<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Petani Sempat Berfikir Membuang Hasil Panen jika Tak Ada Pasar Online</title><description>Hasil panen para petani berlimpah ruah. Akan tetapi, panen tersebut sulit untuk dijual.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/06/06/320/2225546/petani-sempat-berfikir-membuang-hasil-panen-jika-tak-ada-pasar-online</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/06/06/320/2225546/petani-sempat-berfikir-membuang-hasil-panen-jika-tak-ada-pasar-online"/><item><title>Petani Sempat Berfikir Membuang Hasil Panen jika Tak Ada Pasar Online</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/06/06/320/2225546/petani-sempat-berfikir-membuang-hasil-panen-jika-tak-ada-pasar-online</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/06/06/320/2225546/petani-sempat-berfikir-membuang-hasil-panen-jika-tak-ada-pasar-online</guid><pubDate>Sabtu 06 Juni 2020 18:10 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/06/06/320/2225546/petani-sempat-berfikir-membuang-hasil-panen-jika-tak-ada-pasar-online-9iJWerak4W.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ecommerce (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/06/06/320/2225546/petani-sempat-berfikir-membuang-hasil-panen-jika-tak-ada-pasar-online-9iJWerak4W.jpg</image><title>Ecommerce (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Hasil panen para petani berlimpah ruah. Akan tetapi, panen tersebut sulit untuk dijual.

Hal ini, dikarenakan persoalan distribusi hasil panen. Hal ini dikarenakan pasar tutup demi mencegah penyebaran virus Corona atau Covid-19.

Mengutip BBC Indonesia, Jakarta, Sabtu (6/6/2020), contohnya, di Malaysia, selagi karantina nasional, petani di Dataran Tinggi Cameron dihadapkan dengan persoalan distrisbusi hasil panen. Pasar tutup demi mencegah penyebaran virus.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Petani Mawar Alami Kerugian selama Pandemi Covid-19
Untuk pertama kalinya, para pertani ini menggunakan perdagangan daring atau e-commerce. Hal ini yang menjadi penyelamat saat karantina.

Cerita semacam ini banyak bertebaran di kalangan petani dan nelayan di Asia Tenggara yang menyambut cara perdagangan baru ini.

Karantina di Malaysia, yang disebut sebagai Movement Control Order (MCO), telah diterapkan sejak Maret dan diperpanjang setidaknya sampai 9 Juni.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Petani-Nelayan Dapat Bantuan Modal Kerja, Jokowi: Prosedurnya Jangan Berbelit-belit
Steve Teoh, pemilik Perkebunan Deoness Plantation di Dataran Tinggi Cameron, 200 kilometer sebelah utara Kuala Lumpur berdagang jagung dan bunga.

&amp;ldquo;Ketika terjadi MCO, saya berpikir untuk membuang bunga-bunga hasil panen karena permintaan tiba-tiba jatuh drastis karena toko bunga pada tutup,&amp;rdquo; katanya.

Namun Lazada membawa Teoh dan menghubungkannya dengan pedagang bunga daring, dan ia bisa mendapat basis pelanggan baru.

Lazada juga membantu petani yang menghadapi masalah serupa di Malaysia, yang kebingungan dengan tumpukan buah dan sayur segar yang tak bisa mereka jual dengan cara tradisional.

Di minggu pertama karantina, lebih dari 1,5 ton sayuran terjual, menurut Lazada.

&amp;ldquo;Tanpa saluran daring, mungkin bunga-bunga ini akan saya buang,&amp;rdquo; kata Teoh.

Audrey Goo adalah pemilik MyFishman, yang memberi jasa langganan pengantaran makanan laut segar di Malaysia.

Ia juga menghadapi masalah tak bisa menjual di pasar atau mengantar ikannya sebelum bergabung dengan penjualan daring.

&amp;ldquo;Bisnis kami terpengaruh Covid-19, karena kami tidak bisa memasok ke restoran, penjualan besar dan agen, atau cafe-cafe karena mereka tutup. Namun kami berjualan secara daring untuk mempertahankan bisnis,&amp;rdquo; katanya.

