<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Keluhan Pengusaha Mamin saat Lebaran: Tidak Menghasilkan Apa-Apa</title><description>abungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) memprediksi pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman (mamin) akan turun</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/06/03/320/2223921/keluhan-pengusaha-mamin-saat-lebaran-tidak-menghasilkan-apa-apa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/06/03/320/2223921/keluhan-pengusaha-mamin-saat-lebaran-tidak-menghasilkan-apa-apa"/><item><title>Keluhan Pengusaha Mamin saat Lebaran: Tidak Menghasilkan Apa-Apa</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/06/03/320/2223921/keluhan-pengusaha-mamin-saat-lebaran-tidak-menghasilkan-apa-apa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/06/03/320/2223921/keluhan-pengusaha-mamin-saat-lebaran-tidak-menghasilkan-apa-apa</guid><pubDate>Rabu 03 Juni 2020 14:48 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/06/03/320/2223921/keluhan-pengusaha-mamin-saat-lebaran-tidak-menghasilkan-apa-apa-BvtTfesXLQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/06/03/320/2223921/keluhan-pengusaha-mamin-saat-lebaran-tidak-menghasilkan-apa-apa-BvtTfesXLQ.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description> 
JAKARTA - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) memprediksi pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman (mamin) akan turun menjadi di kisaran 4%-4,5% akibat pandemi virus corona atau Covid-19.
Baca Juga: Hadapi Covid-19, Gapmmi: Pengusaha Tidak Lagi Mikir Untung Rugi
Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman pada acara IDX Channel hari ini. Menurutnya bulan Ramadhan dan Lebaran kemarin yang biasanya meriah tidak mampu mendongkrak pertumbuhan industri mamin tahun ini.

&quot;Jadi pada semester kedua ini, kami berpikir bagaimana membuat meriah, karena momen Lebaran tidak menghasilkan apa-apa,&quot; ujar dia, Rabu (3/6/2020).
Baca Juga: Jadi Sektor Andalan, Menperin Optimistis Industri Mamin Tumbuh di Tengah Covid-19
Dia juga berharap setelah bulan Desember, akan ada festive season atau musim perayaan. Sebab libur bersama di bulan Desember yang diharapkan bisa meningkatkan permintaan.

&quot;Kami juga merencanakan untuk mengulang pasar rakyat di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia untuk menggairahkan ekonomi,&quot; jelas dia.

Kemudian, lanjut dia, penjualan saat musim festive biasanya meningkat hingga 30% dibandingkan rata-rata penjualan normal bulanan.

&quot;Kami biasanya mendata 2 bulan sebelum Lebaran dan saat Lebaran, kali ini datanya belum keluar. Namun hasil pantauan kami ke anggota bervariasi, ada penurunan yang berkisar dari 15%-50%. Maka itu apabila dirata-rata, penjualan menurun secara year-on-year (yoy) sebesar 20-30%. Jatuhnya flat,&quot; ungkap dia.
</description><content:encoded> 
JAKARTA - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) memprediksi pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman (mamin) akan turun menjadi di kisaran 4%-4,5% akibat pandemi virus corona atau Covid-19.
Baca Juga: Hadapi Covid-19, Gapmmi: Pengusaha Tidak Lagi Mikir Untung Rugi
Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman pada acara IDX Channel hari ini. Menurutnya bulan Ramadhan dan Lebaran kemarin yang biasanya meriah tidak mampu mendongkrak pertumbuhan industri mamin tahun ini.

&quot;Jadi pada semester kedua ini, kami berpikir bagaimana membuat meriah, karena momen Lebaran tidak menghasilkan apa-apa,&quot; ujar dia, Rabu (3/6/2020).
Baca Juga: Jadi Sektor Andalan, Menperin Optimistis Industri Mamin Tumbuh di Tengah Covid-19
Dia juga berharap setelah bulan Desember, akan ada festive season atau musim perayaan. Sebab libur bersama di bulan Desember yang diharapkan bisa meningkatkan permintaan.

&quot;Kami juga merencanakan untuk mengulang pasar rakyat di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia untuk menggairahkan ekonomi,&quot; jelas dia.

Kemudian, lanjut dia, penjualan saat musim festive biasanya meningkat hingga 30% dibandingkan rata-rata penjualan normal bulanan.

&quot;Kami biasanya mendata 2 bulan sebelum Lebaran dan saat Lebaran, kali ini datanya belum keluar. Namun hasil pantauan kami ke anggota bervariasi, ada penurunan yang berkisar dari 15%-50%. Maka itu apabila dirata-rata, penjualan menurun secara year-on-year (yoy) sebesar 20-30%. Jatuhnya flat,&quot; ungkap dia.
</content:encoded></item></channel></rss>
