<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bursa Saham Dunia Mengalami Situasi yang Sama</title><description>Semua bursa saham di dunia mengalami penurunan harga efek</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/23/278/2218376/bursa-saham-dunia-mengalami-situasi-yang-sama</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/05/23/278/2218376/bursa-saham-dunia-mengalami-situasi-yang-sama"/><item><title>Bursa Saham Dunia Mengalami Situasi yang Sama</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/23/278/2218376/bursa-saham-dunia-mengalami-situasi-yang-sama</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/05/23/278/2218376/bursa-saham-dunia-mengalami-situasi-yang-sama</guid><pubDate>Sabtu 23 Mei 2020 08:49 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/23/278/2218376/bursa-saham-dunia-mengalami-situasi-yang-sama-kuWBDzW9h3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Semua Saham di Dunia Alami Penurunan Harga Efek. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/23/278/2218376/bursa-saham-dunia-mengalami-situasi-yang-sama-kuWBDzW9h3.jpg</image><title>Semua Saham di Dunia Alami Penurunan Harga Efek. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Dunia masih dilanda pandemi Covid-19. Walaupun sebagian negara yang lebih awal terkena serangan virus Covid-19 sudah mulai membaik, sebagian negara lainnya masih dalam masa puncak pandemi, termasuk Indonesia. Berbagai sektor public dan dunia usaha, menerima dampak signifikan dari peristiwa global ini, tidak terkecuali pasar saham dunia.
Semua bursa saham di dunia mengalami penurunan harga efek. Hal ini ditandai dengan indeks harga saham gabungan bursa-bursa global yang serempak menurun selama pandemi. IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Januari 2020 menurun sampai titik terendah di awal April, namun mulai menunjukkan tren bergerak naik perlahan memasuki bulan Mei 2020.
IHSG BEI pada pertengahan Mei berada di kisaran 4.500. Sebelum Covid-19 merebak, IHSG BEI pada awal 2020 berada di posisi 6.325. Kisaran indeks yang saat ini berada di posisi 4.500 berpotensi untuk kembali naik ke angka di atas 6.300.
Baca Juga: BEI Mudahkan Persyaratan Dalam Pencatatan Efek Bersifat Utang
Sebelumnya, IHSG BEI pernah berada di kisaran 4.500 pada tahun 2013 atau tujuh tahun lalu. Ini artinya, jika investor saat ini masuk berinvestasi saham, bisa membeli saham-saham dengan harga yang relatif murah. Perbandingan murahnya harga saham saat ini sama seperti ketika membeli saham pada tujuh tahun lalu. Ini menjadi peluang bagi investor di pasar modal Indonesia untuk mulai berinvestasi dan merealisasikan keuntungan saat perekonomian dunia membaik atau telah berkembang pesat kembali.
Kondisi ini tidak hanya dialami bursa saham di Indonesia. Semua bursa saham di dunia terkena dampak yang sama. Bursa di Jepang, misalnya. Indeks Nikkei yang menjadi indikator perdagangan saham di Jepang pada awal 2020 mencatat Indeks saham tertinggi di kisaran 24.083.
Baca Juga: BEI Catat Sudah Ada 26 Emisi Obligasi dan Sukuk Senilai Rp4,06 Triliun
Pada pertengahan Maret, saat wabah Covid-19 masih memuncak, indeks saham Nikkei terkoreksi hingga ke level terendah 16.552. Pada minggu ketiga Mei, indeks Nikkei sudah mulai naik ke kisaran level 20.595.
Indeks Dow Jones Industrial Average Indeks (DJIA), yang menjadi salah satu indikator utama perdagangan saham di Amerika Serikat, pada bulan Februari masih berada di level tertinggi sepanjang tahun, yakni 29.551. Indeks kemudian mengalami penurunan signifikan hingga mencapai level terendah pada akhir Maret ke posisi 18.591. Pada minggu ketiga Mei, DJIA kembali naik ke posisi 24.206.
Bagaimana dengan bursa saham di Tiongkok. Negeri Tirai Bambu ini  menjadi lokasi pertama penyebaran virus Covid-19. Saat ini, Tiongkok  telah berhasil menurunkan penyebaran virus secara signifikan.
Pada awal Januari 2020, yaitu pada saat wabah ini masih belum  menyebar luas, indeks saham Shanghai tercatat di angka 3.116. Pada  minggu keempat Maret, indeks Shanghai merosot ke posisi terendah tahun  ini, yakni 2.660. Sejalan dengan wabah yang mereda, minggu ketiga Mei  indeks saham Shanghai sudah ada pada level 2.899.
Bursa saham di Eropa juga menunjukkan kondisi setali tiga uang.  Indeks bursa saham Inggris FTSE, salah satunya, pada bulan Januari 2020  sempat menyentuh level 7.675. FTSE mengalami koreksi dalam hingga pada  akhir Maret, berada pada posisi di bawah level 5.000. Namun, pada minggu  ketiga Mei, FTSEsudah beranjak ke kisaran 6.002.
