi keterangan tertulis.</content:encoded></item></channel></rss>