Selama MCO, penjualan di MyFishman meningkat 150% selama dua minggu ketika warga menumpuk bahan makanan di rumah.

Lazada mengatakan dari pertengahan Januari hingga pertengahan Mei, pemesanan produk segar meningkat lebih dari dua kali lipat di kawasan Asia Tenggara.

&amp;ldquo;Bisnis di semua industri dan sektor, termasuk agrikultur, mulai bertumpu pada bisnis daring untuk menangkap kesempatan yang baru muncul akibat perubahan perilaku konsumen,&amp;rdquo; kata Pierre Poignant, direktur eksekutif Lazada.</description><content:encoded>JAKARTA - Hasil panen para petani berlimpah ruah. Akan tetapi, panen tersebut sulit untuk dijual.

Hal ini, dikarenakan persoalan distribusi hasil panen. Hal ini dikarenakan pasar tutup demi mencegah penyebaran virus Corona atau Covid-19.

Mengutip BBC Indonesia, Jakarta, Sabtu (6/6/2020), contohnya, di Malaysia, selagi karantina nasional, petani di Dataran Tinggi Cameron dihadapkan dengan persoalan distrisbusi hasil panen. Pasar tutup demi mencegah penyebaran virus.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Petani Mawar Alami Kerugian selama Pandemi Covid-19
Untuk pertama kalinya, para pertani ini menggunakan perdagangan daring atau e-commerce. Hal ini yang menjadi penyelamat saat karantina.

Cerita semacam ini banyak bertebaran di kalangan petani dan nelayan di Asia Tenggara yang menyambut cara perdagangan baru ini.

Karantina di Malaysia, yang disebut sebagai Movement Control Order (MCO), telah diterapkan sejak Maret dan diperpanjang setidaknya sampai 9 Juni.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Petani-Nelayan Dapat Bantuan Modal Kerja, Jokowi: Prosedurnya Jangan Berbelit-belit
Steve Teoh, pemilik Perkebunan Deoness Plantation di Dataran Tinggi Cameron, 200 kilometer sebelah utara Kuala Lumpur berdagang jagung dan bunga.

&amp;ldquo;Ketika terjadi MCO, saya berpikir untuk membuang bunga-bunga hasil panen karena permintaan tiba-tiba jatuh drastis karena toko bunga pada tutup,&amp;rdquo; katanya.

Namun Lazada membawa Teoh dan menghubungkannya dengan pedagang bunga daring, dan ia bisa mendapat basis pelanggan baru.

Lazada juga membantu petani yang menghadapi masalah serupa di Malaysia, yang kebingungan dengan tumpukan buah dan sayur segar yang tak bisa mereka jual dengan cara tradisional.

Di minggu pertama karantina, lebih dari 1,5 ton sayuran terjual, menurut Lazada.

&amp;ldquo;Tanpa saluran daring, mungkin bunga-bunga ini akan saya buang,&amp;rdquo; kata Teoh.

Audrey Goo adalah pemilik MyFishman, yang memberi jasa langganan pengantaran makanan laut segar di Malaysia.

Ia juga menghadapi masalah tak bisa menjual di pasar atau mengantar ikannya sebelum bergabung dengan penjualan daring.

&amp;ldquo;Bisnis kami terpengaruh Covid-19, karena kami tidak bisa memasok ke restoran, penjualan besar dan agen, atau cafe-cafe karena mereka tutup. Namun kami berjualan secara daring untuk mempertahankan bisnis,&amp;rdquo; katanya.

Selama MCO, penjualan di MyFishman meningkat 150% selama dua minggu ketika warga menumpuk bahan makanan di rumah.

Lazada mengatakan dari pertengahan Januari hingga pertengahan Mei, pemesanan produk segar meningkat lebih dari dua kali lipat di kawasan Asia Tenggara.

&amp;ldquo;Bisnis di semua industri dan sektor, termasuk agrikultur, mulai bertumpu pada bisnis daring untuk menangkap kesempatan yang baru muncul akibat perubahan perilaku konsumen,&amp;rdquo; kata Pierre Poignant, direktur eksekutif Lazada.</content:encoded></item></channel></rss>