Mari kita lihat indeks di bursa saham tetangga Singapura (Straits  Times Indeks/STI). Indeks STI pada pertengahan Januari 2020 berada pada  level 3.281. Posisi terendah dicatatkan pada akhir Maret, di mana STI  terkoreksi menjadi 2.233. Pada minggu ketiga Mei 2020, Indeks STI sudah  ada di level 2.581.
Kondisi yang terjadi di berbagai bursa dunia ini menunjukkan pola  yang sama. Investor di seluruh dunia sempat mengalami kondisi negatif  yang sama, yaitu menderita potensi kerugian yang besar akibat pandemi  Covid-19. Namun, dalam dua bulan belakangan ini, investor di seluruh  dunia juga turut merasakan momentum kenaikan indeks bursa global,  sehingga memberikan sinyal positif akan prospek pertumbuhan indeks saham  ke depannya.
Secara umum, investor di seluruh dunia mengalami peluang yang sama  jika masuk kembali ke pasar saham di saat ini, untuk meraih potensi  keuntungan yang besar di masa depan. Salah satu hal yang dapat dijadikan  pertimbangan oleh investor untuk menentukan keputusan berinvestasinya  adalah posisi keuangan yang dimiliki oleh masing-masing investor.  Illustrasi yang mudah, misalnya, jika investor tersebut merupakan  seorang pengusaha.Terdapat tiga kelompok besar pengusaha di dunia. Pertama, kelompok   yang bidang usahanya paling besar terkena imbas pandemi Covid-19.   Seperti sektor pariwisata, barang-barang lifestyle, pusat perbelanjaan,   dan caf&amp;eacute;. Mereka ini tentunya hanya butuh bertahan hidup dan relatif   sulit untuk melakukan investasi.
Kelompok kedua adalah golongan pengusaha yang bidang usahanya terkena   imbas pandemi, tetapi hanya mengalami penurunan omzet antara 30-50%.   Mereka umumnya masih memiliki cash flow yang memadai. Daripada cashflow   yang ada digunakan untuk pengembangan usaha yang belum pasti, mereka   bisa meraih peluang dari harga-harga saham yang relatif rendah dengan   melakukan investasi portofolio di pasar saham.
Sementara, kelompok ketiga merupakan golongan pebisnis yang justru   mendapatkan keuntungan besar selama masa pandemi Covid-19, contohnya,   pebisnis sembako, produsen masker dan APD, serta sektor usaha lain yang   memproduksi barang-barang yang dibutuhkan selama pandemi. Mereka yang   ada di kelompok ini bisa memanfaatkan peluang berinvestasi di pasar   saham saat ini dengan mengalokasikan keuntungan usaha pada instrumen   saham yang tercatat di BEI. (TIM BEI)
</description><content:encoded>JAKARTA - Dunia masih dilanda pandemi Covid-19. Walaupun sebagian negara yang lebih awal terkena serangan virus Covid-19 sudah mulai membaik, sebagian negara lainnya masih dalam masa puncak pandemi, termasuk Indonesia. Berbagai sektor public dan dunia usaha, menerima dampak signifikan dari peristiwa global ini, tidak terkecuali pasar saham dunia.
Semua bursa saham di dunia mengalami penurunan harga efek. Hal ini ditandai dengan indeks harga saham gabungan bursa-bursa global yang serempak menurun selama pandemi. IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Januari 2020 menurun sampai titik terendah di awal April, namun mulai menunjukkan tren bergerak naik perlahan memasuki bulan Mei 2020.
IHSG BEI pada pertengahan Mei berada di kisaran 4.500. Sebelum Covid-19 merebak, IHSG BEI pada awal 2020 berada di posisi 6.325. Kisaran indeks yang saat ini berada di posisi 4.500 berpotensi untuk kembali naik ke angka di atas 6.300.
Baca Juga: BEI Mudahkan Persyaratan Dalam Pencatatan Efek Bersifat Utang
Sebelumnya, IHSG BEI pernah berada di kisaran 4.500 pada tahun 2013 atau tujuh tahun lalu. Ini artinya, jika investor saat ini masuk berinvestasi saham, bisa membeli saham-saham dengan harga yang relatif murah. Perbandingan murahnya harga saham saat ini sama seperti ketika membeli saham pada tujuh tahun lalu. Ini menjadi peluang bagi investor di pasar modal Indonesia untuk mulai berinvestasi dan merealisasikan keuntungan saat perekonomian dunia membaik atau telah berkembang pesat kembali.
Kondisi ini tidak hanya dialami bursa saham di Indonesia. Semua bursa saham di dunia terkena dampak yang sama. Bursa di Jepang, misalnya. Indeks Nikkei yang menjadi indikator perdagangan saham di Jepang pada awal 2020 mencatat Indeks saham tertinggi di kisaran 24.083.
