<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>4 Strategi Pemulihan Ekonomi Desa Pasca Pandemi Covid-19</title><description>Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) miliki empat strategi</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/26/320/2219810/4-strategi-pemulihan-ekonomi-desa-pasca-pandemi-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/05/26/320/2219810/4-strategi-pemulihan-ekonomi-desa-pasca-pandemi-covid-19"/><item><title>4 Strategi Pemulihan Ekonomi Desa Pasca Pandemi Covid-19</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/05/26/320/2219810/4-strategi-pemulihan-ekonomi-desa-pasca-pandemi-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/05/26/320/2219810/4-strategi-pemulihan-ekonomi-desa-pasca-pandemi-covid-19</guid><pubDate>Selasa 26 Mei 2020 15:13 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/26/320/2219810/4-strategi-pemulihan-ekonomi-desa-pasca-pandemi-covid-19-bxtcRz8zLa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Virus Corona (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/26/320/2219810/4-strategi-pemulihan-ekonomi-desa-pasca-pandemi-covid-19-bxtcRz8zLa.jpg</image><title>Virus Corona (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar tidak ingin desa itu menjadi pemerintah tingkat III karena desa miliki ciri khas, kearifan lokal, adat istiadat dan segala bentuk pembangunan di dalamnya bertumpu pada akar budaya.

Desa, kata Menteri Desa, harus dikembalikan ke akar budaya yang sebenarnya. Desa menjadi sub kultur dalam satu sistem masyarakat Indonesia yang makro dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

&quot;Olehnya, program lima tahun ke depannya, kami agak fokus ke desa adat agar bisa mengambil beberapa desa dengan representasi akar budaya yang ada di Indonesia,&quot; katanya seperti dilansir laman resmi Kemendesa, Jakarta, Selasa (26/5/2020).
Baca Juga: Tahap Pertama New Normal, Erick Thohir Latih BUMN agar Tak Blunder
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) miliki empat strategi untuk pemulihan ekonomi pedesaan pasca Covid-19 yang telah mulai disiapkan sejak awal.

Pertama, Ketahanan Pangan yang meliputi Intensifikasi, ekstensifikai dan Sindikasi. Badan pangan dunia (FAO) telah peringatkan soal ancaman kekurangan pangan dunia. Faktornya, katanya disamping kekeringan juga faktor bangkitnya nasionalisme baru, dari globalisasi ke de-globalisasi. Hal imbas dari pandemi Covid-19, dimana setiap negara berpikir untuk negaranya sendiri seperti mencukupi kebutuhan pangan sendiri sebelum ambil langkah ekspor.

Hal ini sebenarnya beri dampak positif bagi kemandirian bangsa. Pasalnya, setelah Covid-19 ini, Indonesia tersadarkan jika 99 persen produk obat di Indonesia itu berasal dari luar negeri.

&quot;Ini sesuatu yang menggelikan pasalnya sumber daya alam kita sungguh luar biasa. Sisi lain, kita bicara kelangkaan APD, Baju Hasmat, Masker dan seterusnya. Kita baru sadar jika produk APD, Indonesia menempati peringkat kedua terbesar tetapi semua di ekspor,&quot; ujar Gus Menteri.

Adanya kesadaran baru yang dihadapkan dengan fakta-fakta yang luar ini membuat Indonesia mau tidak mau harus benar-benar mandiri, termasuk soal ketahanan pangan. Makanya, Pemerintah fokus selesaikan urusan pangan di desa maka selesaikan persoalan pangan di Indonesia karena Indonesia adalah Desa dan Desa adalah Indonesia.
Baca Juga: Jaga Koordinasi dengan BI, Sri Mulyani: Hubungan Baik Jadi Esensi Penting
Konteks intensifikasi, Kemendes PDTT sudah lakukan upaya untuk meningkatkan nilai produk-produk pertanian di daerah-daerah transmigrasi. Kemendes PDTT telah lakukan pemetaan produk pertanian, utamanya tanaman pangan.

Hal ini bertujuan meningkatkan produksivitas hasil pertanian, dari tiga ton pertahun menjadi enam ton pertahun dengan dua kali musim panen.

Kemendes PDTT miliki lahan di wilayah transmigrasi yang bisa digunakan untuk ekstensifikasi. Hal ini bakal memberi efek domino, yaitu perluas lahan pertanian dan bakal meningkatkan produksi para transmigran yang berefek pada naiknya penghasilan.

