<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Industri Pengolahan Butuh Stimulus Hadapi New Normal, Pengusaha Usul Rp1.600 Triliun</title><description>Industri pengolahan makanan dan minuman membutuhkan stimulus untuk dapat kembali beroperasi</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/06/07/320/2225835/industri-pengolahan-butuh-stimulus-hadapi-new-normal-pengusaha-usul-rp1-600-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/06/07/320/2225835/industri-pengolahan-butuh-stimulus-hadapi-new-normal-pengusaha-usul-rp1-600-triliun"/><item><title>Industri Pengolahan Butuh Stimulus Hadapi New Normal, Pengusaha Usul Rp1.600 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/06/07/320/2225835/industri-pengolahan-butuh-stimulus-hadapi-new-normal-pengusaha-usul-rp1-600-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/06/07/320/2225835/industri-pengolahan-butuh-stimulus-hadapi-new-normal-pengusaha-usul-rp1-600-triliun</guid><pubDate>Minggu 07 Juni 2020 14:02 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/06/07/320/2225835/industri-pengolahan-butuh-stimulus-hadapi-new-normal-pengusaha-usul-rp1-600-triliun-5ZsWMERTSs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">New Normal di Tengah Covid-19. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/06/07/320/2225835/industri-pengolahan-butuh-stimulus-hadapi-new-normal-pengusaha-usul-rp1-600-triliun-5ZsWMERTSs.jpg</image><title>New Normal di Tengah Covid-19. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Industri pengolahan makanan dan minuman membutuhkan stimulus untuk dapat kembali beroperasi secara berkelanjutan pada era normal baru.
&quot;Stimulus sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya disrupsi  proses produksi, distribusi, dan rantai pasok di sektor industri pengolahan makanan dan minuman di dalam negeri akibat pandemi  Covid-19,&quot; kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Makanan dan Industri Agrifarm Peternakan Juan Permata Adoe  dalam keterangan tertulisnya, Jakarta,  Minggu (7/6/2020)
Menurut Juan, sampai saat ini pemerintah  menyatakan akan memberikan stimulus yang  nilainya mencapai  Rp677,2 triliun. Namun, menurut penilaian Juan, dana tersebut hanya cukup untuk merestrukturisasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)  dan jaringan pengaman sosial.
Baca Juga: Industri Bisa Jadi Ujung Tombak Ekonomi RI, Begini Caranya
Dikatakan, besaran stimulus yang paling moderat adalah sesuai yang diusulkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), yaitu  Rp1.600 triliun atau 10% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kadin mengusulkan kepada  pemerintah agar meningkatkan stimulus menjadi Rp1.600 triliun berdasarkan pertimbangan, dana  itu akan digunakan  untuk program jaring pengaman sosial sebesar Rp600 triliun, dana kesehatan Rp400 triliun, dan dana pemulihan ekonomi dan industri sebesar  Rp600 triliun.
&quot;Stimulus Rp1.600 triliun merupakan angka yang menunjukkan kecepatan pengambilan keputusan yang harus segera dijalankan pemerintah,&quot; katanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNS8zMS8xLzEyMTM2MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Juan mengatakan, pemerintah Singapura telah meningkatkan stimulus dari 12,5% menjadi 19% dari Produk Domestik Bruto (PDB).  Langkah serupa juga dilakukan pemerintah Malaysia dengan menaikkan stimulus menjadi  20% dari PDB.
&quot;Memang, tidak harus serta merta dinaikkan menjadi 20%. Tapi perlu mempertimbangkan  jaring pengaman sosial, daya beli masyarakat, dan  produktivitas industri. Ini semua bertujuan untuk mencegah  pengangguran dan mempertahankan  daya saing,&quot; katanya.
Baca Juga: 1,6 Miliar Pekerja Informal di Dunia Terdampak Covid-19
Juan mengatakan, pemerintah mempunyai kewenangan untuk menentukan siapa saja yang harus diberikan stimulus. Presiden Joko Widodo ketika menyatakan  bahwa sektor pertanian dan perikanan harus dibangun dari  hilir sampai ke hulu, ini  membuktikan bahwa stimulus harus segera diberikan kepada pelaku industri hilir dan intermediate industri sampai industri hulu, termasuk  petani, peternak, dan nelayan juga harus diberikan stimulus.
&quot;Korporasi tidak bisa dipisahkan kebijakannya dengan yang lain karena semua industri memiliki trickle down effect dalam setiap kegiatan ekonominya,&quot; katanya.
Lebih lanjut, Juan mengatakan,  saatnya pemerintah memberikan   stimulus tambahan untuk restrukturisasi usaha menengah,  industri  pengolahan makanan dan minuman,  dan hortikultura. Dari jumlah  yang    ada masih  dibutuhkan tambahan sekitar  Rp800 triliun.
&quot;Dana ini nantinya akan menjadi penyangga ekonomi ke depan,  sampai  kuartal I-2021.  Kita harus  menjaga ketersediaan bahan baku agar  industri pengolahan dapat terus beroperasi secara berkelanjutan,&quot;  katanya.