Baca Juga: BEI Catat Sudah Ada 26 Emisi Obligasi dan Sukuk Senilai Rp4,06 Triliun
Pada pertengahan Maret, saat wabah Covid-19 masih memuncak, indeks saham Nikkei terkoreksi hingga ke level terendah 16.552. Pada minggu ketiga Mei, indeks Nikkei sudah mulai naik ke kisaran level 20.595.
Indeks Dow Jones Industrial Average Indeks (DJIA), yang menjadi salah satu indikator utama perdagangan saham di Amerika Serikat, pada bulan Februari masih berada di level tertinggi sepanjang tahun, yakni 29.551. Indeks kemudian mengalami penurunan signifikan hingga mencapai level terendah pada akhir Maret ke posisi 18.591. Pada minggu ketiga Mei, DJIA kembali naik ke posisi 24.206.
Bagaimana dengan bursa saham di Tiongkok. Negeri Tirai Bambu ini  menjadi lokasi pertama penyebaran virus Covid-19. Saat ini, Tiongkok  telah berhasil menurunkan penyebaran virus secara signifikan.
Pada awal Januari 2020, yaitu pada saat wabah ini masih belum  menyebar luas, indeks saham Shanghai tercatat di angka 3.116. Pada  minggu keempat Maret, indeks Shanghai merosot ke posisi terendah tahun  ini, yakni 2.660. Sejalan dengan wabah yang mereda, minggu ketiga Mei  indeks saham Shanghai sudah ada pada level 2.899.
Bursa saham di Eropa juga menunjukkan kondisi setali tiga uang.  Indeks bursa saham Inggris FTSE, salah satunya, pada bulan Januari 2020  sempat menyentuh level 7.675. FTSE mengalami koreksi dalam hingga pada  akhir Maret, berada pada posisi di bawah level 5.000. Namun, pada minggu  ketiga Mei, FTSEsudah beranjak ke kisaran 6.002.
Mari kita lihat indeks di bursa saham tetangga Singapura (Straits  Times Indeks/STI). Indeks STI pada pertengahan Januari 2020 berada pada  level 3.281. Posisi terendah dicatatkan pada akhir Maret, di mana STI  terkoreksi menjadi 2.233. Pada minggu ketiga Mei 2020, Indeks STI sudah  ada di level 2.581.
Kondisi yang terjadi di berbagai bursa dunia ini menunjukkan pola  yang sama. Investor di seluruh dunia sempat mengalami kondisi negatif  yang sama, yaitu menderita potensi kerugian yang besar akibat pandemi  Covid-19. Namun, dalam dua bulan belakangan ini, investor di seluruh  dunia juga turut merasakan momentum kenaikan indeks bursa global,  sehingga memberikan sinyal positif akan prospek pertumbuhan indeks saham  ke depannya.
Secara umum, investor di seluruh dunia mengalami peluang yang sama  jika masuk kembali ke pasar saham di saat ini, untuk meraih potensi  keuntungan yang besar di masa depan. Salah satu hal yang dapat dijadikan  pertimbangan oleh investor untuk menentukan keputusan berinvestasinya  adalah posisi keuangan yang dimiliki oleh masing-masing investor.  Illustrasi yang mudah, misalnya, jika investor tersebut merupakan  seorang pengusaha.Terdapat tiga kelompok besar pengusaha di dunia. Pertama, kelompok   yang bidang usahanya paling besar terkena imbas pandemi Covid-19.   Seperti sektor pariwisata, barang-barang lifestyle, pusat perbelanjaan,   dan caf&amp;eacute;. Mereka ini tentunya hanya butuh bertahan hidup dan relatif   sulit untuk melakukan investasi.
Kelompok kedua adalah golongan pengusaha yang bidang usahanya terkena   imbas pandemi, tetapi hanya mengalami penurunan omzet antara 30-50%.   Mereka umumnya masih memiliki cash flow yang memadai. Daripada cashflow   yang ada digunakan untuk pengembangan usaha yang belum pasti, mereka   bisa meraih peluang dari harga-harga saham yang relatif rendah dengan   melakukan investasi portofolio di pasar saham.
Sementara, kelompok ketiga merupakan golongan pebisnis yang justru   mendapatkan keuntungan besar selama masa pandemi Covid-19, contohnya,   pebisnis sembako, produsen masker dan APD, serta sektor usaha lain yang   memproduksi barang-barang yang dibutuhkan selama pandemi. Mereka yang   ada di kelompok ini bisa memanfaatkan peluang berinvestasi di pasar   saham saat ini dengan mengalokasikan keuntungan usaha pada instrumen   saham yang tercatat di BEI. (TIM BEI)
</content:encoded></item></channel></rss>