Hal ini adalah diversifikasi pangan. Ini perlu dilakukan agar masyarakat kita tidak terlalu bergantung pada satu model pangan. Ini juga bakal berefek secara ekonomi terhadap hasil-hasil produksi pertanian.
Langkah kedua yang ditempuh Kemendes PDTT untuk tingkatkan  revitalisasi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Langkah ini strategis  karena saat ini sekitar 50 ribu desa telah miliki Bumdes yang miliki  core bisnis yaitu Desa Wisata dan Produk Unggulan.

&quot;Yang paling bagus hari ini adalah desa wisata karena kebutuhan  berwisata masyarakat kita itu sangat tinggi. Hampir semua desa-desa  wisata yang dikelola oleh Bumdes itu maju,&quot; katanya.

Olehnya, dia sarankan Bumdes untuk kembangkan desa wisata tapi dengan  catatan jangan bangun desa wisata pabrikan karena akan membuat  masyarakat mudah jenuh. Sebaiknya membangun desa wisata berbasis alam  karena alam tidak pernah membosankan.

Soal produk unggulan desa, potensinya sangat luar biasa. Bahkan  Bumdesma di Buton Utara pun telah lakukan ekspor perdana kopra putih ke  China.

Selain kopra, Vanila produksi Indonesia pun tidak kalah dari  Madagaskar. Namun, produk ini pernah jatuh karena ulah tengkulak yang  coba bermain curang dan diketahui negara tujuan hingga berimbas  kurangnya kepercayaan berkurang.

Olehnya, perlu dilakukan sebuah langkah strategis agar produk-produk unggulan ini tetap selalu bisa penuhi kualitas ekspor.
&amp;nbsp;
 
Langkah ketiga, Kemendes PDTT terus berupaya bangun Digitalisasi  Ekonomi Desa dengan menggandeng e-commerce global seperti Tokopedia dan  Shopee. Platform ini kemudian berikan pelatihan-pelatihan agar produk  unggulan desa bisa dipasarkan secara digital dan semakin luas.

&quot;Apalagi di siituasi Covid-19 seperti ini. pemasaran produk unggulan desa bisa tetap dilakukan,&quot; imbuh Gus Menteri.
Keempat adalah Padat Karya Tunai Desa (PKTD). Ada sejumlah syarat   yang harus dipenuhi untuk PKTD ini yaitu tenaga kerja harus berasalh   kelompok miskin, pengangguran dan kelompok marjinal lain.

PKTD ini pada hakikatnya adalah bentuk pekerjaan yang bersifat massal   untuk tujuan pembangunan tertentu, termasuk desa wisata. Olehnya, dia   persilahkan pergunakan dana desa untuk pemnbangunan kembali desa-desa   wisata tapi gunakan skema PKTD untuk tingkatkan daya beli masyarakat

&quot;Inilah strategi untuk bangkitkan ekonomi desa pasca Covid-19 yang   tentu saja butuh tahapan-tahapan. Saat grafik Covid-19 flat kemudian   penurunan, pasti ada proses relaksasi. Masa ini tidak pendek yang harus   dipersiapkan,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar tidak ingin desa itu menjadi pemerintah tingkat III karena desa miliki ciri khas, kearifan lokal, adat istiadat dan segala bentuk pembangunan di dalamnya bertumpu pada akar budaya.

Desa, kata Menteri Desa, harus dikembalikan ke akar budaya yang sebenarnya. Desa menjadi sub kultur dalam satu sistem masyarakat Indonesia yang makro dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

&quot;Olehnya, program lima tahun ke depannya, kami agak fokus ke desa adat agar bisa mengambil beberapa desa dengan representasi akar budaya yang ada di Indonesia,&quot; katanya seperti dilansir laman resmi Kemendesa, Jakarta, Selasa (26/5/2020).
Baca Juga: Tahap Pertama New Normal, Erick Thohir Latih BUMN agar Tak Blunder
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) miliki empat strategi untuk pemulihan ekonomi pedesaan pasca Covid-19 yang telah mulai disiapkan sejak awal.

Pertama, Ketahanan Pangan yang meliputi Intensifikasi, ekstensifikai dan Sindikasi. Badan pangan dunia (FAO) telah peringatkan soal ancaman kekurangan pangan dunia. Faktornya, katanya disamping kekeringan juga faktor bangkitnya nasionalisme baru, dari globalisasi ke de-globalisasi. Hal imbas dari pandemi Covid-19, dimana setiap negara berpikir untuk negaranya sendiri seperti mencukupi kebutuhan pangan sendiri sebelum ambil langkah ekspor.

Hal ini sebenarnya beri dampak positif bagi kemandirian bangsa. Pasalnya, setelah Covid-19 ini, Indonesia tersadarkan jika 99 persen produk obat di Indonesia itu berasal dari luar negeri.

