<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kian Membengkak, Defisit APBN 2020 Tembus Rp74,5 Triliun</title><description>Defisit APBN terjadi lantaran penerimaan negara lebih rendah dari belanja negara</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/20/320/2217222/kian-membengkak-defisit-apbn-2020-tembus-rp74-5-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/05/20/320/2217222/kian-membengkak-defisit-apbn-2020-tembus-rp74-5-triliun"/><item><title>Kian Membengkak, Defisit APBN 2020 Tembus Rp74,5 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/20/320/2217222/kian-membengkak-defisit-apbn-2020-tembus-rp74-5-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/05/20/320/2217222/kian-membengkak-defisit-apbn-2020-tembus-rp74-5-triliun</guid><pubDate>Rabu 20 Mei 2020 18:56 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/20/320/2217222/kian-membengkak-defisit-apbn-2020-tembus-rp74-5-triliun-IofTN8bOs6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Grafik Ekonomi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/20/320/2217222/kian-membengkak-defisit-apbn-2020-tembus-rp74-5-triliun-IofTN8bOs6.jpg</image><title>Ilustrasi Grafik Ekonomi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Keuangan mencatatkan defisit anggaran penerimaan dan belanja negara (APBN) sebesar Rp74,5 triliun. Angka ini setara dengan denga 0,44% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, angka defisit ini lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada tahun lalu, defisi APBN mencapai 0,63% dari PDB.
&quot;Defisit APBN hingga 30 April 2020 adalah sebesar Rp74,5 triliun lebih rendah dibandingkan tahun lalu Rp100,3 triliun. 0,44% dari PDB ini lebih rendah dari tahun lalu 0,63%,&quot; ujarnya dalam teleconfrence APBN KiTA, Rabu (20/5/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Baru 31,2%, Pendapatan Negara Capai Rp549,5 Triliun di April
Defisit APBN terjadi lantaran penerimaan negara lebih rendah dari belanja negara. Adapun realisasi penerimaan negara hingga April 2020 mencapai Rp549,5 triliun atau baru  baru mencapai 31,2% dari target yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden nomor 54 tahun 2020 yang sebesar Rp1.760,9 triliun
Menurut Suahasil Nazara pendapatan negara yang rendah ini menyusul rendahnya pendapatan negara yang berasal dari sektor perpajakan. Adapun peneriman pajak hingga akhir April mencapai Rp376,7 triliun atau baru 30% dari target Rp1.254,1 triliun.
Baca Juga:&amp;nbsp;Sri Mulyani: APBN Akan Alami Defisit Rp1.028,5 Triliun
Selain itu, penerimaan juga berasal dai penerimaan bea dan cukai. Adapun hingga akhri april, penerimaan dari bea dan cukai tercata sebesar Rp57,7 triliun atau baru 27,7% dari target Rp208,5 triliun.
Angka ini tubuh sekitar 16,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) adalah Rp114,5 triliun atau 38,5% dari target Rp297,8 triliu&quot;Kita melihat posibility penurunan dari gerak ekonomi yang berarti kemampuan kita untuk men-collect pajak itu berkurang,&quot; ucapnya.
Sementara untuk belanja negara, realisasinya sudah mencapai Rp624 triliun atau 23,9%n dari target Rp2.613,8 triliun. Belanja negara mengalami tumbuh negatif 1,4% karena realokasi dan refocusing anggaran oleh pemerintah.
&quot;Karena memang ketika kita langsung ada realokasi anggaran, belanja barang dan belanja perjalanan dinas langsung berhenti semua. Sementara belanja pegawai masih bisa berjalan,&quot; jelas Suahasil.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Keuangan mencatatkan defisit anggaran penerimaan dan belanja negara (APBN) sebesar Rp74,5 triliun. Angka ini setara dengan denga 0,44% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, angka defisit ini lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada tahun lalu, defisi APBN mencapai 0,63% dari PDB.
&quot;Defisit APBN hingga 30 April 2020 adalah sebesar Rp74,5 triliun lebih rendah dibandingkan tahun lalu Rp100,3 triliun. 0,44% dari PDB ini lebih rendah dari tahun lalu 0,63%,&quot; ujarnya dalam teleconfrence APBN KiTA, Rabu (20/5/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Baru 31,2%, Pendapatan Negara Capai Rp549,5 Triliun di April
Defisit APBN terjadi lantaran penerimaan negara lebih rendah dari belanja negara. Adapun realisasi penerimaan negara hingga April 2020 mencapai Rp549,5 triliun atau baru  baru mencapai 31,2% dari target yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden nomor 54 tahun 2020 yang sebesar Rp1.760,9 triliun
Menurut Suahasil Nazara pendapatan negara yang rendah ini menyusul rendahnya pendapatan negara yang berasal dari sektor perpajakan. Adapun peneriman pajak hingga akhir April mencapai Rp376,7 triliun atau baru 30% dari target Rp1.254,1 triliun.
Baca Juga:&amp;nbsp;Sri Mulyani: APBN Akan Alami Defisit Rp1.028,5 Triliun
Selain itu, penerimaan juga berasal dai penerimaan bea dan cukai. Adapun hingga akhri april, penerimaan dari bea dan cukai tercata sebesar Rp57,7 triliun atau baru 27,7% dari target Rp208,5 triliun.
Angka ini tubuh sekitar 16,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) adalah Rp114,5 triliun atau 38,5% dari target Rp297,8 triliu&quot;Kita melihat posibility penurunan dari gerak ekonomi yang berarti kemampuan kita untuk men-collect pajak itu berkurang,&quot; ucapnya.
Sementara untuk belanja negara, realisasinya sudah mencapai Rp624 triliun atau 23,9%n dari target Rp2.613,8 triliun. Belanja negara mengalami tumbuh negatif 1,4% karena realokasi dan refocusing anggaran oleh pemerintah.
&quot;Karena memang ketika kita langsung ada realokasi anggaran, belanja barang dan belanja perjalanan dinas langsung berhenti semua. Sementara belanja pegawai masih bisa berjalan,&quot; jelas Suahasil.</content:encoded></item></channel></rss>