Menurut Juan, harus dipahami bahwa pada era normal baru akan terjadi  shifting  ekonomi  dan bisnis, sehingga  harus diantisipasi hingga  dua  tahun ke depan. Ini persoalan serius karena akan terjadi perlambatan  pertumbuhan ekonomi, disrupsi produktivitas dan rantai pasok sehingga   diperlukan  leveraging yang lebih besar untuk mendorong pertumbuhan  ekonomi.
&quot;Apalagi  perilaku fisikal vs virtual juga terus terjadi  pada  konsumen dan industri. Saat ini artificial investmet keuangan juga makin  mendominasi,&quot; kata Juan.</description><content:encoded>JAKARTA - Industri pengolahan makanan dan minuman membutuhkan stimulus untuk dapat kembali beroperasi secara berkelanjutan pada era normal baru.
&quot;Stimulus sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya disrupsi  proses produksi, distribusi, dan rantai pasok di sektor industri pengolahan makanan dan minuman di dalam negeri akibat pandemi  Covid-19,&quot; kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Makanan dan Industri Agrifarm Peternakan Juan Permata Adoe  dalam keterangan tertulisnya, Jakarta,  Minggu (7/6/2020)
Menurut Juan, sampai saat ini pemerintah  menyatakan akan memberikan stimulus yang  nilainya mencapai  Rp677,2 triliun. Namun, menurut penilaian Juan, dana tersebut hanya cukup untuk merestrukturisasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)  dan jaringan pengaman sosial.
Baca Juga: Industri Bisa Jadi Ujung Tombak Ekonomi RI, Begini Caranya
Dikatakan, besaran stimulus yang paling moderat adalah sesuai yang diusulkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), yaitu  Rp1.600 triliun atau 10% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kadin mengusulkan kepada  pemerintah agar meningkatkan stimulus menjadi Rp1.600 triliun berdasarkan pertimbangan, dana  itu akan digunakan  untuk program jaring pengaman sosial sebesar Rp600 triliun, dana kesehatan Rp400 triliun, dan dana pemulihan ekonomi dan industri sebesar  Rp600 triliun.
&quot;Stimulus Rp1.600 triliun merupakan angka yang menunjukkan kecepatan pengambilan keputusan yang harus segera dijalankan pemerintah,&quot; katanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNS8zMS8xLzEyMTM2MS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Juan mengatakan, pemerintah Singapura telah meningkatkan stimulus dari 12,5% menjadi 19% dari Produk Domestik Bruto (PDB).  Langkah serupa juga dilakukan pemerintah Malaysia dengan menaikkan stimulus menjadi  20% dari PDB.
&quot;Memang, tidak harus serta merta dinaikkan menjadi 20%. Tapi perlu mempertimbangkan  jaring pengaman sosial, daya beli masyarakat, dan  produktivitas industri. Ini semua bertujuan untuk mencegah  pengangguran dan mempertahankan  daya saing,&quot; katanya.
Baca Juga: 1,6 Miliar Pekerja Informal di Dunia Terdampak Covid-19
Juan mengatakan, pemerintah mempunyai kewenangan untuk menentukan siapa saja yang harus diberikan stimulus. Presiden Joko Widodo ketika menyatakan  bahwa sektor pertanian dan perikanan harus dibangun dari  hilir sampai ke hulu, ini  membuktikan bahwa stimulus harus segera diberikan kepada pelaku industri hilir dan intermediate industri sampai industri hulu, termasuk  petani, peternak, dan nelayan juga harus diberikan stimulus.
&quot;Korporasi tidak bisa dipisahkan kebijakannya dengan yang lain karena semua industri memiliki trickle down effect dalam setiap kegiatan ekonominya,&quot; katanya.
Lebih lanjut, Juan mengatakan,  saatnya pemerintah memberikan   stimulus tambahan untuk restrukturisasi usaha menengah,  industri  pengolahan makanan dan minuman,  dan hortikultura. Dari jumlah  yang    ada masih  dibutuhkan tambahan sekitar  Rp800 triliun.
&quot;Dana ini nantinya akan menjadi penyangga ekonomi ke depan,  sampai  kuartal I-2021.  Kita harus  menjaga ketersediaan bahan baku agar  industri pengolahan dapat terus beroperasi secara berkelanjutan,&quot;  katanya.
Menurut Juan, harus dipahami bahwa pada era normal baru akan terjadi  shifting  ekonomi  dan bisnis, sehingga  harus diantisipasi hingga  dua  tahun ke depan. Ini persoalan serius karena akan terjadi perlambatan  pertumbuhan ekonomi, disrupsi produktivitas dan rantai pasok sehingga   diperlukan  leveraging yang lebih besar untuk mendorong pertumbuhan  ekonomi.
&quot;Apalagi  perilaku fisikal vs virtual juga terus terjadi  pada  konsumen dan industri. Saat ini artificial investmet keuangan juga makin  mendominasi,&quot; kata Juan.</content:encoded></item></channel></rss>