&quot;Ini sesuatu yang menggelikan pasalnya sumber daya alam kita sungguh luar biasa. Sisi lain, kita bicara kelangkaan APD, Baju Hasmat, Masker dan seterusnya. Kita baru sadar jika produk APD, Indonesia menempati peringkat kedua terbesar tetapi semua di ekspor,&quot; ujar Gus Menteri.

Adanya kesadaran baru yang dihadapkan dengan fakta-fakta yang luar ini membuat Indonesia mau tidak mau harus benar-benar mandiri, termasuk soal ketahanan pangan. Makanya, Pemerintah fokus selesaikan urusan pangan di desa maka selesaikan persoalan pangan di Indonesia karena Indonesia adalah Desa dan Desa adalah Indonesia.
Baca Juga: Jaga Koordinasi dengan BI, Sri Mulyani: Hubungan Baik Jadi Esensi Penting
Konteks intensifikasi, Kemendes PDTT sudah lakukan upaya untuk meningkatkan nilai produk-produk pertanian di daerah-daerah transmigrasi. Kemendes PDTT telah lakukan pemetaan produk pertanian, utamanya tanaman pangan.

Hal ini bertujuan meningkatkan produksivitas hasil pertanian, dari tiga ton pertahun menjadi enam ton pertahun dengan dua kali musim panen.

Kemendes PDTT miliki lahan di wilayah transmigrasi yang bisa digunakan untuk ekstensifikasi. Hal ini bakal memberi efek domino, yaitu perluas lahan pertanian dan bakal meningkatkan produksi para transmigran yang berefek pada naiknya penghasilan.

Hal ini adalah diversifikasi pangan. Ini perlu dilakukan agar masyarakat kita tidak terlalu bergantung pada satu model pangan. Ini juga bakal berefek secara ekonomi terhadap hasil-hasil produksi pertanian.
Langkah kedua yang ditempuh Kemendes PDTT untuk tingkatkan  revitalisasi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Langkah ini strategis  karena saat ini sekitar 50 ribu desa telah miliki Bumdes yang miliki  core bisnis yaitu Desa Wisata dan Produk Unggulan.

&quot;Yang paling bagus hari ini adalah desa wisata karena kebutuhan  berwisata masyarakat kita itu sangat tinggi. Hampir semua desa-desa  wisata yang dikelola oleh Bumdes itu maju,&quot; katanya.

Olehnya, dia sarankan Bumdes untuk kembangkan desa wisata tapi dengan  catatan jangan bangun desa wisata pabrikan karena akan membuat  masyarakat mudah jenuh. Sebaiknya membangun desa wisata berbasis alam  karena alam tidak pernah membosankan.

Soal produk unggulan desa, potensinya sangat luar biasa. Bahkan  Bumdesma di Buton Utara pun telah lakukan ekspor perdana kopra putih ke  China.

Selain kopra, Vanila produksi Indonesia pun tidak kalah dari  Madagaskar. Namun, produk ini pernah jatuh karena ulah tengkulak yang  coba bermain curang dan diketahui negara tujuan hingga berimbas  kurangnya kepercayaan berkurang.

Olehnya, perlu dilakukan sebuah langkah strategis agar produk-produk unggulan ini tetap selalu bisa penuhi kualitas ekspor.
&amp;nbsp;
 
Langkah ketiga, Kemendes PDTT terus berupaya bangun Digitalisasi  Ekonomi Desa dengan menggandeng e-commerce global seperti Tokopedia dan  Shopee. Platform ini kemudian berikan pelatihan-pelatihan agar produk  unggulan desa bisa dipasarkan secara digital dan semakin luas.

&quot;Apalagi di siituasi Covid-19 seperti ini. pemasaran produk unggulan desa bisa tetap dilakukan,&quot; imbuh Gus Menteri.
Keempat adalah Padat Karya Tunai Desa (PKTD). Ada sejumlah syarat   yang harus dipenuhi untuk PKTD ini yaitu tenaga kerja harus berasalh   kelompok miskin, pengangguran dan kelompok marjinal lain.

PKTD ini pada hakikatnya adalah bentuk pekerjaan yang bersifat massal   untuk tujuan pembangunan tertentu, termasuk desa wisata. Olehnya, dia   persilahkan pergunakan dana desa untuk pemnbangunan kembali desa-desa   wisata tapi gunakan skema PKTD untuk tingkatkan daya beli masyarakat

&quot;Inilah strategi untuk bangkitkan ekonomi desa pasca Covid-19 yang   tentu saja butuh tahapan-tahapan. Saat grafik Covid-19 flat kemudian   penurunan, pasti ada proses relaksasi. Masa ini tidak pendek yang harus   dipersiapkan,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
